author-banner
NaoMiura
NaoMiura
Author

Novelas de NaoMiura

Terikat Tatapan Pak Dosen

Terikat Tatapan Pak Dosen

Mao, mahasiswi ceria dan lembut, suka duduk di bangku paling belakang. Di sana, dia mengamati Khai, dosen muda yang tenang dan berwibawa. Tidak ada silabus yang mengatur perasaan, tidak ada aturan yang membimbing tatapan yang diam-diam terlalu panjang. Di antara kelas, catatan, dan senyum yang jarang diucapkan, hati mereka belajar hal-hal yang tidak ada di buku panduan. “Silabus yang Tak Pernah Ditulis” adalah kisah tentang rindu yang tumbuh di tempat yang seharusnya profesional—tentang cinta yang harus tetap diam, namun tidak bisa diabaikan.
Leer
Chapter: Adegan dari Jendela
Kantin mulai sedikit lengang ketika mereka selesai. Matahari sudah naik lebih tinggi, membuat halaman kampus terlihat lebih terang dari sebelumnya.“Ayo ke taman,” ajak Erina, berdiri sambil membawa minumannya.Maorielle mengangguk. “Boleh.”Taman kampus dipenuhi mahasiswa yang duduk santai di bawah pohon. Angin siang berhembus pelan, membawa suasana yang lebih ringan dibandingkan ruang kelas. Maorielle dan Erina baru saja duduk ketika Arvan datang menghampiri.“Kalian di sini ternyata,” katanya santai, lalu ikut duduk di dekat mereka.Obrolan pun mengalir ringan. Tidak ada yang serius. Hanya candaan kecil, cerita acak, dan tawa yang sesekali muncul.“Aku bilang juga tadi lighting-nya kurang,” kata Arvan, masih membahas acara kemarin.Maorielle terkekeh. “Kamu dari tadi itu-itu saja.”“Ya soalnya kamu tidak mau mengakui,” balas Arvan cepat.Maorielle menggeleng, lalu tanpa sadar menatap ke arah lain sejenak. Di lantai atas gedung sebelah. Jendela itu. Kelas Khai. Ia tidak berpikir ban
Última actualización: 2026-04-03
Chapter: Saujana
Setelah kelas selesai, Maorielle merapikan bukunya perlahan. Suara kursi yang digeser dan obrolan mahasiswa yang kembali ramai memenuhi ruangan, tapi ia tetap tenang di tempatnya.“Ayo kantin?” ajak Erina.“Kamu duluan saja. Aku ke ruang dosen,” jawab Maorielle.Erina mengangguk. “Jangan lama-lama.”Maorielle hanya tersenyum kecil, lalu berjalan keluar kelas.Lorong menuju ruang dosen terasa lebih sepi dibandingkan area lain. Langkahnya bergema pelan di lantai. Sementara pikirannya mulai beralih ke urusan yang harus ia selesaikan, menemui Dosen Angin.Ia berhenti di depan pintu ruang dosen. Tangannya baru saja hendak mengetuk ketika sesuatu membuatnya terdiam. Sebuah lagu. Pelan. Hampir seperti hanya menjadi latar. Tapi cukup jelas untuk dikenali. Saujana.Maorielle membeku di tempat. Nada pembukanya yang lembut langsung terasa familiar di telinganya. Ia tidak salah dengar. Itu lagu favoritnya. Ia pernah menyebutkannya sekali. Hanya sekali. Saat kelas Khai ketika membedah lagu.Tapi s
Última actualización: 2026-04-01
Chapter: Tas Baru
Mobil Khai berhenti pelan di depan rumah Maorielle. Mesin masih menyala, tapi suasana di dalamnya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Seperti perjalanan tadi menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai, tapi juga tidak perlu dipaksakan.Maorielle membuka sabuk pengamannya.“Terima kasih,” ucapnya pelan.Khai hanya mengangguk. “Hati-hati.”Singkat. Seperti biasa.Maorielle sempat ragu sejenak, tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi ia belum langsung turun. Ada jeda kecil. Hampir seperti ia ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi akhirnya tidak.Maorielle membuka pintu, lalu turun. Begitu kakinya menyentuh halaman, suara langkah lain terdengar dari arah gerbang. Maorielle menoleh. Raviel dan mama. Keduanya baru saja pulang, masing-masing membawa beberapa kantong belanja. Langkah Maorielle langsung melambat.Sementara itu, dari dalam mobil, Khai yang menyadari keberadaan mereka ikut menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Raviel dan mama, lalu ia mengangguk sopan. Sebuah sapaa
Última actualización: 2026-03-31
Chapter: Pulang
Maorielle mengangkat kepala perlahan, melirik ke arah Khai. Dan seperti kebetulan, Khai juga menoleh. Tatapan mereka bertemu sekejap. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat Maorielle langsung memalingkan wajah, pura-pura fokus ke panggung. Pipinya mulai terasa hangat.Di sampingnya, Arvan masih berbicara pada Erina tentang penampilan berikutnya.“…katanya nanti ada kolaborasi sama musik modern juga—”Tapi suara itu seperti memudar di telinga Maorielle. Karena pikirannya masih tertahan pada pria yang tak jauh darinya.“Kenapa?” bisik Erina tiba-tiba.Maorielle tersentak kecil. “Apaan?”“Senyum-senyum sendiri dari tadi,” Erina menyipitkan mata. “Serem tau.”Maorielle langsung menggeleng cepat. “Nggak ada apa-apa.”“Tuh kan,” Arvan ikut menimpali ringan. “Dari tadi juga gue ngerasa.”Maorielle berdeham kecil, berusaha menenangkan ekspresinya. Lalu perlahan, tanpa sadar senyumnya kembali muncul. Tipis. Diam-diam.Pertunjukan masih berlangsung. Tepuk tangan mulai terdengar di be
Última actualización: 2026-03-30
Chapter: Pertunjukan Tari
Suara teman-temannya, hiruk pikuk parkiran, bahkan angin yang lewat. Semua seperti menjauh sejenak.Maorielle mencium bunga itu untuk menandakan bahwa Maorielle menyukainya. Seorang dosen melakukan hal ini di kampus? Gerutu Maorielle meski hatinya senang.Siang itu lapangan kampus berubah jadi panggung terbuka. Musik tradisional bercampur modern mengalun dari pengeras suara, mengiringi para penari yang bergerak luwes di tengah lingkaran penonton.Mahasiswa duduk lesehan berkelompok, membentuk barisan-barisan santai di atas rumput.Maorielle duduk di salah satu barisan depan, bersila dengan tas di sampingnya. Matanya sesekali mengikuti gerakan penari, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Di sebelahnya, Arvan sedang bercerita sesuatu. Entah tentang acara radio atau komentar ringan soal penampilan di depan.“Bagian itu tadi bagus banget, lighting-nya dapet,” ujar Arvan, santai.Maorielle mengangguk kecil. “Iya, lumayan.” Jawabannya pendek.Arvan melirik sekilas, seperti menyadari ad
Última actualización: 2026-03-29
Chapter: Bunga
Maorielle tersenyum tipis, tapi matanya mulai terasa hangat. Ia tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengetik.Maorielle: Aku merasa kamu menyukaiku. Tapi, ketika melihatmu dengan cewek lain. Aku merasa sangat kecewa. Jadi aku menjauh agar aku tidak kecewa lebih jauh dan lebih dalam lagi.Kali ini, balasan dari Khai datang lebih lama. Seolah ia benar-benar memikirkan jawabannya. Atau mungkin… memikirkan ulang apa yang Maorielle lakukan selama ini.Khai: Cewek lain?Maorielle menahan napas. Degup jantungnya kembali menguat. Ia menatap kalimat itu lama. Dia tidak ingin langsung ke intinya. Cewek itu Mei. Ia mengetik, pelan, mencari kata yang tepat.Maorielle: Kamu terlihat sangat nyaman dan akrab dengan Mei.Maorielle melepar ponselnya ke tempat tidur. Dia tidak bisa melihat jawaban yang dia tulis. Dia tidak ingin menyesal menulis jawaban itu dan menghapusnya.Tak berapa lama ponselnya kembali bergetar
Última actualización: 2026-03-27
Bilur Bulir Bertaut

Bilur Bulir Bertaut

Naomi memulai perjalanan karir di perusahaan kecil yang hampir bangkrut. Lalu dia berkembang dan bertumbuh hingga ke perusahaan besar. Sang Social Butterfly selalu berusaha dan membantu tim dalam mengembangkan perusahaan. Tak sedikit orang yang meminta bantuannya. Ketika Naomi mengalami satu masalah, orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya bahkan menggunjingnya. Tapi senyum sang kupu-kupu tidak pernah pudar. Tidak ada yang tahu bahwa di luar dia selalu mengembangkan sayapnya dengan indah. Tapi di dalam, sayapnya terlipat dan terluka. Satu kesalahannya menghapus semua kebaikan yang dia lakukan. Lalu apa pilihan Naomi?
Leer
Chapter: Pulang ke Rumah
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika mobil Mareeq memasuki kawasan apartemen Naomi. Tidak ada lagi perdebatan. Hanya keheningan yang nyaman.Naomi membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, ia menoleh."Terima kasih untuk malam ini."Mareeq tersenyum tipis. "Jaga diri baik-baik."Naomi mengangguk pelan.Begitu pintu apartemen terbuka, Naomi langsung melihat Leon yang sedang berdiri di ruang tamu. Pria itu tampak baru saja mondar-mandir. Begitu melihat Naomi, wajahnya berubah lega."Sayang!" Leon segera menghampirinya. "Kamu ke mana? Aku benar-benar khawatir."Naomi memaksakan senyum kecil. "Aku jalan-jalan sebentar karena butuh hiburan."Leon memperhatikan wajah Naomi. Mata perempuan itu masih sembap. Seolah habis menangis. Namun Leon memilih untuk tidak mendesaknya. Ia hanya menggenggam tangan Naomi."Ayo duduk."Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. L
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: Ngidam
"Aku tidak tahu.""Ketika ban mobilmu kempes. Ketika aku hampir tertabrak. Kamu menarikku." paparnya. "Perutku berkedut. Rasanya aneh.""Hmm." gumam Mareeq. "Pantas saja kamu diam setelah itu."Naomi masih tetap memandang ke luar jendela. "Aku memang mengeluhkan terkait terlambat haid. Ternyata itu karena sesuatu tumbuh di perutku.""Mungkin dia mengenali ayahnya." Ia melirik ke arah Naomi.Naomi tidak langsung menjawab atau bereaksi. Hanya ada satu kata yang keluar. "Mungkin."Sekitar lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kedai pizza kecil yang masih ramai meski malam semakin larut. Papan neon bertuliskan OPEN 24 HOURS menyala terang. Aroma adonan yang baru dipanggang langsung tercium begitu mereka turun dari mobil.Di balik etalase kaca, beberapa pizza baru saja keluar dari oven. Keju yang meleleh masih mengepul. Dihias berbagai toping.Naomi berdiri beberapa detik di depan kaca. Tatapannya mengikuti seora
Última actualización: 2026-07-29
Chapter: Persetujuan
Naomi menatap Mareeq. Mareeq terlihat membeku dengan apa yang dikatakan Naomi. Tatapannya sangat tidak percaya bahwa dia mengatakan hal itu."Apa maksudmu?" tanya Mareeq meminta penjelasan."Aku tidak bisa menikah dengan Leon." ujar Naomi. "Dan kamu tidak bisa meninggalkan keluargamu." air matanya pun mulai mengalir.Mareeq bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan hingga berdiri di samping Naomi. Dengan sangat hati-hati ia berjongkok di hadapan Naomi agar tinggi pandangan mereka sejajar. Mareeq menggenggam tangan Naomi yang mengepal."Aku sudah bilang padamu Freya bukan anak kandungku." ujar Mareeq"Kamu tahu aku dan Raya adalah teman masa kecil. Aku menikahinya karena dia hamil dan pria itu tidak bertanggung jawab.""Cukup, Mareeq..." air matanya terus mengalir. "Jangan bilang begitu.""Naomi, dengarkan aku dulu." Mareeq mencoba meminta pengertian."Freya mungkin bukan anak kandungmu." sela Naomi. "Tapi dia tetap anakmu." S
Última actualización: 2026-07-28
Chapter: Tidak Bisa Menghindar
Pagi hari Jumat datang dengan langit yang mendung. Seolah cuaca ikut menyimpan beban yang sama dengan isi hati Naomi. Begitu tiba di kantor, ia langsung duduk di mejanya dan menyalakan komputer.Sepanjang pagi. Setiap kali melihat Mareeq keluar dari ruangannya, Naomi segera mencari alasan untuk berpindah tempat. Saat Mareeq datang ke area marketing, Naomi berpura-pura mengantar dokumen ke divisi lain. Bahkan ketika rapat singkat selesai, ia sengaja keluar bersama rombongan agar tidak pernah berada berdua dengan pria itu.Semua itu tidak luput dari perhatian Mareeq. Ia tidak memanggil. Tidak mengejar. Namun matanya selalu mengikuti ke mana Naomi pergi.Menjelang sore. Naomi sengaja menyelesaikan semua pekerjaan lebih cepat. Dia ingin menghindari Mareeq. Dia sangat yakin Mareeq akan berusaha untuk bicara.Naomi membeli sekaleng matcha. Dia turun ke lantai bawah. Bukan berencana pulang karena masih belum waktunya. Dia mencari tempat tenang untuknya menikmati
Última actualización: 2026-07-27
Chapter: Bersembunyi
Naomi mendorong pintu toilet wanita dan segera masuk ke salah satu bilik. Begitu pintu terkunci, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Tangannya menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar keluar.Naomi mengurung diri di dalam bilik toilet cukup lama. Isaknya perlahan mereda. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang luar biasa. Ia keluar dari bilik berjalan menuju wastafel. Tidak ada orang, dia merasa lega. Ia pun membasuh wajahnya dengan air dingin.Namun pantulan dirinya di cermin tetap tampak sama. Mata sembap. Wajah pucat. Tatapan yang kehilangan arah. Dia bahkan membenci tampilannya saat ini."Aku harus kembali." Bisiknya pelan kepada dirinya sendiri.Dia tidak bisa terus menghindar. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia bergegas melangkah ke ruang kerjanya.Ketika melewati ruang hibernasi, kedua kakinya justru melangkah ke arah sana. Bukan kembali ke meja kerjanya. Melainkan menuju ke sebuah ruangan kecil yang disediakan ka
Última actualización: 2026-07-26
Chapter: Siapa Ayah Anak Itu?
Naomi kembali ke kantor sekitar pukul satu siang. Suasana divisi marketing sudah kembali sibuk. Suara ketikan keyboard dan dering telepon saling bersahutan. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.Senyum tipis yang dipaksakannya saat makan siang bersama Leon sudah menghilang. Begitu duduk di kursinya, ia langsung membuka komputer. Dia berharap pekerjaan mampu mengalihkan pikirannya.Namun baru beberapa menit berlalu. Mareeq datang dari luar ruangan. Mata mereka sempat bertemu sebentar. Tapi, Naomi sangat jelas menghindarinya."Naomi, ke ruanganku sebentar." ujar Mareeq lalu masuk ke ruangannya.Mareeq tidak membiarkan Naomi memberikan alasan. Dia sangat ingin tahu kebenaran itu dari mulut Naomi sendiri. Dengan sangat terpaksa Naomi pun pergi.Jalan menuju ruang kerja Mareeq terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah membuat napasnya semakin berat. Ia mencoba menenangkan diri.Naomi membuka pintu perlahan. Mareeq berdir
Última actualización: 2026-07-25
También te puede gustar
NURAGA
NURAGA
2.7K vistas
Raline : Marigold Love
Raline : Marigold Love
Young Adult · Maanovpy
2.7K vistas
Mistery of Life : Daffa Albana
Mistery of Life : Daffa Albana
Young Adult · Romansa Universe
2.7K vistas
Miss Cupid's (INDONESIA)
Miss Cupid's (INDONESIA)
Young Adult · HaifaKamila
2.7K vistas
Bunga Takdir
Bunga Takdir
Young Adult · Ardaliewarts
2.7K vistas
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status