author-banner
Adw_Canss781
Adw_Canss781
Author

Novels by Adw_Canss781

Saat Aku Salah Membencimu

Saat Aku Salah Membencimu

Hazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang. Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri. Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain. Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
Read
Chapter: BAB 87 Mencari Jawaban
Jam digital di ruang meeting menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit saat rapat akhirnya benar-benar selesai. Suasana lantai direksi Narendra Group cabang Bandung jauh lebih sepi sekarang. Sebagian besar lampu kantor bahkan sudah dimatikan, yang tersisa hanya beberapa staf lembur dan petugas kebersihan yang mulai merapikan area kerja. Lintang menutup laptopnya pelan. Lehernya terasa pegal setelah berjam-jam duduk membahas laporan dan target perusahaan. “Pak ini revisi finalnya nanti saya kirim malam ini.” Ucap salah satu kepala divisi sambil membereskan dokumen. “Iya.” Jawab Lintang singkat. Tatapannya masih terlihat fokus dan profesional seperti biasa. Namun jauh di dalam kepalanya, pikirannya sebenarnya tidak benar-benar ada di ruang meeting itu sejak tadi. Setiap beberapa menit, bayangan tiga anak kecil itu selalu muncul lagi. Terutama suara kecil Liana yang memanggilnya Ayah dengan penuh semangat tadi sore. Lintang mengusap pelan tengkuknya. Lalu berdiri sambil membawa
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: BAB 86 Kerja Terus
Suasana depan toko bunga masih dipenuhi suara tawa kecil tiga bocah itu. Liana masih sibuk berdiri dekat Lintang sambil memeluk lengannya. Sedangkan Leyan sudah mulai membuka lagi paper bag makanan yang tadi dibawa pulang. “Leyan…” Lintang kecil langsung menegur pelan. “Itu buat nanti dirumah.” “Aku cuma lihat.” Leyan mengelak. “Kamu lihat sambil makan.” Liana kembali protes. “Dikit.” Leyan sampai menampilkan cengirannya. Lintang sampai tertawa kecil melihat dua bocah itu. Namun belum sempat suasana kembali ramai, ponsel di saku celananya bergetar cukup panjang. Tatapan Lintang langsung turun ke layar. Nama sekretaris kantor cabang muncul disana. Seketika ia baru benar-benar ingat kalau dirinya masih punya meeting online yang tadi dimundurkan demi datang ke taman. Lintang mengusap wajah pelan sebentar sebelum akhirnya mengangkat telepon. “Iya?” Suara sekretarisnya langsung terdengar buru-buru dari seberang sana. “Pak meeting lima menit lagi di mulai. lien dari pusat ud
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: BAB 85 Boleh Panggil Ayah?
Suasana di taman sore itu perlahan berubah semakin hangat sekaligus menyakitkan bagi Lintang Aksara Narendra. Lampu-lampu taman memantul lembut di wajah tiga bocah kecil di depannya. Di tengah suara ramai orang-orang yang mulai pulang dunia Lintang seperti hanya berisi mereka sekarang. Liana masih menatapnya penuh harap. Matanya bulat besar, polos dan benar-benar serius dengan pertanyaannya tadi. “Jadi boleh gak?” Suara kecil itu membuat dada Lintang terasa penuh lagi. Beberapa detik ia hanya diam. Tatapannya bergantian melihat tiga anak di depannya. Lalu akhirnya sudut bibirnya perlahan bergerak tipis. “Boleh…” Mata Liana langsung berbinar terang. “BENERAN?” Lintang mengangguk kecil pelan. “Tapi…” Ia berhenti sebentar. “…apa Bunda kalian gak marah?” Liana langsung menggeleng cepat tanpa ragu. “Ah gak marah. Nanti Liana yang bilang.” Nada suaranya terdengar yakin sekali sampai membuat Lintang nyaris tertawa kecil. Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara yang duduk sambil me
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: BAB 84 Mencari Jawaban
Suasana taman semakin redup menjelang magrib. Lampu-lampu taman mulai terlihat lebih terang sekarang, memantul samar di jalan setapak yang mulai dipenuhi orang-orang pulang. Di bangku bawah pohon itu, Lintang masih duduk di samping Lintang kecil. Sedangkan di depan sana Liana dan Leyan masih tertawa sambil bermain gelembung sabun. “Itu sebabnya kalian disini…” Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Dan Bunda kalian di Jakarta?” Lintang kecil mengangguk kecil. “Iya. Bunda gak mau nanti Ayah marah sama kami.” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang kembali terasa berat. Jadi selama Hazel bekerja di Jakarta, anak-anak ini dititipkan di Bandung demi menghindari keributan dengan suaminya sendiri. “Lagian…” Lintang kecil kembali bicara sambil melihat ke arah Leyan. “…Leyan juga harus kontrol.” Tatapan Lintang langsung mengikuti arah pandang anak kecil itu. “Kontrol apa?” Padahal sebenarnya, ia sudah tahu. Kevin pernah menceritakan semuanya dulu. Tentang bayi ketiga Hazel yang lah
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: BAB 83 Luka
Liana dan Leyan akhirnya kembali menjauh dari bangku taman. Dua bocah itu kembali sibuk bermain kejar-kejaran sambil membawa gelembung sabun dan bola kecil mereka. Suara tawa mereka sesekali terdengar cukup keras sampai menarik perhatian beberapa orang di taman. Sedangkan di bangku panjang bawah pohon itu, suasana mendadak jauh lebih sunyi. Lintang kecil masih duduk tenang di samping Lintang. Tangannya kecilnya memegang susu vanilla yang tadi diberikan Lintang. Namun sejak tadi anak itu tidak benar-benar meminumnya lagi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah dua adiknya yang bermain. Lalu perlahan ia kembali bicara pelan. “Itu yang didengar mereka…” Lintang sedikit menoleh. “Maksudnya?” Lintang kecil menunduk kecil sekarang. “Yang aku ceritain kemarin sama Om…” Dadanya Lintang langsung terasa tidak enak lagi. “Dia gak suka sama kami…” Suara kecil itu terdengar makin lirih. “…karena kami anak haram.” Lintang membeku. “Anak hasil zina…” lanjut Lintang kecil. Rahang Lintang langsun
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: BAB 82 Ke Taman Lagi
Suasana taman sore itu jauh lebih hidup dibanding kemarin. Beberapa anak kecil bermain di area ayunan. Ada yang bersepeda kecil mengelilingi jalan setapak taman dan suara burung bercampur angin sore membuat suasana terasa tenang. Lintang akhirnya berjalan mendekat ke bangku taman bersama dua bocah kecil yang sejak tadi ribut sendiri di sampingnya. “Pelan-pelan…” Lintang sampai harus menahan langkah Liana yang hampir tersandung sendiri karena terlalu semangat. “Om dateng lagi beneran…” kembali lagi Liana berbicara. “Iya.” Lintang tertawa kecil. “Kan kemarin udah bilang kalau gak sibuk.” Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara sudah sibuk melirik kantong belanja di tangan Lintang sejak tadi. Tatapannya benar-benar fokus. Lintang kecil yang berdiri dekat bangku hanya memperhatikan dua adiknya dengan ekspresi pasrah. “Leyan pasti penasaran makanan…” gumamnya pelan. “Enggak.” Jawaban Leyan terlalu cepat. Liana langsung melotot kecil. “Boong.” Lintang akhirnya duduk di bangku taman
Last Updated: 2026-06-27
DIPTA

DIPTA

Semua berawal dari sebuah taruhan. Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari. Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh. Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan. Awalnya hanya permainan. Lalu menjadi kebiasaan. Kemudian… candu. Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh. Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan. Lebih dari sekadar pembuktian. Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan. Waktu berlalu, masa sekolah usai. Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya. Kini bukan hanya tentang cinta. Bukan pula sekadar obsesi. Ini tentang kendali. Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan? Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
Read
Chapter: BAB 122 Amarah Dipta
Pagi di Jakarta tidak lagi terasa biasa. Di beberapa kanal berita bisnis, forum internal, dan media sosial profesional, narasi tentang Aira mulai berubah arah. Bukan karena rumor berhenti namun karena “dibantah dengan cara yang tepat”. Hadiyasa Mahesa tidak banyak bicara di publik. Namun timnya bergerak cepat di belakang layar. Sementara itu di Rajendra Engineering, Dipta Niskala Mahesa sudah menyiapkan satu pola, bukan klarifikasi emosional, hanya koreksi data. Internal memo & media counter. “Tidak ada hubungan struktural pribadi dalam proses kerja Aira di perusahaan.” “Seluruh akses dan jabatan diberikan berdasarkan evaluasi kinerja internal.” “Isu pribadi tidak memiliki relevansi terhadap operasional perusahaan.” Bahasanya memang di buat dingin namun sangat mengguncang dan efektif. Dipta juga memberi satu kalimat tambahan Di dalam meeting internal, dia hanya berkata, “Kita tidak membalas rumor dengan emosi, kita balas dengan fakta yang tidak bisa dipelintir.” Di
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: BAB 121 Belum Usai
Gedung Rajendra Engineering hari itu terasa berbeda. Bukan karena aktivitas tapi karena satu nama yang mulai mengubah cara semua orang bekerja. Arjito Rajendra, setelah kehadirannya kemarin, tidak ada lagi yang menganggap ini kunjungan biasa. Pagi ini, berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Ruang meeting internal, semua kepala divisi sudah dipanggil. Tidak ada agenda resmi sebelumnya dan tidak ada email panjang, hanya satu kalimat. “Audit internal langsung oleh pemegang saham mayoritas aktif.” Bisik-bisik mulai muncul. “Pemegang saham?” “Bukannya ini perusahaan Dipta yang jalan?” “Tunggu, Pak Arjito masih punya saham?” Arjito masuk Pintu terbuka. Langkahnya tenang, tidak membawa banyak orang. Hanya satu folder kecil di tangan, ia duduk tidak banyak basa-basi. “Kita mulai.” Suara datar tapi langsung membuat ruangan diam total. Di sisi kanan Arjito ada Dipta tidak bicara banyak, hanya membuka laptop dan menyiapkan data real-time. Aira duduk di sebelahnya, lebih t
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: BAB 120 Orang Lama Kembali Muncul
Malam sudah benar-benar larut ketika mobil memasuki area rumah. Lampu pagar Arjito Rajendra sudah menyala dari tadi dan dia sudah berdiri di depan pintu rumah. Diam, tegak seperti memang menunggu sejak lama. Di dalam mobil, Aira baru membuka mata pelan. “Udah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Aku ketiduran lagi.” Dipta melirik sekilas. “Kamu capek.” ucanya singkat tapi ada maknanya. Mobil berhenti, Aira turun duluan. Baru dia sadar, Arjito sudah berdiri di depan. Tatapannya tidak keras tapi juga tidak ringan. Aira langsung sedikit menunduk. “Ayah…” Arjito hanya mengangguk. “Masuk.” perintah Arjito singkat, tidak ada pertanyaan dulu. Dipta turun terakhir. Pandangan mereka bertemu, cukup lama tak ada yang memutus. Lalu, Arjito menoleh ke Dipta. “Kamu ikut masuk.” Nada datar dan jelas. Di dalam rumah, Aira sempat melangkah ke arah tangga. Arjito langsung berkata pelan, “Kamu mandi. Istirahat.” Aira berhenti. “Tapi Yah—” Arjito memoto
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: BAB 119 Semua Jejak yang Terbuka
Malam itu di Jakarta, hujan turun pelan. Di dalam Rajendra Engineering, sebagian besar lantai sudah kosong. Tidak dengan satu ruangan kecil di sisi belakang gedung, di ruang IT Dipta berdiri diam di belakang layar monitor. Aira duduk di kursi depan, menatap data yang baru saja mereka kunci. “Dia sudah mulai panik.” IT mengangguk cepat. “Log aksesnya berubah pola sejak dua puluh menit lalu, Pak.” Dipta langsung menyipitkan mata. “Jelaskan.” “Dia coba login dari tiga device berbeda dalam waktu singkat…" ucap IT, ia berhenti sejenak. "dan satu di antaranya pakai VPN luar negeri.” Aira langsung menoleh. “Dia mau hapus jejak.” Dipta mengangguk pelan. “…atau dia disuruh hilang.” Sunyi sejenak, lalu IT menambahkan cepat. “…dan ada satu hal lagi.” Dipta menatapnya. “Apa?” “File yang dia akses terakhir… sedang dicoba dihapus dari server internal.” lanjut IT itu. Aira langsung berdiri. “Cepat blokir.” Dipta mengangkat tangan. “Sudah.” ucapnya tenang namun terdengar ding
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: BAB 118 Jejak dan Nama di Balik Akses
Sore di Jakarta terasa lebih cepat gelap. Di dalam mobil yang melaju pelan, Andine tidak banyak bicara. Ayahnya, Dodi Prasetya, duduk di sebelahnya sambil melihat tablet. “Kita terlalu cepat buka kartu tadi.” Suara Dodi datar. Andine menoleh sedikit. “Tapi kalau tidak dibuka, mereka akan terus tekan kita.” Dodi diam sebentar. “Tekanan bukan masalah... yang jadi masalah adalah arah tekanan.” Andine menatap keluar jendela. “Mereka mulai lihat cash flow.” Dodi mengangguk kecil. “…dan itu berarti kita tidak bisa main di angka lagi.” Andine menghela napas. “Kalau begitu kita pakai cara lain.” Dodi meliriknya. “Hati-hati... Dipta bukan tipe yang bisa dipaksa lewat satu jalur.” Andine tersenyum tipis. “Aku tahu.” Tapi senyum itu tidak sampai mata. Beberapa jam kemudian, Andine sudah di ruangannya sendiri. Lampu redup, laptop terbuka. Beberapa file lama dibuka ulang, file internal Rajendra Engineering bagian operasional Aira dan bukan itu saja folder lain seperti data karyaw
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: BAB 117 Kursi di Meja yang Sama
Pagi di Rajendra Engineering terasa berbeda. Bukan karena pekerjaan. Namun karena sistem internal baru saja berubah. Dipta berdiri di depan layar monitor IT. “Filter semua akses.” Nada suaranya datar dan tegas. “Semua file yang menyangkut Aira.” Tim IT saling pandang. “Pak, itu termasuk—” “Iya.” Dipta memotong. “…semua.” Aira berdiri di belakangnya, Aira sedikit terdiam. “Pak, itu terlalu—” Dipta menoleh. “Terlalu apa?” Aira ragu untuk mengatakan, tapi tetap ia ucapkan. “Terlalu ketat.” Dipta langsung menjawab. “Justru karena itu.” Ia menatap layar lagi. “…kamu sekarang bukan cuma target kantor, tapi target luar juga.” Di luar gedung, telepon, grup chat, media kecil, forum anonim mulai ramai. “Sekretaris CEO punya anak…” “Tapi nggak pernah ada suami terlihat…” “Anaknya siapa?” “Kok sering bareng CEO?” Meski begitu yang paling berbahaya bukan pemberitaannya, melainkan yang paling berbahaya foto. Aira sedang menggandeng anak kecil, Askara saat di taman atau men
Last Updated: 2026-06-27
You may also like
Terjerat Pesona Om-Om
Terjerat Pesona Om-Om
Romansa · Ria Purnama
7.6K views
LUKA
LUKA
Romansa · Kimrara
7.6K views
Penyesalan Suami Miliarder
Penyesalan Suami Miliarder
Romansa · Rich Ghali
7.6K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status