author-banner
Jagad
Jagad
Author

Jagadの小説

Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa

Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa

DewasaActionPetualanganLuguObsesifBeraniKekuatan SuperMelawan TakdirKutukan
Dirga, pria miskin yang dikenal sebagai perjaka tua, memiliki masalah kesehatan kulit dan bau badan tersandung hutang sejak lama, hidupnya sengsara karena semua orang menghina dan para perempuan menjauhi. Hidupnya berubah ketika bertemu seekor burung pipit ajaib yang memberinya kekuatan pemikat tingkat dewa.
読む
Chapter: Yang Terpilih
Berapa jam kemudian Dirga terbangun di ruangan berdinding batu yang gelap dan lembab, hanya ada setitik cahaya di ujung sana. Matanya menyipit mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang minim."Aku di mana?" tanya pria dengan badan penuh panu itu, ia berdiri melangkah menuju cahaya. Setiap ia melangkahkan kaki terdengar suara gemericik yang menggema seakan dia sedang berjalan di sungai yang dangkal."Apa aku sudah mati?" Dirga mencubit lengannya, ia masih hidup namun tak tahu tempat apa yang ia datangi sekarang. Terakhir yang dia ingat pergi ke hutan mencari kambing Mbah Kasidi yang tersesat. Semakin lama dia berjalan, ia semakin dekat dengan sumber cahaya redup itu. Seperti sebuah celah yang berukuran setinggi dua meter dan lebar hanya cukup untuk lewat badannya yang kurus. Dari arah belakang suara kepakan sayap membuat Dirga menoleh, burung pipit itu juga ada di sini. Mahluk kecil itu terbang rendah seolah memberi petunjuk bagi Dirga sampai ke sebuah ruangan menyerupai goa. Sssssh!
最終更新日: 2026-07-21
Chapter: Roda Nasib Yang Kempes
Tak ada orang yang tahan menjalani kehidupan dengan berhutang, begitu juga dengan Dirga. Hutang warisan ibunya itu menjadikan hidup Dirga terasa berat, tak enak makan dan tak pulas tidur. Pagi-pagi sekali ia harus bangun untuk mencari ikan di sungai, siang hari menggembalakan kambing, sore hari mencari rumput sedangkan malam hari dia harus berkeliaran di sawah mencari belut atau terkadang mencari bekicot yang banyak terdapat di pohon pisang. Hutang itu juga berkurang sedikit demi sedikit, namun masih banyak yang harus dia selesaikan seolah membereskan tumpukan sampah yang menggunung.Tujuh hari berlalu sejak kematian sang ibu, malam ke tujuh pun tak ada acara selamatan untuk mendiang ibunya. Bagi masyarakatnya di wilayah tempat Dirga tinggal, acara selamatan dianggap wajib. Jika tidak, maka ahli waris dianggap tidak berbakti. Dirga sudah puas mendengar semua cemoohan, bukan karena dia tidak mau tapi karena hasil kerjanya sebagian besar untuk membayar hutang dan sisanya hanya sekedar b
最終更新日: 2026-07-21
Chapter: Dianggap Pengemis
Perutnya terasa perih dan nyeri, bukan cuma karena kurang makan tapi juga akibat pukulan pemuda kampung tadi. Orang-orang melihat peristiwa pemukulan itu hanya dianggap candaan, sedangkan Dirga harus berdiri sendiri menuju ke dalam rumah sambil berjalan pincang. Air mata menetes pelan di sudut mata, bibirnya tersenyum getir merasakan semua penderitaan tersebut."Bu, anakmu ini memang tak berguna," ucap Dirga lirih, dia duduk di meja lapuk tempat biasanya sang ibu meletakkan lauk dan nasi. Dipandangi wajah ibunya dalam foto kecil berwarna hitam putih yang buram, sambil menangis sesenggukan.Sejak ibunya meninggal, tak ada lagi yang menyediakan makanan untuknya. Dia harus berusaha sendiri dengan cara menyual telur ayam atau bebek ke rumah-rumah warga dengan bayaran seikhlasnya. "Setidaknya uang dari Den Mas Karyo bisa aku gunakan untuk beli pakan ternak dan makan selama beberapa hari ke depan." Dirga membatin.Tiba-tiba dari arah jendela tampak burung kecil terbang rendah lalu hinggap,
最終更新日: 2026-07-20
Chapter: Sayembara Den Mas Karyo
Di balai desa, orang-orang berkumpul seperti biasanya. Balai desa biasanya menjadi pusat aktivitas para pamong dan warga, terkadang ada sosialisasi penting terkait pupuk ataupun program pemerintah lainnya yang harus disampaikan ke masyarakat. Namun pagi itu berbeda, sebuah mobil berwarna hitam berhenti lalu disusul dengan turunnya beberapa pria berbadan tegap dan berpakaian rapi. Warga yang melihat kedatangan mobil itu pun segera mendekat."Den Mas Karyo, ada apa ke desa ini? Tumben," sapa seorang warga begitu dari mobil yang sama muncul pria berusia 40an tahun yang berpakaian mewah dan elegan."Saya ada pengumuman penting, ayo semuanya ikut ke dalam. Biar nanti saya sampaikan pada Pak lurah," jawab pria kaya bernama Mas Karyo, suaranya tenang dan berwibawa. Warga yang tadinya berkerumun langsung memberi jalan menuju pintu utama balai desa. Mereka masih berkerumun di luar, tampaknya Mas Karyo sedang ngobrol penting di dalam dengan Pak Bowo si kepala desa. Sementara sang majikan ber
最終更新日: 2026-07-20
Chapter: Peri Cantik Berwujud Burung
Baru sebentar terpejam, suara langkah kaki beberapa orang terdengar dari jalanan yang berada tepat di samping kamar. Karena penasaran dengan kemunculan orang-orang itu, Dirga pun membuka jendela. Yang terlihat beberapa pria memakai celana loreng dan senapan angin sambil membawa senter. Mereka sibuk mengamati bagian atas pepohonan yang rimbun seperti sedang mencari sesuatu."Bapak-bapak, cari apa?" tanya Dirga sambil mengeluarkan kepala dari jendela."Kamu lihat burung pipit di sekitar sini?" salah satu dari mereka balik bertanya."Oh iya, banyak, Pak. Kalau sore burung pipit suka hinggap di pohon nangka, yang di sebelah sana itu!" dengan polos Dirga menunjuk ke arah pohon yang terletak di seberang rumah."Bukan burung kaya gitu, tapi burung pipit langka dengan paruh berwarna emas. Harganya mahal, sebab daging dan telurnya bisa dijadikan obat," jelas seseorang."Jika kamu tahu, maka kasih tahu kami ya. Akan ada imbalan besar," lanjut yang lain."Hah? Yang benar? Besok aku bantu cari, P
最終更新日: 2026-07-20
Chapter: Rasa Kehilangan
Pemakaman sederhana akan dilangsungkan hari itu juga. Setelah jenazah Sukiyem dimandikan dan hendak dikafani, tiba-tiba Pak Rosyid selaku pemuka agama menghampiri Dirga. Orang Jawa pada jaman dahulu memiliki tradisi menyimpan kain kafan di lemari, dengan tujuan agar saat mati ia masih punya bekal dan tidak merepotkan orang. Warga menggeledah seisi rumah, namun mereka hanya menemukan enam lembar kain kafan di lemari usang yang rapuh milik Sukiyem. "Kain kafan ibumu kurang, apakah masih ada uang untuk kain kafan tambahan?" tanya Pak Rosyid, Dirga menggeleng. Dia berpikir sejenak, harusnya ada tujuh lembar kain kafan tapi ibunya dulu pernah mengatakan jika satu lembar lagi diminta tetangga saat darurat."Pakai kain jarik saja, Pak. Saya sama sekali enggak punya uang untuk beli kain kafan," balas Dirga dengan senyum yang dipaksakan."Keterlaluan kamu ini, Dirga. Ibumu sudah mati, tap beli kain kafan untuk bekal terakhir saja enggak mampu!" ejek seorang bapak-bapak yang mendengar percakap
最終更新日: 2026-07-20
Gagal Menikah Akibat Guna-guna

Gagal Menikah Akibat Guna-guna

MisteriCantikCinta TerlarangHarem
Bagaimana jika kecantikan yang diidamkan banyak perempuan justru menjadi petaka? Itulah yang dialami Safitri, kembang desa yang hidupnya menderita bahkan dijauhi banyak pria. Bukan karena ia tak lagi cantik, tapi karena dia mengalami gangguan kejiwaan sejak bekerja pada seorang juragan kaya. Bisa karena ia dijadikan tumbal atau karena guna-guna.
読む
Chapter: Bab 28
Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa
最終更新日: 2026-07-08
Chapter: Bab 27
Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"
最終更新日: 2026-07-08
Chapter: Bab 26
"Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
最終更新日: 2026-06-20
Chapter: Bab 25
Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
最終更新日: 2026-06-12
Chapter: Bab. 24
"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
最終更新日: 2026-06-07
Chapter: Bab. 23
Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
最終更新日: 2026-06-06
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status