
Hasrat Terpendam Papa Tiriku
Olivia, gadis berusia dua puluh empat tahun, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah secepat itu.
Ibunya, Sheila, baru saja menikah dengan pria tampan berusia empat puluh tahun bernama Adrian — seseorang yang berwibawa, tenang, dan terlalu menawan untuk usia setengah baya.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa Sheila, meninggalkan Olivia dan Adrian dalam rumah yang sama—dua jiwa yang kehilangan, tapi perlahan terikat oleh sesuatu yang tak seharusnya ada.
Suatu malam, dalam keadaan mabuk dan rapuh, batas antara duka dan keinginan mulai kabur. Malam itu seharusnya tak pernah terjadi.
Namun setelahnya, tak ada yang sama lagi.
Adrian mulai menemukan ketenangan dalam senyum Olivia, sementara Olivia sendiri tak tahu bagaimana menghapus bayangan pria yang seharusnya ia panggil Ayah tiri.
"Sshh... Om, jangan berhenti.”
Apakah keduanya akan terus berpura-pura tidak terjadi apa-apa—atau justru tenggelam semakin dalam dalam hubungan terlarang yang membakar perlahan?
Ler
Chapter: Bab 145. Tanpa Aba-aba.“Via!”Suara yang memanggilnya dari ujung koridor membuat Olivia menghentikan langkah. Ia menoleh, lalu seketika senyumnya merekah lebar saat melihat sosok yang begitu dikenalnya berlari kecil menghampiri.“Mariska!” serunya senang. “Kamu ngapain di sini?”Mariska langsung mengaitkan lengannya di lengan Olivia dengan akrab, hati-hati agar tidak menyenggol perut buncit sahabatnya.“Aku ada urusan sebentar sama Mas Tian.” Tatapannya turun ke perut Olivia yang sudah membesar sempurna. “Ya ampun, kamu masih masuk kerja? Emang dibolehin sama Mas Adrian?”Olivia terkekeh pelan.“Lusa aku mulai cuti melahirkan.” Tangannya refleks mengusap perutnya yang menonjol. “Perkiraan lahir sekitar sepuluh hari lagi. Kata dokter bisa lebih cepat, bisa juga mundur.”Mereka terus berjalan berdampingan menuju pantry.“Terus kenapa masih ke kantor?” Mariska menggeleng kecil. “Aku aja lihat kamu jalan begini udah deg-degan.”Olivia membuka pintu pantry lebih dulu, lalu menoleh sambil tersenyum.“Di rumah aku
Última atualização: 2026-07-02
Chapter: Bab 144. Suami Siaga.Memasuki usia kehamilan tiga puluh enam minggu, tubuh Olivia seolah melangkah ke babak baru yang jauh lebih berat. Kaki jenjangnya kini sudah tampak bengkak. Wajahnya yang dulu tirus kini membulat, dengan semburat merah muda khas ibu hamil. Perutnya membuncit sempurna, membuat setiap gerakan kecil—bangkit dari tempat tidur, membungkuk, atau bahkan sekadar berganti posisi tidur—terasa seperti perjuangan sendiri. Namun, dari semua perubahan itu, ada satu hal yang paling sering membuatnya menangis diam-diam: varises yang mulai menjalar di betisnya. Guratan kebiruan itu bukan hanya mengganggu pandangan, tapi juga membawa nyeri tiba-tiba yang menusuk dan tak kenal waktu. Setiap malam hampir pasti rasa kram datang menyerang, memaksa Olivia terbangun dalam keadaan panik. Malam ini pun sama. Jam digital di atas nakas menyala merah, menunjukkan pukul 02.03 dini hari. Olivia meringis, napasnya terengah tipis seiring rintihan lirih yang keluar dari bibirnya. "Mas..." suaranya hampir sepert
Última atualização: 2026-07-01
Chapter: Bab 143. Persiapan Menyambut si Kecil.“Mas, yang ini lucu nggak?”Suara Olivia terdengar riang dari ujung lorong perlengkapan bayi.Adrian yang sedang membolak-balik sepatu bayi mungil langsung menoleh. Di bawah lampu toko yang terang, Olivia berdiri sambil mengangkat selimut bayi bermotif rusa kecil.Adrian tersenyum tanpa sadar. “Lucu banget.”“Iya kan?” Olivia memeluk selimut itu ke dada.“Cocok buat bayi kita,” kata Adrian lembut, membuat senyum Olivia melebar.Perlahan tangan Olivia turun mengusap perutnya yang sudah membuncit sempurna di balik dress hamil berwarna krem.Usia kehamilan memasuki Delapan bulan. Sebentar lagi mereka tak perlu lagi membayangkan wajah si kecil. Mereka akan benar-benar bertemu.“Aku masih nggak percaya,” gumam Olivia pelan.“Hmm?” tanya Adrian.“Sebentar lagi kita bisa lihat wajahnya langsung,” kata Olivia, Tatapannya jatuh ke perutnya sendiri. Bibirnya melengkung lembut. “Aku udah nggak sabar banget.”Adrian menghampirinya sambil membawa sepasang kaus kaki bayi berwarna putih dengan telin
Última atualização: 2026-06-30
Chapter: Bab 142. Bertemu Gista.Sambil menunggu Adrian menebus vitamin di bagian farmasi, Olivia duduk sendiri di kursi ruang tunggu lantai tiga First Hospital. Jemarinya pelan mengusap lembar hasil USG 4 dimensi yang tadi diberikan dokter.Meski sudah sering melihat kertas itu, rasanya tetap asing di matanya. Garis-garis samar yang tak ia pahami membentang di sana, namun di salah satu sudut terlihat wajah mungil dengan hidung kecil yang membuat dada Olivia tiba-tiba penuh haru.Bibirnya melengkung tanpa sadar.Matanya perlahan menurun ke perutnya yang semakin membulat. “Sehat-sehat ya, Nak…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. “Tiga bulan lagi, kamu akan ketemu Mama sama Papa…”Suara bising rumah sakit mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya debar hangat di dadanya saat membayangkan tangisan bayi yang akan memenuhi rumahnya. Ada tangan kecil yang menggenggam jarinya. Ada seseorang yang akan memanggilnya Mama. Ada makhluk kecil yang begitu bergantung padanya.Matanya sedikit berkaca.“Jangan naka
Última atualização: 2026-05-17
Chapter: Bab 141. Kekhawatiran Olivia.“Tante, minum dulu.”Suara Olivia memecah sunyi ruang keluarga yang sejak tadi hanya dipenuhi suara detik jam dinding dan gemerisik hujan di luar rumah.Ruby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, rambutnya masih sedikit acak-acakan setelah kejadian kebakaran tadi malam. Saat melihat secangkir teh hangat di tangan Olivia, bibirnya langsung melengkung tipis.“Makasih, Via,” ucapnya lirih.Uap tipis mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu ketika Ruby menerimanya dengan kedua tangan. Olivia lalu duduk di sofa seberang sambil mengeratkan tali kimono satin yang membungkus tubuh hamilnya.Padahal seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu.Tapi bayangan Ruby yang kehilangan rumah sekaligus kios kecilnya terus mengusik pikirannya. Karena itu, Olivia diam-diam turun dari kamar hanya untuk memastikan tantenya baik-baik saja.Ruby meniup permukaan teh perlahan sebelum menyesapnya, matanya langsung terpejam. “Ya ampun…” napasnya keluar panjang. “Udah lama Tante nggak minum te
Última atualização: 2026-05-15
Chapter: Bab 140. Rahasia di Balik Kobaran Api.“Siapa, Mas?” suara Olivia bergetar pelan saat ia merapat ke sisi Adrian. Jemarinya refleks menggenggam lengan suaminya ketika melihat perubahan raut wajah Adrian sejak laki-laki bernama Stevan itu datang. “Kamu kenal dia?”Tatapan Adrian belum lepas dari pria muda yang kini berdiri di dekat Ruby. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar, menandakan sesuatu yang tak nyaman.“Stevan Utomo,” Adrian menjawab lirih, suaranya nyaris berbisik. “Itu nama aslinya.”Alis Olivia mengernyit, ada tanda tanya besar di matanya. “Maksud kamu?”Adrian menunduk sedikit, suaranya makin pelan. “Dia sepupu jauh Gista. Dulu Gista pernah cerita… Stevan sempat kena kasus berat, bahkan dipenjara.”Mata Olivia melebar, suaranya tercekat, “Hah?! Serius, Mas? Gila…”Adrian tetap fokus pada Stevan yang sekarang mengusap lembut pundak Ruby. “Sebenarnya aku belum pernah ketemu langsung dengan dia, tapi Gista pernah tunjukin fotonya. Aku yakin ini orang yang sama. Aku nggak akan lupa wajahnya. Dia punya
Última atualização: 2026-05-13
Chapter: Bab 78. Bahagia Selamanya. (TAMAT)Jennar duduk di depan cermin dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi, helaiannya jatuh lembut di bahu. Ujung sisir bergerak perlahan, tapi pikirannya justru melayang kembali pada malam lalu. Pada malam panas yang mereka lalui di villa ini untuk menikmati bulan madu.Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.Pintu kamar tiba-tiba berderit pelan.“Udah bangun?” suara Birru terdengar hangat.Jennar menatap pantulan pria itu di cermin, tatapannya penuh cinta.“Udah, Mas. Kenapa nggak bangunin aku?” gumam Jennar pelan.Birru tidak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, mengambil sisir dari tangan Jennar, lalu mulai menyisir rambut istrinya dengan gerakan yang lembut.“Kamu tidurnya nyenyak banget tadi. Aku nggak tega.”“Oh ya?”“Iya. Dan sarapan sudah siap,” lanjut Birru. “Habis itu kita jalan-jalan, naik kuda. Ada track kecil sampai ke sungai. Katanya bagus banget.”Jennar mengernyit kecil, menatapnya lewat cermin. “Aku belum pernah naik kuda, Mas. Itu aman nggak?”Birru ter
Última atualização: 2026-04-02
Chapter: Bab 77. Malam Pertama Menjadi Suami Istri. (21++)Disclaimer: Bab ini mengandung konten dewasa. Harap di skip jika tidak suka.Malam mulai merayap dengan udara yang pekat di Puncak saat Jennar memutar keran shower. Tubuhnya terasa segar, rambutnya masih basah, wajah bersih tanpa bekas make-up pengantin. Ia melangkah ke sudut kamar mandi, matanya melebar saat melihat rak itu kosong tanpa handuk."Eh!? Kok nggak ada handuk?!" suaranya mendadak panik.Matanya berkeliling. Tak ada lemari kecil hanya ada rak handuk di sudut dan itu kosong. Napasnya mulai tersendat."Ya Tuhan... gimana ini? gaun pengantin udah basah kena air," bisiknya sambil menggigit bibir bawah, cemas menyapu pandangan ke arah pintu.Dia memutar handle pintu dan melirik ke arah Birru. Suaminya itu duduk di tepian kasur, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Birru juga baru selesai mandi di kamar mandi dekat perapian."Mas," panggil Jennar dengan suara sedikit gemetar.Birru menoleh, senyum ringan di bibirnya. "Apa, Sayang?""Boleh tolong ambilkan handuk?" pinta J
Última atualização: 2026-03-11
Chapter: Bab 76. After The Wedding...Pesta akhirnya mereda ketika jarum jam mendekati pukul empat sore. Tenda yang sejak pagi dipenuhi tawa, doa, dan kilatan kamera perlahan kembali tenang. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan jejak kebahagiaan yang masih terasa menggantung di udara.Di antara pelukan terakhir dan ucapan selamat yang tak ada habisnya, Birru dan Jennar kini berdiri berdampingan. Mereka masih dalam balutan busana pengantin, masih dengan senyum yang sesekali gemetar karena lelah bercampur bahagia. Tapi, rasa lelah itu akan hilang karena mereka sedang berpamitan untuk menuju villa, menikmati malam pengantin.“Birru, tolong jaga Jennar baik-baik, ya. Jennar itu super manja sebenarnya,” pesan Priska sambil memeluk putrinya sekali lagi. Suaranya lembut, tapi matanya berbinar penuh kelegaan.“InsyaAllah, Ma,” jawab Birru mantap. Tangannya otomatis meraih tangan Jennar, seolah itu refleks yang tak perlu dipikirkan lagi.Surya menepuk bahu Birru pelan. Tidak banyak kata, tapi tatapan itu adalah tatapa
Última atualização: 2026-03-10
Chapter: Bab 75. Akhirnya Sah!Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent
Última atualização: 2026-03-01
Chapter: bab 74. Sebelum Akad.Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu
Última atualização: 2026-02-26
Chapter: Bab 73. Jelang Pernikahan.“Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta
Última atualização: 2026-02-24