Chapter: 7. Tubuhmu Berkata Sebaliknya“Maksud Bapak apa?” tanya Lara tak mengerti.Namun, belum sempat menjawab, suara gedoran keras menghantam pintu depan hingga bergetar. Brak!Pintu itu terbuka paksa. Tiga pria berbadan besar dengan tato yang menutupi lengan mereka masuk tanpa diundang. Bau keringat dan rokok menyengat memenuhi ruangan yang sempit itu."Wah, wah... ada tamu rupanya?" pria di depan, yang dikenal dengan nama Bang Bram, menatap Damian dengan tatapan meremehkan sebelum mengalihkan pandangannya ke Lara. "Lara Kirana. Masih belum punya uang juga? Udah tiga tahun, sama bunganya udah numpuk jadi lima ratus juta. Suamimu kabur, jadi sekarang giliranmu yang bayar!" Lara merasa darahnya membeku. Lima ratus juta?! Itu angka yang mustahil baginya!Wanita itu gemetar hebat, kakinya serasa tidak menapak bumi. "Bang Bram... aku mohon... tolong beri aku waktu lagi...""Waktu?! Kami udah kasih waktu sampai mampus!" Bram maju selangkah. "Kalau nggak bisa bayar, ya kita bawa kamu ke tempat yang bisa menghasilkan uan
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: 6. Bos PosesifPertemuan dengan klien berjalan lancar, namun tubuh Lara seolah ingin menyerah.Efek dari kurang tidur, tidak makan dengan layak, dan tekanan batin berkepanjangan membuat tubuhnya sudah berada di ambang batas. Sepanjang rapat, dia hanya bisa mengandalkan sisa-sisa tenaga untuk mencatat dan merespons instruksi Damian. Saat mobil kantor meluncur kembali menuju gedung perusahaan, Lara memejamkan mata, berusaha meredam rasa pening yang menusuk-nusuk pelipisnya.Begitu mobil berhenti di basement kantor, Lara berusaha turun dengan tenang. Namun, saat kakinya menginjak lantai beton yang dingin, dunia di sekitarnya seolah berputar. Pandangannya menggelap secara instan. Lututnya lemas, dan tubuhnya limbung.Bruk!Lara mengira dia akan menghantam lantai yang keras, namun sepasang lengan kokoh menangkapnya."Lara!" suara Damian yang biasanya dingin kini terdengar meninggi, penuh dengan keterkejutan yang nyata.Lara mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Wajah Damian t
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 5. Diam-diam Perhatian?Pekerjaan itu selesai tepat waktu. Lara menyerahkan dokumen digitalnya ke sistem internal dan menghela napas panjang. Jam makan siang sudah lewat sepuluh menit, dan perutnya terasa perih karena belum terisi sejak kemarin. Baru saja ia hendak membuka laci meja untuk mencari biskuit sisa, interkom di mejanya kembali berdengung. "Lara. Ke ruanganku." Lara bangkit, melangkah masuk ke ruangan Damian. Pria itu sudah memakai jasnya, sepertinya hendak pergi makan siang. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Damian berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di depan Lara, mengamati wajah Lara dengan lebih detail daripada sebelumnya. "Kamu belum makan siang." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. "Saya... saya masih harus membereskan sisa arsip, Pak," jawab Lara pelan. Damian mendengus sinis. "Jangan sampai pingsan di kantor karena kelaparan. Itu akan merusak jadwal kerjaku." Lara terdiam, bingung harus menjawab apa. "Ikut aku," perintah Damian singkat sembari melangkah keluar ruangan.
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 4. Berusaha BertahanLara kembali ke kubikelnya dengan kepala berdenyut nyeri. Tangannya gemetar saat mengemasi barang-barang pribadinya: sebuah bingkai foto kecil berisi potret orang tuanya, beberapa alat tulis, dan cangkir kopi yang sudah agak retak.Suasana kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi sarang lebah. Bisik-bisik mulai terdengar dari segala arah. Rekan-rekan kerjanya yang tadi menyaksikan kejadian di lobi kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan, penasaran, dan juga jijik."Lara... kamu beneran dipecat?"Lara menoleh dan mendapati Nina berdiri di sampingnya dengan raut wajah khawatir. Nina sudah seperti saudara baginya di kantor ini."Bukan, Nin," jawab Lara pelan, memasukkan bingkai fotonya ke dalam tas. "Aku dipindahin ke lantai atas. Jadi asisten pribadi Pak Damian."Keheningan seketika menyelimuti area kubikel mereka. Mata Nina melebar, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. "Asisten pribadi? Kamu serius? Tapi... bukannya tadi dia kelihata
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 3. Tawaran Tak TerdugaLara melangkah menyusuri koridor lantai dua puluh dengan kaki yang terasa seperti dirantai baja. Kejadian di lobi masih terputar di kepalanya seperti kaset rusak; penghinaan Faris, tatapan jijik rekan-rekan kerjanya, dan aura mencekam Damian Atmadja.Ia merapikan blus kerjanya yang kusut bekas tarikan kasar Faris. Rambutnya yang diikat kuda kini sedikit berantakan. Lara mencoba mengatur napas, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia sudah siap jika diminta mengundurkan diri. Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin bisa tetap bekerja di sini setelah harga dirinya diinjak-injak di depan umum.Lara berhenti di depan pintu kayu jati yang kokoh dengan plakat emas bertuliskan: Damian Atmadja – CEO.Dia menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu tiga kali."Masuk."Suara itu terdengar berat dan penuh otoritas. Lara memutar handel pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna monokrom abu-abu dan hitam. Jendela kaca besar dari lantai ke langit-langi
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 2. Panggung PenghinaanLara menghabiskan waktu berjam-jam berikutnya dengan perasaan waswas. Setiap kali pintu lift terbuka atau langkah kaki mendekat ke kubikelnya, jantungnya seakan mau copot. Namun, Damian tidak muncul. Seolah tatapan di lobi tadi hanyalah ilusi dari rasa lelahnya yang ekstrem.Menjelang sore, ponsel Lara bergetar hebat di atas meja. Nama suaminya terpampang di layar. Buru-buru Lara mematikan panggilan itu, tapi Faris menelepon lagi. Dan lagi. Nina yang berada di meja sebelahnya, mulai melirik penasaran."Lara, angkat gih. Kayaknya urgent banget," bisik Nina.Lara mengangguk canggung, lalu bergegas menuju area tangga darurat yang sepi. Begitu panggilan tersambung, suara teriakan Faris langsung menyambar gendang telinganya tanpa basa-basi."Lara! Di mana kamu?! Aku udah di depan gedung kantormu!"Lara terlonjak. "Apa? Kamu gila? Jangan ke sini, Mas! Aku lagi kerja!""Aku nggak peduli! Kamu pikir aku punya waktu buat nunggu kamu pulang? Orang-orang itu udah ada di depan rumah! Kalau ak
Last Updated: 2026-06-17