Chapter: 95Selang tak berapa lama, sebuah mobil box yang dikendarai Mat Codet kembali masuk ke halaman mini market.“Dhani!” teriak Mat Codet dari atas mobil box yang di kemudikannya. Dhani memasukan kembali ponselnya dan bergegas naik ke atas mobil box dan duduk di sebelah Mat Codet.“Gimana, gimana?” tanya Mat Codet sambil mengemudikan kembali mobilnya menjauh dari mini market itu.“Gimana apanya?” tanya Dhani yang tidak tahu maksud pertanyaan Mat Codet. Separoh pikirannya masih tertuju pada sosok Carine yang masih tertinggal dalam benaknya.“Masih pura-pura saja kau ini, kau pikir aku tak lihat kau pelukan sama si .... ” Mat Codet tak meneruskan ucapannya. Ia berusaha mengingat-ingat sebuah nama yang lupa ia menyebutnya.“Siapa itu namanya, lupa abang.” Tangan Mat Codet memukul kemudi. Ia terlihat geram dengan ingatannya yang minim.“Carine, maksud abang?”“Iya, itu
Terakhir Diperbarui: 2022-03-03
Chapter: 94Carine hanya memejamkan matanya ketika Dhani kembali membalurkan tisu yang sudah dibasahi cairan rivanol.“Gimana?” tanya Dhani, “enak, kan? Enggak sakit?”Carine hanya tersenyum sambil mambuka matanya. “Iya, adem,” ucap Carine tersipu.“Ademlah, kan aku yang melakukan,” gumam Dhani nyaris tak terdengar oleh Carine.“Apa ...? apa ...?“ tanya Carine penasaran, namun Carine sebenarnya mendengar apa yang dikatakan Dhani.“Enggak,” elak Dhani, namun siku Carine sudah mendarat lembut di tubuhnya.“Labay,” ucap Carine diselingi senyuman.Mendapat reaksi Carine, Dhani menghindar dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Carine seraya berkata, “Oh ... jadi enggak enak nih?” ucap Dhani yang juga tersenyum, “kalau begitu biar Ulfa saja yang mengobati lukamu,” ucap Dhani kemudian sambil berpura-pura akan menaruh tisu di tangannya di atas meja.
Terakhir Diperbarui: 2022-03-03
Chapter: 93Galih, nama penjual kopi keliling yang sempat kepergok Wiryo mengayuh sepedanya dengan cepat di jalanan sepanjang komplek pergudangan yang gelap. Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, Galih mengendap ke bangunan ruko kecil yang hanya di sinari lampu 5 watt di depannya. Galih mengetek perlahan rolling door yang tekunci dari dalam.“Kopi item, kopi item,” ucap Galih setengah berbisik“Bisa dibungkus?” tanya seseorang dari dalam.“Satu boleh,” ujar Galih lagi. Lalu pintu kecil di sisi rolling door pun terbuka, ternyata teriakan ‘kopi item’ Galih adalah sandi yang di ucapkan untuk berkomunikai dengan orang yang berada di dalam untuk memastikan bahwa mereka adalah rekan. Galih masuk ke dalam ruko bersama sepeda goes dagangannya, sementara di dalam seseorang telah menunggu. “Tebakanmu memang benar, Yudha,” kata Galih kepada orang itu yang tak lain adalah Yudha. Galih mengambil kursi dan duduk di sebelah Yudha. “Sepertinya mereka a
Terakhir Diperbarui: 2022-01-11
Chapter: 92“Apa yang kau lakukan, Carine? Bangunlah!”Carine membuka matanya dengan perlahan sambil mengangkat wajahnya. “Dhani?” Carine kembali bergumam. Matanya hampir tak percaya melihat lelaki yang berdiri di depannya. Sekonyong-konyong Carine langsung bangkit dan memeluk Dhani.“Dhani ... jangan tinggalkan aku! Kau boleh membenciku, kau boleh memakiku, tapi jangan pernah kau pergi dariku!”Tangis Carine pecah dalam pelukan Dhani, dia menumpahkan semua perasaannya ke dalam dekapan seakan tak ingin terpisahkan lagi oleh Dhani.Dhani mengangkat kepala Carine dari pelukannya, ditatapnya wajah Carine lekat-lekat, sementara Carine tak berani membalas tatapan Dhani.“Apa yang kau tangisi, Carine?”Carine tak mampu menjawab, dia kembali meneggelamkan kepalanya dalam pelukan Dhani, Dhani hanya membiarkan dan menunggu tangis Carine mereda.“Jangan tinggalkan aku, Dhani,” ucap Carine mengulan
Terakhir Diperbarui: 2022-01-11
Chapter: 91Setelah beberapa saat tidak ada yang bicara, sambil membereskan berkas-berkas dan memasukan kembali ke dalam tasnya, Dhani berkata, “Pengiriman hari ini sudah selesai semua, dan untuk kiriman kopra abang, kalau nggak besok pagi, mungkin besok sore sudah tiba.”“Bagus lah, kalau begitu abang tinggal pulang dulu. Udah bau bangkai ini abang punya ketiak,” ucap Matt Codet sambil mendekatkan hidungnya ke dalam ketiaknya sendiri.“Kapan kau mampir ke rumah Abang?”“Nanti lah, Bang, pasti nanti aku mampir, tapi tidak bisa sekarang. Aku masih harus input semua pengiriman hari ini.”“Terserah kau saja lah, tapi ingat, kalau ada apa-apa cepat kau hubungi abang,” ucap Mat Codet yang sudah berdiri dan bersiap pergi.”“Kalau begitu abang pulang dulu, jangan lupa jaga baek-baek gadis-gadis cantik kau.”Mat Codet pun pergi meninggal mereka. Suasana kembali hening.“A
Terakhir Diperbarui: 2021-12-12
Chapter: 90Dhani seperti menafikan keberadaan Carine, bahkan ketika Mat Codet menghampiri Carine dan Ulfa, dirinya menyibukan diri dengan lembaran kertas faktur yang diambil dari dalam tasnya.“Kalian tidak apa-apa?” tanya Mat Codet ke arah Ulfa dan Carine.Ulfa yang masih syok karena ketakutan hanya mengangguk, sementara Carine seperti tak mendengar ucapan Mat Codet, matanya masih menatap kosong ke arah Dhani.Ulfa yang menyadari tatapan kosong Carine, menarik-narik baju Carine untuk menyadarkannya.“Eh ... Iya Om, kenapa?” ucap Carine tergagap.Matt Codet hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,“Mantap kali kau, Dhani! Bisa bikin perempuan cantik ini terpana,” seloroh Mat Codet dengan logat khasnya.Dhani hanya tersenyum kecil sambil berjalan menuju ke dalam mini market.“Aku selesaikan dulu dokumen pengirimannya, Bang! Abang mau minum apa?” ucap Dhani yang sudah berada di ambang pintu
Terakhir Diperbarui: 2021-12-12

The Anaxtra : Petualangan di Pulau yang Hilang
Cerita ini berkisah tentang kehidupan di tahun 3000.
Semburan lumpur Lapindo hampir menenggelamkan pulau Jawa bagian timur.
Ditambah kemunculan planet Nibiru yang memancarkan gelombang partikel energi plasma menimbulkan perubahan besar pada struktur aliran inti bumi.
Peningkatan kegiatan seismik dan volkanik memicu peningkatan aktifitas gunung berapi. Indonesia yang berada di wilayah cincin api pasifik, menerima imbas besar terutama pulau Jawa.
Secara beruntun letusan gunung berapi menenggelamkan setengah dari pulau Jawa bagian barat.
Pulau Jawa hanya tersisa hamparan tanah gersang dari sisa-sisa luapan lumpur Lapindo dan debu vulkanik letusan gunung berapi.
Peradaban lama telah musnah, kehidupan baru pun tercipta.
Sludge City, sebuah kota yang berdiri diatas dataran tandus itu. Dimana air bersih dan oksigen menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Lord Zack memimpin Sludge City dengan memonopoli sumber alam yang menjadi sumber kehidupan penduduk Sludge City.
Sementara jauh dari pusat kota Slude City, terpisah oleh ratusan kilometer tanah gersang dan tandus, ada sebuah tempat tersembunyi di dasar lembah dari pegunungan Dieng.
Sangat kontras dengan keadaaan Sludge City, Lembah Dieng merupakan tempat dengan sumber air bersih dan oksigen yang melimpah, hutan dan pepohonan yang masih rimbun, membuat Lembah Dieng begitu hijau jika di lihat dari langit.
Struktur tanah yang berada di dasar lembah dan dikelilingi perbukitan dan bebatuan membuat lembah Dieng aman, sekaligus terisolasi dari dunia luar.
Anaxtra lahir dan tumbuh dewasa di lembah itu, hampir setiap sudut lembah tak pernah luput dari pijakan kakinya. Lembah itu terasa sempit baginya.
"Ada dunia seperti apa di balik dinding batu yang menjulang tinggi yang membatasi geraknya?"
Pikirnya setiap kali pandangannya terbentur pada tembok raksasa di depannya.
Dan petualangannya pun dimulai ketika suatu hari Anaxtra berhasil naik keluar dari dalam Tebing Dieng.
Baca
Chapter: Dalam PersembunyianSuara ledakan yang ditimbulkan oleh bom yang dilemparkan Toni menciptakan guncangan yang sangat dahsyat, getaran dan kerusakan yang ditimbulkan memicu sistem alarm di kediaman Albert. Tot! ... tot! … tot! Lampu menyala merah diiringi raungan sirine di ruangan laboratorium bawah tanah tempat Lilia dan Peter berada untuk menjaga Princess Sabrina. “Suara apa itu?” tanya Peter yang merasakan getaran diiringi suara alarm yang menggema. Lilia hanya menatap ke arah Peter seakan sama-sama mencari jawaban. “Pasti sesuatu telah terjadi di atas sana,” ucap Princess Sabrina yang tanpa sepengetahuan Peter dan Lilia sudah duduk di atas tempat tidurnya. “Sabrina?” ucap Peter dan Lilia bersama-sama karena terkejut melihat Princes Sabrina yang sudah siuman. Sabrina bangkit dan menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu, setelah melihat sebuah layar monitor yang berada di atas meja yang tak jauh dari tempat duduk Peter dan Lilia, Sabin
Terakhir Diperbarui: 2021-10-20
Chapter: Pertarungan AlbertSatu regu pasukan elit segera dikerahkan menuju kediaman Albert, regu yang beranggotakan 30 pasukan darat dan 10 pasukan udara dipimpin langsung oleh Hans. Dari ke-30 pasukan darat, Hans hanya membawa 20 orang untuk bersamanya, sementara 10 yang lain disiagakan diatas kendaraan masing-masing, sedangkan 10 pasukan udara tetap berjaga di atas untuk menjaga kemungkinan kaburnya dari atas.“Hai…ada apa ini?” tanya seorang pengawal yang berjaga di kediaman Albert.“Buka pintunya jika kalian ingin selamat,” ucap Hans dengan arogan.“Ini kediaman Tuan Albert, bagaimana mungkin Tuan Hans bisa seenaknya memberi perintah kepada kami?”Zaaaap!Sebuah tembakan laser langsung merobohkan penjaga itu. Sementara seorang penjaga lainnya tak bisa berbuat apa-apa dan hanya menuruti perintah Hans.“Cepat buka pintunya!”“Ba—baik, Tuan Hans.”Setelah pintu terbuka, Hans kembal
Terakhir Diperbarui: 2021-10-20
Chapter: Muslihat HansRuang kantor HansTubuh Evan ditarik secara paksa oleh dua orang pengawal yang membawanya menemui Hans. Setelah mereka sudah sampai di depan Hans, tubuh Evan didorong dengan hingga jatuh bersimpuh di kaki Hans. Hans sendiri hanya berdiri di tepi tembok kaca sambil menatap keluar memperhatikan suasana Kota Sludge City yang masih dipenuhi lalu-lalang para prajurit yang mencari keberadaan Anaxtra.“Kemana perginya Rudi dan Riris?” tanya Hans dengan dingin tanpa melihat ke arah Evan.“A—aku tidak tahu, Tuan!” jawab Evan dengan terbata, “Mereka membuatku tak sadarkan diri sebelum meninggalkanku dan membawa ayah serta Riris pergi?”“Siapa yang telah membawa mereka?”“Ju—Juan dan A—Anaxtra.”“Hmmmm! … Bocah asing itu, ternyata,” ucap Hans sambil berbalik menatap Juan.“Bagaimana dia bisa bersama Juan? Pantas s
Terakhir Diperbarui: 2021-10-19
Chapter: Pteropus VampyrusDug!Sebuah pukulan keras bersarang di perut Rudi."Katakan yang jelas Rudi? jangan berbelit-belit dan membuatku benar-benar marah!"Rudi berdiri terhuyung-huyung setelah mendapat pukulan dari Juan."Aku mengatakannya dengan jujur, Juan!" kilah Rudi."Benar, Juan! Ayahku sama sekali tidak bernohong," bela Riris sambil membantu Rudi berdiri."Lalu bagaimana kau bisa selamat dari senjata laser milik Hans?" tanya Anaxtra.Rudi mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal."Itu tidak ada hubungannya dengan Rhinoceros, aku hanya mengarang cerita agar Hans membiarkanku pergi berburu keluar Slude City untuk menemukan Rhinoceros.""Aku memang terkena senjata laser milik Hans yang mengandung racun CO yang bisa menggerogoti tubuhku secara perlahan-lahan, namun yang menyembuhkanku bukanlah karena aku memakan penawar yang terbuat dari cula Rhinoceros.""Aku sengaja membuat cerita kepada Hans bahwa aku telah menemukan obat yang bisa menangka
Terakhir Diperbarui: 2021-10-12
Chapter: Mengungkap KebohonganPesawat Juan segera meninggalkan kediaman Evan bersama Rudi dan Riris yang ikut di dalamnya.Meskipun keamanan Sludge City sedang ketat, bagi Juan untuk keluar dari Sludge City sangatlah mudah, terlebih Albert menginstruksikan anak buahnya untuk tidak mempersulit Juan. "Dimana kau terakhir menemukan Rhinoceros, Rudi?" tanya Juan begitu pesawat mereka sudah jauh meninggalkan Sludge City.Rudi tak segera menjawab."Jangan membuatku kehilangan kesabaran, Rudi!" hardik Anaxtra yang duduk di antara Rudi dan Riris."Cepat kau beri tahu Juan kemana kita harus pergi!".Rudi hanya menunduk."Juan, bisakah kau membawa pesawat ini ke sumber pengeboran Lapindo?" sela Riris."Apakah kau ingin main-main dengan kami?" tanya Juan sinis."Tentu saja, tidak." jawab Riris gugup. Namun pada saat bersamaan, pintu pesawat Juan di sisi dekat Riris terbuka, detik berikutnya Anaxtra mendorong tubuh Riris keluar, namun tangannya masih sempat memegang tangan Riris untuk menahan
Terakhir Diperbarui: 2021-10-12
Chapter: Kesaksian RudiRudi dan Riris yang sedang duduk di kursi tamu, terkejut melihat kejadian yang begitu cepat, mereka serempak berdiri sambil mata mereka menatap ke arah Anaxtra dan Juan yang telah berdiri tegak di depan mereka. “Anaxtra?” gumam Rudi, sementara Riris juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Anaxtra? Bagaimana kau bisa bersama Juan?” “Apakah kalian tidak suka melihatku?” ucap Anaxtra sambil berjalan mendekati Rudi melewati tubuh Evan yang masih jatuh terduduk di lantai. “Ma---ma---mau apa kalian?” tanya Rudi dengan terbata, tubuhnya menyurut ke belakang. “Aku rasa ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Rudi?” ucap Anaxtra. “Ada apa ini? Kenapa kalian begitu agresif?” ucap Riris pura-pura tidak tahu. Anaxtra mengernyitkan keningnya, “Ada apa? Harusnya aku yang bertanya kepada kalian, apa sebenarnya yang kalian rencanakan?” Pada saat Anaxtra terus berjalan mendekati Rudi, Evan yang berada di belakang An
Terakhir Diperbarui: 2021-10-06
Chapter: 51“Aku cuma ingin memastikan, apakah kalian anggota polisi yang sedang menyamar atau bukan.”Sakti sama sekali tak mengubah posisi duduknya. Dia bahkan terlihat tak acuh saat menghabiskan minumannya tanpa tergesa.“Bangsat! Jadi lu seorang intel?”Lelaki bertubuh kekar itu langsung mencengkeram baju Sakti dan berniat menariknya. Namun tangan Sakti mencengkeram tangannya dan meremas.“Kalau aku anggota intel, aku tak perlu membuang waktu jika ingin menangkapmu.”Lelaki itu mengernyit sambil menahan rasa sakit dari cengkeraman tangan Sakti.“Apa maksudmu?” tanyanya dengan suara tak segarang tadi.Sakti melepas cengkeramannya. “Duduk dan bicaralah dengan santai,” ujarnya.Lelaki itu lalu melepas cengkeraman di kerah baju Sakti dan duduk. Dia memberi isyarat pada rekannya untuk mendekat.“Kalau tebakanku tidak salah, kalian pasti anak buah Jason.” Sakti berkata sambil mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.“Bagaimana kau tahu?” tanya lelaki bertubuh besar itu.Sakti mengeluarkan asap
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: 50“Kau paling bisa memuaskan aku, Mega.”Sakti menyentuh bibir Mega yang sudah terbuka siap melahap sosis miliknya. Mulut Mega menyambar. Dia menggigit jari Sakti dan memainkannya dengan lidah.Sakti tertawa kecil. “Tapi jangan lakukan sekarang. Kalau Bagas datang lagi, urusannya bisa bahaya.”Sakti menarik tangannya lalu mengangkat tubuh Mega yang masih berjongkok. Dia juga melingkarkan selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.“Kau benar-benar tak ingin melakukannya lagi?” lirih Mega.“Masih banyak waktu,” bisik Sakti di telinga wanita itu. “Sekarang aku ada urusan di luar. Sebaiknya kau mandi dulu.” Sakti menaikkan ritsletingnya dan merapikan kemeja yang dikenakannya. Dia memutar tubuh dan bersiap untuk pergi.“Tapi hari ini aku harus kembali ke Jakarta.”Langkah Sakti langsung terhenti. Dia menoleh ke arah Mega yang masih berdiri di tempatnya.“Untuk apa? Kita bisa melewatkan beberapa malam di sini.”Mega menghela napas. “Aku harus mengurus perusahaanku. Selama ini yang menjalankan b
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 49“Bangun, Sakti! Ada bagas di luar.”Mega buru-buru menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang. Namun di atas tempat tidur, Sakti sudah tidak berada di sana. Mega langsung mengenyit.“Ke mana perginya anak itu?” gumamnya.Bersamaan dengan itu, pintu kamar dibuka paksa dari luar. Bagas yang memiliki kunci serep langsung mendorong dengan kasar hingga pintu membentur dinding dengan keras.“Mana laki-laki itu?” tanya Bagas dengan nada tinggi. Matanya jelalatan mencari sosok Sakti. Namun yang didapati hanya sosok Mega yang berdiri dengan selimut menutupi tubuhnya.“Apaan sih lu? Masuk kamar kayak maling saja!” bentak Mega.Jono yang sempat mengantar Bagas segera berbalik badan dan meninggalkan dua majikannya. Sementara Bagas menatap penuh curiga ke arah Mega.“Kau pasti semalam bercinta dengan pemuda itu, kan?” tanya Bagas dengan penuh selidik.“Apa pedulimu? Bukankah kau juga semalam tidur dengan wanita sialan itu?”“Tidak, Mega. Aku membawa wanita itu hanya untuk melak
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: 48“Apakah menurutmu aku ini sudah sangat tua?”Mega langsung membuka semua pakaiannya dan memamerkan dua gundukan menonjol di dadanya yang mengeras. Tatapan Sakti jatuh ke sana lalu turun ke lembah bermuda yang tertutup kabut pekat.“Buah persik itu semakin tua semakin matang,” ujar Sakti seraya meraih sepasang buah persik Mega. Dia meremas dengan lembut dengan tangan kirinya sementara tangan lainnya berkelana menembus segitiga bermuda.“Aaaah.” Mega melenguh sambil memejamkan matanya. Dia merasakan jari telunjuk Sakti langsung masuk ke dasar pusaran segitiga bermuda miliknya.“Hangat dan lembat,” bisik Sakti sebelum mendaratkan sebuah kecupan di leher Mega.Wanita itu menggelinjang. Tubuhnya kakinya sudah terlentang membuka kedua kakinya lebih lebar.“Apakah kau hanya ingin mengukur kedalamannya?” tanya Mega dengan napas yang mulai terengah.“Tidak hanya kedalaman, Mega. Tapi kerapatan sekaligus daya hisapnya.”“Kenapa kau belum mengeluarkan jangkar milikmu?” desak wanita itu.“Kadang-
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: 47“Membantu apa?” tanya Sakti sedikit gugup karena jarak antara mereka begitu dekat.“Kau pura-pura menjadi calon suamiku. Dengan demikian, aku bisa mengajukan pada hakim bahwa aku sudah tidak ingin melanjutkan pernikahanku dengan Bagas karena sudah memiliki calon suami lagi.”Sakti terdiam untuk beberapa saat. Namun pada saat yang sama dia melihat Bella dan Donny melangkah ke arahnya. Jika mereka melihatnya berada di tempat itu, rencananya untuk menjebak mereka mungkin akan terbaca. Dan hal itu bisa merusak semuanya.Sakti lalu berinisiatif untuk bersembunyi di balik Mega, dia memutar tubuhnya dan memelik Mega.“Maaf, Mega. Aku melakukan ini karena menghindari seseorang,” bisik Sakti.Mega sama sekali tak menolak. Matanya berkeliling mencari sosok yang dihindari oleh Sakti. Dan dia melihat Bella dan Donny yang sedang berjalan ke arah mereka.“Apa pasangan yang sedang berjalan ke sini yang kau maksud?”“Iya. Wanita itu dulunya istriku. Tapi dia berselingkuh dengan lelaki yang bersamanya
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: 46“Nyonya masih sering trauma dengan keadaan yang pernah dialaminya.”Sakti memutar tubuhnya dan menatap Jono lebih dalam.“Apakah berkaitan dengan vila ini?” tanyanya.Jono mengangguk. “Suami Nyonya Mega berselingkuh dan memasukkan wanita lain ke vila ini.” Tono berhenti sebentar untuk memastikan tidak ada Mega di sana.“Makanya beliau ingin menjual vila ini karena selalu mengingatkan pada masa lalunya. Namun karena belum ada yang membeli, vila ini akhirnya disewakan tanpa ada yang mengurus. Karena semua pekerja yang sebelumnya mengurus vila ini sudah dipecat karena dianggap bersekongkol dan membiarkan perselingkuhan suami Nyonya.”Sakti mengangguk mengerti. “Kau tenang saja. Aku bisa merasakan penderitaan Mega. Jadi ... aku rasa tak akan terganggu apa pun yang akan aku dengar nanti.”Jono akhirnya meninggalkan Sakti setelah menyerahkan kunci kamar. Setalah hari sudah benar-benar gelap dan Sakti baru selesai mandi, dia keluar dari kamarnya untuk melihat-lihat sekitar vila itu. Namun sa
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08