Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Celine, seorang mahasiswa psikologi, terbangun di dalam tubuh Celestine de Montclair, antagonis malang yang ditakdirkan mati dipenggal oleh tunangannya sendiri, Pangeran Alaric Alderwyn. Menyadari ia memiliki waktu tiga tahun sebelum eksekusi, Celestine bersumpah untuk mengubah takdir. Demi menyelamatkan dirinya, Ia membatalkan pertunangannya, membangkitkan kekuatan sihir kuno miliknya yang tertidur, dan menjauh dari plot utama novel.
Namun, semakin ia mencoba menghindar, dunia novel itu justru berputar ke arahnya. Alaric, sang pangeran berdarah dingin yang seharusnya membencinya, kini justru terobsesi mengejarnya.
Baca
Chapter: 280 - Kekhawatiran Celestine"Jika kau terus menggulung pita sutra itu dengan tatapan kosong seperti itu, Celestine, aku khawatir gaun penobatan klan Montclair akan berubah menjadi lilitan mumi." ucap Caelum, suaranya yang jernih dan sarat akan nada gurauan malas memecah kesunyian di dalam paviliun pribadi Celestine.Celestine tersentak dari lamunannya. Ia menurunkan jemarinya dari kotak beludru, melirik ke arah Caelum yang tengah bersandar santai di pilar jendela besar. Ksatria pelindung sekaligus pengawal pribadinya dari klan Devereux itu sedang membersihkan bilah belati kembarnya, namun sepasang matanya tidak pernah benar-benar lepas dari raut wajah Celestine yang tampak muram sepanjang hari ini.Di luar paviliun, atmosfer Istana Utama Ethelwilde sedang berada di puncak kesibukan yang luar biasa. Ratusan pelayan berlarian membawa kain-kain beludru merah keemasan, jajaran ksatria lapis baja sibuk menyusun formasi parade, dan aroma minyak suci serta bunga-bunga khas kekaisaran mengapung pekat di udara. Seluruh p
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: 279 - Putra Mahkota yang SahGema ketukan palu berdentum lambat, memotong sisa-sisa bisikan cemas yang merajai Aula Kemegahan. Bau dupa gaharu dan lilin lebah yang terbakar mengapung berat di udara, mempertegas atmosfer transisi kekuasaan yang sakral sekaligus menegangkan. Di tengah ruangan, di atas kursi roda beludru marun yang megah namun tampak rapuh, duduk Raja Caspian Elrond Alderwyn. Sang penguasa Ethelwilde yang sudah di usia cukup tua itu tampak teramat menyusut; wajahnya pucat dengan gurat-gurat kelelahan fisik yang tak lagi bisa disembunyikan di balik jubah kebesaran emasnya yang longgar.Napas sang Raja terdengar tipis dan tersendat akibat sisa racun Mortis-Gutta yang sempat merusak sirkuit mananya dan juga tubuhnya. Namun, sisa-sisa kewibawaan seorang penguasa tua yang terluka masih memancar tajam dari sepasang matanya. Ia menatap lurus ke arah Alaric dan Celestine yang berdiri berdampingan di barisan paling depan.Raja Caspian mengangkat satu tangannya yang gemetar halus, memberikan isyarat agar sel
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: 278 - Hukuman Sah PenghianatGema ketukan palu Dewan Tetua berdentum tiga kali, memotong keheningan yang mencekam di dalam Ruang Agung Pengadilan Tinggi Kerajaan Ethelwilde. Bau minyak suci dan lilin lebah yang terbakar mengapung di udara, mempertegas atmosfer hukum yang kaku dan dingin. Di bawah langit-langit kubah yang melukiskan keadilan para dewa masa lalu, seluruh jajaran bangsawan tinggi, menteri, dan komandan militer duduk dengan punggung tegap, menahan napas menyaksikan jalannya eksekusi takdir.Di tengah-tengah aula, terikat oleh belenggu besi hitam penekan mana yang teramat berat, Julian berdiri dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi zirah mewah atau tatapan penuh karisma yang biasa ia pamerkan di pergaulan kelas atas. Jubah bangsawannya telah dirobek paksa di depan publik, menyisakan kemeja putih kusam yang bernoda debu penjara bawah tanah. Di sampingnya, Seraphina berlutut dengan tubuh gemetar hebat, rambut cokelat kemerahannya dengan ujung ikal yang indah kini kusut menutup sebagian wajah pucatnya
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: 277 - Perilaku Alaric yang Mendebarkan"Seharusnya kau berada di dalam, beristirahat dan dirawat para tabib, bukan membiarkan angin malam ini menusuk kulitmu, Sayang." ucap Alaric, suaranya parau namun sarat akan kelembutan yang teramat dalam, memecah kesunyian subuh yang dingin di balkon marmer tersebut.Celestine tidak langsung menjawab. Ia perlahan membalikkan tubuhnya, membiarkan sepasang netra amethyst-nya berbenturan langsung dengan sepasang safir milik Alaric yang tampak lelah namun berkilat penuh emosi yang intens.Tanpa menunggu persetujuan, Alaric melangkah lebar memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Sepasang tangan kokohnya yang masih menyisakan bekas mesiu dan darah kering langsung mencengkeram kedua bahu Celestine. Gerakannya terburu-buru, dipenuhi kepanikan laten yang baru meledak setelah seluruh ketegangan perang mereda. Alaric menarik Celestine mendekat ke dalam pendaran cahayanya, menundukkan kepala demi memeriksa setiap inci dari wajah pucat sang gadis."Lihat aku." desis Alaric, napasnya yang h
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: 276 - Puing-Puing Takdir"Setelah kupikir-pikir lagi, lebih baik lemparkan dia ke kedalaman Sektor Ketujuh, pastikan belenggu besi hitam menekan sirkuit mana mereka." perintah Alaric, suaranya yang bariton menggema dingin di koridor yang masih menyisakan bau anyir darah.Para ksatria pengawal langsung menyentak tubuh Julian yang sudah terkulai lemas, sementara di sisi lain koridor, Caelum mendorong Seraphina yang terus merancau dalam kegilaan psikologisnya. Langkah kaki mereka yang terseret menjauh menandai runtuhnya faksi pemberontak untuk selamanya. Di saat yang sama, tabib istana berlari terburu-buru membawa ramuan penawar murni yang diracik dari ekstrak tumbuhan Barat milik Celestine; racun Mortis-Gutta di tubuh Raja Alderwyn akhirnya berhasil dinetralkan tepat waktu, menghentikan masalah detak jantung sang penguasa tua dari ambang kematian.Saat kegaduhan perlahan menyurut menjadi keheningan yang melelahkan, Celestine—atau lebih tepatnya, jiwa Celine yang berada di dalam tubuh itu—melangkah menjauh dari
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: 275 - Tikus Kecil yang TertangkapGema derap langkah ksatria yang menyeret tubuh bonyok Pangeran Julian perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang ganjil di dalam aula Emas. Di atas podium takhta yang kini ternoda oleh cipratan darah pengkhianat, Alaric berdiri tegak memandangi sisa-sisa kehancuran dengan napas yang mulai teratur. Di sampingnya, Celestine menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya bersandar lemas pada pilar marmer, merasakan perlahan badai di dalam sirkuit mananya mulai mereda. Kudeta di dalam ruang takhta memang telah diredam dengan pukulan telak, namun di luar sana, sisa-sisa racun dari faksi pemberontak ini masih mencoba mencari celah untuk meloloskan diri.Di koridor luar istana yang pengap dan dipenuhi sisa asap mesiu, Caelum melangkah gesit membelah barisan ksatria Montclair. Sepasang mata gelapnya memancarkan kilat ketajaman yang teramat dingin. Beberapa menit yang lalu, seekor burung merpat pembawa pesan memberikan pesan singkat dari mata-mata klan Devereux di perbatasan utara "Kuil pengasi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 247 - Akhir Kisah Lin Qian dan Wang Rui"Hoo... Huuuuuhhhh." Hari itu tidak datang dengan suara guntur atau langit yang berubah warna. Tidak ada pertanda besar di angkasa, tidak ada lonceng darurat yang dibunyikan di puncak menara. Pagi hanya terbuka perlahan, seolah semesta sengaja menahan napas agar tidak mengganggu satu peristiwa kecil yang akan mengubah segalanya. Lin Qian terbaring dengan napas yang mulai terputus-putus. Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram kain seprai hingga memutih. Rasa sakit itu datang bergelombang, menghantam tubuhnya tanpa ampun, namun matanya tetap jernih—setajam kristal yang ditempa api. Ia pernah menghadapi racun yang membakar tenggorokan, pengadilan yang dingin, dan penjara bawah tanah lembab yang menyiksa. Namun, rasa ini berbeda. Ini bukan rasa takut akan kehilangan nyawa. Ini adalah rasa sakit yang membawa berkah, sebuah perjuangan ketika hidup baru tengah mendobrak gerbang untuk lahir ke dunia. Di sisinya, Wang Rui berdiri kaku. Tidak ada mahkota emas
Terakhir Diperbarui: 2026-02-02
Chapter: Bab 246 - Saat Dunia Tidak Lagi BerisikIstana akhirnya terasa tentram dan damai. Bukan diam karena takut, bukan pula sunyi karena kehilangan arah. Ini adalah keheningan yang lahir setelah badai benar-benar lewat, ketika dinding tidak lagi menunggu retak, dan langkah kaki tidak lagi membawa gema ancaman. Semuanya terasa aman Pagi datang tanpa tergesa. Cahaya matahari menyelinap masuk ke lorong-lorong istana, jatuh lembut di lantai batu yang kini jarang dilalui dengan langkah terburu-buru. Para pelayan bergerak dengan ritme wajar. Tidak ada bisikan panik, tidak ada mata yang selalu mengarah ke pintu seolah menunggu kabar buruk. Lin Qian merasakan perubahan itu dari dalam tubuhnya sendiri. Kehamilannya membuat waktu terasa berbeda. Setiap hari seolah melambat, namun justru terasa penuh. Ia tidak lagi bangun dengan pikiran yang langsung sibuk menimbang kemungkinan terburuk. Tubuhnya menuntut perhatian, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengabulkannya tanpa rasa terbebani. Ia duduk di paviliun terbuka, juba
Terakhir Diperbarui: 2026-02-01
Chapter: Bab 245 - Huang Ziyan & Yue ErHubungan antara Huang Ziyan dan Yue Er tidak pernah diumumkan. Tidak pernah pula disepakati secara resmi sejak awal. Ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah keras tanpa suara, bertahan dari tekanan, dan memilih arah sendiri tanpa perlu disorot siapa pun.Semua bermula jauh sebelum kekacauan istana mencapai puncaknya. Saat Huang Ziyan pertama kali menyadari bahwa perintah Ibu Suri tidak lagi sekadar manipulasi, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa Kaisar dan Permaisuri, ia tidak langsung memberontak. Ia memilih diam. Mengamati. Menimbang risiko dengan kepala dingin seorang tabib yang tahu, satu kesalahan kecil bisa merenggut banyak nyawa.Di masa itulah Yue Er sering berada paling dekat dengannya. Wanita muda itu tidak bertanya banyak. Tidak mendesak penjelasan. Namun kehadirannya konsisten. Membawa laporan kecil, membantu mengatur jalur logistik obat, menutup celah yang seharusnya tidak terlihat. Yue Er tidak pernah menuntut keju
Terakhir Diperbarui: 2026-01-30
Chapter: Bab 244 - Cinta yang HadirPagi di istana tidak lagi terasa seperti medan siaga. Cahaya matahari masuk tanpa terburu-buru, menyentuh lantai kayu Paviliun Qinghe yang bersih dan hangat. Tidak ada langkah cepat pelayan, tidak ada laporan mendesak. Dunia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi mereka yang selama ini hidup dengan kewaspadaan berlebihan.Lin Qian duduk di dekat jendela, mengenakan Hanfu santai yang sederhana. Tidak ada perhiasan berat, tidak ada sanggul ketat. Rambutnya jatuh longgar di punggung, menandakan bahwa pagi ini ia bukan Permaisuri yang harus siap dilihat siapa pun. Ia hanya seorang perempuan yang sedang mencoba menikmati keheningan.Buku terbuka di pangkuannya, namun halaman itu tidak berubah sejak beberapa waktu lalu. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Tubuhnya ada di paviliun, tetapi jiwanya masih belajar menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi harus bersiaga setiap detik.Langkah kaki terdengar dari belakang. Tidak disertai pengumuman, tidak
Terakhir Diperbarui: 2026-01-29
Chapter: Bab 243 - Kekaisaran Menuju KemajuanTidak ada genderang perang, tidak ada lonceng darurat, tidak pula bisik-bisik cemas yang biasa menyertai perubahan besar di Kekaisaran Wang. Reformasi justru dimulai dalam keheningan yang rapi, seperti air yang mengalir perlahan namun pasti mengubah bentuk batu.Lin Qian duduk di ruang kerjanya ketika gulungan pertama laporan reformasi tiba. Bukan laporan darurat, melainkan catatan perkembangan. Angka-angka yang dulunya berantakan kini tersusun rapi. Klinik-klinik daerah melaporkan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Akademi Yaonu Tang mencatat lonjakan murid perempuan dari berbagai latar, termasuk putri petani dan anak perempuan tabib keliling yang dulu tidak pernah berani bermimpi sejauh ini.Ia membaca semuanya tanpa senyum kemenangan yang terlalu lebar, sudut bibirnya hanya terangkat sedikit sebagai senyuman tulus. Wajahnya tenang, hampir datar, namun matanya jernih. Reformasi tidak pernah terasa seperti pencapaian pribadi baginya. Ini selalu tenta
Terakhir Diperbarui: 2026-01-29
Chapter: Bab 242 - Pengangkatan Huang ZiyanIstana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru. Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit. Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew
Terakhir Diperbarui: 2026-01-28