author-banner
Cherry Blessem
Author

Novels by Cherry Blessem

Ayah, Aku Ingin Menikah Dengannya!

Ayah, Aku Ingin Menikah Dengannya!

Setelah terbangun sebagai antagonis dalam novel yang ia tulis sendiri, Evelyn Blackwell bertekad menghindari kematian tragisnya di tangan tunangannya sendiri. Sebagai gantinya, Evelyn memilih seorang pria yang misterius yang bahkan tak pernah ia kenali sebelumnya. "Ayah, aku ingin menikah dengannya!"
อ่าน
Chapter: 54. Tamu tak terduga
"Lavender!" seru Evelyn begitu tiba di ruang tamu. Seorang gadis muda bergaun biru muda tampak berdiri di dekat meja tamu sambil memegang sekeranjang buah-buahan segar. Senyumnya yang lembut langsung mengembang begitu melihat Evelyn datang. "Nona Blackwell!" balas Lavender dengan wajah berbinar. "Evelyn mengerjapkan mata beberapa kali. "Ada apa kau kemari?" tanyanya heran, memperhatikan keranjang buah yang tampak cukup berat di tangan Lavender. "Aku dengar kau sedang sakit," jawab Lavender sambil melangkah mendekat. Begitu melihat wajah Evelyn dari dekat, ekspresinya langsung berubah menjadi khawatir. "Astaga! Anda terlihat pucat, Nona Blackwell!" katanya dengan mata membulat. Evelyn sedikit terkejut. Kabar tentang dirinya yang sakit rupanya sudah menyebar begitu cepat. Bahkan Lavender Bellamy yang tidak tinggal serumah dengannya pun sudah mengetahuinya. "Aku sudah jauh lebih baik," kata Evelyn sambil tersenyum tipis. "Silakan duduk." "Terima kasih." Keduanya pun duduk berha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: 53. Kedatangan Louis
"Ada perlu apa mencariku, Sir?" tanya Baron Blackwell begitu memasuki ruang tamu. Louis yang sejak tadi duduk menunggu segera berdiri menyambut kedatangan sang tuan rumah. Ia memberikan hormat singkat sebelum kembali menegakkan tubuhnya. "Ini mengenai status siaga di hutan Pegunungan Lox," kata Louis dengan tenang. Sudah bertahun-tahun Louis menangani berbagai pemberontakan dan kelompok perampok yang meresahkan wilayah kekuasaan Baron Blackwell. Selama itu pula, hubungan mereka lebih banyak sebatas urusan militer dan keamanan. Anehnya, meski telah berkali-kali datang ke kediaman Blackwell, ia hampir tidak pernah memiliki interaksi berarti dengan Evelyn. Karena itulah, hingga kini Louis masih belum benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi pada malam pesta itu. Mengapa tiba-tiba Evelyn menunjuk dirinya sebagai pria yang ingin dinikahi setelah membatalkan pertunangannya dengan Viscount Harold? "Oh, begitu rupanya?" kata Baron sambil mengangguk pelan. "Kalau begitu, silakan d
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: 52. Sakit perut yang mengejutkan
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Baron Blackwell begitu memasuki kamar Evelyn.Pintu yang terbuka perlahan membuat suasana kamar yang semula tenang berubah tegang. Sara segera menyingkir ke samping dan membungkukkan badan memberi hormat kepada tuannya."A—Ayah..." suara Evelyn terdengar lirih di tengah rasa sakit yang masih melilit perutnya.Melihat putrinya terbaring lemas di atas ranjang, Baron Blackwell segera berjalan mendekat. Wajahnya yang biasanya tegas kini dipenuhi kekhawatiran."Apa yang terjadi padamu?" tanyanya pelan.Evelyn berusaha tersenyum tipis. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur untuk memberi hormat sebagaimana mestinya kepada sang ayah. Namun baru saja tubuhnya terangkat sedikit, rasa mulas kembali menyerang hingga ia meringis menahan sakit."Tidurlah kembali kalau kau kesulitan, Evelyn," ujar Baron Blackwell dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.Ia kemudian duduk di sisi ranjang dan memandangi putrinya dengan penuh perhatian."Kudengar pelayanmu mema
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: 51. Rasa kemanusiaan itu ada
"Maaf saya tidak bisa mengantar Anda hingga ke kediaman, Nona," kata Sir Louis sesaat sebelum Evelyn dan Sara menaiki kereta kuda.Menurut laporan Alex, bawahan Louis, telah terjadi keributan di dekat kawasan permukiman kumuh. Sekelompok preman dikabarkan sedang berusaha menjarah beberapa rumah dan kios milik warga, sehingga kehadiran Louis sebagai pemimpin pasukan sangat dibutuhkan untuk segera menertibkan keadaan."Tidak masalah, Sir." Evelyn tersenyum tipis. "Justru saya yang harus meminta maaf karena sudah mengganggu waktu sibuk Anda."Ia benar-benar merasa tidak enak.Sejak awal, tujuannya hari itu hanya mengantarkan naskah ke percetakan. Ia sama sekali tidak berniat berjalan-jalan hingga akhirnya tanpa sadar membuat Louis menghabiskan begitu banyak waktu untuk menemaninya. Semua kejadian hari itu terjadi di luar rencananya, sehingga ia bahkan tidak sempat memikirkan jalan keluar ketika satu demi satu masalah bermunculan."Anda bisa menggunakan kereta kuda ini," ujar Louis sambil
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: 50. Rasa iba yang diuji
"Sir Louis!" seru Evelyn begitu melihat Louis bergerak sigap melindunginya.Baginya, tindakan Louis terasa terlalu berlebihan hanya karena ia terjatuh akibat ditabrak beberapa anak remaja.Sara yang sama paniknya segera berlari menghampiri Evelyn. Tanpa sempat memikirkan para bocah yang kini ditodong pedang oleh Louis, ia langsung berjongkok di hadapan majikannya."Astaga, Nona! Anda baik-baik saja?" tanyanya cemas sambil membantu Evelyn berdiri.Evelyn mengembuskan napas panjang."Bisakah kalian berdua tidak terlalu mencolok?" keluhnya kesal. "Bukankah aku menyamar agar tidak menarik perhatian?"Rasa kesalnya bahkan ikut tertumpah kepada Sara yang hanya berniat menolongnya. Setelah berdiri tegak, Evelyn segera melangkah mendekati Louis. Dengan hati-hati ia menahan lengan pria itu yang masih mengacungkan pedang ke arah para remaja."Hentikan! Aku baik-baik saja!" katanya tegas."Kenapa sampai harus berlebihan seperti ini?""Kami khawatir Anda terluka, Nona," jawab Sara buru-buru."Bia
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: 49. Permukiman rakyat jelata
"Sir Louis! Mengapa Anda ada di sini?" tanya Evelyn dengan nada terkejut.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Jangan-jangan, Louis melihat mereka keluar dari percetakan itu?Pikiran tersebut membuat Evelyn mendadak panik. Ia benar-benar khawatir karier kepenulisannya akan berakhir bahkan sebelum sempat dimulai.Louis tidak menunjukkan banyak reaksi. Namun, sorot matanya tampak dipenuhi keheranan."Bukankah lebih aneh bagimu berada di tempat seperti ini?" tanyanya balik.Evelyn berdeham pelan. Tentu saja lebih aneh jika dirinya yang berada di kawasan ini. Daerah tersebut merupakan permukiman rakyat jelata yang cukup kumuh. Hampir tidak ada bangsawan yang bersedia datang ke sana, kecuali untuk urusan tertentu yang bersifat rahasia, melakukan penyamaran, atau terlibat dalam aktivitas ilegal."Ah... itu." Evelyn tertawa canggung. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar."Louis tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan mengamati penampilan Evelyn dari ujung kepala hingga ujung kaki.Ha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Hasrat Liar Sahabat Suami

Hasrat Liar Sahabat Suami

Memiliki ayah yang pemabuk, penjudi serta suka main tangan membuat Rani menganggap perlakuan Bima—suaminya, terasa lembut meskipun ia kasar dan suka menghancurkan barang disekitarnya ketika emosinya meledak. Penggambaran cinta yang sesat lantas membuat Rani bertanya-tanya apakah ada pria yang bisa lebih lembut dari suaminya? Suatu saat ia bertemu dengan Fabio, sahabat suaminya yang ternyata juga kakak seniornya sendiri di kampus. Kepribadiannya yang dingin namun perhatian tampaknya malah membuat cinta lama yang telah layu itu kembali terbakar. Saat gairah dan nafsu mulai menguasai diri, keduanya pun mulai melewati batas dan terlibat dalam hubungan penuh rahasia yang tak seharusnya.
อ่าน
Chapter: 121. Melabrak Jihan
“Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-18
Chapter: 120. Memberitahukan Fabio
Rani memandang Fabio sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan. Napasnya terasa sedikit berat, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.“Aku sudah menceritakan soal kehamilanku pada Bima dan mertuaku tadi,” katanya akhirnya, menatap Fabio dengan serius.Jantung Rani berdebar kencang. Ia menunggu reaksi laki-laki itu—mencari tanda, sekecil apa pun, tentang apa yang sebenarnya Fabio rasakan.“Benarkah? Akhirnya!” Fabio tersenyum lebar, tampak benar-benar bahagia. Ia menggenggam tangan Rani, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku senang kamu mengatakannya. Aku bersyukur kamu tidak menahan semuanya sendirian dan membuat dirimu kewalahan menyembunyikan kehamilan ini.”Rani sedikit tertegun melihat reaksi itu. Hangat. Tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan seperti yang biasa ia terima dari Bima. Entah kenapa, perasaan lega langsung memenuhi dadanya.“Terima kasih banyak,” ucapnya tulus, menatap Fabio dengan mata yang sedikit berka
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-18
Chapter: 119. Pesan Ancaman
Rani segera membuka pesan yang ia terima. Nama pengirimnya anonim, membuatnya tak yakin siapa orang iseng yang mengirim pesan itu.Begitu melihat isinya, tangan Rani langsung gemetar. Matanya seolah tak percaya hingga ia harus membacanya dua kali.Kumpulan foto kedekatannya dengan Fabio—foto terbaru. Termasuk tespek yang ia buang dan momen ketika Fabio menunjukkan tespek itu padanya.“Tidak mungkin .…” Rani lemas. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing, dan rasa mual menyerang.Bagaimana mungkin foto-foto ini dikirimkan tepat setelah ia membagikan kabar bahagia pada suami dan mertuanya?Tanpa pikir panjang, Rani segera meneruskan pesan itu pada Fabio. Tak butuh waktu lama hingga pesan tersebut terbaca. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar—Fabio langsung menelepon.“Halo .…” suara Rani terdengar lemah.“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku akan segera ke sana!” suara Fabio terdengar panik dan terburu-buru.“Aku di rumah. Aku …, baik-baik saja, Kak,” jawab Rani, berusaha terd
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-18
Chapter: 118. Kelembutan Yang Mengejutkan
“Kamu beneran hamil?!” Bima tampak tak percaya, namun ekspresinya perlahan berubah dari kaget menjadi bahagia.Rani menelan ludah. Ia hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata. Ada rasa takut yang sempat menggelayut—seolah kabar ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk.Mata Rani langsung melirik ke arah ibu mertuanya yang tampak diam seribu bahasa. Wanita itu terlihat sulit ditebak. Meski jelas terkejut, ada sesuatu yang tetap terasa dingin dari sorot matanya.Mungkinkah kabar ini benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang?“Ibu! Rani akhirnya hamil!” seru Bima penuh semangat.Rani sendiri ikut terkejut dengan reaksi Bima. Kalau diingat-ingat, selama ini Bima selalu menjadi orang yang membelanya setiap kali ibunya menyinggung soal anak.Rani kembali membaca raut wajah ibu mertuanya yang misterius. Entah mengapa, wanita itu tetap tak berkata apa-apa. Padahal, selama ini ia selalu menuntut cucu dan kerap menyulitkan Rani karena hal itu.Sekarang ketika Rani benar-benar mengandung, aka
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-18
Chapter: 117. Berita Bahagia
Rani merasakan cahaya lampu yang menusuk matanya ketika perlahan terbuka.Silau.Ia menyipit, berusaha menyesuaikan penglihatannya sambil mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya lemas. Perlahan, kesadarannya kembali. Rani kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia menoleh pelan ke kanan dan kiri, mendapati seorang dokter, Bima, dan ibu mertuanya duduk mengelilinginya.“Hati-hati,” ujar dokter dengan lembut sambil membantu Rani untuk duduk. Tangannya menopang bahu Rani agar tidak kembali terjatuh.Rani mengernyit pelan, menahan pusing yang masih tersisa.“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung setelah berhasil duduk bersandar.“Kamu pingsan,” jawab Bima cepat. “Aku panggil dokter karena kebetulan dia kenalanku,” lanjutnya, seolah tidak memberi ruang bagi Rani untuk mencerna keadaan.Rani menoleh ke arah ibu mertuanya.Tatapan Bu Dina tampak kesal, jelas tidak senang dengan situasi itu. Rani langsung merasa tidak enak. Ia pasti sudah merep
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-18
Chapter: 116. Kedatangan Bu Dina
Bunyi benda-benda di meja jatuh terdengar keras.Bima tiba-tiba melempar tutup panci yang digunakan untuk menutup jagung dan ubi rebus di meja. Tutup panci itu melayang dan menghantam dinding dengan suara nyaring sebelum jatuh ke lantai.“Kenapa kalau aku pilih Rani sebagai istri?!” teriak Bima dengan suara menggelegar.Teriakan itu membuat ibunya langsung menegang.“Bima …?” Bu Dina terkejut, matanya melotot melihat reaksi putranya yang tiba-tiba meledak seperti itu.“Emang kenapa!?” Bima balas berteriak. “Aku tahu aku bukan yang paling pintar dan berhasil kayak saudara-saudaraku yang lain! Kalau ibu gak suka aku, gak usah datang!”Amarah Bima meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan.Seperti biasa, Bima paling tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahan direndahkan, apalagi dibandingkan dengan saudara-saudaranya.Dulu, justru sifat inilah yang membuat Rani jatuh cinta pada Bima. Bima pernah cukup berani—bahkan cukup gila—untuk membelanya di depan orang lain.Namun seiring wak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-16
บางทีคุณอาจจะชอบ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status