Chapter: Bagian 159Suasana malam di Oakhaven semakin pekat. Kedai herbal pak Hans sudah tutup. Di tengah remang lampu minyak di ruang tamu sederhana, pak Hans, Bu Maria, Rosalynd dan Lily duduk melingkar di atas tikar pandan. Rosalynd menundukkan kepalanya. Tangannya yang berusaha mengusap jari-jarinya sendiri. Rasa bersalah sangat menyesakkan dadanya. "Kakek, Bu Maria. Maafkan saya. Pengembara tadi siang yang mengagetkan kalian, jelas-jelas mencari saya. Mungkin sebaiknya malam ini juga kami akan pergi dari sini. Daripada kami menyusahkan kalian semua. Saya takut kalian ikut terseret kasus saya. Kakek Hans yang sedang menyesap teh hangatnya mendadak berhenti. Pria tua itu menatap Rosalynd dan menghembuskan napas panjang. "Mau kemana, Nak? Di luar sana malam-malam begini di tengah ancaman para pengembara tadi?" selidik pak Hans dengan suara pelan namun tegas. "Tapi, Kakek—" Belum sempat Rosalynd selesai berbicara, bu Maria lebih dulu memotong pembicaraan. "Rosa. Kami semua tidak peduli dir
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bagian 158Jantung Rosalynd berdegup kencang di balik pakaian kusamnya. Tangan cantiknya yang sedang memegang apel segar mendadak kaku. Aura yang dipancarkan oleh tiga penunggang kuda di gerbang desa terlalu familiar. Aura dingin, terlatih dan mematikan milik prajurit intelejen yang kerap ia temui di Istana Shanza ataupun Blackwood. 'Ya ampun, mereka sudah sampai di sini,' batin Rosalynd panik. Namun, ketakutan itu tak membuatnya mundur. Bertahun tahun bertahan hidup di tengah intrik dua klan raksasa yang mengasah insting bertahan hidupnya hingga tajam. Tanpa membuang waktu, Rosalynd berbalik badan dan membawa keranjang apelnya masuk kembali ke kedai herbal pak Hans melalui pintu samping. "Lily, ada pengawal datang. Aku tidak tau dia dari Shanza atau Blackwood. Cepat, sekarang ambilkan bubuk jelaga dan sisa tumbukan kunyit di belakang tungku!" bisik Rosalynd cepat sambil menatap Lily yang baru saja keluar dari kamar. Lily yang paham langsung mengambil mangkuk berisi jelaga hitam dan bubu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bagian 157Malam makin larut di Oakhaven. Di dalam kamar kayu kecil beratap jerami, cahaya lilin kecil memantulkan warna keemasan yang hangat pada dinding-dinding papan kayu. Rosalynd duduk di tepi ranjangnya, menatap beberapa stel pakaian dan kain buatan tangan warga dan apel segar yang tertata rapi di atas meja kayu. Di sebelahnya, mahkota bunga liar buatan Risa dan anak-anak desa meruakkan aroma wangi alami yang menenangkan ruang kecil itu. Lily melangkah mendekat sambil membawa mangkuk berisi minyak herbal hangat. Dengan pelan, ia mengoleskan minyak itu ke lengan dan bahu Rosalynd yang cukup dingin akibat terlalu lama bermain air di sungai tadi sore. "Dulu, waktu di istana Shanza atau istana Utama Blackwood, kita punya segalanya. Lemari penuh dengan gaun sutra, makanan yang mewah dan berlimpah. Namun, rasanya dingin dan mencekam," bisik Lily pelan dengan wajah haru. "Tapi disini, kita cuma punya baju bekas buatan warga dan apel dari kebun, tapi rasanya hangat banget." Rosalynd tersenyum
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bagian 156Matahari bersinar menerangi pelataran di samping kedai herbal pak Hans hangat. Di atas tanah gembur yang cukup rata, empat orang anak desa Oakhaven duduk bersila melingkar. Di tengah-tengah mereka, Rosalynd berjongkok dengan sebatang ranting kayu panjang di tangan kanannya. "Nah, sekarang kalian semua lihat kakak ya. Tarik garis lurus dari atas ke bawah, lalu buat dua lengkungan di sampingnya." Kata Rosalynd lembut dan pelan sambil menggoreskan rantingnya di atas tanah dan membentuk huruf "B" yang rapi. "Nah, coba giliran mu, Boni." Anak perempuan usia tujuh tahun bernama Boni itu menerima ranting kayu dari tangan kanannya Rosalynd dengan kencang. Ia mencoba meniru goresan itu, namun tangannya justru gemetar dan alhasil membuat garis meliuk-liuk tak beraturan. "Argh! Kak Rosa, kenapa susah sekali!" keluh Boni sambil cemberut dan melempar rantingnya ke tanah. "Tanganku kek kaku banget gitu lho kak." Keluhnya. Rosalynd hanya bisa terkekeh pelan. Tanpa ragu, ia mendekati Boni, me
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bagian 155Kehidupan di Oakhaven berjalan sesuai dengan keinginan Rosalynd. Nyaman tanpa beban. Meskipun Rosalynd sudah mulai terbiasa membantu pak Hans memilah-milah daun herbal di kedai, adaptasinya menjadi rakyat biasa masih menyimpan beberapa tantangan kecil yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Persis seperti pagi itu, ibu Maria, seorang penjual roti tua di sebelah kedai tuan Hans mengajak Rosalynd dan Lily bergabung untuk makan siang bersama di atas tikar pandan yang tertata rapi di lantai kayu depan kedai. Di atas tikar, sudah tersaji sup ikan hangat, nasi jagung dan sambal. "Ayo makan, Nak Rosa! Jangan malu-malu dengan kami. Kami senang dengan kedatangan mu disini," seru Ibu Maria ramah sambil menyodorkan piring. Rosalynd duduk anggun di atas tikar pandan dengan posisi yang cukup tegap dan kaku. Hal ini mungkin masih terbawa dengan suasana bangsawan yang sudah melekat di dirinya. Dua netranya menatap aneh ke piring tanah liat. Tak ada sendok perak, garpu porselen apalagi serbet
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: Bagian 154Sinar matahari pagi perlahan menghangatkan bumi. Cahaya berwarna emasnya menembus celah-celah jendela kayu sebuah kediaman kecil di pinggir permukiman. Suara cicitan burung dan riuh warga desa yang memulai aktivitas menggantikan deru mesin tempur dan dentuman ledakan malam sebelumnya. Rosalynd terbangun dari tidur lelapnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia terbangun dengan kondisi nyaman dan tenang tanpa racun penekan saraf dari Gavin dan tanpa rasa tertekan di bawah bayang-bayang dominasi oleh Kenneth. Di ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter, Rosalynd beranjak dari ranjang kapuknya. Ia melangkah pelan ke arah jendela, membuka daun kayu tua dan menghirup udara pagi yang dingin dan segar. Kondisi dadanya saat ini begitu lapang. "Pagi, N—maksud saya, Rosa," sapa Lily kikuk serasa membawa teko tanah liat berisi air hangat yang baru saja direbus di tungku kecil. Rosalynd menyunggingkan senyum manisnya—sebuah senyum alami yang tak lagi dibungkus dengan akting
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29