Chapter: 14. DIJEMPUTAku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.Padahal dosen sudah menjelaskan materi sejak lima belas menit yang lalu. Namun, pikiranku terus kembali pada percakapan di dalam mobil tadi pagi."Kalau Noah melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman... tolak."Kenapa Mas Sebastian mengatakan itu?Kenapa ia terus memperingatkanku tentang Mas Noah?Aku mengembuskan napas pelan.Tidak.Aku harus berhenti memikirkannya."Rania."Aku langsung tersentak."Iya, Pak."Dosen menatapku dari depan kelas."Kalau melamun terus, nanti yang rugi kamu sendiri."Beberapa mahasiswa tertawa pelan.Pipiku langsung memanas."Maaf, Pak.""Fokus.""Iya, Pak."Aku buru-buru membuka buku catatan dan kembali memperhatikan penjelasan dosen.Waktu terasa berjalan lambat.Satu mata kuliah berganti dengan mata kuliah berikutnya.Saat dosen terakhir memberikan waktu istirahat sebelum melanjutkan pembahasan, aku mengeluarkan handphone dari dalam tas.Baru saja layar menyala, sebuah pesan masuk muncul.Mas Noah.Aku seg
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: 13. PERINGATAN"Kau menyukai Noah?"Jantungku langsung berdebar.Aku menoleh cepat."Hah?"Mas Sebastian sama sekali tidak menoleh."Kau dengar pertanyaanku."Aku menggenggam tali tasku erat-erat."Kenapa Mas bertanya begitu?""Itu bukan jawaban."Aku mengembuskan napas pelan."Nggak.""Yakin?""Iya.""Alasannya?"Aku berkedip beberapa kali."Mas Noah memang baik.""Hm.""Dia perhatian.""Hm.""Dia selalu memperlakukanku dengan baik.""Hm.""Dan dia bikin aku nyaman sebagai kakak.""Hm."Aku mulai mengerucutkan bibir."Mas cuma bilang 'hm' terus."Mas Sebastian melirikku sekilas."Aku sedang mendengarkan."Aku mendengus pelan."Kalau didengarkan, kasih tanggapan, dong.""Hm."Aku langsung memutar bola mata."Ih."Untuk sepersekian detik, sudut bibir Mas Sebastian seperti terangkat sangat tipis.Nyaris tidak terlihat.Kalau aku berkedip sedikit saja, mungkin aku akan mengira itu hanya khayalanku."Mas senyum, ya?""Tidak.""Barusan senyum.""Kau salah lihat."Aku mendengus pelan."Mas nyebelin."Aku
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: 12. KAU MENYUKAINYA?“Ternyata aku tidak salah menyebutmu anak nakal.” Jantungku seolah berhenti berdetak. Jemari Mas Sebastian masih menggenggam pergelangan tanganku. Tidak terlalu kuat, tetapi cukup membuatku tidak berani bergerak. “M-Mas....” “Beberapa jam lalu,” ucapnya dingin, “saat aku menciummu, kau langsung mendorongku.” Pipiku memanas. Aku masih mengingat jelas kejadian di kamarnya. Saat itu aku begitu terkejut hingga langsung mendorong dadanya, kemudian berlari keluar tanpa menoleh. “Tapi barusan Noah melakukan hal yang sama.” Tatapannya semakin tajam. “Dan kau hanya diam.” Napas yang sejak tadi kutahan langsung tercekat. Jadi, Mas Sebastian benar-benar melihat semuanya. "A...Aku........" Aku membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. “Aku... hanya kaget.” “Itu saja?” Aku mengangguk kecil. “Iya.” Rahang Mas Sebastian mengeras. “Kalau kau tidak menginginkannya, kau bisa mendorongnya.” “Mas Noah tiba-tiba....” “Aku juga melakukannya secara
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: 11. AKU JUGA HAUS"Dasar anak nakal," bisiknya. Aku mematung. Wajah Mas Sebastian masih terlalu dekat, menyisakan napas hangat yang berhembus di permukaan kulitku. Jemarinya masih betah menahan daguku, mengunci pandanganku. Jantungku berpacu hebat. Dengan sisa kewarasan, aku mendorong dadanya. Begitu ia melonggarkan cengkeraman, aku tidak membuang waktu aku segera meraih gagang pintu dan melesat keluar, tidak berani menoleh sedikit pun. Langkahku terburu-buru, nyaris berlari menyusuri lorong yang senyap. Sesampainya di kamar, aku membanting pintu dan menguncinya. Ceklek. Aku menyandarkan punggung pada pintu, berusaha menetralkan napas yang tersengal. Kakiku terasa lemas hingga perlahan tubuhku merosot ke lantai. Tanganku gemetar saat menyentuh bibir bawah yang masih menyisakan sensasi perih akibat Mas Sebastian. Ia benar-benar menciumku. Tanpa peringatan. Aku bangkit dan berjalan menuju cermin. Bibirku tampak merah nyata sebuah jejak yang memalukan sekaligus men
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: 10. DASAR ANAK NAKALKeesokan paginya, mansion tampak lebih sibuk dari biasanya.Beberapa pelayan sibuk membawa koper-koper besar menuju mobil yang telah menunggu di depan pintu utama.Sopir berdiri di samping kendaraan, memastikan semua barang tersusun rapi di dalam bagasi.Di dekat tangga, Papa dan Bunda tampak bersiap."Bunda sama Papa mau pergi?" tanyaku.Bunda tersenyum, lalu melangkah menghampiriku."Iya, Sayang. Ada urusan yang harus kami selesaikan di luar negeri.""Berapa lama?""Mungkin satu minggu. Kalau semuanya selesai lebih cepat, kami akan segera pulang."Bunda merengkuhku dalam pelukan erat."Jangan lupa makan, ya. Dan jangan terlalu sering mengurung diri di kamar.""Iya, Bunda."Papa ikut mendekat dan mengusap puncak kepalaku sayang."Kalau butuh sesuatu, bilang kepada Noah atau Sebastian."Mendengar nama Mas Sebastian disebut, pikiranku refleks teringat pada ucapannya kemarin.Orang luar.Aku segera menggeleng pelan, mengusir pikiran itu jauh-jauh.Setelah semua koper selesai dimasukkan,
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: 9. ORANG LUARPintu terbuka sepenuhnya.Mas Sebastian berdiri tepat di hadapanku.Tatapannya langsung jatuh pada posisi kepalaku yang masih terlalu dekat dengan pintu.Aku buru-buru mundur.Satu langkah.Dua langkah.Hampir saja kakiku tersandung karpet. Tanganku refleks meraih dinding agar tubuhku tidak benar-benar jatuh di hadapannya.Mas Sebastian menatapku tanpa mengatakan apa-apa.Namun, sorot matanya sudah cukup membuatku ingin menghilang saat itu juga.Di belakangnya, Mas Noah masih berdiri di dekat meja kerja. Beberapa dokumen terbuka di atas meja, tetapi ekspresi seriusnya telah berubah menjadi terkejut."Rania?" panggil Mas Noah.Aku menelan ludah."I-iya, Mas."Mas Sebastian keluar dari ruangan, lalu menutup pintu di belakangnya.Ceklek.Suara pintu itu terdengar seperti peringatan."Apa yang kamu lakukan?"Aku menggenggam ujung bajuku, berusaha mencari alasan yang masuk akal."Aku cuma..."Tatapan Mas Sebastian turun ke gagang pintu, lalu kembali kepadaku."Cuma lewat?"Aku terdiam.S
Terakhir Diperbarui: 2026-07-14