Chapter: BAB 319Bandara malam itu dipenuhi lalu lalang penumpang. Namun di sudut khusus keberangkatan, suasana terasa lebih intim.Serena memeluk Luna dengan hati-hati, tangannya mengusap punggung menantunya penuh kasih. “Jaga diri baik-baik, ya. Jangan terlalu lelah,” ucapnya. Luna mengangguk patuh. “Iya, Bu.”Serena lalu menoleh ke arah Rion. Tatapannya berubah sedikit tegas, khas seorang ibu. “Kamu juga. Jangan terlalu keras kepala.”Rion mengangguk paham. “Iya, Bu.”Sementara itu, Steave berdiri di depan Leo yang sedang menggendong Azzura yang tidak bisa diam.“Awas kamu,” ujar Steve setengah mengancam, tapi dengan nada bercanda. “Kalau Azzura jatuh lagi dan terus menangis–”“Iya Ayah! Intruksi diterima!” Leo langsung panik. “Aku akan menjaga princess Whitmore dengan baik.”Steave mendengus, lalu mengusap kepala Azzura yang malah tertawa tanpa mengerti apa-apa. “Kamu bisa perintahkan apa saja pada Om-mu,” gumamnya pada sang cucu. Leo memutar mata kesal, kalau ayahnya tidak menjanjikan bahwa ia
Última actualización: 2026-03-30
Chapter: BAB 318Beberapa hari setelah malam itu, suasana megah menyelimuti sebuah hotel bintang lima di pusat London.Resepsi pernikahan yang selama ini tertunda akhirnya digelar.Aula besar itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan, dihiasi bunga-bunga segar yang elegan. Tamu undangan datang dari berbagai kalangan pebisnis besar, relasi internasioal, hingga keluarga dekat. Jumlahnya bukan lagi kalanga, tapi hampir mencapai ribuan.Di atas pelaminan, Rion dan Luna berdiri berdampingan.Luna tampak begitu anggun dalam balutan gaun putih panjang yang menjuntai sempurna. Senyumnya tidak pernah lepas, dan matanya berbinar penuh kebahagiaan.Sementara di sampingnya, Rion berdiri tegap dengan setelan jas elegan. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi sesekali sudut bibirnya terangkat saat menatap istrinya.Tangannya tidak pernah lepas dari Luna.“Kamu capek?” tanya Rion sedikit menunduk ke arah Luna.Luna menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Aku sangat senang.”Rion menatapnya beberapa detik le
Última actualización: 2026-03-30
Chapter: BAB 317Di ruang keluarga, Serena tampak duduk santai di sofa sambil memangku Azzura. Tangan wanita itu dengan sabar menggoyangkan mainan kecil, membuat balita mungil itu tertawa riang tanpa henti.“Pintarnya,” ujar Serena, matanya penuh kasih.Azzura merespons dengan suara celoteh yang belum jelas, tetapi cukup membuat Serena semakin gemas. Ia mengecup pipi kecil itu berkali-kali.Kemudian, ia mendengar langkah kaki yang mendekat, Serena menoleh, lalu mendapati Luna berdiri tidak jauh dari sana. Wajah menantunya itu tampak berbeda, dan sedikit gugup, bahkan cenderung malu.“Luna?” panggil Serena. “Ada yang kamu butuhkan?”Luna menggigit bibir bawahnya sebentar, ragu untuk berbicara. Tangannya saling menggenggam, terlihat sedang menahan rasa canggung.“Ibu…” suaranya sekecil mungkin. “Ya?” Serena tersenyum, menunggu dengan sabar.Luna menarik napas, lalu akhirnya memberanikan diri. “Malam ini… apakah Ibu bisa menjaga Azzura?”Serena terdiam sepersekian detik, lalu matanya langsung menyipit p
Última actualización: 2026-03-30
Chapter: BAB 316Selesai makan malam, Luna mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang lebih gelap. Azzura akhirnya tertidur setelah cukup lama bermain lagi di atas tempat tidur. Napas kecilnya terdengar teratur, dan wajah mungilnya tampak damai. Luna mengelus kepala putrinya sebelum berdiri. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.Tubuhnya terasa lelah. Hari ini cukup panjang, jadi ia berniat mandi sebentar untuk merilekskan diri.Namun, baru saja ia tiba di dalam kamar mereka, dua tangan tiba-tiba melingkar dari belakang melingkupi pinggangnya.Luna tersentak dan tubuhnya sempat menegang. “Rion?!” ucapnya kaget.Napas hangat menyentuh lehernya. “Hemm.”Suara rendah itu langsung membuat tubuh Luna melemas. “Kamu ini,” gumamnya, tangannya menyentuh lengan Rion yang masih memeluknya erat.Rion semakin mendekat. Wajahnya bersandar di bahu istrinya. Ia benar-benar lelah.“Kapan pulang?” tanya Luna. “Dari tadi.”Luna tersenyum kecil. “Kenapa tidak bila
Última actualización: 2026-03-29
Chapter: BAB 315Beberapa bulan kemudian…Suasana terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Rion membawa Luna dan anaknya untuk tinggal kembali di mansion karena Serena terus memohon, dan Rion tidak tega melihat ibunya. Tawa kecil bercampur teriakan riang memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang ada di sana sulit untuk tidak ikut tersenyum.Di tengah ruang keluarga, seorang bocah kecil dengan langkah belum sempurna berlari ke sana kemari.“Azzura, pelan-pelan!” seru Leo yang sudah mulai kewalahan.Namun bocah perempuan itu sama sekali tidak berhenti.nKakinya yang mungil terus melangkah cepat, sesekali hampir tersandung karpet, lalu.. Bruk!Ia terjatuh.Semua orang refleks menoleh.Luna yang duduk di sofa langsung menegakkan tubuhnya, tapi belum sempat berdiri, Serena sudah lebih dulu menahan tangannya.“Biarkan saja,” ujar Serena lembut. “Tidak apa-apa.”Luna menggigit bibirnya menahan diri.Sementara itu, Azzura hanya diam satu detik lalu tertawa. Ia bangkit lagi, lalu kembali berlari.“Lihat kan?” gu
Última actualización: 2026-03-29
Chapter: BAB 314Ruangan VIP yang ditempati Luna mulai di penuhi aroma makanan yang baru datang. Luna tengah bersandar lemah di ranjang dengan wajah pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Serena duduk di samping ranjang, memegang mangkuk sup. Dengan penuh perhatian, ia meniupnya sebelum menyuapkan ke arah Luna. “Pelan-pelan, saja,” ucapnya. Luna sempat ragu, matanya melirik ke arah Rion sekilas, seolah meminta izin. Rion yang berdiri tak jauh dari sana hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Bukannya apa, ia masih bingung harus bagaimana setelah status barunya di akui ibu mertuanya. “Buka mulutmu,” kata Serena.Luna akhirnya mengikuti, menerima suapan itu. “Terima kasih… Bu,” ucapnya malu-malu.“Kamu tidak perlu sungkan. Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga ini,” ujar Serena. Ucapan itu membuat dada Luna terasa hangat. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, hampir membuatnya ingin menangis.Di sisi lain ruangan, Rion berdiri
Última actualización: 2026-03-29
Chapter: BAB 12 - Where are you?After confirming that her mother's condition remained stable, Serena decided to return to the Collins family home. It had been a long time since she had set foot there.As soon as the taxi stopped in front of the gate, a servant hurried over and opened the door for her. Serena stepped out wearing a long cream-colored coat that concealed her petite frame."Serena?"A gentle voice tinged with unmistakable sarcasm greeted her from the living room.Claudia, her stepmother.Her lips curved into a smile, but her eyes were cold."So you finally remembered to come home. I thought you'd forgotten you still had a family here."The tone instantly tightened Serena's chest.She didn't respond. She simply looked at Claudia without expression."Good morning," she said flatly before walking past her toward the staircase.But Claudia wasn't finished."I heard your mother was transferred to a larger hospital. Where did you get the money for that? Did your father pay for it? Or..."Serena stopped.Her h
Última actualización: 2026-06-15
Chapter: CHAPTER 11 - Why do I keep wanting you?Steave cursed himself.The harder he tried to stay away, the stronger the pull he felt.With hesitant steps, he returned to the side of the bed. His eyes traveled over every inch of Serena's exposed body, from her smooth shoulder to the enticing curve of her waist. He swallowed hard, feeling his throat go dry."Why do I keep wanting you?" he whispered to himself.His hand lifted and reached toward Serena. His fingers trembled as they brushed against her soft skin.Serena shifted slightly in her sleep, causing Steave to pull his hand back at once. He tried to restrain himself, but his desire had already grown too powerful to contain. This time, he could no longer hold himself back."Hate me as much as you want," he whispered softly before lowering his head and pressing a gentle kiss to Serena's lips.At first, the kiss was nothing more than a light touch. Gradually, it deepened, becoming more passionate. Steave savored her lips, surrendering to every sensation that fueled the desire bu
Última actualización: 2026-06-13
Chapter: CHAPTER 10 -Why did you have to come into my life like this?Sunlight streamed through the large window curtains, spilling across the bed.Steave had been awake for hours.He sat upright at the edge of the mattress, already dressed in a crisp white shirt with the sleeves rolled up to his elbows.A steaming cup of coffee rested in his right hand as his gaze settled on the figure still lying beneath the blankets.Serena.She looked exhausted. Strands of disheveled hair partially covered her face. Her breathing was steady, her lips slightly parted, and faint reddish marks lingered on her neck from the night before.Steave watched her for a long moment, expressionless.He didn't know what he was feeling.Satisfaction?He had to admit it. A desire he had suppressed for so long had finally found its release with the woman he wanted.But what now?Was he satisfied after having her?No.If anything, he had become even greedier, especially knowing that he was the first man to whom Serena had given everything.Steave set his coffee cup on the bedside tab
Última actualización: 2026-06-13
Chapter: Chapter 9 - I'm yoursWithout warning, Steave lifted his hand and gently touched Serena's face.Serena held her breath.The distance between them slowly disappeared until their lips finally met.The kiss sent Serena's heart into a frenzy. She wanted to pull away, but her body seemed to have lost the ability to move."Serena," Steave whispered.His voice was low and filled with pressure.Serena lowered her gaze. She didn't know what to say. Everything was happening so quickly that her mind struggled to keep up with reality.Steave brushed his thumb across her cheek."Look at me," he said.Serena lifted her face, and their eyes met.For a moment, neither of them spoke.Only the sound of their breathing filled the silence of the spacious apartment.The city lights streaming through the floor-to-ceiling windows cast their silhouettes across the floor.Steave remained standing before her, calm, dominant, and impossible to read."I've kept my promise," Steave said. "Now everything is in your hands."Serena gripp
Última actualización: 2026-06-13
Chapter: Chapter 8 - You're mine.After enduring a difficult night, Serena could finally breathe a little easier. Once Steave kept his promise to continue covering the medical expenses, the hospital immediately transferred her mother back to the intensive care unit. Her mother slept peacefully in the hospital bed. Her breathing was now stable, the life-support equipment had been removed, and the doctors said her condition was beginning to improve. Serena sat beside the bed, holding her mother's hand tightly. “Mom, I'm sorry for being so reckless. Thank you for holding on,” she whispered, a faint smile touching her lips. “Thank You, God...” Her heart felt at peace, yet at the same time, an ache settled deep inside her chest. Every passing second reminded her of the bitter truth. Every hospital bill, every medication, even this VIP room, was being paid for by Steave. And now, she had to fulfill his condition. Serena looked at her mother's face one last time before standing. She wiped away her tears and left t
Última actualización: 2026-06-13
Chapter: CHAPTER 7 -Serena hurried to Steave’s apartment.The sky had already darkened by the time she stood in front of his door. Her hand trembled as she pressed the doorbell. Once, twice, then the door opened, revealing Paul.“Good evening, Miss Serena,” he greeted calmly. “Mr. Steave has been expecting you.”Serena stepped inside without saying much. Her legs felt weak, and whatever strength she had left had drained away back at the hospital. In the spacious, modern office, Steave sat in his chair wearing a dark gray shirt, staring expressionlessly at his computer screen.The moment Serena entered, he closed the monitor and shifted his gaze toward her.“So, you came after all,” he said flatly.Serena tried to speak, but her voice cracked.“Why... why was my mother moved to a general ward? The nurse said her treatment expenses were cut off.”Steave leaned back in his chair and looked at her casually.“Yes. I was the one who stopped them.”“Why?!” Serena took two steps forward, her voice rising. “Didn'
Última actualización: 2026-06-12
Chapter: BAB 32 - Yang TercintaMenyadari bahwa ia kelepasan emosi, raut wajah Alessandro seketika berubah. Tatapannya yang tadinya tajam segera melunak, digantikan oleh rasa menyesal yang mendalam. Ia segera menjangkau tangan Livia yang tergantung lemas di sisi tubuhnya.“Sayang… maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu tadi,” ucapnya berusaha menenangkan suasana. “Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakannya, karena kamar itu tidak ada apa-apa.”Namun, Livia hanya membiarkan tangannya digenggam tanpa membalas. Ia memalingkan wajah, bibirnya mengerucut tanda sedang merajuk, dan matanya berkaca-kaca meski ia berusaha menahannya.“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa harus marah sebesar itu? Rasanya seperti aku orang asing yang tidak berhak tahu apa pun,” gumamnya kecewa.Alessandro menghela napas panjang, lalu mengusap lembut pipi istrinya dengan ibu jari. Ia tahu, sekali saja menutup rapat, justru akan membuat Livia semakin curiga. Ia harus mencari cara lain untuk mengalihkan perhatiannya.“Baiklah, salahku
Última actualización: 2026-06-15
Chapter: BAB 31 - Kenapa Membantak?Livia tersentak kaget, tangannya seketika ditarik kembali seolah tersengat listrik. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia berbalik dengan napas yang sedikit tertahan. Ternyata sosok Edward De Luca, ayah mertuanya, dengan tatapan tajam yang menusuk hingga ke tulang sumsum.“Tuan Edward…” sapa Livia hati-hati. Edward mendekat Ia menatap pintu di belakang Livia sebentar, lalu kembali memandang menantunya dengan tegas.“Kau tidak boleh sembarangan menyentuh atau membuka pintu mana pun di rumah ini. Meski kau adalah istri Alessandro, bukan berarti boleh bertindak lancang dan menganggap seluruh ruangan ini sudah menjadi milikmu sepenuhnya.”Livia menggigit bibir bawahnya, rasa penasarannya justru makin memuncak mendengar nada bicara sang ayah mertua. Ada larangan yang berlebihan, seolah di balik pintu itu tersimpan sesuatu yang sangat rahasia dan tak boleh diketahui siapa pun.“Maafkan saya, Tuan,” jawab Livia dengan nada sopan. “Saya hanya berjalan-jalan, tidak menyangka ada ruangan
Última actualización: 2026-06-13
Chapter: BAB 30 - Apa Ada Rahasia?Di ruang tamu keluarga Montesinos, suasana terasa begitu mencekam. Mateo dan Lucas tertunduk lesu di sofa, wajah mereka masih penuh dengan rasa malu serta marah yang tertahan. Di hadapan mereka, Jhon Montesinos berdiri dengan kedua tangan terkepal erat di belakang punggungnya. Dada naik turun karena amarah yang meluap-luap, hingga akhirnya ia tak bisa lagi menahan diri.“BODOH! Kalian berdua benar-benar bodoh!” bentak Jhon dengan suara menggelegar.Mateo dan Lucas tersentak, kepala semakin menunduk dalam tak berani menatap ayah angkat mereka.“Kalian berencana menjebak Livia, menghancurkan nama baiknya, dan merebut kekuasaannya! Tapi apa hasilnya? Bukannya dia yang jatuh, justru kalian sendiri yang terjebak dalam perangkap yang kalian buat sendiri!”“Kami… kami tidak tahu bagaimana bisa terjadi begini, Ayah…” gumam Mateo lirih.“Tidak tahu? Kalian hanya mengandalkan otak kosong dan keberanian semata!” hardik Jhon lagi. “Menyewa orang, menghubungi media, mengatur segalanya, tapi akhi
Última actualización: 2026-06-12
Chapter: BAB 29 - LIVIAAAAAAA!Begitu sosok di ambang pintu tampak jelas, wajah pria yang disewa itu seketika memucat pasi. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, lututnya terasa lemas hingga nyaris tak sanggup menopang berat badannya. Ia mengenali sosok itu dengan sangat baik, namanya saja cukup membuat seluruh dunia bawah gemetar ketakutan. “T-tuan De Luca…” gumamnya terbata-bata. “M-maafkan saya! Saya tidak tahu… saya tidak tahu ini adalah istri Tuan! Saya hanya dibayar dan dipaksa–” Ia langsung menjatuhkan diri untuk berlutut di lantai, kepalanya menunduk dalam-dalam seolah ingin mencium ujung sepatu pria itu. “Tolong ampuni saya! Jangan bunuh saya, Tuan! Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi! Apa pun perintah Tuan, akan saya lakukan, tapi tolong jangan habisi nyawa saya!” Alessandro berdiri tegak di sana, tatapannya dingin tanpa ekspresi sedikit pun. Ia memandang sampah yang tak berharga, tidak ada sedikit pun belas kasihan yang terpancar dari matanya. “Kau berani menyentuh milik
Última actualización: 2026-06-11
Chapter: BAB 28 - Jebakan Untuk Siapa?Mateo dan Lucas memandangi tubuh Livia yang terbaring lemah di atas ranjang kamar hotel. Wajah mereka yang masih lebam dan berdarah kini terukir senyum licik yang penuh dendam. Kesempatan emas ini tak akan mereka sia-siakan.“Lihatlah dia, sombongnya hilang sudah,” gumam Mateo dengan nada rendah. “Kita takkan membiarkannya begitu saja.”Lucas mengangguk setuju, matanya menyala penuh niat jahat. “Benar. Kita akan membalasnya dengan cara yang paling menyakitkan. Menjebaknya, membuatnya tidur bersama pria lain lalu rekam dan sebarkan videonya ke seluruh perusahaan dan lingkungan sosial.”“Dengan begitu nama baiknya hancur, semua orang akan membuangnya, dan dia takkan berani lagi mengatur-atur kita,” tambah Mateo sambil tertawa sinis.Keduanya segera merencanakan langkah selanjutnya, tak menyadari bahwa rencana jahat mereka telah diam-diam terpantau oleh kamera pengintai yang tersembunyi di dalam ruangan. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan seorang pria masuk dengan langkah hati-
Última actualización: 2026-06-10
Chapter: BAB 27 - Aku Tidak Boleh Kalah"Tetap di posisi kalian dan jangan berani bergerak!" ancam Livia. Ia mengayunkan sedikit ujung tongkat golf yang masih bernoda itu di depan wajah mereka. "Tetap berlutut di sana jika kalian masih sayang dengan nyawa."Mateo dan Lucas yang sudah babak belur, dengan wajah lebam dan sudut bibir yang terus meneteskan darah, hanya bisa meringis pasrah. Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh membuat nyali mereka menciut total. Meski mata mereka masih memancarkan keengganan dan dendam yang mendalam, akhirnya kedua pria angkuh itu menyerah kalah untuk saat ini. Mereka menundukkan kepala, berlutut di atas lantai.Livia mendengkus sinis melihat pemandangan yang memuaskan di hadapannya. Ia berjalan santai ke arah sofa besar, lalu mendudukinya dengan anggun. Sambil menyilangkan kaki dan memantau gerak-gerik kedua saudara angkatnya dengan pandangan mengintimidasi, Livia merogoh ponsel dari saku blazernya.Ia mencari nomor ekstensi internal gedung, lalu menekan tombol panggil."Halo, bagian
Última actualización: 2026-06-09