Chapter: KARTA GELAP MATA (Bag. 23)Aki Amin menurunkan cangkirnya perlahan. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan tampak tenang."Urang mah ukur manusa anu nangtung di luareun pager imah batur. Urang teu kungsi nyaho kumaha ka’ayaan di jerona."(Kita ini cuma manusia yang berdiri di luar pagar rumah orang lain. Kita enggak pernah tahu situasinya di dalam sana.)“Semoga kita hanya salah paham. Semoga Karta enggak seperti yang kita pikirkan. Tugas kita hanya berusaha mengurus jenazah dengan sebaik-baiknya. Urusan yang di luar kuasa kita, biar itu jadi urusan Kang Karta dengan Gusti Allah. Ulahdiobrolkeundeui,” lanjut Aki Amin.
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: KARTA GELAP MATA (Bag. 22)“Bismillahirrahmanirrahim.” Mak Acih membuka kain jarik yang menutupi jenazah Anis, dan ia langsung terkesiap kaget demi mendapati raut wajah Anis yang sangat memprihatinkan. Matanya melotot lebar tanpa binar dan mulutnya ternganga kaku, menyiratkan penderitaan sakaratulmaut yang luar biasa.Namun, pengalamannya bertahun-tahun mengurus jenazah dengan berbagai kondisi, tak membuat Mak Acih terkejut yang berlebihan.
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: KARTA GELAP MATA (Bag. 21)"Ambu!" panggil Karta histeris. Tangannya menggapai-gapai ke udara, mencoba meraih ujung kaki Anis yang semakin terbang menjauh di atasnya, namun nihil.Ia hanya bisa menatap ngeri pada sosok Nyai Sawer Srenggi yang tertawa puas menyaksikan ketidakberdayaannya. Amarah Karta mendidih, meluap dalam sumpah serapah sekasar-kasarnya demi membela wanita yang ia cintai."Siluman kurang ajar! Leupaskeun pamajikan aing, siah! Naon salahna ka sia?! Kuduna aing nu modar, lain manehna! Kurang ajar sia, Sawer Srenggi!" raung Karta penuh kemarahan hingga urat lehernya nyaris putus.(Lulepasinistri gua! Apa salah dia?! Harusnyahuayang mati bukan dia!)
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: KARTA GELAP MATA (Bag. 20)Dengan jantung bertalu-talu ngeri, sepasang suami-istri itu langsung menoleh ke arah pintu kamar tempat Acun sedang beristirahat. Mereka didera ketakutan luar biasa jika ledakan dan getaran barusan sampai membangunkan putra mereka. Kalau sampai Acun terbangun dan keluar kamar, anak remaja itu pasti akan langsung menjadi target Nyai Sawer berikutnya.Namun anehnya, kedatangan Nyai Sawer yang menimbulkan ledakan dan guncangan hebat itu sepertinya tidak berdampak apa-apa padaAcunataupun warga desa di sekitar tempat tinggal mereka. Suasana di dalam kamarAcuntetap senyap, tak ada suara tempat tidur berderit atau langkah kaki panik. Seolah-olah, telingaAcuntelah ditulikan secara gaib, mengunci fenomena tersebut agar hanya bisa disaksikan dan dirasakan oleh Karta dan Anis saja.
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: KARTA GELAP MATA (Bag. 19)Padahal hari masih siang bolong, tetapi kengerian terasa begitu pekat bergulung di tempat itu. Suasana terasa sangat suram dan gelap karena kanopi pohon-pohon hutan yang tumbuh terlalu rapat, menghalangi cahaya matahari untuk menyentuh tanah.“Kang, pulang aja, yuk. Di sini enggak ada apa-apa.” Anis memeluk lengannya sendiri. Hawa ngeri itu kian memberati tengkuknya, membuat kepalanya mendadak pening.“Tapi kita belum menemukan rumah Nyi Damar,” sahut Karta dengan nada suara yang mulai bergetar putus asa.“Siapa tahu ... rumah Nyi Damar yang kita datangi tempo hari memang enggak pernah ada, Kang. Itu cuma ilusi,” bisik Anis ketakutan.
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: KARTA GELAP MATA (Bag. 18)Setengah jam kemudian,sirinemobil pemadam kebakaran meraung-raung membelah jalanan. Petugas sibuk menyemprotkan air, namun semua mata yang menyaksikan kebakaran itu membelalak tidak percaya.Kobaran api setinggi pohon kelapa itu seolah dibatasi oleh dinding tak kasat mata. Api mengamuk hebat membakar habis rumah Karta, tetapi sama sekali tidak menyentuh, bahkan tidak membuat gosong dinding rumah tetangga yang jaraknya hanya sejengkal dari sana. Api itu seperti dikunci secara gaib di sekitar batas rumah Karta saja.
Last Updated: 2026-07-16