Chapter: Akhir dari Semua BadaiLangkah kaki Satya terasa jauh lebih ringan saat ia menyusuri lorong sunyi menuju unit apartemen pribadinya. Suasana malam yang larut di luar sana seolah membawa pergi semua ketegangan yang menggunung sejak pagi.Konflik dengan ibunya, keputusasaan Wijaya di basement, hingga semua intrik kotor Clarissa kini resmi menjadi lembaran masa lalu yang sudah ia tutup rapat-rapat.Begitu pintu jati itu terbuka setelah bunyi klik digital yang familier, aroma terapi lavender yang menenangkan langsung menyambut indra penciumannya.Dan di sana, berdiri di dekat meja makan kecil dengan pakaian santainya, Ghea menoleh. Sebuah senyuman khas yang lembut dan tulus terukir di wajahnya yang tampak lelah namun lega.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Satya melangkah lebar dan langsung membawa Ghea ke dalam dekapannya. Ia memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ghea, menghirup aroma yang selalu menjadi rumah baginya."Sat... kamu kenapa? Kok erat banget?" bisik
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Pengakuan WijayaLampu remang basement apartemen Satya memantulkan bayangan sunyi malam itu. Satya berjalan dengan langkah berat, melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik sejak rapat maraton tadi siang.Baru saja ia mengeluarkan kunci akses mobil dari sakunya, sebuah bayangan pria paruh baya keluar dari balik pilar beton.Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya yang biasa angkuh kini tampak kuyu dan dipenuhi keringat dingin. Itu Wijaya, pemilik Wijaya Grup sekaligus ayah Clarissa.“Satya! Tunggu, Sat. Saya butuh bicara sama kamu,” panggil Wijaya dengan suara yang serak, kehilangan wibawa yang biasanya ia pamerkan di lantai bursa.Satya menghentikan langkahnya, tangannya masih memegang gagang pintu mobil. Ia menatap pria di depannya tanpa ekspresi, seolah-olah yang berdiri di sana hanyalah angin lalu. “Malam, Pak Wijaya. Maaf, tapi urusan kita di kantor tadi siang sudah selesai secara legal.”“Tolong, Satya. Kasih saya waktu sebentar. Kita bicara empat mata, jangan di sini,” mohon Wijaya, matanya ber
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Tidak Sedang Mencari KemenanganSinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela kaca besar di lobi kantor Adhitama Group tidak mampu mencairkan suasana dingin yang dibawa oleh Rani Adhitama.Dengan langkah kaki yang menghentak keras, suara sepatunya bergema di lantai marmer layaknya detak jam kematian. Wajahnya tertutup riasan tebal, namun gurat kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan.“Ghea mana?!” bentak Rani begitu sampai di depan meja resepsionis lantai eksekutif.Staf administrasi yang sedang merapikan berkas tersentak kaget hingga menjatuhkan pulpennya. “Maaf, Bu Rani... Bu Ghea belum terlihat sejak jam masuk tadi. Absensinya masih kosong.”Rani mendesis, tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Lalu Satya? Jangan bilang dia juga nggak ada di ruangannya.”“Pak Satya... kami juga tidak tahu, Bu. Beliau tidak bisa dihubungi sejak tadi malam. Di apartemennya juga katanya kosong saat orang suruhan Ibu mengecek ke sana,” jawab staf itu dengan suara bergetar ketakutan.Rani membalikkan badan, napasnya me
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: Pernyataan Tegas SatyaAula utama Hotel Grand Mulia malam itu disulap menjadi lautan kemewahan. Kristal-kristal lampu gantung membiaskan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, memantul di atas gaun-gaun mahal dan jas custom para tamu undangan.Rani Adhitama berdiri di tengah kerumunan, memegang gelas kristal berisi wine putih, tertawa anggun bersama beberapa rekan bisnis dari konsorsium bank. Ia tampak seperti ratu yang baru saja memenangkan wilayah jajahan baru—tenang, berkuasa, dan sangat puas.Satya memperhatikan ibunya dari kejauhan. Jas tuksedo hitam yang ia kenakan terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, tapi karena kepalsuan udara di ruangan ini. Ia melangkah tenang, membelah kerumunan hingga berdiri tepat di samping Rani.“Mama kelihatan senang banget malam ini,” sindir Satya pelan, suaranya teredam musik klasik yang dimainkan orkestra di sudut aula.Rani menoleh, senyumnya tidak luntur sedikit pun saat menatap putranya. “Tentu saja. Ini malam besar kita, Satya. Tiga puluh tahun Adhitama be
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Ketenangan Sebelum Badai TerakhirKabut pagi di sekitar danau perlahan terangkat, menyisakan hawa dingin yang masih menusuk kulit. Di dalam kamar hotel, suasana yang tadinya penuh kehangatan kini berubah menjadi kesibukan yang tegang.Satya dan Ghea bergerak dalam diam, mengemas barang-barang mereka dengan gerakan yang terukur namun cepat. Tidak ada lagi tawa atau gombalan ringan; udara di antara mereka kini sarat dengan antisipasi akan apa yang menunggu di Jakarta.Satya baru saja selesai memakai kemejanya saat ponselnya kembali bergetar di atas meja kayu. Ia membacanya singkat, lalu menghela napas panjang yang terdengar seperti beban berat yang dilepaskan.“Kenapa, Sat? Ada kabar buruk lagi?” Ghea bertanya sambil merapikan tas kecilnya. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik Satya.Satya memasukkan ponsel ke saku celana, wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya.“Haris baru kirim pesan singkat. Mama sudah tanda tangan surat pembekuan wewenangku sebagai CEO per pagi ini. Mereka juga sudah nyiapin gugatan perdata soa
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Mimpi di Bawah SelimutKeheningan yang menyusul setelah badai gairah itu terasa begitu magis. Hanya ada suara deru napas yang perlahan mulai teratur dan detak jantung yang masih berpacu di balik dada mereka yang bersentuhan.Satya menarik selimut putih hotel yang tebal untuk membungkus tubuh polos mereka, menciptakan kepompong hangat di tengah udara pegunungan yang kian menggigit di luar sana.Mereka berbaring berdampingan, menatap langit-langit kamar yang disinari remang lampu nakas. Jemari Satya menyusup ke sela-sela jari Ghea, menggenggamnya erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menguap bersama kabut.“Aku serius sama omonganku tadi, Ghe,” suara Satya memecah kesunyian, terdengar berat namun penuh keyakinan. “Aku ingin menikah denganmu. Secepatnya.”Ghea menarik napas panjang, matanya masih menatap kosong ke atas. “Menikah itu kata yang berat buat orang kayak kita sekarang, Sat. Kita bahkan nggak tahu besok pagi masih bisa sarapan dengan tenang atau nggak.”“Justru karena
Last Updated: 2026-05-11