Chapter: Seratus Empat BelasMalam ini Amora memilih untuk menginap di rumah Carmen. Keputusan itu diambilnya secara spontan setelah mendengar kabar yang cukup mengejutkan sekaligus melegakan hatinya. Sepanjang malam, sebelum mata mereka terpejam, Amora dengan setia duduk di tepi ranjang untuk mendengar cerita detail dari Carmen tentang lamaran Arkha yang terjadi sore tadi.Amora cukup terkejut ketika mendapati fakta bahwa Carmen menerima lamaran itu dengan respons yang sangat positif. Sebagai sahabat yang tahu persis bagaimana hancurnya Carmen di masa lalu, Amora tahu bahwa sahabatnya itu sudah mulai bisa berpikir jernih kini. Carmen sudah mulai membuka hati untuk masa depan yang lebih baik, meninggalkan trauma yang selama ini mengurungnya.Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Di sampingnya, Carmen sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur, tampaknya kelelahan setelah meluapkan seluruh emosi dan rasa harunya hari ini. Sementara itu, Amora justru merasa sangat sul
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Seratus Tiga BelasArkha memandangi wajah Carmen yang berada tepat di hadapannya. Jarak yang dekat ini membuat Arkha bisa dengan jelas menghitung detak waktu yang terasa melambat. Carmen sangat cantik. Namun, kecantikan itu bukanlah jenis yang mengintimidasi atau menuntut perhatian penuh dari seisi ruangan.Sejak Carmen masih mengenakan seragam SMA, Arkha sudah bisa melihat kecantikan sederhana yang memancar dari dalam diri wanita ini. Saat gadis-gadis seusianya sibuk bersolek dengan riasan tebal atau memamerkan barang-barang bermerek demi mendapat pengakuan, Carmen tetap menjadi dirinya sendiri.Carmen benar-benar berbeda dari wanita lain yang kerap ditemui Arkha di lingkaran sosialnya, mereka yang cenderung arogan, memandang orang lain dari atas ke bawah, dan terlalu menyombongkan harta serta nama besar orang tua mereka. Sosoknya benar-benar sederhana, tidak menyukai hal-hal yang rumit, dan selalu bersikap rendah hati kepada siapa pun tanpa memandang kasta. Sifat
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Seratus Dua BelasMalam itu terasa berbeda bagi Carmen. Bukan karena restoran mewah yang kini dia pijak dengan langkah yang masih sedikit ragu, bukan pula karena lampu-lampu gantung kristal yang berkilauan lembut di atas kepalanya, atau alunan musik piano yang mengalir pelan di sudut ruangan. Tetapi karena ini adalah pertama kalinya dia benar-benar keluar kembali setelah sekian lama terkurung dalam dunia yang diciptakan oleh lukanya sendiri.Dunia yang penuh ilusi. Dunia yang penuh ketakutan. Dan dunia yang hampir merenggut dirinya sepenuhnya.Carmen berdiri sejenak di depan pintu masuk restoran, menarik napas panjang. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tangannya sempat dingin, meskipun udara di dalam ruangan terasa hangat dan nyaman.“Semua baik-baik saja?” tanya Arkha pelan di sampingnya.Carmen menoleh. Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas gelap yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang, dan m
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Seratus Sebelas“Ini apa?” tanya Carmen pelan, jemarinya menerima map cokelat yang Emil sodorkan kepadanya.Suaranya terdengar hati-hati, seolah dia sudah bisa menebak isi di dalamnya, tetapi masih belum siap untuk benar-benar menghadapinya. Tangannya sedikit bergetar ketika membuka penutup map tersebut. Kertas-kertas resmi tersusun rapi di dalamnya, dengan stempel dan tanda tangan yang seolah menjadi saksi bisu dari sesuatu yang pernah dia perjuangkan mati-matian.Emil memperhatikannya tanpa menyela. Dia tahu, ini bukan sekadar dokumen. Ini adalah penutup dari sebuah bab yang menyakitkan dalam hidup adiknya.“Akta cerai kamu,” ucap Emil akhirnya, suaranya lembut namun tegas. “Mas simpan ya? Mulai kini kamu resmi bercerai dari pria brengsek itu.”Carmen tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada tulisan-tulisan di kertas itu, membaca setiap kata seolah ingin memastikan bahwa semuanya benar-benar nyata.Resmi. Selesai. Hubunga
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Seratus SepuluhSiang itu terasa begitu sunyi bagi Reno, meskipun matahari bersinar terik tepat di atas kepalanya. Dia berdiri cukup lama di depan rumah yang dulu selalu jadi tempatnya pulang. Rumah yang kini tidak lagi memiliki arti apa pun selain kenangan pahit yang mengendap seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh.Cat temboknya mulai mengelupas di beberapa bagian, pintu kayunya sedikit terbuka seperti enggan menutup rapat, seolah rumah itu sendiri masih berharap seseorang akan kembali dan menghidupkan suasana di dalamnya. Namun Reno tahu, harapan itu sama kosongnya dengan isi rumah tersebut sekarang.Dia mengeratkan tali ransel di bahunya. Tas itu tidak besar, hanya cukup untuk beberapa potong pakaian dan barang seadanya. Tidak ada yang berharga yang dia bawa, karena memang tidak ada lagi yang tersisa untuk dibawa. Semua yang dulu tampak penting kini terasa tidak berarti.Angin siang berhembus pelan, membawa debu yang berterbangan di halaman. Reno melangkah maju beb
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Seratus SembilanMalam itu mulai datang, membawa keheningan yang berbeda dari biasanya. Rumah besar itu tampak lebih tenang, lampu-lampu menyala hangat di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Carmen, malam tidak selalu berarti istirahat. Kadang, justru di malam hari pikirannya menjadi lebih berisik, kenangan-kenangan buruk datang tanpa permisi, memutar ulang kejadian-kejadian yang sangat ingin dia lupakan.Setelah makan malam bersama keluarga, Emil memutuskan untuk menemani Carmen di kamarnya. Dia tidak ingin adiknya sendirian, tidak malam ini, tidak setelah apa yang terjadi pagi tadi. Ketika dia membuka pintu kamar itu perlahan, dia melihat Carmen sudah berada di atas ranjangnya, bersandar pada headboard, sebuah novel terbuka di tangannya.Carmen mengenakan piyama satin berwarna biru tua. Kainnya yang halus jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambutnya terurai bebas, sedikit berantakan namun tetap inda
Last Updated: 2026-07-16