author-banner
Jw Hasya
Jw Hasya
Author

Novels by Jw Hasya

Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda

Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda

Warning!! Area 21++ Banyak mengandung adegan Dewasa. Bijak dalam membaca, tidak disarankan untuk yang single! Menjadi istri yang sebelumnya berstatus janda di keluarga konglomerat bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan masuk dalam jeratan pernikahan yang sedingin es. Hidup sebagai anak penurut, Arumi terpaksa menikah untuk kedua kalinya demi bakti pada sang ayah, tanpa tahu bahwa Garendra—suami barunya— hanya menganggap wanita itu sebagai pajangan tak berharga. Sampai akhirnya di suatu malam, minuman Garendra dicampur obat oleh mantan kekasihnya sendiri—Bianca—yang berniat menjebak. Namun, justru Arumi yang menjadi sasaran pelampiasan hasrat yang liar. "Arumi, kenapa kamu masih sesempit ini?"
Read
Chapter: BAB 206
"Ren, kita bisa bicarakan ini secara baik-baik! Lepaskan aku!" sentak Tifani. Suaranya pecah, bergetar. Pergelangan tangannya kini memar, berada dalam cengkeraman tangan kekar Garendra yang seolah tak berniat untuk melepaskannya. Garendra bergeming. Tatapannya lurus, tajam membelah rimbunnya hutan di bawah tebing tempat Arumi terjatuh. Langkah mereka berat, menginjak tanah basah dan dedaunan yang membusuk, seolah dunia di sekitar mereka pun turut membusuk. "Ren ... please, dengerin aku dulu. Aku melakukan itu karena aku mencintaimu!" isak Tifani, berusaha menarik tangannya yang tak berdaya. Garendra mendadak berhenti. Hening hutan seketika menjadi lebih mencekam, hanya menyisakan suara embusan napas mereka yang menderu dan gesekan dahan pohon jati yang beradu ditiup angin malam. Pria itu berbalik perlahan, dengan sorot mata yang dingin, kosong, tapi penuh dengan badai kemarahan, hingga membuat Tifani terlonjak mundur hingga punggungnya membentur batang pohon tua. Garendra mena
Last Updated: 2026-06-16
Chapter: BAB 205
Garendra bergeming. Dunianya seolah ikut runtuh bersamaan dengan sunyinya jurang di hadapannya. Ia tidak mendengar isak tangis, tidak ada suara rintihan, hanya desir angin yang terasa seperti ejekan bagi pria yang baru saja menantang maut demi menyelamatkan satu nyawa."Arumi ... apa yang kau lakukan," suaranya serak, nyaris tak terdengar, tenggelam dalam deru detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.Di belakangnya, pintu kamar yang baru saja ia dobrak kembali dimasuki oleh seseorang. Langkah kaki berat Dimitri yang tertatih—karena cedera akibat cengkeraman kuat Angga beberapa saat lalu—terdengar mendekat. Napas pria itu memburu, penuh kebencian yang meluap meski ia kini terpojok."Garenda! Harusnya saat ini kau telah lenyap menjadi abu ...." Dimitri terbatuk, menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Matanya membelalak saat melihat jendela yang terbuka lebar dan Garendra yang terpaku di sana, memunggungi dunia. "Apa yang telah kau lakukan, keparat?! Kau membuatnya terjun?! Suami macam
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: BAB 204
Aula besar itu diselimuti atmosfer yang mencekam. Lilin-lilin kristal yang menjuntai di langit-langit plafon tinggi hanya menyisakan pijar remang-remang, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding marmer hitam. Tidak ada dekorasi bunga yang meriah atau riuh rendah musik pernikahan. Yang ada hanyalah keheningan yang menyesakkan, diperkuat oleh barisan pria berjas gelap yang berjaga di setiap sudut ruangan.Pernikahan ini lebih menyerupai upacara rahasia sebuah sekte daripada sebuah penyatuan dua insan.Tifani melangkah masuk dengan kaki gemetar. Ia mengenakan gaun formal yang sederhana sesuai perintah Angga, yang kini membuntutinya dari belakang, menyamar sebagai salah satu pengawal pribadi. Jantung Tifani berdegup kencang di balik rusuknya; ia merasa seperti sedang berjalan menuju eksekusi mati.Di depan altar yang disinari lampu temaram, Dimitri berdiri dengan setelan jas kelabu. Wajahnya yang dingin dan penuh kewaspadaan tampak tak terusik oleh suasana yang kaku. Di sa
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: BAB 203
"​Sekarang, bawa aku ke tempat Dimitri bersembunyi," titah Angga. Seringai di wajahnya sarat akan intimidasi yang pekat, seolah sedang mengunci mangsa yang tak berdaya.​Untuk terakhir kalinya, Tifani menggeleng kuat-kuat. Dengan sisa keberanian yang rapuh, wanita itu membalas. "Tidak akan pernah! Membawamu ke hadapannya sama saja dengan mengantarkan nyawaku sendiri ke lubang kubur!"​Tawa Angga meledak, terdengar hambar namun mengerikan di ruangan yang sunyi itu. "Kau salah besar, Nona. Kau tidak punya kekuatan untuk memilih. Membangkang perintahku hanya berarti satu hal; kau setuju kulit mulusmu ini kukupas sedikit demi sedikit, sampai kau memohon ampun di sela raungan kesakitanmu."​Air mata Tifani luruh semakin deras, bahunya terguncang hebat akibat tangis yang kian sesenggukan. Ia tidak pernah menduga garis takdirnya akan sekejam dan sekelam ini.​"Kumohon ... jangan hancurkan hidupku lebih jauh lagi, Angga! Kita bahkan tidak saling mengenal, dan—"​"Justru karena kita asing satu
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 202
Tanpa membuang waktu lagi, Angga menyambar pergelangan tangan Tifani dengan cengkeraman sekeras baja. Dalam satu gerakan sentak yang efisien, ia menekuk lengan wanita itu ke belakang punggung, memaksa engsel bahunya meregang parah hingga Tifani memekik tertahan. "Katakan, di mana Dimitri?!" tuntut Angga. Suaranya rendah, nyaris berbisik, akan tetapi terdengar begitu mengancam dan mematikan yang terasa menyengat kulit. Setiap suku kata ditekankan bersamaan dengan sentakan kasar pada pergelangan tangan Tifani yang kian mengunci pergerakannya. "Aaarrrgh! Sakit!" Tifani menjerit, tubuhnya melengkung refleks mencoba mengurangi tekanan pada sendinya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. "A-aku tidak tahu! Aku bersumpah tidak mengenal siapa pria yang kau maksud!" Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang bergetar, sebuah keputusasaan yang sia-sia di hadapan pria seperti Angga. Sebelah sudut bibir Angga terangkat, membentuk seringai dingin yang mengerikan. "Jadi ...
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 201
Pemilik toko bunga itu tersentak, wajahnya kian memucat mendengar ancaman Angga yang tidak main-main. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia segera membalikkan layar komputer kasir ke arah Angga, lalu jemarinya dengan panik membuka riwayat transaksi digital yang baru saja masuk satu jam lalu. "I-ini, Tuan! Pembayarannya menggunakan transfer bank, tapi ... tapi nota pemesanannya dikirim melalui pesan singkat dari nomor privat. Di sana tertera nama pemesan dan alamat penjemputan tanda terimanya," ujar pemilik toko dengan suara bergetar. Angga memajukan tubuhnya, menatap tajam ke arah layar monitor. Matanya menyipit saat membaca baris demi baris informasi yang tertera di sana. Nama Pemesan: Tifani Alana Alamat Pengirim/Lokasi Nota: Apartemen Grand Regency, Penthouse Blok C-9 Rahang Angga yang semula mengeras kini bergemeletuk. Sebuah tawa hambar dan dingin lolos dari bibirnya. Tifani. Wanita ular itu rupanya masih memiliki nyali untuk bermain-main di atas panggung duka keluarga Gar
Last Updated: 2026-06-13
Kama Sutra

Kama Sutra

Sutra tidak pernah menyangka, bekerja sebagai pelayan di keluarga Deodola justru menjerumuskannya ke dunia yang penuh rahasia. Tugasnya sederhana—mengantarkan makanan ke apartemen Tuan Muda Kama, putra satu-satunya keluarga Deodola yang sedang “dihukum” dan dijauhkan dari mansion. Namun, setiap pertemuan justru membuat Sutra semakin mengenali sisi lain sang pewaris bahwa ia dingin, kesepian, dan terluka. Di balik tatapan tajam itu, ada rahasia yang bahkan keluarganya sendiri tidak tahu. Sutra tahu batasnya—ia hanya pelayan, bukan seseorang yang boleh jatuh hati. Tapi batas itu perlahan kabur… sejak Kama mulai memanggil namanya dengan nada yang berbeda saat dirinya terjebak obat yang membuat Sutra tak hanya melayani Kama, namun juga hasrat dan nafsunya. “Tubuhku panas. Aku butuh sesuatu dari dalam dirimu. Tugasmu saat ini, bagaimana caranya agar aku bisa melakukan pelepasan. Terserah, kau mau mengeluarkannya dengan cara apa, Sutra.” I
Read
Chapter: Epilog
Langkah kaki menyurusi koridor rumah sakit, semakin tergesa saat mendengar suara lengkingan bayi baru lahir dari sebuah kamar persalinan. “Bagaimana keadaan istriku? Apa dia sudah melahirkan?” Suaranya tergopoh, wajahnya panik. “Tuan Deodola, selamat bayi Anda lahir dengan selamat. Dia berjenis kelamin laki-laki,” ucap salah satu dokter yang menangani proses persalinan Sutra. Kama tersenyum lebar, pria itu kemudian meraih bayi mungil yang diberikan oleh seorang dokter padanya. Sutra yang berada di dalam kamar persalinan terlihat mengembulkan senyum hangat. Kama berjalan menuju Sutra sambil menggendong bayi mereka. “Terima kasih, Sayang, karena kau sudah berjuang hingga detik ini. Aku sangat mencintaimu,” katanya berbisik sambil mendaratkan ciuman hangat di dahi Sutra. Jentik-jentik keringat membasahi pelipis Sutra, deru napasnya naik turun tak beraturan. Tubuhnya terasa begitu ringan bak kapas. “Nyonya Deodola, akhirnya kau sadar juga. Selamat, Nyonya, bayi Anda
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: Bab 307
Langit yang masih mendung tak kunjung berubah sejak pagi hari. Mobil jenazah berwarna putih perlahan melaju melalui jalan raya yang mulai tergenang air akibat tetesan hujan yang terus menyergap Kota S sejak dini hari. Di dalam mobil pengiring yang mengikutinya, Sutra duduk dengan tubuh yang sudah mulai terasa berat akibat usia kehamilan yang memasuki bulan enam. Tangan kirinya tampak mengelus perutnya yang membuncit, seolah ingin memberikan rasa aman pada janin yang sedang tumbuh di dalamnya, sementara tangan kanannya erat menggenggam amplop kecil yang berisi surat terakhir dari Kama yang dititipkan kepada Dokter Becca sebelum ajal menjemputnya. Wajah Sutra pucat tanpa sentuhan riasan apa pun. Rambut hitam yang biasanya terpelihara rapi kini hanya diikat dengan sederhana, sebagian warnanya sudah membasah akibat tampias hujan yang masuk melalui celah jendela mobil yang sengaja dibuka sedikit. Wanita itu tidak bicara sepatah kata pun sejak pagi tadi, hanya menatap ke luar jendela den
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 306
Sudah hampir empat bulan sejak hari mereka mengetahui kehamilan Sutra. Ruangan kecil di lantai tiga yang dulunya hanya menampung satu ranjang kini menjadi tempat di mana dua nyawa bergelut dengan takdir—Kama yang berjuang untuk bertahan, Sutra yang berjuang untuk menjaga kandungannya agar esok bisa melahirkan dengan keadaan selamat. Setiap pagi, matahari akan masuk melalui jendela yang menghadap taman, menerangi wajah Sutra yang sering terbangun dengan tangan sudah berada di atas perutnya yang mulai sedikit membuncit, dan wajah Kama yang semakin pucat seiring dengan berjalannya waktu. Kondisi Kama yang dulunya hanya lemah dan lumpuh, kini semakinmemburuk, yang membuat hati siapapun bergetar tak tega saat melihatnya. Dokter Becca sudah tidak bisa menyembunyikan lagi bahwa penyakit yang menyerang Kama telah mencapai tahap akhir. Seluruh sistem tubuhnya mulai gagal bekerja, bahkan obat-obatan terbaik pun yang diberikan hanya mampu meredakan rasa sakit sebentar saja. Pagi ini men
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 305
Sudah tiga minggu sejak hari itu. Tiga minggu di mana waktu terasa seperti berjalan dengan kecepatan yang berbeda bagi Kama dan Sutra. Rumah sakit telah menjadi seperti rumah kedua mereka. Ruangan kecil di lantai tiga, dengan jendela yang menghadap ke taman rumah sakit, menjadi saksi bisu atas setiap senyum, setiap tangisan, dan setiap janji cinta yang mereka utarakan.Kondisi Kama semakin melemah dengan cepat. Hanya dalam seminggu, tubuhnya yang dulunya tegap kini tidak lagi mampu bergerak bebas. Otot-ototnya semakin lemah, hingga akhirnya sebagian besar tubuhnya lumpuh. Dia hanya bisa menggerakkan kepala dan beberapa bagian kecil tangan serta kaki dengan sangat terbatas. Meski begitu, senyumnya tetap ada setiap kali melihat Sutra masuk ke ruangan.“Aku bawa makanan yang kau suka, Sayang,” ujar Sutra dengan senyum yang dia upayakan sebaik mungkin saat memasuki ruangan. Dia membawa rantang kecil berisi bubur ayam yang dimasaknya sendiri di rumah, dibantu oleh Siska dan Bibi Mina. “Bi
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 304
Mobil hitam melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi di jalan raya menuju Rumah Sakit Utama Vilateli. Udara di dalam mobil terasa begitu antab, hanya suara desing mesin dan hentakan ban yang menyusuri permukaan aspal yang terdengar jelas. Sutra menggenggam setir dengan kedua tangan, matanya tetap terpaku pada jalanan di depannya, meskipun terkadang pandangannya menyelinap ke arah Kama yang duduk di kursi sebelahnya.Pria itu sedang menatap ke luar kaca mobil, wajahnya pucat dengan bibir yang sedikit berkerut. Bekas noda darah di bagian dada kemejanya sudah dihapus oleh Sutra dengan kain basah sebelum mereka berangkat, tapi kesan kesal dan rasa bersalah masih jelas tercermin di setiap lekukan wajahnya.“Kau merasa sakit?” tanya Sutra dengan suara yang lembut, mencoba memecah keheningan yang menyelimuti mereka.Kama menggeleng perlahan. “Tidak terlalu. Hanya merasa sedikit lelah saja.”Sutra menghela napas dalam. Dia ingin berkata banyak hal, ingin menegur, ingin memeluk, tapi kata-kat
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 303
“Kenapa terlambat?” Sutra menyapa saat Kama sudah masuk dalam kamar. Pria itu diam sejenak. Mencari cara untuk berbicara tentang ala yang kembali mendera dirinya. “Kau baru sembuh, seharusnya lebih bisa menjaga kondisi, jangan sampai kau terlalu lelah karena pekerjaan.” Sutra melepas jasnya lalu menaruh di tempat kotor. “Maaf jika aku cerewet. Aku hanya tidak mau dengar kau kenapa napa. Aku tidak akan pernah sanggup lagi,” kemudian wanita itu menatap dalam kedua netra sang suami. Hatinya mencelos ketika mendengar kata kata Sutra. Wanita itu seakan memberi sinyal jika dirinya tidak mau lagi mendnegar tentang penyakit yang sempat mendera dirinya. “Maaf, aku tadi ketiduran di kantor,” pada akhirnya, Kama berkilah. “Kau sudah makan?” Kama mengangguk. Dia memang sudah makan sup ayam di restoran bersama dokter Becca. “Kalau begitu, cepat mandi sebelum terlalu larut. Setelah itu cepat istirahat. Aku tidak mau kau kenapa napa, paham?” Kama menerbitkan senyum sambil menga
Last Updated: 2026-02-25
Menjadi Tawanan Rubah Tampan

Menjadi Tawanan Rubah Tampan

Satta Elena—gadis cantik yang bekerja sebagai salah satu pelayan di sebuah istana Alderaan, menemukan sosok pria misterius di dalam sebuah ruang bawah tanah yang terletak di gudang tua. Matanya membulat ketika tahu jika pria yang ditemuinya sangat mengerikan. Konon, pria bernama Allard itu dikutuk oleh Beastmen jahat penguasa hutan larangan yang berada tak jauh dari istana. “Jangan mendekat! Aroma tubuhmu bisa membuatku sulit untuk mengendalikan diri, Nona!” “Tapi aku ingin menjadi temanmu ….” “Kau yang telah memancingku untuk melakukan lebih pada tubuhmu, jadi … jangan pernah salahkan aku!”
Read
Chapter: BAB 105
Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: BAB 104
Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Bab 103
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: BAB 102
Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: BAB 101
Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: BAB 100
Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men
Last Updated: 2026-05-11
Jatuh Dalam Pesona Budak Cantik

Jatuh Dalam Pesona Budak Cantik

“Sasi, aku memberimu kebebasan untuk mencintaiku, karena memang itulah tugasmu sebagai budak. Tapi kau pun harus ingat! Jangan pernah mengharapkan yang sebaliknya. Karena aku akan memberikanmu apa pun itu, kecuali cinta.” Sasi Theresia berharap jika dirinya bisa melakukan semua itu, tapi nyatanya tidak. Hatinya yang lemah, tetap saja mengharapkan balasan untuk cintanya yang usang. “Kenapa Tuhan sejahat itu, menakdirkanku sebagai budak yang tidak pernah pantas untuk dicintai oleh siapa pun.”
Read
Chapter: Bab 51
Sasi Theresia mengerang kesakitan. “Tolong jangan siksa aku. Aku akan mengatakan padamu.” Leo menghentikan siksaannya. Tak sabar ingin mendengar pengakuan wanita licik yang sudah tak berdaya tersebut. “Katakan, siapa?” “T-tapi, k-kau harus berjanji. K-kau akan melepaskanku jika akau mengatakan padamu, siapa orang yang telah berkhianat pada kalian.” “Tentu saja, kau bahkan bisa menghirup udara sesuka hatimu, Sayang.” Namun, sebelum Sasi Theresia mengakui, ponsel Leo kembali melengking. Nama Jonathan tertera didepan layar. “Aku akan ke situ dengan Sasi.” Setelah itu, panggilan dimatikan. Leo tersenyum sinis. “Sepertinya kau akan segera lepas dari siksaan ini. Jonathan barusan meneleponku dia akan ke sini beraama dengan Naina.” ** “Kita mau ke mana?” tanya Sasi dengan wajah yang masih tampak sedikit pucat. “Ke tempat Leo.” “Kau mau kembali menitipkan aku di sana?” tanya Sasi penasaran. Jonathan mengacak rambut Sasi dengan lembut. “Tentu saja tidak. Aku i
Last Updated: 2025-11-13
Chapter: Bab 50
Pada akhirnya Sasi tertidur dalam pelukan Jonathan. Sedangkan pria itu tampak sedang memainkan gawainya dengan pelan, karena takut gadis itu terganggu tidurnya. Saat dirinya hendak menaruh ponsel di atas nakas, tiba-tiba benda pipih itu bergetar. Satu panggilan atas nama Leo menerobos masuk. “Ada apa, Leo?”“Joe, bisakah kau ke sini sekarang?”Jonathan mengernyit, Leo adalah orang yang begitu tahu kondisi. Pria itu tidak akan menyuruh sang karib untuk datang jika tidak ada kepentingan yang mendesak. “Katakan, ada apa?” tanya Jonathan penasaran. “Anak buahku menangkap Sasi Theresia. Rupanya selama ini budakmu bernama Naina.”“Tolong kau jaga perempuan itu untukku. Karena saat ini aku belum bisa datang ke tempatmu. Sasi terluka dan anak buahmu tahu itu. Jangan kau habisi dulu dia. Biar Sasi yang melakukannya. Dendam, harus dibalas oleh yang bersangkutan.” Suara Jonathan begitu berat. Matanya menatap ke arah Sasi yang masih tertidur pulas dengan keadaan miring. “Tentu saja kawan. Ta
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 49
Joe, aku akan mengabdi padamu seumur hidupku.”Jonathan tersenyum, kemudian pria itu memberi kecupan hangat di dahi Sasi. “Terserah apa pun itu, yang kuharap saat ini kau selalu baik baik saja dan lukamu lekas sembuh.”“Joe.”“Ehm.”“Sebenarnya apa yang membuat kau begitu baik padaku. Bukankah aku ini hanya seorang budak?” Lantas ia mengepalkan kedua tangannya. “Aku bahkan tidak menguntungkan apa-apa bagi dirimu. Malah … a-ku terlalu banyak menyusahkanmu. Kuharap, kau tidak terlalu bersikap baik terhadapku.”Jonathan mengernyit. “Kenapa? Kau tidak suka jika aku bersikap baik terhadapmu?”Gadis itu kemudian menatap Jonathan begitu lekat. “Aku tidak ingin kau memberikan harapan padaku. Aku tahu, kau bersikap baik karena aku hanya wanita lemah. Tapi Joe, aku takut berharap lebih padamu. Jangan berbuat baik tanpa alasan. Lebih baik kau memukulku atau mengatakan yang sejujurnya, apa niatmu yang sebenarnya.”Niat yang sebenarnya? Mendadak kepala Jonathan menjadi kosong. Ia sama sekali tid
Last Updated: 2025-11-11
Chapter: Bab 48
Ucapan Davin saat itu tentang cairan kuning yang tak ada penawarnya benar adanya. Cairan tersebut tidak berlangsung lama jika penggunanya berusaha mencari tahu tentang kehidupannya. Ada sebagian orang yang memilih untuk menerima takdirnya, melupakan ingatannya dan membiarkan dirinya menjadi budak untuk selamanya. Orang-orang yang seperti itu, membuat cairan obat bekerja lebih lama atau seumur hidup. Davin memang sengaja membuatnya seperti itu. Sebab, itu semua bisa menguntung bagi usahanya. Jika dia menetapkan cairan dosisi tinggi, tidak ada lagi mereka mereka yang akan datang untuk mencarinya, memintanya untuk kembali menyuntikkan cairan agar peliharaan mereka kembali patuh. Oleh sebab itu, tidak jarang bagi pelanggan Davin—mereka kembali datang—untuk meminta agar budaknya disuntik kembali. Tentu karena reaksi cairan pertama telah luruh, budak budak itu telah mengingat jati dirinya lagi. Sehingga mau tidak mau, para tuan harus kembali menyuntik. Tentu suntikan yang kedua ini tidak
Last Updated: 2025-11-10
Chapter: Bab 47
Selama tiga hari Sasi tidak boleh makan. Gadis malang itu hanya mendapat minum. Persembahan untuk iblis atas nama dirinya yang kotor karena tidak mau membunuh kekasihnya Tommi akan segera dihelat. Sasi dikeluarkan dari jeruji besi tepat enam jam sebelum diadakan persembahan. Ia dimandikan, diberi parfum, kemudian didandani semewah mungkin.Sasi benar-benar telah pasrah pada hidupnya. Gadis malang itu bahkan tidak menolak ketika beberapa orang memandikan tubuhnya. Ia menerima semua dengan lapang dada. Mungkin memang ini adalah akhir dari perjalanan hidupnya. Nyatanya, masa-masa hidup dengan Jonathan hanyalah mimpi yang sekadar numpang lewat saja. Di ambang pintu, Sasi Theresia si gadis berambut pirang tampak berdiri berkacak pinggang. Pasti wanita itu puas melihat keadaannya sekarang. Tanpa sadar Sasi mengerutkan dahi. Padahal selama hidupnya dia tidak pernah merasa jika dirinya cantik. Bahkan, sudah terlampau lama dia tidak pernah melihat pantulan wajahnya di dalam cermin. Biasanya,
Last Updated: 2025-11-09
Chapter: BAB 46
“Hello, Naina. Apa kabar? Lama kita tidak bertemu.”Untuk satu ini, Sasi tidak begitu mengingat siapa wanita yang baru saja menyapanya. Rambutnya berwarna pirang, dengan baju di atas pusar dengan sebuah celana cutbray. Wanita itu berjalan anggun menghampiri Sasi. Raut wajahnya tampak begitu puas. “Aku sedih karena kau melupakanku.” Nada bicaranya terkesan mengejek Sasi. Di ujung kalimat, wanita itu menyelipkan tawa yang seperti sedang menari di atas derita orang. Dia membungkuk, untuk menyamai badan dengan Sasi, kemudian ia kembali bersuara lirih di cuping telinga Sasi. “Harusnya pelukis terkenal, tidak akan melupakan nama kawannya begitu saja. Terlebih, aku ikut andil dalam segala aktivitasmu dulu. Bukankah namaku yang selalu kau selipkan di antara ketenaranmu? Akulah Sasi Theresia.”Jadi, selama ini gadis bernasib malang itu menggunakan nama sahabat lamanya. Sasi Theresia.Tubuh Sasi menegang. Berada di tempat terkutuk ini dan berjumpa dengan ayahnya, membuat bagian-bagian puzzle
Last Updated: 2025-11-08
You may also like
Aku Masih Perawan
Aku Masih Perawan
Romansa · Rara Radika
506.6K views
BAYI MILIARDER (A Baby Billionaire)
BAYI MILIARDER (A Baby Billionaire)
Romansa · Adinasya Mahila
495.2K views
Istri Keempat
Istri Keempat
Romansa · Asia July
492.3K views
Cinta Satu Malam
Cinta Satu Malam
Romansa · Handira Rezza
488.8K views
PELAYAN GENDUT TUAN SULTAN
PELAYAN GENDUT TUAN SULTAN
Romansa · Rosemala
487.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status