Chapter: Bab 75. Gila 2Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya.Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis.Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia."Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan.Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai."Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan."Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam."Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia.Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera masuk ke dalam k
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 74. Pulang!Awan mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tau," jawab Awan singkat. Dahi Mega berkerut, "memang Pak Awan tidak bertanya?" "Untuk apa?" sahut Awan dengan nada malas. “Memang Pak Awan tidak mau tau Bu Amelia pergi kemana?” sahut Mega. "Biar saja, asal dia tidak banyak tingkah aku tidak mau terlalu mengikuti urusannya," jawab Awan. ** Saat detik berganti menjadi menit, menit bergerak menjadi jam, jam berputar menjadi hari dan hari pun berganti menjadi minggu. Dan selama bebrapa hari tanpa kehadiran Amellia, tanpa Mega dan Awan sadari jika hubungan mereka terjalin semakin dekat dan semakin hangat. Setelah kedekatannya dengan Awan membuat keadaan kehamilannya tak lagi merepotkan, Mega tak lagi meraskan mual hebat seperti sebelumnya. Pagi itu, Mega terbangun lebih dulu dari Awan, dan seperti biasanya ia akan melakukan persiapan kebutuhan Awan. Namun baru saja akan beranjank dari tempat tidurnya Mela merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan. Hal itu tentu saja m
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 73. Tidak Pulang'Ngidam?' batin Mega, sorot matanya tiba-tiba berubah nanar.Melihat perubahan wajah Mega, Awan pun bangkit berdiri tepat di hadapan Mega. Awan arahkan wajah Mega sedikit mendongak menatap dirinya."Kalau ada bilang saja!, apapun selagi aku mampu pasti aku turuti" lanjut Awan.Sejenak Mega menatap wajah Awan dengan lekat, lalu ia menggelengkan kepalanya.Awan menghela nafas lalu melepaskan wajah Mega. Awan mengambil dompet yang ia simpan di saku belakang celananya, Awan membuka dompet itu lalu mengambil selembar kartu dari sela kantung dompetnya dan meletakkan kartu itu di tangan Mega, "ambil kartu ini!, aku rasa kamu sungkan untuk meminta langsung padaku, jadi dengan kartu ini kamu bisa langsung membeli sendiri kalau kamu menginginkan sesuatu," jelas Awan.Mega segera mengembalikan kartu itu pada Awan, "tidak usah Pak, saya masih punya uang jatah bulanan yang diberi Bu Amel," tolak Mega."Itu pemberian Amelia, kalau ini pemberian dari aku untuk kamu, ambil saja," ucap Awan lagi.Mega
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: Bab 72. Ngidam?Beberapa waktu kemudian, Amelia tampak menggeliat di dalam balutan selimut tebal milik Aditya sementara Aditya masih terlelap disebelahnya.Amelia tersenyum, lalu miringkan tubuhnya menjadi menghadap Aditya, "bangun, Sayang!" ucap Amelia sembari mengelus lembut wajah Aditya.Aditya mengerjap lalu perlahan ia membuka kedua bola matanya, Aditya membelas senyuman Amelian lalu ia melingkarkan tagannya pada tubuh Amelia."Pagi ini harusnya aku sudah berada di ruanganku, gara-gara kamu aku jadi ketiduran sepertin ini," ucap Aditya menarik Amelia kedalam pelukannya."Tapi kamun yakinkan, Sayang, kali ini aku pasti akan hamil ... rasanya aku sudah malas melihat wajah perempuan kampungan itu," ucap Amelia.Aditya beberapa kali melayangkan kecupan lembut pada pipi Amelia, "kamu tenang saja ... aku sudah menghitung masa ovulasimu dan hari ini adalah waktu yang pas karena hari ini merupakan waktu kamu yang palingb subur," jawab Aditya."Nanti aku berikan beberapa vitamin dan obat penguat kandunng
Terakhir Diperbarui: 2026-06-05
Chapter: Bab 71. Rencana?"Memberi tau, Bu Amel ... apa tidak apa-apa?" tanya Mega, ada sebuah keraguan dari nada bicara Mega. "Ada apa lagi?' tanya Awan lagi, namun Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu masih ragu, tidak apa-apa lain kali saja kita beri tau Amelia," ucap Awan yang setidaknya sedikit mengobati kegundahan hati Mega. Mega mengangguk, "Pak Awan langsung sarapan saja, saya mau beberes kamar," pinta Mega. "Kamu tidak mau sarapan juga?" tanya Awan, dan lagi Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Saya benar-benar belum lapar," jawab Mega. "Kalau memang belum lapar, setidaknya temani aku sarapan, bisa?" pinta Awan. Mega tampak ragu, "saya ... benar-benar belum lapar, rasanya saya ingin jalan-jalan saja, boleh?" pinta Mega dengan tatapan penuh harap. "Jalan-jalan kemana?" "Hanya berkeliling di sekitar rumah, emmm ... sungai buatan juga, rasanya sudah lama tidak melihat ikan-ikan berenang," jelas Mega. Awan mengelus lembut pipi Mega, "ya sudah aku beri ijin tapi ingat tidak boleh kelu
Terakhir Diperbarui: 2026-06-01
Chapter: Bab 70. CemburuSama dengan Awan, Mega pun merasa terkejut melihat kehadiran Amelia yamg sudah tepat di depan pintu kamarnya.Mega segera menarik tangannya dari genggam tangan Awan lalu menundukkan kepalanya."Kalian semalam ...?!""Tidak, Bu, ini semua tidak seperti yang Bu Amel pikirkan," potong Mega sebelum Amelia sempat melanjutkan ucapannya.Awan menarik tubuh Mega agar berada di belakang tubuhnya, ":semalam aku memang menginap di kamar Mega, aku sengaja menjaga dia," jelas Awan.Amelia menatap Awan dengan mimik wajah tak senang, "ya sudah, ayo kita sarapan," ajak Amelia dengan nada sedikit sinis.Amelila memutar tubuhnya lalu berjalan lebih dulu, sementara Awan yang baru saja akan menyusul Amelia segera dihentiksn oleh Mega."Apa tidak apa-apa begini, Pak ... saya takut Bu Amellia marah," ucap Mega.Awan merangkul pundak Mega, "kamu tenang saja, soal Amelia biar menjadi urusanku."Awan lalu menggeser posisinya menjadi menghadap Mega, "tugasmu sekarang hanya menjaga calon anak kita dengan baik,
Terakhir Diperbarui: 2026-05-31
Chapter: Bab 27. Malam KelamBelum sempat Dirga melanjutkan ucapnnya Mela tiba-tiba mendorong tubuh Dirga dengan kuat, "maaf, Ga, lebih baik kamu pulang saja, aku tidak mau ada yang salah paham," ucap Mela dengan suara tertahan."Oke, aku akan pulang ... maaf kalau ...!""Sudah, cepat pergi, Ga!" usir Mela lagi, dan Dirga pun mengalah pergi tanpa berucap apapun lagi.Mela memutar tubuhnya untuk kembali bertemu dengan Siti yang masih berdiri menatap dirinya."Lain kali jangan membawa laki-laki sembarangan lagi, Neng, kost dan kontrakan kita ini bukan tempat bebas," ucap siti mengingatkan."Walau kamu cantik, tapi sebaiknya cari pekerjaan yang halal," ucap Siti yang seketika membuat Mela terhenyak."Kerja halal?" gumam Mela.'Apa Bu Siti kita kau bekerja macam-macam?' batin Mela tak berani menyuarakan."Tapi orang tadi ...""Ahh sudah sudah, kamu cepat masuk ... untung tidak ada orang lain yang lihat, soal ini ibu akan pegang rahasiamu," potong Siti yang kemudian pergi begitu saja.Mela menghela nafas, ia yang her
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 26. Kost"Emm ... apa aku bisa minta tolong untuk dipertemukan dengan Arga?!" pinta Mela. Dirga tersenyum tipis, "apa kamu sagat merindukan kakakku?" tanya Dirga dengan nada menggoda."Hah ... bukan, bukan itu maksudku," elak Mela sembari menggelengkan kepalanya.Dirga terkekeh melihat Mela yang tampak salah tingkah, "kenapa gugup begitu, padahal kalau rindu pun tidak ada salahnya kan, kamu itu istri kakakku," jawab Dirga.Mela mendengus memasang wajah masam, "bisa tidak bantu aku bertemu Arga?" pinta Mela lagi."Baiklah ... tunggu sebentar ya!" Dirga memutar tubuhnhya, lalu merogoh ponsel dari dalam saku celanannya, sementara Mela hanya diam menyimak apa yang sedang Dilakukan oleh adik dari suaminya itu.Mela dapat ikut mendengar saat sambungan telephin Dirga mulai berbunyi, dan tak butuh waktu lama dari seberang sebuah suara terdengar menyahuti."Halo, Kak!" sapa Dirga membuka pembicaraan.Mela masih diam menyimak, sayangnya Mela tak bisa mendengar suara Arga."Iya aku sedang bersama Mela
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 25. Nyonya Arga"Mbak ... cepat bungkus baju yang di manekin itu!""Ta ... tapi, Bu ini yang sudah memilih baju itu lebih dulu!" jawab si pelayan toko.Mela terdiam menatapi sang adik angkat yang masih berdiri congkak di hadapannya."Alah ... dia mana mampu membayar baju itu!""Lihat ... penampilannya saja lusuh begitu!" lanjut Rossa masih dengan nada sinis.Si pelayan toko tampak kebingungan untuk memberikan setekan jas itu pada Mela atau kepada Rossa."Berikan pada dia!" sela Dirga yang menyusul Mela secara tiba-tiba sembari mengarahkan tatappannya pada Mela.Rossa tercengang sesaat melihat kehadiran Dirga, "Pak Arga!" gumam Rossa yang mengira Dirga Adalah Arga."Kamu!" Dirga mengalihkan pandangannya pada Rossa."Cari baju yang lain ya ... tidak apa-apakan?" tanya Dirga."Hah ... ta tapi, saya sudah menunjuk baju itu lebih dulu," sahut Rossa tak mau mengalah.'Aneh ... biasanya Pak Arga akan berlaku manis padaku, kenapa sekarang dia malah membela Mela begini, dan tunggu, kemana sikap angkuhnya kena
Terakhir Diperbarui: 2026-06-05
Chapter: Bab 24. Butik"Ada apa lagi, Mel?" tanya Dirga."Bajumu ... Emm, aku tidak enak kalau tidak bertanggung jawab," tutur Mega."Lalu, maumu bagaimana?" tanya Dirga lagi."Mungkin kalau untuk mengganti aku tidak memiliki cukup uang, tapi setidaknya aku bisa coba untuk membersihkannya," tawar Mela.Dirga menghela nafas, "baiklah kalau maumu begitu, ayo ikut aku," ajak Dirga."Ahh ... iya!" sahut Mela yang kemudian mengikuti langkah Dirga.Beruntungnya langkah Dirga tak secepat tadi, membuat Mela tak perlu repot menyusul Dirga. Hingga tanpa Mela sadari langkah Dirga membawanya sampai ke parkiran kafe.Dirga masuk lebih dulu ke dalam mobilnya sementara Mela yang ragu tak segera menyusul masuk. Mela justru hanya berdiri di samping mobil Dirga.Dirga lalu menurunkan kaca mobilnya, "kenapa masih disitu, ayo masuk!" ajak Dirga.Mela namun ia masih ragu untuk membuka pintu depan atau pintu belakang.Hingga Dirga membuka pintu depan menawarkan Mela untuk duduk di sebelahnya."Cepat masuk, aku tidak mau tamuku m
Terakhir Diperbarui: 2026-06-01
Chapter: Bab 23. Bertemu Lagi"Kak Arga!" sapa Dirga karena yang menepuk bahunya ternyata adalah Arga. "Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Arga. "Emm ... tadi aku seperti melihat ..." Dirga menoleh pada tepat dimana beberapa saat tadi ia melihat Mela. "Melihat apa?" tanya Arga lagi. Dirga menggeleng, "bukan apa-apa ... sepertinya aku salah lihat," jawab Dirga. Arga mengangguk, lalu merangkul bahu sang adik, "ya sudah ... ayo kita masuk, aku sudah siapkan ruangannya," ajak Arga. Kedua adik kakak itu berjalan beriringan masuk ke dalam kafe. Sampai beberapa waktu berlalu, Dirga menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, "sepertinya tamunya sudah hampir datang." Arga ikut mengarahkan tatapannya pada jam tangan miliknya. "Baik suruh para pelayan menyiapkan jamuannya sekarang saja!" perintah Arga. Dirga pun melambaikan tangannya memanggil pelayang dan tak butuh waktu lama seorang pelayan pria datang menghampiri Dirga dan Arga. "Selamat siang, Pak!" sapa si pelayan. "Siapkan sesuai yang aku
Terakhir Diperbarui: 2026-05-31
Chapter: Bab 22. Kafe PradiptaKeesokan harinya Setelah turun dari angkutan umum yang ditumpanginya, Mela berjalan cepat menuju kafe tempat ia bekerja. Dalam hatinya ia sudah sangat yakin jika hari ini ia tidak akan bertemu kembali dengan Arga. Namun dugaan Mela ternyata salah besar, saat baru saja satu langkah kakinya masuk ke dalam kafe, Arga justru sudah berdiri tepat di hadapannya. "Selamat pagi Melati!" sapa Arga. Mela yang terkejut pun memundurkan kakinya beberapa langkah, "dia lagi?" gumam Mela terheran. "Mau apa lagi kamu disini, Ga?" tanya Mela. Arga tersenyum sinis, "loh ... memang kamu lupa siapa aku?" ucap Arga sembari melangkahkan kakinya menuju Mela. "Apa kamu sudah pikirkan bekerja di tempat ini bisa membuat semua hutangmu lunas?" Arga semakin mendekati Mela. "Aku ada penawaran!" lanjut Arga membuat Mela seketika mengarahkan tatapannya pada Arga. "Penawaran apa lagi?" tanya Mela ragu. Arga lebih dulu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe, dan setelah merasa situasinya aman, Arga lalu
Terakhir Diperbarui: 2026-05-23