Chapter: Bab 273 - Jangan Pergi"Ada apa, Pa?" tanya Saka pelan. Langkahnya tertahan di dekat pintu. Firasat buruk yang sejak tadi mengintai dadanya kini semakin kuat. Elian tidak langsung menjawab. Pria itu berbalik perlahan, menatap putra sulungnya yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan mandiri. Ada binar kebanggaan yang luar biasa di mata Elian, sekaligus rasa perih yang teramat sangat karena menyadari waktunya untuk melihat sang putra tidak akan lama lagi.Dengan tangan yang gemetar halus, Elian membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih tebal berlogo rumah sakit internasional dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Saka."Buka dan bacalah," ujar Elian, suaranya terdengar sangat tenang—terlalu tenang untuk situasi ini. Saka melangkah mendekat, mengernyitkan dahi. Ia meraih amplop itu, membuka lipatan kertas di dalamnya, dan mulai membaca baris demi baris hasil laboratorium medis tersebut.Matanya membelalak lebar, menatap kata-kata ilmiah yang tertul
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 272 - Vonis"Dok, bagaimana? Apa ada kemungkinan sembuh?" tanya Elian. Setelah menjalani rangkaian tes, dia berharap ada kemungkinan bisa bertahan lebih lama. Dokter senior di depannya menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap Elian dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba. Di tangannya, lembaran hasil laboratorium dan rontgen dada memperlihatkan noda gelap yang mengerikan."Pak Elian... saya ingin memberikan kabar baik, tapi kebohongan tidak akan membantu situasi Anda," ujar dokter itu dengan nada selembut mungkin. "Hasil biopsi dan CT Scan menunjukkan bahwa Kanker Paru-Paru yang Anda derita sudah memasuki Stadium 4 (Stadium Akhir). Sel kankernya sangat agresif dan sudah bermetastasis, menyebar hingga ke area kelenjar getah bening dan mendekati dinding jantung.""Operasi sudah tidak memungkinkan lagi karena posisinya terlalu berisiko, Pak," lanjut dokter itu dengan berat hati. "Fungsi organ Anda juga terus menurun. Kita hanya bisa melakukan terapi paliatif dan kemote
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: Bab 271 - NgambekBeberapa minggu kemudian. "Ma, usir aja dia! Aku nggak mau dekat-dekat! Udah tua, bau keringat, badannya gede kayak badak! Bikin mual tahu nggak?!" jerit Sonya kesal dari balik punggung ibunya, Maya, sengaja menjadikan wanita paruh baya itu sebagai tameng. Di ambang pintu, Antonio bersusah payah meredam amarahnya. Ia sudah berdiri di sana selama hampir satu jam, membujuk istri kecilnya yang mendadak minggat dari rumah selama seminggu penuh. Dan alasannya? Hanya karena satu kesalahpahaman konyol. Seminggu yang lalu, saat mereka sedang makan siang di luar, Sonya yang baru kembali dari toilet melihat Antonio sedang berbicara dengan seorang klien wanita dari perusahaan logistik barunya. Keduanya hanya berjabat tangan secara profesional sebelum berpisah. Namun, lirikan mata wanita itu yang terlalu lama dan penuh damba pada suaminya berhasil membuat darah Sonya mendidih. Cemburu buta menguasainya, dan tanpa mau mendengarkan penjelasan apa pun, Sonya langsung kabur ke rumah ibunya. "Son
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 270 - Udah ngga sabar?"Udah seminggu, Pa! Kapan sih Kak Saka balik?!"Tanya Lana sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Namanya juga mereka lagi honeymoon, Sayang. Kenapa? Kamu iri?" tanya Elian sambil menahan senyum.Lana mendengus. Sebenarnya, alasan Lana kepo bukan cuma karena kangen kakaknya, tapi karena dia butuh bahan buat menyindir tunangannya sendiri. Di handphone-nya, percakapan dengan Eran benar-benar seperti transkrip pesan robot.Lana menatap cincin di jari manisnya dengan lesu. Acara lamaran kemarin itu mimpi atau apa sih? Kok sekarang dia jadi berubah kayak mesin pengolah data?"Nggak sabar? Mau dinikahin juga?" goda Elian. "Eran lagi sibuk banget di kantor, bukan berarti dia mau gantung hubungan kalian.""Papa juga sih! Kenapa harus ngasih kerjaan sebanyak itu ke dia?!" protes Lana. "Dia jawab pesan aku seadanya banget, Pa. Aku udah ngetik panjang lebar, curhat soal drama hidup sampai ngirim foto kucing lucu, jawabannya cuma 'Ok'. Cuma dua huruf, Pa! Ok! Ok doang! Gimana aku nggak kesal?!"
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 269 - Rapat Pagi Pengantin BaruDi sisi lain, pagi itu Antonio meregangkan leher nya hingga terdengar bunyi kretek yang memuaskan. Kepalanya masih sedikit berdenyut—efek terlalu lama terjaga sampai jam 5 subuh demi membereskan kekacauan "kado emas" yang dibuat anak buahnya di pesta semalam. Ia melirik ke samping. Sonya, istri kecilnya yang kelelahan, masih terlelap dengan posisi yang menggemaskan. Antonio mencondongkan tubuhnya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. "Sayang, bangun... Sarapan," bisik Antonio lembut. Sonya mengerang kecil, matanya perlahan terbuka. Begitu pandangannya fokus, ia tidak langsung bangkit. Matanya malah menjelajah liar ke arah dada bidang Antonio yang dibiarkan terbuka. Bekas luka akibat baku tembak di masa lalu, deretan tato artistik yang meliuk di balik otot-otot yang terlatih keras, serta gurat kelelahan yang justru membuatnya terlihat semakin liar—semuanya membuat rasa kantuk Sonya hilang seketika. Tanpa membuang waktu, Sonya menghambur, memeluk leher Antonio da
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 268 - Malam pertama? Tantangan?Setelah acara usai, Saka menaiki mobil meninggalkan resepsi yang legendaris itu. Karin, yang sedari tadi berusaha tenang dengan menatap pemandangan luar jendela, akhirnya menyerah. Ia menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Apa sih, Saka? Dari tadi liatinnya kayak mau menelan orang hidup-hidup. Bikin risih tahu, nggak?" Tanya nya, karna sejak tadi suaminya hampir selalu menatap nya tanpa beralih sedetikpun. Saka menyeringai, senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Ia menggeser duduknya, merapatkan jarak hingga aroma parfum Karin yang memabukkan memenuhi indra penciumannya. "Hotelnya cukup jauh, Sayang," bisik Saka dengan suara rendah yang berat, membuat bulu kuduk Karin meremang. "Kalau mau tidur sekarang, nggak apa-apa. Tapi aku sarankan pakai waktumu sebaik mungkin. Karena setelah kita sampai di sana nanti... aku benar-benar nggak yakin bisa membiarkan istri cantikku ini memejamkan mata semalaman." Karin memutar bola matanya, meski wajahnya mulai memanas hingg
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 144 - Kebahgiaan Utuh keluarga DewanggaBeberapa minggu kemudian, suasana di kediaman utama Dewangga bukannya makin tenang, malah makin gempar. Kabar kehamilan kedua Syifa sukses membuat sang kepala keluarga kehilangan akal sehat bisnisnya dan berubah menjadi pria super protektif yang tak masuk akal. "Mas! Tolong ya, Mas! Aku ini cuma mau turun tangga ke lantai bawah, kamu tidak perlu sampai memesan dan memasang lift di dalam rumah ini, paham?!" tegas Syifa, berdiri di undakan tangga teratas dengan kedua tangan di pinggang. Wajah cantiknya merona merah karena menahan kesal sekaligus geli. Bayangkan saja, baru tadi pagi Syifa berniat jalan-jalan pagi ke taman depan. Namun, Dewangga dengan wajah seriusnya langsung memerintahkan dua perawat pribadi agar Syifa duduk di kursi roda dan didorong sepelan mungkin. "Sayang, dengarkan aku dulu... Tangga ini licin, bagaimana kalau kamu—" "Dan aku tidak butuh perawat pribadi, Mas! Aku ini sedang hamil, bukan nenek-nenek jompo yang sedang sakit sakau! Kalau kamu memang mau kursi rod
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Bab 143 - Pelabuhan terakhir sang Mantan pelakor"Kita mau ke pernikahan siapa, Sayang?" tanya Dewangga ragu sembari membetulkan jam tangan dimobil. Tidak biasanya Syifa mendadak mengajaknya pergi ke acara pernikahan yang lokasinya jauh dari sirkel bisnis mereka. Syifa hanya tersenyum misterius, menggenggam tangan suaminya erat. "Nanti kamu juga tahu, Mas." Ini adalah pernikahan Safa, kakak kandung Syifa. Kakak perempuan yang selama bertahun-tahun hidupnya hanya menjadi benalu, mengganggu kebahagiaan orang lain, menjadi pelakor, dan selalu menjaga jarak penuh kebencian dengan Syifa. Namun, takdir berkata lain ketika seminggu yang lalu, keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, Safa mendekat dengan langkah ragu. Sudah berapa tahun lamanya Safa tidak menatap adik kandungnya itu sedekat ini? Di tangannya, terselip sebuah undangan pernikahan sederhana. "Syifa..." panggil Safa lirih sembari menyodorkan undangan itu. "Aku sudah mengunjungi makam Ibu minggu lalu, di sana untuk meminta restu. Dan... seb
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Bab 142 - Ketika Hasrat menjadi RumahSatu tahun setelah duka mendalam melanda Zero, kediaman utama Dewangga tidak lagi diselimuti sunyi yang mencekam. Rumah megah itu kini justru berubah menjadi istana kecil yang penuh dengan keriuhan dan tawa melengking dari tiga anak kecil sekaligus. Ada Anaya yang kini hampir menginjak usia tiga tahun, Aura si bungsu yang terpaut empat bulan di bawahnya, serta si kecil Aruni—putri mendiang Alya dan Zero—yang juga dititipkan di sana selama Zero fokus menata kembali waras dan bisnisnya. Ketiga balita itu sejatinya memiliki babysitter masing-masing yang super ketat. Namun tetap saja, sebagai ibu kandung, ibu sambung, sekaligus—lucunya—menjadi "nenek muda" di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Syifa tetap memegang kendali penuh untuk mengawasi mereka, terutama Aruni yang merupakan cucu sambungnya. Sore itu, Syifa baru saja selesai memastikan Aruni meminum susunya saat ia menangkap siluet seorang pria jangkung tegap di ambang pintu masuk utama. "Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Syi
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Bab 141 - Surat AlyaLangit di atas pemakaman seolah ikut berduka, diselimuti mendung tebal yang menggantung rendah. Suasana di sekitar gundukan tanah yang masih basah itu penuh dengan isak tangis yang menyayat hati. Di sana, Zero berdiri mematung bagai patung tanpa nyawa. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya, tak ada pula suara yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya kosong, menatap lurus pada papan nisan bertuliskan nama wanita yang menjadi separuh alasan hidupnya. Di sampingnya, berdiri Hans dan Elia—kedua orang tua Alya—dengan tubuh yang terguncang hebat oleh duka yang teramat dalam. "Kalau bukan karena ulahmu... anak perempuan saya pasti masih hidup sekarang! Dasar laki-laki hina!" teriak Hans tiba-tiba, suaranya parau dan pecah karena amarah yang bercampur dengan rasa kehilangan yang masif. Pria paruh baya itu tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar pemakaman. Baginya, Zero adalah pelaku tunggal di balik kematian putrinya. Zero hanya diam. Ia sama sekali tidak bergerak, tidak
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Bab 140 - Selamat Tinggal, Al.Pintu ruang operasi akhirnya digeser terbuka. Namun, tidak ada senyum lega dari tim medis. Dokter yang keluar hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menepuk bahu Zero pelan sebelum membisikkan kalimat yang seketika merenggut seluruh paksa kewarasan pria itu. Alya tidak bisa diselamatkan. Tapi bayi mereka hidup. Zero dipaksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu dingin dan asing. Tubuhnya lemas bukan main, seolah-olah seluruh tulang di raganya lolos begitu saja. Kakinya bergetar hebat, terseok-seok meniti lantai semen medis yang menyengat hidung. Zero tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Kehancuran yang sesungguhnya justru tidak menyisakan ruang untuk suara. Ia hanya berjalan lambat, memandangi sosok yang terbaring kaku di atas ranjang operasi dengan selembar kain hijau yang menutupi sebagian dadanya. Wajah itu begitu damai, terlalu damai hingga terlihat sangat kejam bagi Zero. "Al..." Panggil Zero lirih. Suaranya pec
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: Bab 139 - Titip anak kita, ya.. Ciiittt! Ban mobil sport Zero mencicit keras, bergesekan dengan aspal saat ia mengerem mendadak tepat di lobi darurat Rumah Sakit Pusat. Zero langsung keluar dari pintu kemudi, memutari mobil dengan napas memburu dan jantung yang berdegup menggila. Tanpa menunggu bantuan brankar dari petugas yang berlarian, Zero langsung menerobos masuk, menggendong sendiri tubuh Alya keluar dari mobil. Darah. Napas Zero tercekat saat telapak tangannya yang menopang paha dan bagian bawah gaun Alya mendadak terasa basah dan hangat. Di bawah temaram lampu lobi, cairan merah kental mengalir deras, membasahi jok mobil dan kini mengotori kemeja putih yang dikenakan Zero. "Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Zero parau, suaranya menggema membelah keheningan koridor instalasi gawat darurat. Tubuh Alya sudah sepenuhnya lemas di dalam dekapannya, kepalanya terkulai pasrah di bahu bidang Zero dengan sisa kesadaran yang timbul tenggelam. P
Last Updated: 2026-05-22