Pelampiasan Pria Angkuh
Zeva, seorang mantan narapidana yang baru saja bebas beberapa hari lalu. Citra yang buruk, membuat kehidupan tak lagi berpihak padanya. Dia sulit menemukan pekerjaan maupun wanita. Karena dia merasa tidak ada wanita baik-baik yang mau menjalin cinta dengan mantan napi, akhirnya dia mencari wanita malam untuk berkencan. Wanita malam itu bernama Vianca, dia sudah mau taubat namun Zeva menyuruh Vianca jangan dulu taubat karena Zeva suka dengan wajah Vianca.Mereka akhirnya bertemu dengan membawa masa lalu yang sama-sama kelam. Vianca sama sekali tidak menyangka, dirinya yang begitu takut karena Zeva adalah mantan napi akhirnya jatuh cinta juga.Sementara itu Zeva, menganggap Vianca adalah wanita paling indah, tapi layak dilupakan. Dia malas berhubungan serius dengan bekas wanita malam.
قراءة
Chapter: 90. Suara Berisik dari GudangSiska tak bisa lagi menepis rasa curiganya. Ia berjalan perlahan menuju gudang belakang, telinganya menangkap suara gesekan benda dari dalam. Awalnya ia mengira itu tikus, namun tak lama terdengar suara batuk tertahan yang jelas berasal dari manusia. Dengan hati berdebar kencang, Siska mengetuk pintu pelan—ia sengaja tak bersuara, berharap orang di dalam akan mengira itu Riko dan membukanya sendiri. Benar saja, pintu gudang terdorong terbuka dari dalam. Kepala Ratna menyembul, wajahnya berharap. "Mana makananku?" tanyanya pelan. Seketika Ratna tersentak dan hendak membanting pintu kembali saat menyadari yang berdiri di depan adalah Siska, bukan mantan suaminya. Namun Siska sudah lebih cepat bereaksi, menahan pintu dengan sekuat tenaga lalu melompat masuk. "Jadi benar ada orang jahat yang kau sembunyikan di sini!" bentak Siska meledak. Tanpa pikir panjang, Siska langsung menyerang. Mereka bergulat di tengah ruangan yang berdebu, saling menjambak rambut dengan kasar. Ratna y
آخر تحديث: 2026-07-12
Chapter: 89. Gudang BerdebuRatna, ibu kandung Savana, berhasil melarikan diri hingga ke pinggiran kota. Ia bergegas menuju rumah mantan suaminya, Riko—satu-satunya orang yang ia harap masih mau menolongnya. Beruntung, saat mengetuk pintu, hanya Riko yang ada di rumah; istrinya Siska sedang pergi berbelanja dan belum pulang. "Riko! Tolong aku..." bisik Ratna terengah-engah begitu pintu terbuka. Riko terkejut melihat kehadiran wanita itu, namun melihat wajah Ratna yang ketakutan dan penuh air mata, ia akhirnya mengangguk pelan. Tanpa banyak tanya, ia menuntun Ratna masuk dan menyembunyikannya di dalam gudang belakang yang gelap dan berdebu—tempat yang jarang disentuh istrinya. "Di sini dulu saja. Siska tidak boleh tahu kamu ada di sini," bisik Riko singkat sebelum menutup pintu gudang rapat-rapat. Berjam-jam Ratna menunggu di sana dengan perut lapar dan tubuh gemetar. Menjelang malam, Riko datang diam-diam membawa nasi hangat, lauk, camilan, serta baju ganti bersih. Ia meletakkannya di lantai di depan Rat
آخر تحديث: 2026-07-12
Chapter: 88. Kandungan ViancaPagi itu Vianca sedang duduk di teras sambil membaca buku, saat sebuah mobil tua berhenti perlahan di depan pagar. Seorang wanita paruh baya turun dengan wajah pucat dan gemetar—ia adalah ibu kandung Savana. Tanpa menunggu dipersilakan, ia berlari masuk dan langsung bersujud di kaki Vianca, menangis tersedu-sedu. "Kumohon... kumohon tarik kembali tuntutan itu, Nak! Savana anak tungguku, dia tidak kuat hidup di penjara. Dia pasti hancur kalau harus tinggal di sana!" Ia menyodorkan sebuah amplop tebal. "Ini... ini uang ganti rugi sebesar apa pun yang kamu minta. Tolong lepaskan anakku!" Vianca menggeleng pelan namun tegas, mencoba bangkit dari duduknya. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Jika Savana bebas, saya khawatir dia akan kembali mengganggu saya dan keluarga. Hukum harus berjalan adil. Dan uang ini... saya tidak butuh." Penolakan itu membuat wanita itu seketika berubah amarah. Ia bangkit dengan kasar, matanya melotot penuh emosi. "Kamu keras kepala sekali! Kamu mau menghancurkan masa
آخر تحديث: 2026-07-12
Chapter: 87. Makan Malam dan InsidenMalam itu meja makan di rumah baru Zeva dan Vianca terasa hangat dengan canda tawa berempat. Setelah menyantap hidangan, Reno mulai bercerita dengan jujur tanpa tedeng aling-aling tentang awal mula mereka dekat: mulai dari kejadian mabuk di depan rumah, nyanyian sumbang, sampai kesalahpahaman yang sempat memisahkan mereka sebentar. Zeva tertawa paling keras, bahkan sampai menepuk-nepuk meja karena gemas sekaligus geli mendengar tingkah konyol temannya itu. "Wah, benar-benar tidak pernah berubah ya kamu, Reno! Dikira tenang dan kaku, ternyata awal mulanya penuh kebodohan begitu!" ledek Zeva sambil menghapus air mata tawa. Lalu Zeva menoleh pada Silvi dengan tatapan jahil. "Terus bagaimana rasanya ya, Silvi? Mendengarkan nyanyian Reno yang terkenal itu?" Silvi langsung tertawa tertahan, matanya melirik Reno sekilas yang sudah memerah mukanya malu. Ia menutup mulut dengan tangan, lalu menjawab pelan namun membuat semua makin tertawa: "Saya... saya tidak berani berkomentar, Pak
آخر تحديث: 2026-07-12
Chapter: 86. Cincin untuk SilviPagi itu udara pegunungan terasa sejuk dan segar, embun masih menempel di daun-daun halaman. Reno menunggu di pinggir sawah tak jauh dari rumah, hingga Silvi berjalan mendekat dengan wajah yang masih tampak ragu dan sedih. Reno segera menyambutnya, berdiri tegak di hadapan Silvi dengan tatapan tulus. "Silvi, maafkan aku ya," buka Reno pelan namun tegas. "Lukisan yang kamu lihat itu cuma sisa kenangan lama yang lupa kubuang. Saat itu aku memang mengagumi Vianca, tapi itu sudah selesai jauh sebelum aku mendekatimu. Aku tidak pernah, sedikit pun tidak pernah menjadikanmu pelampiasan. Justru sejak ada kamu, aku sadar kalau hatiku sudah sepenuhnya beralih padamu." Reno merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan cincin berkilau yang indah. "Silvi, aku sudah membuang lukisan itu. Dan sekarang, aku ingin mengikat hatiku hanya untukmu saja. Maukah kamu menerima lamaranku? Menjadi istriku, dan menua bersamaku selamanya?"
آخر تحديث: 2026-07-12
Chapter: 85. Lukisan ituReno kembali ke ruang kerjanya, matanya langsung tertuju pada tumpukan berkas di meja. Ia menyadari posisi lukisan itu sudah bergeser dari tempat semula—seketika ia paham apa yang terjadi. "Itu dia..." gumamnya pelan. Ia ingat betul lukisan itu memang buatannya dulu, tapi setelah hatinya berpindah ke Silvi, ia belum sempat merapikan atau membuangnya. Ia tak menyangka benda lama itu justru menimbulkan kesalahpahaman besar. Tanpa ragu, Reno segera mengambil lukisan itu, berjalan ke tempat sampah, dan membuangnya dengan pasti. Tak ada lagi yang tersisa dari masa lalu yang tak perlu ia simpan. Namun masalah belum selesai: Silvi masih hilang. Reno langsung menyetir ke kontrakan Silvi, mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Ia bertanya pada tetangga, tapi tak satu pun yang tahu ke mana gadis itu pergi. Dengan tangan gemetar Reno menekan nomor Vianca. "Vianca... Silvi tidak masuk kerja, tidak ada di rumahnya, dan tak ada yang tahu keberadaannya. Apa kamu tahu sesuatu?"
آخر تحديث: 2026-07-11
Chapter: BAB 33 Pelan-pelan Satu minggu setelah "lubang kunci" kuning itu, kami kembali jalan. Tapi kali ini bukan ke ruang tamu kami. Kali ini ke tempat Tante Ester."Mah, Tante Ester nggak datang ke rumah kita lagi kayak waktu itu?" tanya Azka di car seat. Map coklat Rey tetap jadi tamengnya. Tapi kali ini dia yang duluan nanya. Bukan aku yang maksa."Enggak, sayang," jawabku sambil nyetir. "Hari ini kita yang datang ke gudang mainannya Tante Ester. Katanya ada pasir. Pasir yang bisa dibentuk-bentuk."Mata Azka langsung melirik ke arahku. Sekilas. Tapi ada. Itu perkembangan. Seminggu lalu dia nggak akan nanya apa-apa.Klinik Tante Ester ternyata ruko 2 lantai warna pastel mint. Di luar ada taman kecil. Ayunan gantung. Papan tulis yang tulisannya "Selamat Datang, Anak Pemberani". Aku gugup. Ini beda. Ini wilayah Tante Ester. Azka bakal merasa "tamu". Bukan "raja di rumahnya sendiri".Begitu pintu kaca dibuka, aroma kayu manis + cat air lang
آخر تحديث: 2026-07-31
Chapter: BAB 32 Lubang KunciBel pintu berbunyi pukul 10.00 tepat. Tiga kali. Sepertinya, yang datang adalah Bu Ester, semalam aku sudah menghubunginya. Katanya, hari ini dia home visit untuk observasi. Aku membuka pintu. Seorang perempuan berdiri di teras. Sekitar 35 tahun. Rambutnya diikat rapi. Tidak pakai jas lab atau pakaian formal. Hanya kemeja linen warna krem dan celana bahan. Di tangannya ada tas jinjing besar. Dari celahnya mengintip ujung boneka beruang, kotak krayon, dan beberapa balok kayu."Selamat pagi, Bu Ririn," katanya. Senyumnya tidak lebar. Hanya cukup untuk bilang "aku tidak berbahaya". "Saya Ester. Panggil saya Tante Ester saja."Aku mengangguk, tenggorokanku kering. "Silakan masuk, Bu... Tante Ester."Azka langsung sembunyi di balik kakiku. Map cokelat Rey dipeluknya erat seperti tameng. Matanya mengintip dari balik pahaku, curiga.Aku panik. "Maaf Tante Ester, Azka dia... dia pemalu sama orang baru."Tante Ester tidak menjawab. Dia t
آخر تحديث: 2026-07-31
Chapter: BAB 31 Terapi Es Krim Tiga hari setelah Bu Sari diborgol, Azka masih tidur dengan lampu menyala. Ia pintar. Sangat pintar. Ia bisa menyelesaikan puzzle 100 keping dalam 20 menit. Ia hafal perkalian sampai 12 tanpa salah. Tapi setiap kali ada suara panci jatuh di dapur, tubuhnya langsung menegang. Bahunya naik ke telinga. Matanya mencari pintu keluar.Aku melihatnya. Setiap hari. Dan setiap hari dadaku seperti ditusuk pisau tumpul. Potensi sebesar itu... terkubur di balik rasa takut. Aku tidak mau anakku tumbuh jadi orang dewasa yang hebat di atas kertas, tapi hancur di dalam.Malam itu, setelah Denis tidur, aku memberanikan diri menelepon Rey."Rey," suaraku pelan. "Maaf mengganggu malam-malam.""Tidak," jawabnya cepat. "Ada apa, Rin? Azka demam?""Bukan. Azka baik-baik saja secara fisik." Aku menarik napas. "Tapi... ia masih takut. Pada suara keras. Pada gelap. Ia anak yang cerdas, Rey. Otaknya tajam. Tapi aku takut rasa takutnya akan mengubur semua
آخر تحديث: 2026-07-30
Chapter: BAB 30 Pembalasan LukaRuang tunggu Polres tidak memiliki jendela. Hanya empat dinding putih dan jam dinding yang detiknya terdengar lebih keras dari detak jantungku. Pukul 14.17. Sudah dua jam Rey masuk ke dalam. Dua jam sejak pintu besi itu menutup di hadapanku, memisahkanku dari Bu Sari. Dari perempuan yang tujuh tahun mengira ia berkuasa atas tubuh anakku.Denis duduk di sampingku. Tangannya kecil, tapi genggamannya kuat. "Mah tidak usah takut," bisiknya. "Om Rey pasti menang."Aku mengangguk. Tapi tenggorokanku kering. Di dalam sana, sejarah Azka sedang diadili. Dan aku hanya bisa menunggu di luar, seperti tujuh tahun lalu saat aku menunggu di luar panti, tidak tahu apa yang terjadi pada anakku di balik pintu.Pintu besi itu terbuka pukul 16.42.Rey keluar. Kemeja putihnya masih rapi, tapi ada satu kancing di pergelangan tangan yang terbuka. Jas abu-abunya ia bawa di tangan, tidak ia pakai. Mungkin karena bahunya basah oleh gerimis tadi, atau mungkin kare
آخر تحديث: 2026-07-30
Chapter: BAB 29. Sidak PantiPagi itu langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seperti ikut menahan napas. Udara berat, lembap. Wangi tanah basah yang belum jadi hujan.Pukul 09.00, mobil SUV hitam berhenti di depan gerbang panti asuhan. Cat pagarnya mengelupas, belang seperti luka lama. Tulisan "Panti Asuhan Harapan Bunda" masih terpampang, tapi hurufnya sudah pudar. Huruf "H" dan "B" hampir hilang, seolah Tuhan sendiri yang menghapus nama itu.Aku menggenggam tangan Azka erat. Telapaknya dingin, berkeringat. Denis di sebelahku, wajahnya tegang. Rahangnya mengeras seperti menahan marah. Rey berjalan di depan kami, map cokelat di tangan kiri, payung hitam di tangan kanan meski belum hujan. Punggungnya tegak, jadi tembok pertama yang akan ditabrak badai."Tenang," bisik Rey pelan tanpa menoleh. Suaranya rendah, datar, tapi menenangkan. "Aku di depan. Kalian di belakangku."Gerbang dibuka satpam tua. Tangannya gemetar. Begitu melihat rombongan berseragam KPAI dan Dinas S
آخر تحديث: 2026-07-29
Chapter: BAB 28 Menelusuri Luka LamaJam 09.00 pagi bel berbunyi lagi. Tiga kali. Ritme yang sama seperti tadi. Rey datang kembali, setelah sebelumnya pamit ada urusan. Kali ini, kedatangannya adalah menjemputku untuk mendatangi KPAI. Aku membuka pintu. Rey berdiri di sana, rapi dengan kemeja putih dan jas abu-abu. Rambutnya masih basah, pasti habis mandi buru-buru. Di tangannya ada map cokelat tebal dan satu kotak kecil berisi tiramisu."Selamat pagi," ucapnya. Suaranya serak tapi tenang. "Sudah siap? Makan dulu yang manis biar lebih semangat menghadapi hari ini."Aku menerimanya tapi sejujurnya masih kenyang. Nasi ayam yang dia bawakan pagi tadi porsinya tidak main-main. "Aku simpan ini di kulkas dulu, ya. Makasih, loh. Tapi aku masih kenyang. Sarapan yang Bang Rey bawakan tadi porsinya banyak banget lagi. Ini sudah ada makanan lagi."Rey tersenyum sambil mengangguk. Senyumnya tidak berlebihan, tapi hangatnya sampai ke dada. Seperti dia bilang "tidak apa-apa" tanpa bicara.
آخر تحديث: 2026-07-29
Chapter: 35. TAMAT Raina berbaring di rumah sakit. Kini dirinya sedang dipasang selang tempat mengalirnya air kencing. Karena nantinya, selama satu sampai dua hari dirinya akan kesulitan untuk menggerakkan badan, hanya bisa berbaring, termasuk tidak akan sanggup jika pergi ke kamar mandi. Masih merasa mimpi, akhirnya dia mengulangi lagi kejadian tujuh tahun lalu, dia harus menjalani oprasi Caesar yang ke dua. Perasaanya kembali resah, tidak jauh beda saat melahirkan Zian dulu. Bedanya adalah, kini dia bebas menggenggam tangan Devan tanpa rasa canggung. Bahkan dia tanpa rasa malu mencubit lengan Devan jika sedang ketakutan. "Aawww ...." teriak Devan. Suster mendongak menatap Devan sambil tersenyum. Tadinya dia heran kenapa Raina yang sedang dipasang selang tapi malah Devan yang teriak, rupanya pasien nya tersebut, sedang meluapkan rasa takut dengan mencubit dan meremas lengan suaminya. "Rileks saja, Bu Raina
آخر تحديث: 2021-08-11
Chapter: 34. Infinity PoolDevan dan Raina meluncur berdua ke dalam infinity pool di hotel dengan view menghadap ke laut. Mereka baru akan menikmati pantai sore hari.Raina bahagia bisa berenang bersama suaminya. Raina harus akui, dia terpesona melihat tubuh kekar suaminya saat meluncur dan berenang dengan berbagai gaya. Hingga dia merasa minder dan berdiam diri di pojokan, padahal sebenarnya Raina juga bisa mengimbangi Devan."Rain! Sini, Sayang!"Raina berenang ke tengah, mendekat ke arah Devan, lalu lanjut berenang tak jauh dari posisi Devan berada. Saat tubuhnya di dalam air semua beban pikiran sejenak menghilang diganti dengan kepuasan batin. Sesekali, Devan akan menggoda Raina dengan menangkapnya di dalam air."Bahagia banget ya keliatannya mereka. Gua kapan sama pasangan kaya gitu?" Arka terpaksa bermonolog, ingin mengobrol sama temannya Raina tapi dari tadi Naya jaga jarak.
آخر تحديث: 2021-08-10
Chapter: 33. Asal usul tak Jelas Raina memasuki rumah itu lagi, di mana dia menghabiskan waktu kecil dengan suka cita dan bermakna. Walaupun, pada akhirnya dia didepak juga oleh orang baru yang berstatus istri muda dari Arman. Arman dulu sudah merawat Raina dengan baik, mengenalkan Raina pada musik, menyekolahkan di Sekolah ternama, membuat gadis itu berprestasi di usia muda dengan attitude yang bagus. Dalam hatinya, dia ingin Raina kembali. Atau paling tidak, ingin Raina mengunjunginya sambil membawa Zian dan Devan. Tapi Rachel melarangnya."Nona Raina!" sapa seorang asisten rumah tangga yang dulunya dekat dengan Raina. Matanya berbinar saat melihat anak majikannya sudah datang."Mbak Surti apa kabar?""Alhamdulillah, baik, Nona." Surti melihat ke arah Zian, secara alami matanya menggoda balita yang berada di pangkuan Raina. "Lucu sekali anaknya, Non. Sudah b
آخر تحديث: 2021-08-10
Chapter: 32. PenjaraRaina lega, ternyata Devan tidak selingkuh dengan Kirana. Tapi dia masih bingung kenapa Dhaka dan Kirana sampai bisa berpacaran. Dia pikir wanita yang ambisius seperti Kirana tidak bisa berpaling pada Devan."Abang serius Kirana dan Dhaka ada hubungan? Aku kaget dengernya, loh.""Aku juga awalnya gak percaya, tapi mereka memang sering nginep bareng.""Aku lega. Itu artinya Bang Dev gak selingkuh sama Kirana. Aku kira semalam kalian habis ngapain."Devan baru sadar Raina tahu lebih banyak dari yang dia pikirkan, dia nampak kesal. "Rain, kamu buka-buka hape, Abang?""Iya. Salah sendiri kenapa semalam bikin orang curiga.""Aku sayang sama kamu, apapun yang aku lakukan itu semua demi kamu. Kalau aku belum cerita apa pun itu karena aku nunggu waktu yang tepat. Bagaimana pun aku gak mau kamu stres berlebihan, aku tahu kamu pasti traum
آخر تحديث: 2021-07-30
Chapter: 31. Pesan dari KiranaKirana mengirim pesan pada Devan. Sebuah video, rekaman suara beserta chat yang lumayan panjang. Dia menulis dengan cepat, supaya Dhaka tidak melihatnya. Dhaka menginap di rumah Kirana malam ini. Kirana sudah menyuruh Dhaka pulang, tapi pria itu tidak mau pulang.Lalu, setelah 15 menit berlalu Devan membalas pesan itu. "Makasih banyak, Kirana."Setelah mendapat balasan, Kirana berniat kembali ke kamarnya. Bukan hal baik jika dia terus berada di sini. Tapi, sepertinya sudah terlambat. Dhaka sudah berada di belakang Kirana, melihat semua aktifitas Kirana."Penghianat, berani lo kirim chat sama Abang." Dhaka merebut gawai Kirana. Dia menjambak rambut Kirana, lalu mendorongnya hingga tersungkur. Melemparkan gawai ke wajah Kirana lalu memukul wanita itu.Tidak puas meluapkan emosi, dia menjatuhkan benda apa pun yang dia lihat. Menghampiri Kirana kembali dan menamparnya.
آخر تحديث: 2021-07-30
Chapter: 30. Butuh Keadilan Devan duduk di samping Petra yang sedang berbaring. Wajahnya risau menatap ke arah ayahnya yang sudah terlelap tidur dengan tangan di infus. Ada kecewa di hati Devan pada sikap Petra yang menyembunyikan rahasia besar tentang kelakuan Dhaka. Ingin marah, tapi dia tahan karena kondisi Petra yang sedang sakit. Petra terbangun karena tak tenang tidurnya. Saat dia membuka mata, dia melihat wajah anaknya sedang muram, menahan kesal. Petra tak tahu ada hal apa yang membuat anaknya berprilaku seperti itu. "Kamu kenapa Devan?" Devan terperanjat. Dia mendengkus berusaha menahan segalanya tapi gagal. Dia terlalu tertekan dengan kondisi istrinya. "Devan udah tahu tentang kelakuan Dhaka ayah. Devan kecewa kenapa ayah melindungi Dhaka. Berapa puluh kali ayah memaklumi kesal
آخر تحديث: 2021-07-05
Chapter: EXTRA PART - POV LUCASAku seakan bermimpi, saat membuka mata di pagi hari, dan yang pertama kali aku lihat adalah sosok wanita yang kucinta. Dulu, dia mengisi hati ini kemudian pergi dengan membawa luka. Aku tidak bisa mencegahnya walaupun sudah berusaha menahannya. Dia tidak setuju dengan tawaran yang aku berikan. Tawaran untuk berpoligami. Entahlah, aku merasa tidak ada yang salah waktu itu. Hatiku tetap ada untuknya. Lalu sudah aku katakan berulang kali bahwa menikahi wanita lain hanya sebatas alasan yang mendesak. Bukankah pria mempunyai hak jika mampu? Tapi istriku tidak mau peduli dengan apa pun alasannya. Amanda mantanku, dia kembali setelah cukup lama tidak berjumpa. Dia datang dengan tidak berdaya, sakit dan menyedihkan. Dia memintaku untuk melindunginya. Karena katanya, tidak ada satu pria pun yang mencintai wanita lumpuh dengan tulus. Karena akulah penyebab dia kecelakaan. Aku merasa bersalah mendengar kata-katanya. Dia memukul terus kakinya yang pincang, dan ha
آخر تحديث: 2021-07-05
Chapter: 62. TAMATSemua mata tertuju padaku bukan karena pernyataan Lucas, tapi karena aku tersedak dengan tiba-tiba. Wajahku pasti terlihat konyol saat ini, aku malu. Lucas memberiku segelas air putih dan aku menandaskannya dengan segera. Saat ada kalimat selamat yang terlontar dari mulut mereka secara bergantian, hatiku belum sepenuhnya sadar. Seakan Lucas sedang membuat konten prank di Chanel YouTube untuk menjahiliku. Tapi saat aku melirik ke arahnya dia nampak serius. Kami pulang. Sepanjang perjalanan pulang Lucas nampak tersenyum. Pria gila itu selalu berhasil mewujudkan keinginannya. Sementara aku mendadak gugup, tak berselera untuk bicara namun jiwaku terasa hangat. Walau caranya membuat aku jengkel, tapi aku suka saat dia meminta aku kembali jadi miliknya. Lucas menerima panggilan telepon, entah dari siapa. Namun raut wajahnya nampak lesu dan risau. "Huh, merepotkan!" umpat Lucas. "Ada apa?" tanyaku ragu-ragu. "Papah masuk rumah sakit, dia pecah pembul
آخر تحديث: 2021-06-12
Chapter: 61. Lucas Membawaku BersamanyaAku paham, butuh waktu cukup lama untuk seseorang memahami isi hati orang lain. Begitupun bagi Andrean, meskipun Lucas sudah merangkul dan meminta maaf. Dia mematung, tidak ada minat sedikitpun untuk berbicara dengan Lucas. Tak lama dia memilih pulang. Dia hanya pamit kepadaku dan tidak menanggap Lucas ada di dekatnya. Lucas menatap punggung Andrean hingga menghilang. Tertunduk dan melamun, mungkin saja Lucas ingin hubungannya baik seperti dulu kala. Menjalani masa kecil bersama, sekolah dan masuk universitas yang sama dan kini hubungannya retak hanya karena masalah hati. Aku paham pahitnya ditinggalkan sahabat sendiri. Cukup lama aku dan Lucas berada di ruang yang sama namun memilih saling diam dari tadi. Akhirnya Lucas menatap ke arahku dan tersenyum. "Flora, lagi sibuk? Apa bisa minta waktumu sebenar saja buat ikut denganku?" Aku tersenyum, tidak biasanya dia meminta waktuku dengan sesopan itu. Lucas berkata kembal
آخر تحديث: 2021-06-09
Chapter: 60. Membesarkan Anak SendiriAku melempar pakaian Lucas ke lantai di kamar. "Cepat pakai pakaianmu! Memalukan! Mentang-mentang tidak ada Renata, so merasa jadi anak muda? Jangan coba-coba tebar pesona padaku! Tidak akan mempan." "Siapa yang tebar pesona? Terus menurutmu, cara pakai handuk seorang bapak satu anak bagaimana? Apa dililitkan di leher, hah? Atau diikat pada dua kaki seperti orang yang sedang diculik penjahat? Kamu akan lebih menjerit histeris jika melihat aku seperti itu." Ah sialan, kenapa Lucas berkata seperti itu aku malah membayangkan Lucas melilitkan handuk ke leher dan kaki. Aku jadi frustrasi membayangkan visual aneh itu. Sepertinya Lucas melangkah mengambil pakaiannya yang tercecer. Entahlah, setelah dengar ocehannya aku langsung menutup pintu tanpa menatap ke arahnya. Kemudian aku menyeduh macchiato untuk kami berdua. Lucas keluar kamar dengan stelan casual warna denim. Seingatku, pakaian itu aku yang pilihkan, belanja di online shop saat ada diskon dan grati
آخر تحديث: 2021-06-08
Chapter: 59. Roti Sobek LucasLucas menggendong Andrean. "Mau kita buang ke mana pria brengsek ini?"Aku teramat resah, masa iya Lucas mau membuang Andrean seperti barang bekas. Apa mungkin dia akan melempar Andrean ke lapangan yang tandus seperti halnya membuang Amanda kemarin itu?"Jangan becanda, Lucas." Aku mengikuti langkah Lucas yang pelan karena beban di punggungnya."Kamu parkir mobil di mana?" tanya Lucas."Aku gak bawa mobil, mobil ada di parkiran Cofee Shop. By the way, aku hanya berniat membawa Andrean ke pinggir dekat pohon itu. Kita bisa taruh dia di sana saja, lalu pura-pura tidak tahu apa yang terjadi." Aku menunjuk pohon besar yang di depannya terdapat tong sampah."Andrean tidak akan muat jika masuk ke tempat sampah sekecil itu. Kita butuh TPS berukuran besar.""Ayolah, Lucas! Kamu tahu sendiri maksudku adalah taruh Andrean di pinggir pohon, supaya tidak menghalangi jalan. Bukan menaruh Dean di tong sampah."Lucas tersenyum, sambil terus berjalan
آخر تحديث: 2021-06-05
Chapter: 58. Mantan Suami ReseSejenak, aku merasa diri ini kehilangan akal sehat karena membiarkan mantan suami mengecup puncak kepalaku. Dan bisa-bisanya aku memejamkan mata menahan degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Bibir Lucas enggan berpindah selama beberapa menit, mungkin dia keterusan. Aku membuka mata, tersentak saat melihat ada orang yang lewat sehingga tanpa sengaja menyundul kepala Lucas. Menyisir rambut dengan jari, dan merapikan posisi baju yang hampir kusut. Aku hampir melupakan Lucas yang sedang meringis menahan sakit pada bibir. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya, dengan ekspresi bodoh sedang menahan sakit. Lucas menatapku. "Agghh ... dasar cewek preman! Lihat ini! lukaku bertambah lagi di bibir. Apa bedanya kamu dengan scurity di kantor Papah?" Sembarangan, bisa-biaanya Lucas menyamakan aku dengan scurity kantor yang bertubuh besar. "Suruh siapa kamu begitu lancang mencium kepalaku? Lagian kamu pikir kepalaku juga tidak sakit beradu dengan
آخر تحديث: 2021-06-04