Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang
Alara Currelan, wanita sangat cantik yang berprofesi sebagai dokter dan influencer kesehatan. Dia hobi menonton drama pendek tema kerajaan zaman kuno. Karena kelelahan setelah operasi selama 36 jam nonstop, dia meninggal dunia. Tiba-tiba, dia bangun di dalam dunia drama pendek yang ditontonnya. Alara bertransmigrasi menjadi Norabel Valedel, tokoh protagonis yang mati tragis akibat dibunuh suaminya sendiri, Diller Leonaricーpangeran ke-7 kerajaan Dragerium.
Alara tak mau mengulang kisah yang sama. Pada saat pengasingan akibat fitnah, Alara berusaha mendekati antagonis pria. Dengan kemampuan medis dan pengetahuan alur cerita, dia berusaha menyelamatkan hidupnya dan mengubah alur. Sampai Alara menyadari, bukan hanya dia satu-satunya orang masa kini yang masuk ke dalam drama pendek itu.
IG:misscaya88
อ่าน
Chapter: Bab 109. Kakek Jubah Hitam"Yang Mu...," ujar Cassian. Dia sangat mengenali suara itu. Itu suara Varek. Varek nampak mendekat ke arah kerumunan itu. Erhart langsung melirik Cassian dengan tatapan tajam. Seolah memberikan tanda agar diam. Cassian langsung menarik ucapannya. Pria berjubah hitam itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar. Dia berjalan dengan bantuan sebuah tongkat kayu. Kayu itu nampak masih basah. Belum sepenuhnya kering. Alara langsung melirik ke arah orang dengan jubah hitam itu. Wajahnya tidak terlihat. Seluruh wajah itu ditutupi dengan kain hitam. Hanya terlihat sedikit bagian mata saja. "Kuharapa Lady Norabel mengerti peraturan di perkemahan militer. Pak Tua ini sudah hidup lama memgembara bersama pasukan ini...." ujar Varekdari balik jubah hitam itu. Dahi Alara langsung mengernyit. Dia tak menyangka akan menghadapi hal seperti ini. 'Ah, Kevin. Akal bulus apa lagi yang kau pakai kali ini?' batin Alara. Mireya mencengkerambahh kanan Alara dengan kuat. Rasa sakit mulai terasa. Ala
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-31
Chapter: Bab 108. Tetap Waspada"Kami hanya mengikuti perintah, Lady. Mohon mengertilah," sahut salah seorang prajurit. Dia tetap berusaha menghalangi Alara melangkah mendekati kerumunan itu. "Dinana hati nuranimu?" teriak Mireya. "Kau tak lihat orang-orang itu kesakitan. Lady Norabel hanya ingin memberikan pertolongan kepada orang yang lemah dan sekarat. Semoga dewa memberikan nasib buruk kepada kalian! Orang-orang yang tak tahu malh dan hati nuraninya sudah mati!" Raut wajah penuh amarah menyelimuti wajah Mireya. Dia masih berkacak pimggang. Tubuh prajurit yang lebih tinggi dan lebih besar darinya rak membuat hatinya goyah. "Kalian prajurif Dragerium, bertanggungjawab untuk melindungi rakyat. Jika ada orang terluka seperti ini seharusnya menjadi perhatian kalian!"Seorang prajurit maju ke hadapan Mireya. Sebuah belati dan pedang yang cukup panjang terselip dan terikat erat di ikat pinggangnya. "Nona, dengarlah! Kami hanya menjalankan perintah! Keselamatanmu dan seluruh perkemahan ini ada di bawah tanggungjaw
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-29
Chapter: Bab 107. Nyawa atau Kepatuhan?"Siapa?" Alara lamgsung menyahut panggilan itu. Tidak peduli seberapa kacau hatinya saat ini, ntawa seseorang lebih penting daripada semua itu. Mireya nampak menarik-narik tangan kanan Alara. Seketika kaki Alara yang terasa malas melangkah itu dipaksa bergerak secepat mungkin. Berbagai pertanyaan bergelayut di pukiran Alara. "Ayo, Lady. Kita harus cepat!" Mireya tidak menjawab pertanyaan Alara. Dia terus membawa Alara bergerak secepat mungkin keluar dari area ruangan komando. Nampak ada kerumunan orang-orang yang wajahnya terasa asing. Kerumuman itu berupa gerombolan warga biasa yang nampak berpindah-pindah. Rombongan itu terdiri dari belasan orang tang terdiri dari beragam usia. Ada orang dewasa, orang lanjut usia, anak-anak dan bayi. Belasan orang itu nampak kurus kering. Pakaian mereka terlihat cukup lusuh. Beberapa diantaranya terlihag memakai pakaian yang robek dengan tambalan di sana-sini. "Tolong kami, tolong kami, Duhai Tuan Prajurit. Kumohon, tolong kami," terd
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: Bab 106. Pasien Sipil"Benar, Yang Mulia," sahut Elhart. "Pangeran Diller mula menyusun rencana. Ada info yang beredar jika beliau memanfaatkan momentum munculnya kabar kematian Anda sebagai tonggak untuk memperkuat status sebagaj calon putra mahkota." Terdengar suara meja dipukul dengan nyaring. Varek tanka sadar kembali memukul permukaan meja kayu itu dengan tangan kirinya. Tangan kiri itu terkepal. Suaranya sudah cukup membuat semua mata di ruangan itu terbelalak. "Sialan. Aku tidak menyangka Diller, saudara tiriku yang licik itu akan bergerak secepat ini. Apa yang ingin dia lakukan?" Varek kembali menatap ke arah Elhart. Elhart nampak ragu menjawab,"Pangeran Diller hendak memimpin perundingan untuk menyerah kepada Kerajaan Mercion. Dewan bangsawan sudah resah atas kabar kematian palsu Anda, Yang Mulia. " Suasanab ruangan tu menjadi hening kembali. Varek nampak berpikir dengan keras. Nyeri di dada kirinya dia abaikan. "Mungkin kita bisa mempertimbangkan saran dari Lady Norabel, Yang Mulia,"
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-22
Chapter: Bab 105.Senjata Tak Biasa"Apa yang ingin kau sampaikan Elhart?" tanya Cassian. Dia menatap tajam ke arah Elhart, tangan kanan Varek. "Izinkan hamba menyampaikan pendapat, Yang Mulia," Elhart terus saja menunduk dengan patuh. Baginya meski sedang terluka Varek tetap saja pemimpin yang patut disegani. Varek menghela napas. Dia berbalik menatap ke arah Elhart. "Bicaralah, Elhart. Apa yang ingin kau sampaikan?" sahut Varek. Elhart nampak menghela napas panjang sebelum berbicara. "Saya tidak ingin membuat Anda bertambah beban pikiran, Yang Mulia.Tapj keadaan ini harus segera diatasi. Mungkin apa yang diusulkan oleh Lady Norabel bisa dipertimbangkan." Mata Varek langsung mrembulat. Tatapan tajam langsung diarahkan ke arah Elhart. Tanpa sadar Varek memegangi dada sebelah kanannya. "Kau sudah hilang akal?" bentak Varek. "Meracuni sungai sama saja melakukan pembantaian. Apa kau tahu siapa saja yang bisa jadi korban?" Terdengar suara gebrakan meja. Alara seolah refleks menutup kedua bola matanya. Gebr
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-21
Chapter: Bab 104. Damai Atau Nyawa?!"Elhart!" sapa Cassian sambil menatap ke arah Elhart. Elhart masuk ke dalam ruangan komando itu. Dia datang bersama seorang pemimpin pasukan yang selamat. "Aku tak salah dengar kan?" tanya Elhart tanpa basa-basi. Dia terus menatap ke arah Alara. "Kudengar Lady Norabel ingin meracuni sungai? "Itu takkan terjadi!" sahut Varek. Dua langsung memotong ucapan Elhart. Tatapan penuh ketidaksukaan terarahkan kepada Elhart. "Pasukan Crimson Drakainan selalu menang dsngan cara terhormat dan tidak pernah melakukan pembantaian. Meracuni sungai sama saja melakukan pembantaian. Itu takkan kubiarkan terjadi!" Varek dan Alara terus saling menatap penuh ketegangan satu sama lain. Seolah tak ada yang mau mengalah. "Jika Anda tak suka ya sudah biarkan saja. Biar perang terus berlangsung!" Alara mengeluarkan emosinua. "Biar saja perang ini berlanjut. Pasukan Crimson Drakaina sudah tak seperti dulu, Yang Mulia. Ingat itu! Sudab banyak prajuritmu yang gugur dan sedang memulihkan diri." Varek lan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-20
Chapter: Bab 85. Pertemuan Tidak Disengaja"Pak Elric?" ujar Nolan tanpa sadar. Pandangan mata Nolan langsung memgarah ke arah datangnya Elric. Elric berjalan dengan langkah tegas menuju ke arah Lala. "Bapak?" Lala tertegun. Dia tidak menyangka suami rahasianya itu akan datang ke mall ini. 'Ngapain Pak Elric ke sini? Gila apa, kok bisa keremu di tempat begini,' batin Lala. Nampak di tangan Elric jas yang terlipat rapi. Dia berjalan sambil menyaku tangan kanannya. Sorot matanya tajam bak elang yang menatap mangsa. "Kau di sini, La?" ujar Elric dengan suara pelan namun lantang. Sorot mata itu seolah bertanya apa yang kau lakukan dengan pria ini di sini. Lala berusaha membuang pandang. Dia menghindari tatapan Elric. "Bapak nonton film juga?" tanya Nolan. Dia menggandeng tangan Lala. Bola mata Lala langsung melebar ketika mengetahui hal itu. Tangan Lala hendak melepaskan gandengan itu. "Saya juga punya kehidupan. Apa urusanmu menanyakan hal itu?" jawab Elric dengan nada sinis. Nolan terlihat tidak s
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-27
Chapter: Bab 84. Ramen dan Penguntit"Hah?" Lala terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut Nolan. Wajah Lala nampak sedikit pucat mendengar pernyataan Nolan. "Nggak, kok ini cuma orang iseng kan gue masih single," ujar Lala. Tangan Lala berusaha membalikkan handphone itu. Saat dibalikkan, handphone itu masih menunjukkan panggilan dari nomor Elric. "Kamu dari tadi celingak-celinguk. Emang ada apa? Ada yang mencurigakan ya?" tanya Nolan. Mata Nolan ikut menatap ke arah penjuru restoran. Dia mengikuti ke mana arah mata Lala memandang. "Nggak ada apa-apa, tenang aja. Aku cuma sedikit gelisah karena asam lambungnya kumat." kilah Lala. Nampak pria botak yang seolah berjalan ke arah Lala. Lala mengenali pria itu. Itu pria yang mengikutinya sedari tadi. 'Apa mereka suruhan, Pak Rino? Jangan-jangan aku mau diculik' batin Lala. Nolan menangkap sinyal di mata Lala yang memberi tanda, seolah ketakutan. Netra itu memperhatikan pria botak yang baru saja lewat. "Kamu kenal dia?" tanya Nolan dengan mimik w
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-26
Chapter: Bab 83. Suami Rahasia?"Hah? Apa?" Sedotan yang di mulut Lala berasa menusuk ke langit-langit mulut. Dia langsung terbatuk-batuk, akibat tersendak soda. 'Kenapa Nolan bisa berpikiran seorang diri itu? Apa dia sudah tahu rahasia aku?' batin Lala. "Lo kenapa, La?" tanya Nolan. Dia langsung menghadap ke arah Lala. Lala hanya tersenyum sambil tisu dari tas selempangnya. Sisa soda itu diseka dengan tisu. "Gue nggak apa-apa, cuma agak kaget. Ada adegan berdarah." kilah Lala. "Oh, begitu? Gue kira, kenapa-napa." Nolan masih memperhatikan Lala. "Gue masih single ya, belum punya pacar, apalagi suami. Bercanda lo nggak lucu." tegur Lala. "Wah, ikan di perairan yang besar, iya. Gue kagum sama ide sutradaranya." Lala sengaja mengalihkan ke topik lain. Tatapan Nolan masih berusaha dihindari. Lala berusaha bersikap senormal mungkin sambil memakan popcorn. "Kenapa lo tanya kayak gitu? Gak mungkin, kan, lo naksir gue?" canda Lala. Nolan hanya tertawa kecil. Dia langsung menatap ke layar bioskop samb
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-25
Chapter: Bab 82. Menonton Kenyataan"Sorry, gue kesel. Baru baca chat dari keluarga jauh. Seenaknya minta diutangin."elak Lala. "Ada apa, Laa? Apa yang kau khawatirkan? Nolan menatap ke arah Lala dengan tatapan khawatir. Lala berusaha mengalihkan pandangannya. Namun, ujung matanya menatap ke arah orang mencurigakan itu. Dua orang itu berpakaian merah, dan satu lagi berpakaian kemeja hitam. Keduanya memakai kacamata hitam. Badan kedua pria itu tegap dan kekar. Keduanya makan nasi goreng dengan santai saat Lala menatapnya. 'Tak salah lagi, dua orang ini suruhan Pak Elric. Siapa lagi yang bisa membuat hal seperti ini selain si pria dingin itu?' batin Lala. "Permisi, Kak." seorang pelayan lelaki mengantarkan pesanan Lala dan Nolan. Ada dua gelas jus stroberi dan dua buah cupcake dengan topping krim berwarna putih. "Apakah pesanannya sudah lengkap dan sesuai, Kak?" Nolan nampak memandangi makanan dan minuman yang baru saja diturunkan dari nampan oleh pelayan. "Sudah, Kak." kata Lala. Tanpa ragu dia mengambi
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-24
Chapter: Bab 81. Hubungan Khusus?"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Nolan?" Lala berusaha menghindari tatapan Nolan. Matanya tak bisa menyembunyikan jika dia tak nyaman dengan pertanyaan. Kruk di tangan Lala tiba-tiba mendadak. Pertanyaan itu tidak disangka akan muncul dari mulut Nolan. "Aku pikir kau punya hubungan khusus dengan beliau. Kalian terlihat dekat." Nolan berusaha menatap Lala, namun Lala masih saja membuang pandang. 'Apa aku terlihat sangat mencolok?' batin Lala. Dia berusaha memikirkan cara agar tidak dicurigai Nolan. Suasana hening sejenak. Lala menyebut sepatah kata pun. Dia masih bimbang harus berkata apa. "Memangnya perilaku seperti apa yang membuatku terlihat spesial?" Lala memberanikan diri bertanya pada Nolan. Nolan nampak berpikir sejenak. Dirinya terlihat bimbang. "Pak Elric menegur kita. Aku tidak nyaman dengan hal itu." Nolan memegang bahu Lala. Gerakan Lala terhenti sejenak. Dia mendongak dan menatap Nolan. Tanpa disadari, ujung bibir Lala digigit tanpa disadari.
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-24
Chapter: Bab 80. Pria Yang Menyentuh Hati Kecil?"Halo," Lala menjawab telepon dari Nolan. Telepon itu masuk tepat saat mobil taksi berhenti di depan lobi mall yang megah. Atap tinggil menjulang. Deretan nama brand kelas atas terpampang di halaman luar bangunan mall itu. Nuansa kekunigan nan elegan mendominasi bangun mall itu. "Kamu udah sampai belum, La?" terdengar suara Nolan. Suara yang lembut dan manis. Hati kecil Lala tersentuh, tanpa sadar dia tersenyum. "Gimana kalo gue jemput ke situ?" "Gue udah sampe di depan lobi mall. Loe dimana?" sahut Lala. Pintu mobil taksi itu terbuka dari dalam. Lala sudah membayar biaya taksi dengan cashless. Kaki Lala melangkah keluar dengan hati-hati. Telapak kaki itu mendarah tepat di atas lantai marmer hitam. "Ya udah gue jalan ke situ. Tungguin gue, ya." suara hangat Nolan kembali terdengar. "Iya, gue tunggu." ujar Lala. Sambungan telepon itu terputus. Kaki Lala kembali melangkah menuju ke area dalam mall. Netra Lala tak berkedip beberapa detik. Arsitektur mall itu b
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-20