Chapter: Bab 178"Tidak!""Tolong, Yang Mulia!""Itu tidak adil!"Jeritan memenuhi halaman istana. Beberapa orang menangis histeris, sementara yang lain berusaha melepaskan diri dari cengkeraman para kesatria.Di sisi lain, Laticia hanya berdiri dalam diam. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan kepuasan ataupun belas kasihan. Bagi seorang penguasa setiap keputusan memiliki harga. Dan hari itu, Carsein telah memilih membayar harga dari keputusannya sendiri.Sementara Pricilla berdiri membeku di tempatnya. Jemarinya mengepal erat di balik lengan gaunnya. Ia tidak menyangka Carsein akan mengambil keputusan yang jauh lebih kejam daripada usulan yang disampaikan Laticia.Ia menyadari bahwa di hadapan urusan takhta, bahkan suaranya pun tidak selalu mampu mengubah keputusan sang kaisar.Jeritan para terpidana perlahan menghilang. Para kesatria menyeret mereka satu per satu menuju ruang tahanan, sementara keluarga mereka menangis dan memohon belas kasihan. Namun pagi itu, tidak ada seorang pun
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 177Carsein terdiam. Tatapannya masih tertuju pada para bangsawan yang berlutut di hadapannya, tetapi pikirannya sudah melayang jauh ke masa lalu. Tanpa ia sadari, Laticia baru saja menyeretnya kembali pada keputusan-keputusan yang pernah ia buat dengan tangannya sendiri.Dahulu, seorang bangsawan pernah dijatuhi hukuman mati hanya karena terbukti melakukan korupsi terhadap kas kekaisaran. Begitu pula keluarga Valcren yang dihukum atas tuduhan pengkhianatan. Saat itu Carsein tidak pernah ragu menghunus pedang keadilan.Laticia melihat perubahan di wajahnya, tetapi ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Carsein untuk tenggelam dalam keraguannya."Kalau begitu..." ucapnya pelan, "Hukum mati mereka semua."Suara itu tidak keras. Namun setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat seluruh halaman istana seolah membeku.Para bangsawan yang berlutut langsung memucat. Beberapa di antara mereka bahkan jatuh bersimpuh sambil memohon ampun. Para pejabat saling berpandangan dengan wajah tegang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 176Fajar baru saja menyingsing di atas ibu kota. Kabut tipis masih menyelimuti halaman Istana Kekaisaran, sementara sebagian besar pelayan bahkan belum memulai pekerjaan mereka. Keheningan pagi itu mendadak pecah oleh derap langkah puluhan kesatria yang memasuki gerbang utama dengan tergesa-gesa.Di tengah barisan itu, beberapa orang diseret dengan kedua tangan terikat ke belakang. Wajah mereka pucat, pakaian mereka berantakan, dan sebagian bahkan nyaris tidak mampu berdiri. Mereka adalah bangsawan yang bertanggung jawab atas Lumbung Barat beserta beberapa pejabat yang selama bertahun-tahun mengelola persediaan pangan kekaisaran.Keributan itu dengan cepat menarik perhatian seluruh penghuni istana.Pintu Istana Ratu terbuka.Laticia melangkah keluar dengan mantel panjang berwarna gelap yang menutupi gaun tidurnya. Rambutnya belum dihias rumit seperti biasanya, hanya diikat sederhana di belakang kepala. Meski baru saja terbangun, sorot matanya tetap tenang, seolah sudah menduga pagi itu t
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 175Jawaban itu terdengar dingin, tetapi tidak sepenuhnya salah. Dulu, setiap kali Carsein kebingungan, Laticialah yang diam-diam menyusun jalan keluarnya. Ia memberi saran, memperbaiki kesalahan para menteri, bahkan menyelesaikan masalah sebelum sampai ke telinga sang kaisar.Namun perempuan itu telah memutuskan untuk berhenti melakukan semua itu. Jika Carsein ingin menjadi seorang kaisar maka sudah waktunya ia belajar mencari jawabannya sendiri.Laticia sama sekali tidak berniat membantu Carsein lebih dari yang menjadi kewajibannya sebagai ratu.Selama bertahun-tahun, dialah yang diam-diam menjaga kekaisaran tetap berdiri. Setiap krisis diselesaikannya sebelum membesar, setiap kesalahan para pejabat ditutupinya, dan setiap keputusan yang menyelamatkan pemerintahan selalu lahir dari kerja kerasnya. Namun semua pujian jatuh kepada Carsein.Kini semuanya telah berakhir.Carsein menginginkan takhta, tetapi tidak pernah benar-benar belajar bagaimana mempertahankannya. Ia haus akan kekuasaan,
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: Bab 174Tidak sampai setengah jam kemudian, iring-iringan kereta kerajaan berhenti di depan Lumbung Barat.Bau kayu hangus langsung memenuhi udara. Asap tipis masih mengepul dari sisa-sisa bangunan yang menghitam. Para prajurit dan pekerja terlihat mondar-mandir membawa ember berisi air untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.Begitu turun dari kereta, langkah Laticia terhenti. Tatapannya tertuju pada bangunan besar yang kini hanya menyisakan tiang-tiang kayu yang gosong.Atapnya telah runtuh. Dinding-dinding penyimpanan ambruk menjadi puing. Karung-karung gandum yang seharusnya memenuhi gudang kini berubah menjadi abu hitam yang bercampur dengan sisa kayu terbakar.Tidak ada yang tersisa. Beberapa pejabat yang lebih dulu tiba segera menghampirinya dengan wajah panik."Yang Mulia...""Semuanya terjadi terlalu cepat.""Kami tidak sempat menyelamatkan isi gudang."Laticia tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan memasuki area lumbung yang telah dipenuhi puing-puing. Sepatu kul
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: Bab 173Keesokan paginya, Istana Ratu kembali dipenuhi kesibukan.Di ruang kerjanya, Laticia duduk dengan tenang di balik meja besar, membaca satu demi satu dokumen yang baru saja diserahkan kepadanya. Sesekali ia memberi catatan kecil di pinggir halaman sebelum meletakkannya ke sisi lain meja.Tak lama kemudian, pintu ruangan diketuk pelan."Yang Mulia, Duke Zion telah tiba."Laticia mengangkat pandangannya dari laporan yang sedang dibaca. "Persilakan masuk."Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Zion yang melangkah masuk dengan tenang. Setelah memberi hormat singkat, ia langsung duduk di kursi yang berada di hadapan adiknya. Tidak ada sapaan panjang ataupun basa-basi. Hubungan keduanya tidak pernah membutuhkan kata-kata yang berlebihan.Zion memperhatikan wajah Laticia beberapa saat. Sejak kembali ke ibu kota, adiknya memang terlihat jauh lebih tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuatnya sulit menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan perempuan itu."Seluruh istana sed
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: Bab 63Helena menundukkan pandangannya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara senyum tipis yang muncul di bibirnya sama sekali tidak mengandung kebahagiaan."Saya bahkan tidak melakukan apa-apa."Suaranya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri."Saya hanya mengatakan bahwa Lady Rose adalah orang luar dan seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keluarga Laurent."Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan."Tetapi hanya karena kalimat itu... saya dikurung di ruang hukuman selama berjam-jam."Helena mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Rion, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di sana.Hanya rasa lelah."Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "Sepertinya saya mulai mengerti."Rion masih diam.Helena menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya."Lady Rose benar-benar seseorang yang tidak boleh dibuat tersinggung."Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian, Helena kembali berkata dengan suara yang jauh lebih
Terakhir Diperbarui: 2026-07-22
Chapter: Bab 62Menjelang sore, kesunyian yang sejak tadi menyelimuti ruang hukuman akhirnya terusik.Dari balik pintu besi terdengar derap langkah yang terburu-buru menyusuri lorong batu. Suaranya semakin lama semakin dekat, diiringi gema sepatu yang memantul di dinding-dinding dingin bawah tanah.Helena yang sejak tadi hanya terduduk bersandar di dinding perlahan mengangkat kepalanya.Ia sudah terlalu lama berada di ruangan itu hingga tubuhnya mulai terasa kaku. Cahaya matahari yang semula masuk melalui jendela kecil kini berubah menjadi semburat jingga, menandakan berjam-jam telah berlalu sejak dirinya dibawa ke tempat itu.Belum sempat ia menebak siapa yang datang, sebuah suara keras menggema di sepanjang lorong."Apa maksud semua ini?" Suara itu begitu tegas hingga membuat seluruh lorong mendadak sunyi.Helena langsung mengenalinya.Rion.Beberapa penjaga yang berjaga di depan ruang hukuman tampak gugup. Salah seorang di antaranya buru-buru membungkukkan badan."Tu-Tuan Rion...""Aku bertanya."
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: Bab 61Helena melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu menyimpannya di dalam laci nakas, berdampingan dengan barang-barang yang paling ia jaga. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi Marchioness Laurent, ia menutup matanya dengan hati yang sedikit lebih ringan.Karena kini ia tidak lagi merasa berjalan sendirian. Di balik segala rahasia yang masih menyelimuti pernikahan mereka, suaminya telah memberikan sebuah jawaban.Jawaban yang sederhana.Namun cukup untuk membuat Helena percaya bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar akan bertemu tanpa lagi dipisahkan oleh kegelapan ataupun selembar surat.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Rezef kembali datang ke kamar Helena.Ruangan kembali tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kehangatan. Tidak ada banyak kata yang terucap di antara mereka. Hubungan mereka masih dipenuhi misteri, tetapi untuk pertama kalinya Helena merasakan sesuatu yang berbeda.Malam itu, Rezef memper
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab 60Helena menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.“Baiklah,” ucapnya lirih. “Saya mengerti.”Ia tidak ingin lagi memperpanjang pembicaraan mengenai Rose. Wanita itu sudah pergi, dan Helena merasa tidak ada gunanya membiarkan suasana malam menjadi semakin buruk karena pertengkaran yang tidak akan menghasilkan apa-apa.Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam. Cahaya lampu gantung memantulkan bayangan lembut di lantai marmer aula, sementara suara angin malam terdengar samar dari luar jendela.Namun satu pertanyaan masih terus mengganggu pikiran Helena sejak pagi tadi. Ia menatap Rion yang tampak hendak pergi, lalu memanggilnya pelan.“Tuan Rion.”Pria itu menghentikan langkah dan menoleh.“Ya?”Helena menggenggam ujung lengan gaunnya sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati.“Apakah Anda benar-benar akan pergi berperang?”Rion terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah halaman kastel yang gelap sebelum kembali kepada Helena.“Untuk saat ini aku hanya diperintahkan mengawa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab 59Kalimat itu diucapkan Helena dengan tenang. Justru karena itulah, ucapannya terasa semakin tajam. Senyum di wajah Rose perlahan menghilang, dan untuk pertama kalinya malam itu ekspresinya benar-benar berubah. Di sekitar aula, para pelayan hanya menundukkan kepala tanpa berani ikut campur.Rion berdiri diam sambil memandang Helena dan Rose bergantian. Untuk pertama kalinya ia merasa Helena benar-benar telah berubah. Wanita itu tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai memahami posisinya sebagai Marchioness Laurent dan tahu bagaimana mempertahankannya tanpa kehilangan harga dirinya.Rose menatap Helena cukup lama. Wajahnya masih dihiasi senyum, tetapi senyum itu kini terlihat dipaksakan. Tatapannya perlahan berubah tajam, seolah sedang menahan amarah yang mulai sulit disembunyikan."Marchioness," ucapnya pelan, "apakah sekarang kau mulai meremehkanku?"Helena tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. Ia membalas tatapan Rose dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terintimidasi.
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab 58Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan."Aku pernah melihat bagaimana kota berubah menjadi lautan api."Suara Helena tetap tenang. Justru terlalu tenang. Seolah semua itu telah ia pendam begitu lama hingga tidak lagi mampu diungkapkan dengan emosi."Aku pernah melihat orang-orang berlari tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri." Ia berhenti sejenak. "Lalu keesokan harinya... banyak di antara mereka tidak pernah bangun lagi."Dorote membeku di tempatnya. Ia tidak pernah mendengar Helena membicarakan masa lalunya seperti ini. Helena menundukkan pandangannya."Karena itu..." Ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan pernah bisa tenang setiap kali mendengar kata perang."Ruangan kembali hening.Dorote akhirnya memahami. Yang membuat Helena gelisah bukan semata-mata karena Rion mungkin akan berangkat ke medan perang. Melainkan karena perang sendiri telah meninggalkan luka yang tidak terlihat di dalam hati wanita itu. Dorote perlahan meletakkan tangannya di atas meja, tidak berani m
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Bab 162Pagi datang tanpa suara, menyusup pelan melalui celah tirai yang setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut ruangan, menyentuh lantai dan naik perlahan ke sisi ranjang tempat Risa terbaring.Tidak ada bunyi selain detak alat medis yang teratur dan napas yang terdengar pelan, seolah dunia sengaja berjalan lebih lambat di tempat itu.Kelopak mata Risa bergerak.Awalnya hanya sedikit, berat seperti tertahan sesuatu yang tidak terlihat. Lalu perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka. Pandangannya buram, tidak fokus, hanya warna putih yang memenuhi penglihatannya. Ia mengedip sekali, dua kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keadaan yang terasa asing.Beberapa detik berlalu sebelum semuanya mulai jelas.Langit-langit putih. Dinding ruangan. Aroma obat yang khas.Dan… seseorang di sampingnya.Risa mengalihkan pandangan ke arah itu.Dante duduk di sana.Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ia sudah terlalu lama berada di posisi itu tanpa benar-benar bergerak. Wajahnya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-04
Chapter: Bab 161Sunyi.Lorong itu terasa semakin dingin. Eden tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih waspada, lebih serius.“Itu tidak mungkin,” katanya setelah beberapa detik. “Semua sudah kita—”“Dia tidak punya bukti,” potong Vivian cepat.Kali ini suaranya lebih tajam.“Tapi dia mulai menghubungkannya.” Ia memalingkan wajah, menatap ke ujung lorong yang kosong. “Dan itu cukup berbahaya.”Eden mengamati Vivian sejenak.Ia jarang melihat wanita itu dalam keadaan seperti ini gelisah, tapi bukan panik. Lebih seperti… seseorang yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Eden hati-hati.Vivian terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat dan tidak juga menenangkan.“Belum saatnya,” jawabnya pelan. Tatapannya kembali tajam, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Selama dia belum punya bukti, dia tidak akan bergerak sembarangan.”Eden mengangguk kecil, meskipun ia tahu… itu buk
Terakhir Diperbarui: 2026-04-22
Chapter: Bab 160Vivian masih berdiri di sana, tidak langsung beranjak meskipun kalimat Dante sudah cukup jelas untuk mengusirnya.Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak terlihat namun menekan. Ia menatap Dante lama, dalam, seperti mencoba menemukan sisa dari pria yang dulu selalu memberinya ruang, meskipun hanya sebatas formalitas. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada kompromi. Tidak ada perhatian yang tersisa untuknya.Dante bahkan tidak menoleh.Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju pada Risa.Dan itu cukup untuk membuat Vivian mengerti… bahwa ia sudah benar-benar tersingkir.Perlahan, Vivian menundukkan wajah. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu membela diri, atau mungkin sekadar meminta untuk tidak diperlakukan seperti ini. Tapi pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.Ia tidak punya tempat lagi di ruangan itu.Dengan langkah pelan, ia berbalik.Suara sepatunya terdengar samar di lantai, teredam oleh sunyi
Terakhir Diperbarui: 2026-04-22
Chapter: Bab 159Ruangan kembali sunyi dan beberapa detik berlalu sebelum Dante akhirnya berbalik.“Nenek,” panggilnya.Wanita tua itu mengangkat wajah.“Lebih baik Anda kembali ke rumah,” kata Dante pelan. “Bersama Diana.”Diana yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu sedikit terkejut, namun tetap menjaga ekspresinya.“Nanti aku di sini,” lanjut Dante. “Aku yang akan menunggu dia.”Nenek menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.“Kalau begitu… jaga dia baik-baik,” ucapnya lirih.Dante tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap Risa wanita yang terbaring lemah di hadapannya,yang bahkan belum tahu bahwa saat ia membuka mata nanti, akan ada bagian dari dirinya yang telah hilang selamanya.Pintu ruang rawat itu menutup dengan bunyi pelan nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa ruangan itu kini benar-benar terpisah dari dunia luar.Langkah kaki nenek dan Diana perlahan menghilang di lorong, meninggalkan keheningan yang terasa semakin dalam.
Terakhir Diperbarui: 2026-04-22
Chapter: Bab 158Tepat setelah kata-kata itu menggantung di udara, suara mekanis pelan terdengar dari pintu ruang operasi.Klik.Pintu itu terbuka perlahan.Seorang dokter keluar dengan langkah tenang namun cepat, masker masih menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sorot mata yang serius dan lelah. Cahaya terang dari dalam ruangan menyelinap keluar sejenak sebelum pintu kembali menutup di belakangnya.Dante adalah orang pertama yang bergerak.Tanpa menunggu, tanpa ragu, ia melangkah lebar menghampiri dokter itu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seolah satu detik saja terlalu lama untuk ditunggu.“Wali pasien atas nama Risa Santoso?” tanya dokter tersebut, suaranya profesional, datar, seperti yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa.“Saya.”Jawaban itu keluar cepat, tegas dan tanpa jeda.Dokter itu mengangguk pelan, menatap Dante beberapa detik, seolah menyiapkan kalimat yang harus ia sampaikan.“Pasien sudah melewati masa kritisnya.”Kalimat itu terdengar jelas.Dan dalam s
Terakhir Diperbarui: 2026-04-17
Chapter: Bab 157Lorong rumah sakit itu panjang… dan terasa terlalu sunyi.Lampu putih di langit-langit menyala dingin, memantulkan bayangan langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu Dante menggema pelan saat ia berlari kecil, napasnya tak beraturan, jasnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak keluar dari mobil.Di ujung lorong, lampu merah di atas ruang operasi masih menyala.Dan di sana Vivian duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat, tangannya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh.Begitu melihat Dante datang, Vivian langsung berdiri.“Dan—”Namun Dante sudah lebih dulu mendekat, langkahnya cepat, tatapannya tajam.“Sebenarnya bagaimana kamu menjaganya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Vivian terdiam sesaat, lalu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku… aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu akan jadi seperti ini, Dante… aku—”“Lalu apa yang terjadi?” potong Dante, nadanya naik sedikit. “Bagaimana keadaannya w
Terakhir Diperbarui: 2026-04-17