Chapter: ANAK ANGKAT KAISAR YANG TERSAKITIHari itu, di barak, Choa Hok duduk di depan tumpukan laporan. Bukan satu. Bukan dua. Tapi puluhan. Kertas-kertas berserakan di meja kayu besarnya—beberapa sudah dilipat rapi, beberapa masih terbuka, beberapa sudah dicap, beberapa masih menunggu verifikasi. Laporan intelijen. Laporan perbatasan. Laporan tambang garam haram yang kemarin dia selidiki bareng Prajurit Hok. Choa Hok bekerja. Setengah hari. Tanpa henti. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Jarinya menunjuk, menulis, mencoret, menandai. Ini valid. Ini gak valid. Ini perlu ditindaklanjuti. Ini arsip. Tangannya terlatih. Tapi pikirannya—pikirannya kadang melayang. Kemarin wisma. Dupa mahal. Chio Hiang. Cantik, semok montok. Dia geleng. Gak usah dipikirin. Kerja dulu. Laporan demi laporan selesai. Tumpukan di kiri pindah ke kanan. Cap lilin meleleh di atas api kecil, menetes, mengeras. Setengah hari. Dari pagi sampai siang. --- Siang. Matahari tepat di atas kepala. Panas. Udara pengap. Choa Hok baru aja ngelap
Huling Na-update: 2026-06-22
Chapter: PROYEK DARI TAUKE LAWPagi itu, Choa Hok terbangun dengan pose sembrono.Kakinya nyungsep di atas bantal—bukan nyender, bukan nyampir, tapi beneran naik ke atas bantal kayak lagi memanjat sesuatu dalam mimpi. Selimut melingkar di kepalanya, nutupin muka, nutupin mata, cuma nyisain lubang kecil buat bernapas.Dia buka mata. Samar. Langit-langit rumahnya sendiri. Kayu biasa. Retak di ujung. Tapi rumah sendiri.Choa Hok duduk. Selimut jatuh ke pangkuan. Rambut acak-acakan kayak orang habis gulat sama angin.Ini pose apa, Hok? pikirnya sambil ngeliat kaki kirinya yang masih nyangkut di bantal. Masa tidur kayak orang kesurupan.Dia cabut kaki dari bantal. Rapikan selimut. Lipat. Taruh di pojok dipan.Lalu dia berdiri, jalan ke jendela, buka. Matahari pagi masih merah di ufuk timur, udara masih dingin, ayam-ayam tetangga mulai ribut.Hari ini kerja. Proyek dari Tauke Law.Choa Hok manggil pelayan. “Bantu siapin mandi.”Pelayan tua itu mengangguk, bergegas ke belakang, menghidupkan api, menghangatkan air.Di kama
Huling Na-update: 2026-06-20
Chapter: PENYERAP ENERGI NEGATIFAkhirnya Choa Hok harus terima kenyataan. Dia bangun dalam keadaan basah. Bukan kiasan. Basah beneran. Kesadarannya baru balik setelah dia merasakan air dingin meresap ke seluruh pori-pori—bukan cuma di permukaan kulit, tapi sampai ke tulang. Dinginnya bukan main. Airnya bukan air biasa. Ada yang aneh. Wangi bunga. Wangi yang familiar. Bunga teratai. Tiga ember. Disiram bertubi-tubi. Dari atas kepala, dari kiri, dari kanan. Guyuran yang gak kenal ampun. Rasa airnya aneh—sedikit lengket, sedikit berminyak, kayak ada yang larut di dalamnya. Air rendaman bunga teratai yang dikasih mantra yang dibakar. Pelayan rumah Kwee—tiga orang perempuan dengan pakaian serba putih—berdiri di sekelilingnya, masih memegang ember kosong. Wajah mereka datar. Profesional. Kayak mereka sudah biasa melakukan ini. Choa Hok mengerjap. Rambutnya basah kuyup, menutupi setengah wajahnya. Air menetes dari ujung rambut ke ujung hidung, ke dagu, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Gue baru bangun tidur,
Huling Na-update: 2026-06-20
Chapter: HONG CHUI DAN WANGI KHENG HOEMalam itu, bulan bersinar terang. Kakinya keluar dari rumah prajurit Liem. Rasanya bulan dan bintang tersenyum bersamanya melihat Liem Chay mau Sangjit besok dan lusanya menikah. Tapi malam ini berbeda. Choa Hok tidak berjalan ke arah selatan—ke arah wisma dengan lampu merah temaram dan dupa yang menghangatkan dada.Dia berjalan ke timur, mengikuti Ah Pa Kwee dengan pakoa (papan tao) kecil yang selalu ditenteng di tangan kirinya.Ke arah rumah keluarga Kwee bersama rombongan mereka yang sibuk ngeliatin kotak make up, berbisik, kadang melihatnya sambil malu-malu.Bukan Kwee Yo Lan. Bukan keluarga penghianat yang hampir bangkrut itu. Yang rumahnya sederhana dengan teras bambu dan kursi kayu lapuk. Tapi Kwee yang lain. Kwee Eng Hwa. Cabang kaya. Cabang yang bergelimang emas perak dari usaha Hong Chui (Bahasa Mandarin bakunya Fengsui)—ilmu tata letak rumah, toko, dan makam yang konon bisa mengubah nasib.Pagar rumah ini dari besi tempa. Tinggi. Di atasnya ada ukiran naga dan phoenix—buka
Huling Na-update: 2026-05-16
Chapter: SENIMAN DI BALIK SERAGAMChoa Hok terbangun.Matahari pas di atas kepala. Sinar putih terang menusuk celah-celah jendela, jatuh tepat di atas matanya. Dia mengerjap. Kerjap. Kerjap lagi. Perutnya keroncongan. Bukan keroncongan biasa. Keroncongan orang yang semalem cuma minum arak dan makan camilan asin seadanya.Dia mencoba bangun. Badan masih pegal. Kepala masih agak berat—bekas dupa dan arak semalam belum hilang seratus persen. Tapi perut protes terlalu keras. “Kruoooook”. “Haiyyyah! Ai ciak bue (minta makan nasi) nah!”, keluh Choa Hok. Makan. Harus makan.Choa Hok duduk di tepi dipan. Diam sebentar. Kumpulin tenaga. Lalu dia berdiri, jalan ke lemari, ambil baju bersih. Tng Sa baru. Wangi. Tidak kusut. Tidak belepotan kuah atau bau dupa.Dia panggil pelayan. Bukan pelayan barak. Pelayan rumah warisan keluarganya—pria tua yang setia meski gaji kecil, yang selalu ada meski cuma berdua dengan Choa Hok di rumah besar itu.“Tolong rapiin rambut,” kata Choa Hok.Pelayan itu mengangguk. Tangannya yang keriput tapi
Huling Na-update: 2026-05-16
Chapter: PAGI YANG LEBIH MENYAKITKANPagi datang lagi. Sama seperti kemarin. Tapi berbeda.Choa Hok pulang. Kalo kemarin dia buru-buru, takut telat apel, takut ketahuan, takut gosip menyebar. Hari ini? Santai. Jalan sempoyongan. Mata merah. Pakaian masih sama seperti semalam—Tng Sa (Hanfu) abu-abu lecek di siku dan lengan. Ikatannya pun longgar. Bau dupa untuk keperluan senang-senang dewasa masih nempel di kerah. Bau arak campur parfum wanita. Ditambah bonus bau keringatnya sendiri yang sudah mengering dan jadi bau asam pagi-pagi.Choa Hok gak mandi. Bodo amat. Libur seminggu. Gak ada apel pagi. Gak ada yang harus dia laporkan. Gak ada yang berani nanya.Libur.Dia berjalan menuju pintu rumahnya. Di depan pintu, sesosok bayangan berdiri. Bukan bayangan. Manusia. Pria. Bertumpu pada satu kaki, tangan disilang di dada. Wajahnya datar. Matanya tajam. Jakunnya naik turun—bukan karena takut, tapi karena nahan sesuatu.Liem Chay.Choa Hok berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur di kening, di belak
Huling Na-update: 2026-05-16
Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)
Dalam dunia Kang Ouw (dunia para pendekar silat Tiongkok), ada dua pusaka yang menjadi idaman semua pendekar Kang Ouw: Golok Empat Penjuru dan Ular Emas Maut. Setiap sepuluh tahun sekali, mereka yang terkuat akan bertarung memperebutkannya-bukan sekadar senjata, tapi juga tahta sebagai Ketua Aliansi Pendekar, yang disegani di Tiga Dunia dan Sembilan Benua.
Delapan belas tahun lalu, dua pendekar terhebat menang. Pendekar Go Hong Liu. Pendekar wanita misterius, Pendekar Ular Giok. Malam itu, mereka hilang bersama pusakanya.
Sekarang, seorang pangeran terbuang mendaki Gunung Lok San. Di depan gua, ia muntah darah mengenang wanita yang dicintainya-yang dipaksa menikah dengan Raja Utara oleh intrik Selir Hui.
Guru di dalam gua itu memegang liontin giok-pemberiannya pada tunangan yang hilang tiga puluh tahun lalu.
Golok akan bangkit. Pedang akan hancur. Dan dendam akan lunas.
Inspirasi: Lagu Si Bu Liao, by Ricchie Ren.
Basahin
Chapter: Mengunjungi Kawan KecilLokasi: Istana, halaman belakang kamar Ong BweeWaktu: Beberapa tahun setelah kematian Selir Hui, Keng Hong, dan Kiat Seng🏛️ KEMBALI KE ISTANAMatahari sore menyinari istana. Udara terasa berbeda—lebih ringan, seperti beban yang selama ini menggantung akhirnya terangkat.Ong Bwee berjalan pelan. Di sampingnya, Bunga Emas menggandeng Ong Bun Eng kini telah remaja dan Ong Bun Kun mulai tumbuh besar. Di belakang, Guru Tampan dan Nyonya Nio menggandeng Go Hong San dan Go Hong Eng.Mereka berhenti di depan sebuah gundukan kecil.Tanahnya sederhana. Tidak ada batu nisan megah. Hanya setangkai bunga layu yang diletakkan seseorang—mungkin dayang yang masih ingat.Ong Bwee: (berlutut) "Hunpo... Papa pulang."🐕 CERITA UNTUK HUNPOAngin berdesir pelan. Daun-daun kering berjatuhan.Ong Bwee: "Kau ingat? Dulu kau selalu tidur di sampingku. Waktu aku diasingkan, kau ikut. Waktu aku di gunung, kau yang pertama masuk gua. Waktu aku pingsan, kau jilat wajahku."Ia tersenyum.Ong Bwee: "Maaf baru p
Huling Na-update: 2026-03-21
Chapter: BO TAN TO KUNLokasi: Arena duel, kaki Gunung Lok SanWaktu: Pagi, setelah tantangan Selir Hui🏔️ ARENA PERTARUNGANMatahari baru naik. Kabut tipis masih menyelimuti kaki gunung. Di tengah lapangan, dua sosok berdiri berhadapan.Selir Hui. Dengan Si Choa Kim—Ular Emas Maut. Pedang yang telah menghabisi banyak pangeran. Senjata aliran hitam yang selama ini hanya ia pertontonkan ke pangeran-pangeran, ia tunjukkan ke rakyat. Untuk supremasi lebih besar.Ong Bwee. Dengan Si Hong To—Golok Empat Penjuru. Pusaka aliran putih. Tapi di tangannya, ia juga membawa sesuatu yang lain: Bo Tan To Kun.💊 RAMUAN HITAM — THIAN TEK BIOSebelum duel, di kamarnya, Selir Hui membuka kotak kecil. Di dalamnya, pil hitam legam.Selir Hui: "Thian Tek Bio... Ramuan Langit dan Bumi. Pil ini menahan efek racun dalam beberapa hari. Cukup untuk memberikan pelajaran pangeran bunga itu."Selir Hui tau. Obat herbal itu tidak boleh diminum dua dosis dalam sebulan jika ingin usia panjang.Ia menelan satu.Tubuhnya langsung bergetar
Huling Na-update: 2026-03-21
Chapter: Di Mana Ada Lubang, Di Situ Ada JalanGuru Tampan akhirnya mengerti. Mengapa Ong Bwee selalu memulai dengan pohon. Waktu awal seleksi Guru, ia menanami wilayah calon gurunya itu dengan pohon-pohon aneh. Katanya untuk menjaga Chi masyarakat agar tetap mengalir dan harmonis. Rakyat kecil tidak terlalu memikirkan. Tapi pejabat sudah menganggap Ong Bwee tidak waras. Tapi setelah bertahun-tahun, bumi Lok San ini seperti kembali harmonis chi-nya. Dulu ia ingat kalau wilayah ini tandus. Tapi sejak Ong Bwee dan tim khususnya termasuk Tetua Besar Tio mendesainnya, tanah mulai subur. Kebun ceri Guru Tampan sendiri dulu tidak subur. Tapi Tetua Besar Tio sering memberikan pelatihan bertanam di ladang sempit. Konsep aneh, asing, tapi hasilnya sangat nyata. Di cabang-cabang Ki Kut Sun sendiri juga ada orang-orang sekte yang sudah dikader oleh Tetua Besar Tio untuk pelatihan bertanam dan rekayasa lingkungan untuk membuat sungai buatan. Hal ini awalnya ditertawakan partai silat lain. Tapi hasilnya nyata. Rakyat masih bisa makan.
Huling Na-update: 2026-03-21
Chapter: TANGAN YANG MENUNTUTLokasi: Istana, Aula Sidang — Siang hariWaktu: Setelah Ong Bwee menyelesaikan catatan orasi Selir Hui.📜 SIDANG YANG TIDAK TERDUGAAula sidang penuh. Para pejabat duduk rapi. Kasim-kasim berjajar di samping. Di kursi utama, Selir Hui sedang berlatih orasi untuk konferensi di Negeri Timur—dibantu Kiat Seng dan Keng Hong yang sibuk mencatat.Tapi hari ini, semua mata tertuju pada satu orang.Ong Bwee.Ia berdiri di tengah aula. Di tangannya, setumpuk dokumen. Bukan orasi. Bukan laporan kompetisi. Tapi sesuatu yang lebih berat.Ong Bwee: "Ayah. Aku punya sesuatu."Kaisar: (dari singgasana) "Apa itu, Nak?"Ong Bwee tidak menjawab. Ia berjalan maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai di depan Kaisar, ia berlutut—dan meletakkan tumpukan dokumen itu di lantai.Ong Bwee: "Ini."Kaisar: (mengerut) "Apa ini?"Ong Bwee: "Laporan kematian. Otopsi. Dan giok."Sunyi.Selir Hui: (dari samping) "Pangeran Ong, ini bukan waktunya—"Ong Bwee: (tanpa menoleh) "Ini satu-satunya waktu."Ia mengambil satu
Huling Na-update: 2026-03-21
Chapter: Cinta yang TergadaiOng Bwee seperti diharapkan. Begitu sampai bukannya bekerja malah jadi tukang cerita. Itu semua salah Selir Hui sendiri. Begitu datang, ia harusnya diberi dekrit untuk membuat orasi. Tapi, semua lupa. Semua ingin cerita cinta indah di Rumah Kebun Ceri. Rumah sederhana tempat Pendekar Go dan Nyonya Nio memadu kasih.Ong Bwee protes, tapi hadiah-hadiah dari pejabat dengan dukungan dari Kaisar dan Selir Hui malah menjadikan dia tukang cerita. Ia ingat waktu di Lan Hwa dan Peng Ji, dia suka membaca sastra. Sesekali jadi tukang cerita. Dan setiap ada dia, walaupun di musim dingin, pelanggan tetap datang. Mungkin karena terlalu sering buat janji diplomatis walaupun dia skeptis akan kelanjutan programnya.Kaisar walaupun secara hukum mengusir Nyonya Nio, tidak menyesal. Ia hanya menyesal: mengapa itu semua terjadi setelah tragedi Pangeran Bunga.Ong Bwee minta tidur agak awal. Ia harus bekerja buat orasi. Supaya negara bangga.Semua orang menurutinya. Seolah hari itu Kaisarnya adalah Ong Bw
Huling Na-update: 2026-03-21
Chapter: Orasi untuk Nurani yang HilangLokasi: Istana, sayap timur — Ruang kerja Selir HuiWaktu: Seminggu setelah kelahiran Go Hong San dan Go Hong Eng📋 SABAK KOSONG YANG MENYIKSAMeja panjang di ruang kerja Selir Hui dipenuhi gulungan kertas, tinta, dan kuas. Tapi yang paling mencolok: sabak- sabak besar—papan tulis batu hitam—yang masih polos total. Sudah dua bulan begini. Padahal 10 hari lagi harus berangkat ke Negeri Timur untuk undangan.Selir Hui: (mondar-mandir) "GILA! GILA! GILA!"Ong Kiat Seng: (duduk lemas) "Bu, udah 3 bulan. Sabaknya masih kosong. Padahal aku sudah bisa pipis karena obat sinseh Lam yang terbaru. Keng Hong malah istrinya hamil muda"Ong Keng Hong: (dari pojok, tiduran) "Gue udah mikir. Serius. Tapi yang keluar cuma..." (Muka mesum melihat lukisan istrinya)Dia menulis sesuatu di kertas:"Pimpin dengan hati. Karena hati itu penting. Hati itu... ya... hati."Selir Hui: (baca, lempar kertas) "INI MAKSUDNYA APA?!"Kiat Seng: "Itu... itu... kata-kata bagus, Bu."Selir Hui: "BAGUS APANYA?! INI KOSON
Huling Na-update: 2026-03-21