Chapter: Bab 27: Langkah AwalRama tertawa kecil. "Tentu saja sangat berbeda."Dia mengambil sejumput lalu mencicipinya. "Lumayan," gumamnya.Dengan peralatan sederhana dan teknik pemurnian dasar yang ia lakukan, wajar jika masih ada sedikit jejak mineral yang tertinggal di dalam garam tersebut, dan Rama sendiri memang tidak berharap bisa menghasilkan garam yang benar-benar murni.Namun, hasil ini sudah jauh lebih baik, sebab rasa pahit yang mengganggu hampir tidak ada lagi.Kedepannya, ia sudah tidak perlu lagi berhadapan dengan rasa getir pada masakan, yang membuatnya kehilangan selera makan."Kak Sarah, kamu juga cobain," kata Rama sambil menyodorkan garam dengan sendok tempurung.Sarah mengernyit, dia berpikir, apa gunanya mencicipi garam? Bukankah rasanya sama saja?Namun, karena ingin menghargai kerja keras Rama, dia tetap mengulurkan jari untuk mencobanya. Dan ketika rasa asin memenuhi lidahnya, matanya langsung melebar."Rama, garam ini enak sekali, nggak pahit sedikit pun, bagaimana kamu membuatnya?"Sar
Última actualización: 2026-06-12
Chapter: Bab 26: Apa Bedanya?Rama tersenyum diam-diam, dia pikir Sarah datang untuk berpamitan, ternyata tidak.Namun, Rama merasa agak terganggu karena perkataan Sarah seolah menyiratkan bahwa dialah yang menginginkan kakak iparnya itu pergi dari rumahnya."Memangnya aku pernah mengusirmu?" tanya Rama sambil menaikkan sebelah alis matanya.Sarah menggeleng perlahan. "Kamu memang nggak mengusirku, tapi aku yang gegabah. Sekarang aku menyesal, bisakah kamu membiarkan aku tetap tinggal di rumah ini?"Sebenarnya posisi Sarah serba salah, jika harus pergi, dia juga tidak punya tujuan. Pulang ke rumah keluarganya lebih tidak mungkin karena orang tuanya sudah tiada. Sekarang rumah peninggalan orang tuanya ditempati oleh kakaknya, sementara kakak iparnya adalah wanita berhati sempit.Rama menghela napas pelan. "Kak Sarah, ini juga rumahmu, kamu ingin tetap di sini, aku justru senang.""Benarkah?" Sarah menatap dengan mata berbinar."Iya, tapi aku penasaran, aku merasa tadi malam kita masih baik-baik aja, jadi kenapa ha
Última actualización: 2026-06-11
Chapter: Bab 25: Bolehkah Aku Tetap Tinggal?Rama tersenyum penuh arti."Aku harus marah karena apa?""Jujur saja, aku memang agak kesal karena kamu memilih kabur diam-diam, tanpa memikirkan keselamatanmu sendiri.""Apa kamu lupa? Kemarin aku sudah bilang, kalau kamu nggak percaya padaku, dan masih takut aku akan membiarkan Barata membawamu, kamu bebas membuat pilihan.""Entah itu kembali ke rumah keluargamu, atau pergi ke mana pun yang kamu mau. Yang penting, di tempat itu kamu bisa merasa aman dan tenang."Selanjutnya, Rama mengambil pakaian baru yang tadi ia beli."Ambil, ini aku belikan khusus untukmu, nanti jangan lupa dibawa. Beri tahu aku kalau kamu sudah mau berangkat, biar aku carikan orang untuk mengantarmu."Setelah menyampaikan kalimat demi kalimat, Rama berbalik keluar. Hati kecil Rama sebenarnya tidak rela jika Sarah benar-benar pergi, tapi dia juga tidak ingin menghalangi pilihan wanita itu.Sarah masih duduk di tempat tidur, jari-jemarinya terulur perlahan, menyentuh lipatan kain yang teronggok di hadapannya.Beg
Última actualización: 2026-06-09
Chapter: Bab 24: Dia Sangat Peduli"Iya... kamu boleh membunuhku seperti kedua orang itu tadi, tapi kalau kamu serahkan aku pada Barata, aku akan bunuh diri." Mengetahui Rama sudah menyadari niatnya, Sarah tidak mengelak lagi. Sorot matanya juga tidak memancarkan rasa takut sedikit pun, yang ada hanya tekad tiada tara. Rama mengggelengkan kepala seraya menghela napas panjang. "Membunuhmu untuk apa? Dan siapa juga yang ingin menyerahkanmu pada Barata? Lagipula, bukankah aku sudah berjanji akan melunusi utang itu?" "Sudahlah, sekarang kondisimu sudah seperti ini, sebaiknya kita pulang dulu. Masalah kamu ingin pergi, nanti kita bicarakan lagi." Sarah menatap Rama dengan penuh telisik, berupaya menemukan siratan licik yang mungkin disembunyikan Rama. Namun, ia tidak menemukan tanda-tanda itu, akhirnya ia pun mengangguk setuju. Kemudian, Rama memapah Sarah untuk berdiri. Namun, karena tubuh Sarah masih gemetar hebat, Rama tanpa bertanya langsung menggendongnya ala bridal. "Aaah...." Sarah terpekik ketika meny
Última actualización: 2026-06-09
Chapter: Bab 23: Kau Ingin Pergi?Mendengar pertanyaan pemilik toko itu, Rama pun terkekeh kecil, lalu menjawab, "Ini resep dari tabib dewa yang tiada tara di dunia, khusus untuk mengobati masalah kelaparan." "Anak Muda, kamu jangan bercanda, apalagi barang-barang ini nggak murah." Pemilik toko itu kemudian menghitung total harga dari barang-barang yang dipesan Rama, "Semuanya 290 koin lho." Rama mengeluarkan uang dari saku bajunya, lalu menyerahkan sesuai nominal yang disebutkan. "Nggak apa-apa, Juragan tolong bungkusin aja semuanya." "Baiklah," kata pemilik toko itu karena melihat Rama sangat percaya diri. Setelah membeli barang-barang itu, Rama menghitung bahwa dia sudah hampir menghabiskan satu tael hari ini. Meski begitu, ia masih memiliki lebih dari satu setengah tael perak tersisa. Saat ini, Rama kembali teringat pada Sarah. Kakak iparnya itu bahkan tidak lagi memiliki pakaian yang benar-benar layak. Beberapa helai pakaian yang dimilikinya terbuat dari kain rami kasar, penuh tambalan dan mulai menipi
Última actualización: 2026-06-08
Chapter: Bab 22: Kamu Kena TipuAlasan Rama harus pergi ke kota hari ini, dan tidak bisa menundanya sama sekali, tak lain karena dia tidak bisa makan dengan baik. Kalau makan saja sudah tidak selera, bagaimana dia bisa punya tenaga untuk bekerja? Sumber masalah Rama adalah garam berkualitas buruk yang rasanya pahit dan tidak bisa ditoleransi oleh lidahnya. Untuk menyelesaikan masalah ini secara cepat dan sederhana, Rama perlu menyaring dan memurnikan garam yang masih kotor itu. Sayangnya, beberapa peralatan yang dibutuhkan sulit diperoleh di desa, dan harus dibeli di kota. Setibanya di kota, Rama langsung menuju toko pengerajin kulit. "Tuan Pemilik Toko, aku mau jual kulit rusa." Pemilik toko itu segera memeriksa barang yang diserahkan Rama, lalu bergumam, "Ini kulit rusa jantan dewasa, tidak robek, bulunya juga bagus." Rama tersenyum sedikit. "Kamu sendiri tahu itu barang bagus, kalau begitu kasih harga tinggi, ya." Pemilik toko berkata, "Tapi sayang masih basah, begini saja, aku kasih 600 koin."
Última actualización: 2026-06-08