Chapter: Bab 105 HilangCahaya putih dari senter ponsel Dimas menjadi satu-satunya pemandu mereka membelah lautan kegelapan di lorong lantai itu. Mereka berjalan perlahan dengan langkah yang terukur dan berhati-hati. Dimas berada di depan, bahu lebarnya seolah menjadi tameng pelindung bagi Ruby yang mengekor rapat di belakangnya. Suasana sunyi yang mencekam di dalam gedung pencakar langit itu membuat suara gesekan sol sepatu mereka di atas karpet lantai terdengar sangat keras dan bergema.Tepat ketika mereka hampir mencapai persimpangan lorong yang mengarah ke pintu darurat bercat merah pudar, ujung cahaya senter Dimas menangkap sebuah pergerakan yang sangat cepat. Sesosok bayangan hitam yang cukup besar berkelebat menyeberangi ujung lorong, menghilang dengan mulus di balik tikungan menuju area toilet tamu.Napas Ruby seketika tertahan di tenggorokan. Kakinya berhenti melangkah secara refleks. Sebagai seorang penulis novel fiksi yang imajinasinya selalu bekerja lebih cepat dari realita, pikiran Ruby langsung
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-16
Chapter: Bab 104 Tak ada satupunTanpa membuang waktu sedetik pun, Dimas mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Ruby. Pria itu membalikkan badan dan menarik tubuh mungil wanitanya secara paksa untuk menjauh dari area kantin. Ruby tertatih-tatih mengikuti langkah lebar sang CEO, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri karena masih dalam keadaan syok berat.Di belakang mereka, Vico masih terkapar mengenaskan di atas lantai porselen yang dingin, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang memar. Darah segar menetes dari sudut bibir sang rubah, namun Dimas sama sekali tidak menoleh ke belakang. Bagi pria berhati es itu, Vico tidak lebih dari sekadar lalat pengganggu yang sudah pantas mendapatkan pelajarannya.Sepanjang perjalanan kembali menuju lantai lima puluh, keheningan di dalam lift eksekutif terasa sangat mencekik. Ruby menyudutkan dirinya di pojok lift, menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Sementara Dimas berdiri tegap di sampingnya, dengan tenang merapikan kerah
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-10
Chapter: Bab 103 MilikkuKantin Genta Pustaka di lantai dasar biasanya selalu ramai oleh hiruk pikuk karyawan, namun pagi ini suasananya sangat lengang. Jam kerja sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, menyisakan deretan meja dan kursi kosong yang tertata rapi. Di salah satu sudut kantin yang berdekatan dengan jendela kaca besar, Ruby duduk berhadapan dengan Vico. Di atas meja mereka tersaji dua porsi nasi goreng dan dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul tipis.Ruby tampak sangat asyik menikmati sarapannya. Wanita itu menunduk, matanya sepenuhnya fokus pada piring di hadapannya. Ruby memiliki prinsip yang selalu ia pegang teguh sejak kecil, yaitu saat sedang makan, ia pantang untuk berbicara. Baginya, menikmati hidangan adalah sebuah ritual sunyi untuk mensyukuri makanan, sehingga ia benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat. Sesekali ia hanya mengunyah dengan pelan, sama sekali tidak memedulikan keberadaan pria berjas abu-abu terang yang duduk di seberangnya.Padahal, pria di depannya itu bukan p
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-06
Chapter: Bab 102 Perubahan auraPagi itu, suasana di gedung Genta Pustaka terasa sedikit berbeda. Vico, sang rubah licik yang biasanya hanya datang untuk urusan rapat dewan direksi, kini sudah menampakkan batang hidungnya sejak pagi buta. Pria berjas abu-abu terang tanpa dasi itu berdiri bersandar di dekat mesin absensi lobi utama, seolah sedang menunggu mangsa. Dan benar saja, mangsa yang ditunggunya muncul. Ruby berjalan masuk dengan wajah sedikit lesu, masih memikirkan rentetan kejadian semalam di rumahnya bersama Reza.Melihat kehadiran Ruby, Vico langsung menegakkan tubuhnya dan menyunggingkan senyum maut. Dengan langkah panjang, ia memangkas jarak dan menyejajarkan langkahnya di samping Ruby. Vico mulai melancarkan aksinya, dengan berani mendekati Ruby, memuji penampilan wanita itu hari ini, dan melontarkan lelucon ringan yang memaksa Ruby untuk merespons dengan senyum canggung.Vico sangat tahu batas, ia tidak langsung menyerang secara agresif, melainkan merayap perlahan seperti bisa ular yang masuk ke dalam
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-05
Chapter: Bab 101 BlokirReza memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur ritme napasnya agar terdengar sehalus dan seatur mungkin, persis seperti orang yang sudah terlelap ke dalam tidur yang nyenyak. Namun, di balik kelopak mata yang tertutup itu, otak Reza sedang bekerja dengan kecepatan penuh, berputar dengan sangat liar. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai macam kalkulasi dan strategi yang dingin.Siapa kira-kira orang yang berani mengirimkan jam wecker dengan kamera pengintai itu ke rumahnya? Pertanyaan itu terus bergaung di benak Reza. Pikiran pertamanya tentu saja tertuju pada Dimas Adiwijaya, si psikopat yang selama ini pernah mencari celah untuk mendekati Ruby di kantor.Hubungan kerja yang tidak wajar di antara istrinya dan bosnya itu sudah lama membuat insting protektif Reza siaga satu. “Apakah Dimas mau berulah lagi? Memasang mata-mata langsung di dalam ruangan paling pribadi tempat dia dan Ruby memadu kasih?” Sialan, batin Reza menggeram dalam diam.Namun, ingatan Reza kemudian melayang pada kejadian
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-03
Chapter: Bab 100 Titik 12Setelah menembus kemacetan malam, mereka akhirnya sampai di rumah kecil mereka yang nyaman. Aura dingin Reza benar-benar menguap begitu dia menginjakkan kaki di dapur. Sambil bersenandung kecil, pria itu mulai sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Ruby memperhatikan suaminya dari meja makan, merasa hangat sekaligus bersyukur memiliki pria yang begitu memperhatikannya di tengah segala badai yang sedang mengancam dari luar. Rasa lelahnya sedikit berkurang melihat punggung tegap Reza yang sedang mengaduk masakan di atas wajan.Selesai makan malam yang sederhana namun nikmat, mereka berdua pindah ke ruang tengah untuk menonton televisi. Reza duduk di sofa sambil menarik Ruby ke dalam dekapan lengannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dada bidangnya. Jari-jari besar Reza mengusap rambut Ruby dengan lembut, menciptakan suasana damai yang sudah lama tidak Ruby rasakan.Sambil menatap layar televisi yang menampilkan acara bincang-bincang malam, Reza tiba-tiba membuka suara
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-02
Chapter: TAMATEnam bulan kemudian.Cahaya matahari pagi tidak lagi terasa pucat atau menyelinap seperti pencuri. Cahaya itu tumpah ruah, berani dan keemasan, membanjiri dapur rumah di atas bukit yang dulunya menyerupai benteng pertahanan.Damien berdiri di depan kompor. Tangan kirinya yang dulunya kaku dan tidak berguna kini memegang gagang wajan dengan cengkeraman yang gemetar namun stabil. Dia sedang membuat telur orak-arik. Itu adalah tugas sederhana yang membutuhkan konsentrasi setingkat operasi militer baginya."Jangan gosong," gumamnya pada diri sendiri. "Jangan gosong."Di kursi makannya yang tinggi, Fajar kini berusia sepuluh bulan dan memiliki gigi depan yang tajam memukul-mukul nampan plastiknya dengan sendok."Ba! Ba! Ba!"Damien menoleh, seringai kecil muncul di wajahnya yang berewok. "Sabar, Komandan. Logistik sedang dipersiapkan."Dia memindahkan telur ke piring. Gerakannya tidak lagi sehalus dulu. Ada jeda mikro, ada getaran di otot bahunya di mana peluru pernah bersarang, tapi dia t
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19
Chapter: Bab 104 Pekerjaan rumahPukul 03.14 pagi.Rumah di atas bukit itu diselimuti keheningan yang tebal dan pekat. Di kamar tidur utama, cahaya bulan yang pucat menyelinap masuk, membuat bayangan panjang dari perabotan kayu yang berat.Waaah.Suara itu, tipis namun menuntut, membelah keheningan.WHUMP.Bahkan sebelum matanya terbuka, Damien sudah duduk tegak di tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tercekat. Tangannya yang sehat secara naluriah bergerak ke laci meja samping tempat tidur, mencari pistol yang sudah berbulan bulan tidak ada di sana.Bukan tembakan. Bukan alarm.Di sampingnya, Anna juga sudah terbangun. Tapi dia tidak melompat. Dia berbaring kaku, menatap langit langit.WAAAAH!Tangisan kedua datang, lebih keras."Aku dengar," kata Damien, suaranya serak. Dia mengayunkan kakinya dari tempat tidur. "Giliranku. Ganti popok.""Tidak."Suara Anna, pelan namun tegas, menghentikannya.Damien membeku, kakinya separuh di lantai. "Dia menangis.""Aku tahu," kata Anna. Dia memaksakan dirinya untu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19
Chapter: Bab 103 Ruang sisaDua hari berlalu.Rumah di atas bukit itu sunyi. Ketenangan itu terasa salah, seperti gaun yang tidak pas. Anna telah menghabiskan 48 jam itu dengan bolak balik antara kamar tidur utama dan kamar bayi yang baru. Dia akan duduk di kursi goyang, menggendong Fajar yang sedang tertidur, dan menatap dinding, mendengarkan.Dia mendengarkan suara derit rumah. Dia mendengarkan suara angin di pepohonan di luar. Setiap suara membuatnya tersentak.Damien menghabiskan 48 jam itu di ruang kerjanya. Pintunya terbuka. Tapi dia tidak bekerja. Dia hanya duduk di depan serangkaian monitor keamanan baru yang menampilkan rekaman langsung dari setiap sudut halaman. Dia hanya... mengawasi.Mereka adalah dua tentara yang ditempatkan di pos penjagaan yang damai, masih memindai cakrawala, mencari musuh yang tidak akan pernah datang.Pukul 14.00 siang.Anna sedang mencoba memaksa dirinya untuk makan sandwich di dapur ketika dia mendengar bel pintu.Jantungnya melompat ke tenggorokannya. Dia langsung meraih pon
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19
Chapter: Bab 102 Gema di kamar bayiSatu bulan telah berlalu.Di rumah bata merah di atas bukit, kehidupan telah berjalan dengan ritme yang baru dan aneh. Dunia luar telah pindah. Berita utama kini diisi oleh skandal politik baru dan kejatuhan Takeda Industries (Rachelle, sepertinya, telah menepati janjinya untuk menghilang, puas dengan kehancuran Takeda). Nama "Damien" telah memudar dari siklus berita, digantikan oleh rasa ingin tahu yang samar tentang "CEO yang berduka" yang menghilang dari publik.Di dalam rumah, perang telah digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih menantang: keheningan.Pukul 03.14 pagi.Kamar tidur utama gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat.Waaah.Suara itu, tipis dan menuntut, membelah keheningan.WHUMP.Damien sudah terbangun, duduk tegak di tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang, tangannya yang sehat secara naluriah bergerak ke laci meja samping tempat tidur, mencari pistol yang tidak lagi ada di sana. Dia terengah engah, butuh tiga detik untuk menyadari di mana dia berada.Bu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19
Chapter: Bab 101 Kita impasRuangan itu dipenuhi oleh suara tangisan. Anna terbaring di atas bantal, basah oleh keringat, lelah sampai ke tulang, tapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Damien berdiri terpaku di samping tempat tidur, tangannya yang sehat masih mencengkeram tangan Anna. Dia menatap buntalan kecil yang marah di dada istrinya. Dia tampak lebih terguncang sekarang daripada saat dia terbang menembus baku tembak."Dia baik baik saja?" bisik Damien, suaranya serak. "Kenapa dia menangis?""Dia baru saja lahir, Damien," kata Dr. Aris sambil tertawa. Dia dengan ahli mengambil bayi itu dari dada Anna. "Dia hanya ingin menyapa dunia. Ayo, kita bersihkan dia."Seorang perawat membawa bayi itu ke meja penghangat di sudut. Damien dan Anna memperhatikan setiap gerakannya seolah olah mereka sedang mengawasi bom yang dijinakkan.Anna bersandar, memejamkan mata sejenak. Keheningan setelah dorongan terakhir terasa memekakkan telinga. Rasa sakitnya telah hilang, digantikan oleh kelelahan yang hampa dan damai.
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19
Chapter: Bab 100 LahirRumah di atas bukit itu adalah kedamaian yang telah mereka perjuangkan dengan darah, kini pecah oleh suara yang paling biasa sekaligus paling menakutkan."TAS!" teriak Damien, berlari ke arah yang salah di dapur. "MARKUS! TIDAK, AKU TIDAK PUNYA MARKUS! KUNCI! DI MANA KUNCI MOBIL?!"Anna tertawa, tawa yang bercampur dengan sedikit erangan. Kontraksi pertama itu ringan, lebih mengejutkan daripada menyakitkan. Dia berjalan pelan, tertatih, melewatinya."Damien," panggilnya, suaranya tenang."APA?!" bentaknya, panik, sambil membongkar laci yang penuh dengan sendok garpu."Kuncinya ada di sakumu," katanya.Damien berhenti. Dia merogoh saku celana pendeknya. Dia menarik kunci mobil Mercedes itu keluar. Matanya terbelalak."Benar."Dia menatap Anna, yang kini bersandar di meja dapur, bernapas pelan."Baik," kata Damien, menarik napas dalam dalam. Pria yang telah menghadapi baku tembak, yang telah menerbangkan helikopter menembu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19
Chapter: Bab 96 TAMATRoda takdir akhirnya mencapai titik nadirnya. Langit di atas Samudra Pasifik yang biasanya tenang kini berubah menjadi kanvas kelabu yang mencekam, seolah-olah semesta sedang bersiap untuk meratapi akhir dari sebuah obsesi yang melampaui batas kemanusiaan. Kapal induk Vane Sovereign, yang tadinya merupakan simbol kemegahan dan perlindungan, kini tak lebih dari sebuah peti mati baja yang terapung di tengah lautan api.Arlan tidak mengirimkan tentara lagi, tapi... Ia mengirimkan Kiamat.Ribuan swarm-drones berukuran mikroskopis yang membawa virus penghancur saraf dilepaskan ke udara, menembus sistem ventilasi kapal induk. Satu per satu, pertahanan mutakhir Hanz lumpuh. Di dek utama, pertempuran terakhir pecah. Sembilan pria itu, yang sudah berjanji untuk melindungi Lia sampai napas terakhir, kini berdiri di tengah kepungan musuh yang tak terlihat.Alaric adalah yang pertama tumbang. Pria raksasa itu berdiri di depan pintu kamar Lia, tubuhnya dipenuhi puluhan lubang peluru dan harpun lis
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-08
Chapter: Bab 95 Aman atau terkurung?Lia menghela napas pendek. Ia bisa merasakan persaingan ini di setiap sudut pikirannya. "Kemarilah, Zane... kalian berdua... berhenti bertengkar."Zane langsung meletakkan nampannya dan naik ke sisi ranjang yang kosong. Kini Lia terjepit di antara Xander yang dingin dan Zane yang hangat. Zane memegang tangan Lia, mencium ujung jemarinya satu per satu sambil menceritakan tentang orang tuanya yang sedang beristirahat di dek bawah."Mereka ingin bertemu denganmu, Lia. Mereka bilang... kau adalah malaikat yang dikirim untuk menjemput kami," ucap Zane dengan suara yang sangat lembut.Keesokan siangnya, suasana di ruang makan utama kapal induk terasa sangat aneh. Kesembilan pria itu duduk mengelilingi meja panjang yang dipenuhi makanan kelas dunia. Lia duduk di kepala meja, mengenakan gaun sutra simpel berwarna putih yang membuatnya terlihat seperti dewi di antara para prajurit.Suasana makan siang yang seharusnya tenang berubah menjadi ajang pamer kekuatan dan perhatian.Alaric memotongkan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-10
Chapter: Bab 94 Butuh ketenanganKapal induk Vane Sovereign adalah sebuah keajaiban teknologi yang mengapung di tengah Samudra Pasifik. Bukan sekadar kapal perang, ini adalah istana berjalan. Deknya dilapisi material kedap suara, interiornya dipenuhi marmer Italia, kayu mahoni, dan sistem pencahayaan pintar yang menyesuaikan dengan suasana hati penghuninya. Namun, bagi sembilan pria yang baru saja mendarat di atasnya, kemewahan ini hanyalah panggung baru untuk memperebutkan satu-satunya pusat gravitasi mereka: Lia.Helikopter medis mendarat dengan getaran halus di dek Vane Sovereign. Begitu pintu terbuka, udara laut yang segar—tanpa bau besi atau mesiu—menyambut mereka. Lia, yang dibalut jubah mandi sutra tebal di atas pakaian tempurnya yang hancur, digendong keluar oleh Kael.Kael tidak melepaskannya. Tidak sedetik pun. Wajahnya yang biasanya datar kini memancarkan aura teritorial yang sangat kuat. Ia mengabaikan tim medis yang mendekat dengan tandu."Aku bisa membawanya sendiri," ucap Kael dingin, suaranya parau na
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-09
Chapter: Bab 93 Ditengah kekacauanKegelapan total menyelimuti The Iron Reef selama beberapa detik sebelum lampu darurat berwarna merah darah menyala dengan ritme yang tak beraturan. Suara derit logam yang tertekan oleh jutaan galon air laut terdengar makin nyaring, seolah monster raksasa sedang mengunyah dinding fasilitas itu.Di tengah koridor yang hancur, Kael berdiri mematung. Di hadapannya, sesosok figur keluar dari kepulan uap dingin. Wajahnya, postur tubuhnya, bahkan cara ia memegang pisau taktisnya, adalah replika sempurna dari Kael. Namun, matanya tidak memiliki jiwa; hanya ada binar laser merah yang menandakan bahwa ia adalah Subject 00 - Gen 2.Berikut adalah narasi mendalam untuk kebutuhan editor Anda, dengan detail yang lebih kaya dan emosi yang memuncak."Siapa kau...?" suara Kael bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. Ia merasakan chip di lehernya memanas, mencoba mengenali tanda biometrik di depannya. Sync Error. Frekuensi yang dipancarkan oleh doppelgänger itu adalah frekuensi "p
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-08
Chapter: Bab 92 Formasi deltaGuncangan dahsyat menghantam lambung The Ghost-01. Suara logam yang berderit di bawah tekanan ribuan ton air laut menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Di dalam kabin yang sempit, lampu darurat berwarna merah berputar liar, membasuh wajah-wajah tegang sembilan pria itu dengan warna darah.Lia tidak punya waktu untuk takut. Xander masih meronta dalam cengkeraman Alaric dan Kael, matanya yang hitam pekat memancarkan kebencian digital yang bukan miliknya."Tahan dia! Jangan sampai dia memutus kabel sarafnya sendiri!" teriak Lia di tengah kebisingan mesin kapal yang mulai gagal fungsi.Alaric mengunci lengan Xander dengan otot-otot lengannya yang sebesar batang pohon, sementara Kael menekan kaki Xander ke lantai baja yang dingin. Namun, Xander yang dirasuki virus Zero memiliki kekuatan yang tidak masuk akal. Ia menggeram, suaranya terdengar seperti dua frekuensi yang bertabrakan, menciptakan gelombang ultrasonik yang membuat telinga Lia berdenging.Lia merangkak di antara
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-07
Chapter: Bab 91 Penyusupan bawah lautFajar di Pulau Azure tidak membawa ketenangan, melainkan kecemasan yang membeku. Laut yang biasanya biru cerah kini terlihat kelabu, seolah-olah alam pun bereaksi terhadap badai yang sedang disiapkan oleh Arlan. Di dermaga rahasia yang tersembunyi di balik gua karang, sebuah kapal selam siluman—The Ghost-01—sedang mengisi daya. Mesinnya yang berbahan bakar hidrogen murni mengeluarkan suara dengungan rendah yang membuat saraf-saraf digital Lia bergetar.Lia berdiri di anjungan, menatap cakrawala. Ia mengenakan pakaian tempur thermal baru; bahan sintetis berwarna abu-abu gelap yang melekat seperti kulit kedua, dirancang khusus untuk menahan suhu ekstrem Pasifik Utara. Di belakangnya, sembilan pria itu sedang memuat persenjataan. Tidak ada lagi percakapan santai. Zane, yang biasanya menjadi sumber kebisingan, kini bekerja dalam keheningan yang mematikan. Matanya yang merah bukan lagi karena air mata, tapi karena tekad untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya menuju orang tua
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-06
Chapter: TAMATSatu bulan kemudian.Kediaman Mahesa disulap menjadi venue pernikahan paling intim namun paling mewah yang pernah dilihat oleh segelintir tamu undangan. Tidak ada ribuan tamu atau standing party yang melelahkan. Hanya ada keluarga inti, kerabat dekat, dan tentu saja Riana yang menangis sesenggukan di pojokan sambil memegang tisu.Dara duduk di ruang rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Kebaya putih rancangan Anne Avantie membalut tubuhnya dengan sempurna, menyamarkan perutnya yang mulai membuncit dengan potongan yang elegan. Bros antik pemberian Nyonya Ratna tersemat di dadanya, berkilau di bawah lampu kristal."Cantik," suara Nyonya Ratna terdengar dari arah pintu.Dara menoleh, sedikit terkejut. Ibu mertuanya itu masuk, mengenakan kebaya velvet merah marun yang membuatnya terlihat agung."Terima kasih, Bu," jawab Dara gugup.Nyonya Ratna berjalan mendekat, merapikan sedikit sanggul Dara. "Ingat, Dara. Menjadi istri Mahesa itu berat. Kamu akan jadi sorotan. Tapi melihat bagaiman
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-21
Chapter: Bab 63 Suami nyebelin"Sore, Riana," sapa Adrian santai. Ia meletakkan nampan di meja, lalu duduk di sebelah Dara, merangkul pinggang Dara posesif. "Tolong pastikan Dara minum susunya ya. Dia suka bandel kalau nggak diawasin."Riana menunjuk mereka berdua dengan jari gemetar. "Bapak... Dara... Kalian...""Kami mau nikah bulan depan," kata Dara cepat, sebelum Riana stroke mendadak. "Dan ya, gosip hamil itu bener. Tapi bukan sama om-om. Sama dia." Dara menunjuk Adrian.BRUK.Riana benar-benar pingsan di karpet.***Setelah Riana sadar dan diberi teh manis hangat (oleh Adrian sendiri, yang membuat Riana hampir pingsan lagi), Adrian menjelaskan situasinya versi yang sudah disensor, tanpa bagian penculikan brutal dan pistol."Jadi..." Riana masih syok. "Lo bakal jadi Nyonya Adrian Mahesa? Lo bakal jadi istri dosen paling killer, paling kaya, dan paling ganteng di kampus?""Nasib, Na," canda Dara."Nasib apaan! Itu namanya jackpot!" seru Riana.Tiba-tiba, ponsel Riana berbunyi. Notifikasi grup angkatan meledak.
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-16
Chapter: Bab 62 GosipAdrian menggenggam tangan Dara. "Nanti, kalau anak kita lahir dan sudah sekolah, kamu bisa bangga cerita ke dia kalau ibunya lulus dengan nilai murni dari dosen paling killer di kampus, bukan karena nepotisme."Dara terdiam. Ia tahu Adrian benar. Justru karena dia calon istri Adrian, standarnya harus lebih tinggi. Orang-orang akan mencari celah untuk meremehkannya."Oke," Dara menghapus air matanya. "Saya revisi. Tapi...""Tapi apa?""Kalau saya berhasil benerin ini hari ini, Bapak harus pijitin kaki saya nanti malem. Kaki saya bengkak."Adrian tersenyum miring. "Deal. Tapi kalau masih salah, jatah nonton Netflix dipotong.""Kejam!""Adil, Sayang. Adil."Sore harinya, ketenangan belajar mereka terganggu oleh kedatangan iring-iringan tiga orang desainer ternama dan tentu saja, sang Ratu Ibu Suri, Nyonya Ratna.Para pelayan sibuk membawa masuk mannequin, gulungan kain sutra, dan katalog dekorasi setebal bantal.Dara, yang sedang bad mood karena revisi Bab 4, menatap horor ke arah ruang
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-15
Chapter: Bab 61 Rujak cintaPagi di kediaman Mahesa, rumah mewah itu dimulai dengan suara kepanikan dari arah kamar mandi lantai bawah."Huekk..."Adrian, yang baru saja selesai jogging di treadmill ruang kebugaran pribadinya, langsung melempar handuknya ke sembarang arah begitu mendengar suara itu dari intercom yang terhubung ke ponselnya.Ia berlari menuruni tangga, masih dengan kaos olahraga yang basah oleh keringat, menerobos masuk ke kamar Dara tanpa mengetuk."Dara!"Di dalam kamar mandi, Dara sedang menunduk di wastafel, wajahnya pucat pasi. Ia baru saja memuntahkan air putih yang ia minum saat bangun tidur.Adrian dengan sigap memijat tengkuk Dara, tangan besarnya terasa hangat di kulit leher gadis itu yang dingin. "Masih mual? Saya panggil dokter lagi, ya?"Dara menggeleng lemah, membasuh mulutnya dengan air. Ia menegakkan tubuh, bersandar pada dada bidang Adrian tempat favorit barunya. "Nggak usah, Pak. Ini morning sickness biasa. Kata dokter wajar di trimester pertama.""Tapi kamu muntah terus dari ke
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-14
Chapter: Bab 60 Kontrak baruDara tertegun. Kalimat itu terdengar klise di novel romantis, tapi keluar dari mulut Adrian Mahesa, itu terdengar seperti sumpah mati."Bapak... eh, kamu... beneran cinta sama aku?" tanya Dara, suaranya kecil dan ragu. "Maksudnya... cinta sebagai cewek? Bukan sebagai ibu dari anak kamu?"Adrian menghela napas panjang. Ia melepaskan pelukan sedikit, menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap pipi Dara."Dara," mulainya, suaranya rendah dan serak. "Saya ini dosen statistik. Saya hidup berdasarkan data dan logika. Probabilitas saya jatuh cinta pada mahasiswi skripsi yang ceroboh, keras kepala, dan suka membantah seperti kamu itu harusnya nol."Dara cemberut sedikit mendengar deskripsi itu."Tapi," lanjut Adrian, menempelkan keningnya ke kening Dara. "Kenyataannya, saat kamu hilang, dunia saya berhenti. Saya nggak bisa kerja. Saya nggak bisa makan. Yang ada di otak saya cuma kamu. Bukan bayi ini. Tapi kamu. Senyum kamu, omelan kamu, bahkan cara
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-13
Chapter: Bab 59 Anak kitaDua hari berlalu.Dara resmi menjadi tahanan rumah sakit atau lebih tepatnya, ratu rumah sakit. Adrian memindahkan kantornya ke ruang VVIP itu. Ia menyuruh sekretarisnya mengirim berkas-berkas penting, laptop, dan printer ke sana.Pemandangan itu cukup absurd. Di satu sisi ruangan, Dara berbaring santai sambil menonton Netflix. Di sisi lain, di meja makan yang disulap jadi meja kerja, Adrian Mahesa CEO perusahaan multinasional sedang memimpin rapat direksi via Zoom sambil mengenakan kemeja rapi di atas tapi celana training santai di bawah (karena tidak kelihatan kamera)."Ya, angka penjualan kuartal ini cukup stabil, tapi saya mau tim marketing menekan lagi di sektor digital..." Adrian bicara dengan nada otoriter ke laptopnya.Tiba-tiba, suara Dara terdengar. "Pak, saya mau pipis."Adrian langsung menekan tombol mute di laptopnya dengan kecepatan cahaya. Wajah profesionalnya berubah panik dalam sedetik."Tunggu, jangan bangun sendiri!" serunya. Ia meninggalkan rapat direksi yang beris
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-12