Chapter: Bab 64"Makasih, Bita!" Belum genap lima langkah keluar dari ruang, tidak ada angin tidak ada hujan Sasha mendadak memeluknya. "Makasih buat apa?" heran Bita memberhentikan langkah gontainya. "Karena kamu udah berhasil bikin Vino berhenti mengganggu aku!" Mata kuliah terakhir pada hari ini yaitu Akuntansi Keuangan Menengah, tempat puluhan jurnal dan angka sukses membuat otaknya mendidih selama dua jam terakhir telah usai. Menyisakan Bita dan kepalanya yang pening. Bita mengerjap kurang paham pada Sasha. "Aku berhasil bikin Vino berhenti?" beo Bita. "Yaps!" Sasha menggiring Bita duduk di kursi taman di depan gedung. "Aku kan sempat minta kamu buat nyuruh Vino supaya jangan kirim aku spam chat. Ternyata itu manjur, dan bahkan nggak cuma berhenti ngechat, Vino juga nggak lagi ganggu aku!"
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 63Bersandar dengan satu kaki terlipat ke belakang, Vino arahkan pandangannya menyorot pintu ruang 103 disisi kanan tidak jauh darinya.Hampir sepuluh menit tidak ada pergerakan dari sana hingga Vino melihat pintu terbuka dan seorang dosen muncul keluar. Lalu diikuti para mahasiswa yang menyusul keluar tidak lama kemudian.Tidak perlu usaha lebih untuk menemukan Bita. Kebanyakan mahasiswi ekonomi lebih memilih menggunakan shoulder bag, namun tidak dengan Bita. Tinggal menilik saja wanita dengan ransel pink-nya. Vino menegapkan badan, mengayunkan langkah pelan berniat mengagetkan Bita dari belakang."Aku ke toilet bentar. Kamu duluan aja ke kantin. Sekalian kamu pesenin aku makanan kayak biasanya!"Bita yang tertunduk menekuni ponsel hanya menatap Sasha sekilas dan menjawab 'oke'.Sasha menggerakkan langkahnya berlawanan arah dengan Bita, terbirit-birit menuju toilet. Hingga ayunan kakinya sejenak memelan dan mulutnya mendecak menda
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 62"Gue nggak nyangka selekas cucu rektor mentalnya lembek." Martin tersedak. Setelah menyambar minuman, lekas Martin menatap Vino terperangah. "Lo apain itu anak?" Di kepala Martin sudah terbayang Vino yang mendekam dibalik jeruji besi karena membuat babak belur Fero. Gawat jika sampai benar. Bisa-bisa ia sendiri juga terseret. Haruskan ia mulai menjaga jarak dengan Vino supaya tidak dikira komplotan?Ditengah ketegangan Martin, Vino justru menyahut tenang. "Cuma gue kasih tau sesuatu yang harus dia tau."Sahabatnya itu tengah memindahkan tabel hasil observasi dari tugas Manajemen Operasional miliknya ke lembar folio bergaris. Laporan itu harus sudah berada di meja dosen sebelum jam dua belas siang. Sementara sekarang sudah lewat setengah dua belas. "Gue nggak percaya kalo lo cuma sekedar 'ngasih tau'. Pasti lo gertak juga, kan?" "Aman. Tenang aja." "Aman gimana maksud lo
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 61"Aku heran apa yang Vino liat dari kamu." Bita baru keluar dari bilik toilet lalu berhenti di depan wastafel untuk mencuci tangan ketika suara seseorang membuatnya terdongak. Mendapati dari pantulan cermin, perempuan yang sempat melayaninya berdiri disampingnya dan sedang sibuk merapikan riasan. Melihat tidak ada orang selain mereka, membuat Bita sadar ialah yang sedang diajaknya bicara. "Padahal yang lebih cantik banyak," lanjut pelayan toko seraya mengaplikasikan pewarna bibir. "Tapi lebih milih perempuan biasa yang suka teriak-teriak." Malas berdebat, Bita memilih diam dan fokus dengan air kran yang membasahi tangannya. Lagi pula bukan pertama kali Bita mendapati sikap tidak menyenangkan penggemar Vino. Pelayan perempuan itu memasukkan lipstiknya ke dalam tas, menol
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 60"Jadi kue itu sogokan biar lo mau nerima perasaan dia?" "Bukan!" sanggah Bita. "Ini tanda terima kasih karena aku udah nolongin dia." "Emang habis kasih kuenya, dia cuma bilang terima kasih aja? Nggak ada acara pernyataan perasaan?" Vino menarik segaris senyum cemo'oh saat Bita tak mampu membalas. "Udah gue tebak." "Apapun alasannya, aku tetap menghargai pemberian Fero." "Karena lo naksir?" "Karena dia membuatnya sepenuh hati," tandas Bita. Senyumnya terukir saat memandangi kaleng merah itu. "Kamu tau perasaan saat ada orang yang ngasih hadiah ke kita, dan hadiah itu dibuat sendiri?" Vino menyilangkan tangannya di dada. Menyaksikan Bita menimang benda itu di tangan. Pada binar mata Bita yang bersinar terang, dan kata-kata yang bibir manisnya itu suarakan kemudian. "Tidak bisa dijabarkan. Seperti ada yang meletup dalam dada kamu. Setara kembang api perayaan tahun ba
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 59Bel di atas pintu berdenting pelan saat mereka memasuki Scoops and Smiles. Toko yang menjual gelato, terletak tidak jauh dari kampus. Dinding toko di cat warna kuning lembut dengan lampu-lampu gantung kecil yang memancarkan cahaya kekuningan hangat.Di balik etalase kaca memanjang, deretan gelato tersusun rapi dalam wadah stainless. Warnanya beragam; merah muda strawberry, hijau pistachio, cokelat pekat, ungu taro, hingga kuning terang mango sorbet.Aroma susu, vanila, dan manis buah-buahan memenuhi ruangan.Bita berdiri beberapa langkah di belakang Vino. Masih melipat tangan di dada dengan wajah yang belum berhasil lepas dari mode ngambek."Silakan, Kak. Mau ukuran berapa?" tanya pelayan ramah."Medium.""Rasanya?""Strawberry.""Ada topping tambahan?"Vino mengangguk, lalu menunjuk daftar topping. "Tambah brownie, marshmallow, dan stroberi segar."Bita terpancing untuk mendongakkan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13