Chapter: Bab 203Pintu terbanting kuat, bunyinya begitu kencang dan membuat Sambara yang sedang fokus bekerja sedikit terkejut. Pria itu menatap wajah sang istri dengan kernyitan heran."Ada apa?" tanyanya heran, menatap sang istri lekat-lekat. "Kamu kelihatan kesal sekali."Agnira berjalan masuk dengan langkah lebar. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan. Tanpa menjawab pertanyaan Sambara, ia langsung mengambil botol air di atas meja kerja suaminya, lalu meneguknya beberapa kali.Sambara memutar kursinya menghadap Agnira sepenuhnya. "Jadi, ada cerita apa pagi ini?" Agnira menutup botol air itu sedikit keras, kemudian mengembuskannya napas panjang. "Mas, tamu mu begitu menyebalkan, aku nggak suka!" Sambara meraih pergelangan tangan Agnira dengan lembut, lalu menariknya hingga wanita itu terduduk di atas pangkuannya. Tanpa tergesa, ia mengecup singkat pipi sang istri sebelum mengusapnya perlahan dengan telapak tangan. Sentuhannya begitu lembut, seolah berusaha meredakan seluruh amarah yang mengobar di
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: Bab 202Agnira menatap meja makan sekali lagi. Tempat itu dipenuhi berbagai hidangan mewah. Sup hangat, daging panggang, aneka seafood, hingga pencuci mulut tersusun rapi, kontras dengan suasana rumah yang masih dipenuhi suasana berkabung, bahkan di beberapa tempat kain hitam masih dibentangkan.Sudut bibirnya terangkat tipis. Namun, senyum itu sama sekali tidak menghangatkan wajahnya, dia kesal, dan ingin sekali memukul wanita di depannya."Tidak masalah?" ulang Agnira pelan. Ia mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan mata Aurelie."Rumah ini baru saja kehilangan satu anggota keluarga." Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam. "Masih ada bunga duka di ruang tamu. Bahkan aroma dupa belum hilang."Aurelie sedikit mengernyit. Ia merasa tidak perlu ikut berduka, lagipula yang mati adalah pekerja bukan salah satu keluarga. Menurutnya, Agnira terlalu bersikap berlebihan."Lalu kau bertanya apakah aku keberatan melihatmu mengadakan jamuan makan?" tanya Agnira menahan kesal.Aur
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19
Chapter: Bab 201Hari terus berganti. Namun duka itu tidak pernah pergi, Agnira yang biasanya selalu ceria, kini terlihat selalu merenung dan terdiam. Sedangkan Nayara, wanita itu bahkan sangat jarang membuka suaranya lagi.Kedua wanita itu terlihat sama-sama patah, luka berbeda dengan orang yang sama. Tawa yang senantiasa berada di kediaman Lakeswara menghilang, berubah hening dan sunyi."Nyonya," panggil Nayara pelan, "apa Anda menginginkan sesuatu?" Agnira menggeleng lemah. Tatapannya terus terpaku pada sebuah bunga mawar yang bermekaran di halaman rumah. Angin berembus pelan, meniupkan helai kelopaknya dan berguguran ke bawah tanah."Maaf, Nay." Agnira menarik napas panjang, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Maaf, karena aku sudah membuat orang yang kau cintai pergi." Tangan Nayara terkepal, dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Agnira berhasil membuat pertahanannya sedikit goyah."Kenan pernah cerita, kalau dia sedang menyukai seseorang." Agnira menerawang jauh ke depan, mengingat saat-saat wajah K
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19
Chapter: Bab 200Suasana ruang tamu langsung dipenuhi ketegangan. Tatapan Surya yang sebelumnya hangat kini berubah dingin dan penuh permusuhan saat menatap Arsen. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal tanpa sadar.Sebaliknya, Arsen terlihat begitu santai, seolah sengaja menikmati perubahan ekspresi pria di hadapannya.Sambara memperhatikan keduanya bergantian. "Kalian saling mengenal?"Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menyesakkan memenuhi ruangan. Beberapa detik kemudian.Surya akhirnya membuka suara dengan nada rendah. "Tidak, ini kali pertama kami berjumpa.Sambara mengangguk singkat. Dia kembali menatap Arsen yang terlihat sangat kotor. "Pergilah, dan bersihkan diri." Arsen mendelik tajam. Sorot matanya bergantian mengarah kepada Sambara dan Surya, seolah sedang membaca situasi yang terjadi."Baru datang sudah diusir?" gerutunya sinis sambil melirik noda lumpur yang menempel di celana dan jaketnya. "Padahal aku belum sempat duduk.""Kau mengotori lantai," balas Samb
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: Bab 199Duka mendalam masih menyelimuti kediaman Lakeswara. Suasana rumah yang biasanya tenang kini terasa jauh lebih sunyi.Para pelayat mulai berkurang, tetapi aroma bunga belasungkawa masih memenuhi ruang tamu. Kain-kain hitam masih tergantung di beberapa sudut rumah sebagai tanda berkabung.Di tengah suasana itu, bunyi bel pintu terdengar memecah keheningan. Salah satu pelayan yang sedang merapikan meja tamu segera melangkah menuju pintu utama. Begitu daun pintu terbuka, pelayan wanita itu sedikit terkejut.Di hadapannya berdiri keluarga Maheswara. Aurelie mengenakan gaun hitam sederhana. Di belakangnya, Surya Maheswara dan sang istri berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Tak jauh dari mereka, dua orang sopir menurunkan beberapa koper besar dan bingkisan dari bagasi mobil.Pelayan itu mengernyit bingung. "Silakan masuk, Pak ... Bu."Tak lama kemudian, mereka dipersilakan menuju ruang tamu. Beberapa pekerja rumah saling berpandangan ketika melihat koper-koper itu ikut dibawa masuk."Apa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: Bab 198Langit menggelap di kediaman Lakeswara. Beberapa orang terlihat hilir mudik dengan pakaian hitam yang membungkus tubuh mereka, tidak ada canda tawa, tidak ada suara kencang atau teriakan. Semua orang terlihat termenung dengan pikirannya masing-masing.Agnira terdiam menatap jendela kamar yang terbuka lebar, udara dingin masuk begitu saja, namun tidak membuat wanita itu beranjak dari tempatnya. Tatapannya kosong, angannya melayang. Seolah semua terampas begitu saja dari hidupnya, sisi hatinya kosong terbawa Kenan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri."Bu ..."Kepala Agnira menoleh cepat. Matanya bergerak liar saat satu suara berhasil ia tangkap. Sayangnya, di ruangan ini hanya ada dia seorang, air mata Agnira kembali jatuh, wanita itu menangis tergugu berteman sepi yang kembali menggerogoti jiwanya. Dia menyalahkan dirinya sendiri, sama seperti dulu."Kenan," bisik Agnira tanpa suara.Pintu kamar di ketuk pelan, Agnira dengan langkah pelan berjalan dan membuka pintu. Dia menata
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: Bab 60Berita tentang Satya menguap begitu saja, handle sosial mediapun mereda tanpa sisa, meninggalkan jejak tanya pada beberapa yang secara terang-terangan melontarkan kata benci yang begitu nyata. Kini, Satya terlihat duduk dengan tenang, menatap layar tab yang menyala terang."Berita itu ditarik kurang dari 1x24 jam, Bos," beritahu Randy dengan wajah tenang, dia menarik kembali tab yang Satya berikan."Sudah saya katakan, Permana akan takut dengan ancaman yang saya berikan." Satya tersenyum miring, dia merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Tatapan tajam itu beralih, pada flashdisk kecil berwarna hitam yang dia simpan dengan rapi, dia memutar benda kecil itu dan menyerahkan pada Randy."Buat penyerangan dengan benda itu. Saya mau, keluarga Permana hancur," desis Satya dingin.Randy dengan sigap menerima benda kecil itu, dia begitu hati-hati ketika benda berharga itu jatuh ke atas tangannya. Dengan cepat dia memasukkan flashdisk ke dalam kantong jas nya."Lakukan dengan bersi
Terakhir Diperbarui: 2025-12-13
Chapter: Bab 59Langkah itu terlihat tegas, dengan sorot mata dingin yang terlihat menatap sekitarnya. Satya terus berjalan tanpa mengindahkan tatapan beberapa orang yang terang-terangan memperhatikan dirinya.Di belakangnya Randy terlihat kewalahan mengejar langkah atasannya itu, mereka berada di salah satu perusahaan yang cukup ternama. Perusahaan milik keluarga Andin, dalang di balik berita yang sedang hangat di media sosial.Brak! Dentum suara pintu terdengar nyaring, bersamaan dengan kemunculan Satya, tatapan tajam itu menyorot pada sosok yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Satya tidak gentar, dia melangkah ke arah sofa, dan mulai duduk dengan tatapan tenang."Kau datang juga ternyata," ucap suara itu, terdengar sinis, dengan sorot dingin menatap Satya.Satya tidak menjawab, dia mengeluarkan satu bungkus rokok, dan mulai menyalakan benda itu. Asap menguar memenuhi ruangan, Randy yang berada tepat di belakang pria itu hanya mampu menarik napas, dan mengibaskan tangannya berulang."Saya data
Terakhir Diperbarui: 2025-12-11
Chapter: Bab 58"Terima kasih, untuk sarapannya," ujar Dara pelan, dia menunduk dengan tatapan yang fokus pada piring, yang sudah kosong. Dara meraih serbet di atas meja dan mengusap pelan bibirnya. Semua hal kecil itu tidak luput dari pandangan Satya, dia merasa gemas dengan semua hal yang Dara lakukan. Hubungan yang semula hanya sebatas kontrak, kini terjalin dengan serius."Saya pulang sedikit terlambat, nanti. Kamu bisa tidur lebih dulu, jangan menunggu," ucap Satya memecahkan keheningan.Dara mendongak, dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Jemari lentik itu meraih gelas air putih dan meneguknya sampai habis tidak tersisa."Kenapa pulang malam?" tanya Dara pada akhirnya. Dia begitu penasaran dengan alasan yang akan Satya ucapkan."Ada beberapa rapat penting. Dan lagi, saya harus mengurus pemutusan kerja sama dengan keluarga Andin," jelas Satya dengan serius. Dia menaruh kedua tangan di atas meja, mengetuk pelan meja makan itu dengan kukunya.Dara tidak lagi menimpali ucapan Satya, dia bungkam d
Terakhir Diperbarui: 2025-12-08
Chapter: Bab 57Satu hal yang tidak pernah terbesit dalam benak Dara, orang yang selama ini dia manfaatkan untuk kepentingannya. Malah berbuat hal baik padanya, Satya terlihat jauh lebih menerima kehadiran Dara di setiap langkah pria itu.Satya yang selalu bangun lebih awal, selalu menyiapkan sarapan untuk Dara, membuat wanita itu nyaman dan juga aman berada di sisinya. Dia benar-benar membuat Dara merasa bak ratu yang di sanjung oleh rajanya.Contohnya pagi ini, langit masih terlihat gelap, udara dingin berhembus melewati celah jendela yang tertutup gorden putih yang tipis. Satya sudah terlihat bangun dari tidurnya, dia menatap istrinya dengan pandangan dalam.Senyum manis perlahan terpatri di wajah tampan yang selalu terlihat dingin itu, dia mengulurkan tangan dan mengelus pelan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Senyum Satya kembali melebar, ketika melihat Dara menggeliat dalam tidurnya.Kelopak indah itu mulai terbuka perlahan, orang yang pertama Dara lihat adalah Satya, ya
Terakhir Diperbarui: 2025-12-07
Chapter: Bab 56Bukan rumah di kompleks seperti sebelumnya, tetapi apartemen mewah yang kini berada di depan Dara. Wanita itu terlihat takjub dengan apa yang Satya berikan, dia terharu sekaligus bahagia.Bagaimana bisa, Satya membelikan dirinya apartemen mewah seperti ini? Berada di lantai paling atas gedung dengan pemandangan yang begitu menakjubkan baginya. Mata indah itu bergetar pelan, dia merasa bahagia dengan apa yang Satya berikan.Tubuh Dara berbalik, dia memeluk Satya dengan erat. "Terima kasih, Tuan," lirih Dara, dia mengeratkan pelukannya dan membuat Satya tersenyum samar."Tidak masalah, selama kamu bahagia." Satya mengelus pelan rambut hitam Dara, lantas mengecupnya pelan dengan penuh kelembutan.Dara melepaskan pelukan eratnya, dia mendongak dan menatap Satya dengan tatapan penuh haru. Dia tersenyum dan berjinjit untuk mengecup bibir suaminya, namun tubuh tinggi Satya menjadi penghalang."Tsk. Kenapa Tuan tinggi sekali," keluh Dara jengkel, bibirnya mengerucut dengan bola mata mendelik
Terakhir Diperbarui: 2025-12-05
Chapter: Bab 55Sesuai apa yang Dara inginkan, Rudi terkena pasal pelecehan serta mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dia di jerat pasal berlapis dan akan membusuk di penjara, kini Dara bisa bernapas lega, karena satu dendamnya sudah terbayarkan.Satu minggu setelah kejadian yang menimpa Dara, Satya memutuskan untuk pindah dari rumah itu, meninggalkan segalanya karena niat Dara sudah usai. Dara terlihat sudah berkemas, dengan beberapa koper yang berjejer rapih di depan rumah.Mereka terlihat sibuk mengemas barang-barang, yang sekiranya memang perlu di bawa. Terlihat mbok Narsih juga berada disana, membantu sebisanya dengan tatapan sendu miliknya.Dara mengusap pelan bahu mbok Narsih, wanita yang selama ini menemani dirinya di rumah ini. Tangan Dara terulur, memeluk erat tubuh mbok Narsih dengan hangat, menyalurkan rasa sedih yang sejak tadi dia tahan."Saya pamit yah, Mbok. Jaga baik-baik rumah ini," pamit Dara, dia tersenyum manis dan kembali memeluk mbok Narsih."Iya, nyonya ... Nyonya juga hati-hat
Terakhir Diperbarui: 2025-12-04