Chapter: Bab 264. Harga sebuah takdirAnna yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Valeriana. Ada keraguan yang sempat melintas di wajah pelayan itu sebelum ia memutuskan untuk berbicara.“Nyonya bertemu seorang nenek aneh sebelum pulang,” ucapnya pelan, seolah takut kata-katanya akan menambah beban suasana yang sudah cukup berat. “Awalnya saya pikir beliau hanya peramal jalanan biasa. Tapi setelah pertemuan itu, Nyonya terus melamun.”Kael yang duduk di sisi ranjang segera menoleh.“Seorang nenek?” tanyanya, alisnya berkerut bingung.Valeriana menggigit bibir bawahnya pelan. Dadanya terasa sesak. Ia tahu tidak ada gunanya lagi menyimpan cerita itu seorang diri. Terlalu banyak hal yang sudah terjadi. Kael kini mengetahui rahasia terbesar yang selama ini ia sembunyikan. Ia juga baru saja pingsan dan membuat semua orang di ruangan itu diliputi kecemasan.Tak ada lagi alasan untuk berdiam diri.“Nenek itu mengatakan sesuatu,” ujarnya lirih.Kael tidak menyela. Tatapannya tertuju penu
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 263. Kabar baikTabib Pym menatap Valeriana beberapa saat lebih lama dari biasanya. Sorot matanya yang semula tajam dan penuh perhatian seakan tengah menimbang sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain di dalam ruangan itu.Lalu, perlahan-lahan, ekspresi serius di wajahnya berubah.Bukan kepanikan.Bukan pula kesedihan.Melainkan keterkejutan yang singkat, sebelum akhirnya melembut menjadi sesuatu yang hangat dan hampir tak terduga.“Nyonya Duchess,” ucapnya pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya, “sejak kapan Nyonya sering merasa lelah?”Valeriana berkedip bingung.“Aku... tidak tahu,” jawabnya jujur. “Beberapa hari ini memang banyak hal yang terjadi.”Tabib Pym mengangguk kecil.“Apakah Nyonya juga lebih mudah merasa pusing? Nafsu makan berubah? Atau sesekali merasa mual?”Pertanyaan itu membuat Valeriana terdiam.Ia mencoba mengingat beberapa hari terakhir. Rasa lelah yang datang lebih cepat dari biasanya. Tubuh yang terasa berat. Perut yang sesekali tidak nyaman tanpa alasan yan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 262. Valeriana sadarValeriana menarik napas tajam. Matanya terbuka mendadak. Cahaya lampu di kamar utama kediaman Vallas langsung menyambut pandangannya.Bukan langit-langit putih rumah sakit. Bukan bau obat-obatan steril. Bukan suara mesin detak jantung. Ia berada di kamar Kael. Di dunia novel. Di sisi pria itu.“Nyonya!”Suara Anna pecah hampir seperti tangisan.Valeriana mengerjap beberapa kali. Pandangannya masih buram dan kepalanya terasa berat. Hidungnya sedikit perih, tetapi darah yang tadi mengalir tampaknya sudah dibersihkan.Dan tepat di samping ranjangnya, Kael duduk dengan wajah pucat.Sangat pucat.Bahkan lebih buruk dibanding saat tubuhnya sendiri dipenuhi luka.Pria itu seharusnya masih beristirahat. Seharusnya tidak bergerak terlalu banyak. Namun kini ia duduk di tepi ranjang Valeriana dengan napas sedikit berat, satu tangannya menggenggam jemari Valeriana erat seolah takut kehilangannya.Perban di bahunya tampak sedikit bergeser, pertanda ia bangun terburu-buru tanpa memedulikan kondisin
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 261. Di antara dua duniaAwalnya, hanya ada kegelapan.Kegelapan yang begitu pekat hingga seolah menelan seluruh kesadaran, menyisakan kehampaan tanpa batas. Di tengah sunyi itu, sebuah suara samar perlahan muncul dari kejauhan.Pelan.Teratur.Tak pernah berhenti.Bip… bip… bip…Suara itu menggema seperti denyut kehidupan yang berusaha menembus kabut gelap di sekelilingnya.Valeriana merasa tubuhnya begitu berat. Seakan seluruh dirinya tenggelam jauh ke dasar lautan yang dingin dan tak berujung. Kesadarannya melayang tanpa arah, terombang-ambing di antara mimpi dan kenyataan, antara sadar dan tidak sadar. Namun di tengah semua itu, suara tersebut terus memanggilnya, menariknya perlahan dari jurang ketidaksadaran.Bip… bip… bip…Entah mengapa, suara itu terasa begitu akrab. Bukan suara pintu kayu tua di koridor Kediaman Vallas yang berderit saat malam tiba. Bukan langkah kaki para pelayan yang berjalan tergesa di lorong istana.Bukan pula bunyi lembut nyala lilin yang menari diterpa angin malam.Tidak.Itu ad
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 260. Valeriana mimisanWajah Valeriana seketika memucat.Kalimat itu menghantam kesadarannya begitu keras, seperti sambaran petir di tengah siang yang tenang—mendadak, memekakkan, dan meninggalkan getaran dingin yang menjalar hingga ke ujung jarinya.Kembalilah ke duniamu.Napas Valeriana tercekat.Nenek itu tahu.Entah bagaimana caranya, wanita tua itu mengetahui sesuatu yang bahkan tidak pernah berani ia ungkapkan kepada siapa pun. Kecuali Kael.Dadanya mendadak terasa sesak. Jantungnya berdetak tidak beraturan, seolah mencoba keluar dari rongga dadanya. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya dalam waktu bersamaan.Ia ingin bertanya.Ingin menarik tangan keriput nenek itu dan memaksanya menjelaskan semuanya. Siapa dirinya sebenarnya? Dari mana ia mengetahui rahasia itu? Dan apa maksud dari ucapan menyeramkan tentang pengorbanan?Namun sebelum Valeriana sempat membuka mulut, seseorang melintas di antara mereka sambil membawa keranjang besar berisi sayuran. Tubuh tinggi pria itu menutupi pandangannya han
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 259. Seseorang yang Mengetahui KebenaranPagi itu, Kael akhirnya tertidur cukup lama setelah dipaksa meminum obat oleh Valeriana.Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar menerangi wajah pria itu dengan lembut. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, napasnya terdengar lebih teratur. Demamnya sudah mulai turun, dan warna wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya.Menurut Tabib Pym, tubuh Kael sedang bekerja keras untuk memulihkan diri. Selama demamnya tidak kembali naik dan lukanya tidak terbuka lagi, ia harus dibiarkan beristirahat sebanyak mungkin.Valeriana sebenarnya ingin tetap berada di sisi tempat tidur sepanjang hari. Duduk di sana, memastikan Kael baik-baik saja setiap kali membuka mata.Namun Anna mengingatkannya bahwa persediaan obat mulai menipis. Kain bersih perlu diganti. Madu harus dibeli. Begitu pula beberapa bahan makanan segar yang direkomendasikan Tabib Pym untuk membantu pemulihan Kael.Awalnya Valeriana berniat menyuruh pelayan saja. Tetapi setelah berhari-hari dikelilingi sidang, pengkhi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 51. Alasan Arra“Gak bisa gitu, Van,” ujar Arra pelan. Ia menggenggam tangan Revan yang berada di atas punggung tangannya, sementara tangan kanannya tetap fokus menyetir mobil.“Kita belum menikah. Kita gak bisa tinggal serumah. Apa kata orang nanti? Dan Rafa bagaimana? Orang tua kamu juga,” lanjutnya lirih.Arra sangat tahu diri. Bukan berarti ia menolak Revan. Namun tinggal bersama seorang pria di apartemen mewah—terlebih saat hubungan mereka baru saja membaik—terasa terlalu mencolok. Ia juga memikirkan reaksi orang tua Revan, terutama Mommy-nya, yang pasti tak akan tinggal diam. Dan yang paling membuatnya gelisah, kenyamanan Rafa.“Persetan dengan omongan orang, Arra!” suara Revan meninggi, meski matanya justru memancarkan luka yang dalam. “Aku sudah kehilangan lima tahun yang berharga. Aku gak mau kehilangan satu menit pun lagi.”Ia menelan napas, suaranya bergetar. “Kamu mau Rafa terus-terusan bertanya siapa ayahnya? Kamu mau dia iri setiap lihat temannya dijemput ayahnya? Kamu tega?”Arra terdi
Terakhir Diperbarui: 2026-01-30
Chapter: Bab 50. Tinggal bersamaMalam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n
Terakhir Diperbarui: 2026-01-22
Chapter: Bab 49. Arra mengaku ke DindaSetibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Bab 48. Kebenaran di atas kertasKertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah
Terakhir Diperbarui: 2026-01-19
Chapter: Bab 47. HasilKevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka
Terakhir Diperbarui: 2026-01-17
Chapter: Bab 46. Menunggu hasilRevan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi
Terakhir Diperbarui: 2026-01-16