Chapter: 13. Situasi yang KacauBara terlihat bergerak maju untuk menahan laki-laki itu, tapi terlambat. Laki-laki itu sudah lebih dulu maju, dia berjalan cepat ingin menyerang tapi tidak langsung ke arah Jisoo.Melainkan ke arahku.Aku yang tidak sempat bersiap terdorong dengan mudah. Terpental mundur beberapa langkah hingga pinggangku membentur ujung meja bar di belakangku dengan keras, rasa nyeri langsung menjalar hingga ubun-ubun membuatku mengerang tertahan sambil mencengkram tepi meja.Di saat semua lengah, tangan laki-laki itu terangkat ke udara menuju Jisoo.PLAK!Suara tamparan itu begitu keras hingga membelah kebisingan bar, Jisoo langsung tersungkur ke lantai dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.Saat itu juga amarah Bara meledakDia langsung melancarkan pukulan pada laki-laki itu, telak mengenai rahangnya. Tubuh laki-laki itu terhuyung menghantam meja, gelas-gelas berderak jatuh dan suasana bar menjadi kacau.Tapi Bara tidak berhenti, dia terus memberikan pukulan pada orang di hadapannya dengan
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: 12. Insiden di BarAku langsung menegakkan punggung setelah mendengar kabar itu, pikiran yang tadinya kacau harus ku kesampingkan sementara.“Aku lagi ketahan sama mentor dan nggak bisa pergi sekarang. Mia, bisa tolong jemput Jisoo nggak? Aku nggak enak minta tolong tapi aku nggak ada pilihan lain sekarang.” Suara Jiyeon bergetar, terdengar sangat khawatir pada kembarannya itu.“Tenang, aku yang akan pergi jemput Jisoo,” ucapku berusaha menenangkan. “Kamu tau dia ada di mana?”“Terakhir dia kabarin aku sih di bar, aku kirimin alamatnya ya.”Satu pesan masuk di kolom chat, tempat asing yang belum pernah ku datangi.“Oke, aku udah terima alamatnya,” kataku sambil bergerak mengambil tas di atas meja dapur.“Makasih banget, Mia. Hati-hati ya.”Setelah menutup telepon aku mengecek alamat itu sekali lagi, berjalan tergesa-gesa menuju pintu sampai tidak menyadari ada yang hendak masuk dari luar dan kami hampir bertabrakan.“Mia?”Bara berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas dan kemeja kerja dengan dua ka
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: 11. Perdebatan di Telepon“Apa?” Aku hampir menjatuhkan cangkir di tanganku.“Pulang! Balik ke Jakarta, nggak perlu nunggu dua minggu,” ucap Seno dengan nada yakin seakan sudah memikirkannya dengan matang sebelum menelpon.“Mas, kita udah bikin kesepakatan,” jawabku sambil mencoba tetap tenang. “Kamu sendiri yang kasih aku izin pergi dua minggu.”“Aku terpaksa setuju!” Pengakuan Seno membuat alisku mengernyit.“Terpaksa?”“Iya! kemarin bukan aku yang kasih izin kamu stay disana, setelah tahu kamu kabur ke luar negeri tanpa ngasih kabar aku mau langsung kirim orang buat jemput kamu, tapi ibu ngelarang. Ibu yang nyuruh aku kasih kamu izin.”Kata-katanya membuatku tidak terkejut sama sekali, pantas saja dia tidak keras kepala kemarin. Karena Seno selalu menurut apapun kemauan ibunya.“Intinya sekarang aku mau kamu pulang! Masalah ibu biar aku urus nanti.” Nada suara itu final, jika di dengar oleh Mia yang dulu dia akan langsung menunduk dan menurut.Tapi, Mia yang dulu sudah mati.“Nggak! Aku udah terlanjur di si
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: 10. Pujian Darinya“Mia! Temenin aku cari baju buat kencan buta nanti malam dong, please!” Dengan mata berbinar Jisoo memohon sambil menggenggam kedua tanganku.“Jiyeon lagi sibuk konsul sama mentornya buat tugas akhir, dan aku nggak mau pergi sendirian,” bujuknya.“Iya tuh,” timpal Sam, “Terakhir kali pergi sendirian dia malah tersesat dan bikin satu shared house panik, padahal udah lama tinggal di Lisbon.”“DIEM SAM!”Aku tertawa kecil. “Oke, aku temenin.”Butik yang dipilih Jisoo berjarak dua puluh menit dari shared house, berada di jalan kecil dengan interior minimalis dan rak-rak baju yang tertata rapi.Di dalamnya tidak hanya menjual baju, tapi juga ada salon kecil di pojoknya yang cukup ramai.“Gimana kalo yang ini,” kataku sambil menyodorkan baju hijau emerald pada Jisoo.“Terlalu formal buat kencan pertama, Mia. Seleramu tinggi banget, orang kaya ya?” ucapnya dengan nada bercanda.Aku hanya bisa diam karena perkataannya tidak salah, pada kenyataannya aku memang istri konglomerat Seno Handoko.N
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: 9. Debaran PertamaAku turun ke ruang tengah jam delapan pagi, masih dengan pikiran yang belum sepenuhnya lepas dari pikiran-pikiran yang mengganggu fokus.Suasananya ramai khas penghuni shared house, Isabel dan Sam duduk besisian sedangkan Jisoo berada di tengah mereka seperti seseorang yang sedang menghadapi interogasi.“Jadi kenapa kamu memutuskan kencan buta? Udah putus asa banget, kah?” Isabel tersenyum jahil ke arah Jisoo.“Bukan urusan kamu. Please stop nanya!” Jisoo terlihat kesal, tapi malah membuat duo itu makin semangat.“Eh, tapi serius deh kencan buta itu kayak judi. Bisa dapet jodoh impian, tapi bisa juga dapet drama horor,” goda Sam.“Makasih banget motivasinya, Sam.” Jisoo hampir melempar sendok padanya.“Jangan berlebihan deh, Sam.” Isabel membela, kali ini memihak Jisoo.Sam mengangkat bahu. “Aku cuma realistis.”Aku tersenyum kecil mendengar keributan itu sambil mengambil tempat duduk di kursi kosong.“Pagi, Mia,” sapa Bara dari arah dapur, dia berdiri di depan kompor dengan apron luc
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: 8. Berteman Sekali Lagi“Kenapa tanya begitu?” tanyaku akhirnya sambil berusaha mengendalikan ekspresi.“Nggak papa, cuma nanya iseng,” jawab Bara, aku melepaskan pegangannya pada lenganku.“Aku istri Seno Handoko yang kamu sendiri mungkin tau bagaimana harmonisnya hubungan kami, bahkan headline tentangku dan Seno sering muncul di berita.” Aku berkata dengan nada tegas agar meyakinkan.“Jadi nggak ada apapun yang terjadi, aku kesini murni karena cuma mau jalan-jalan.”Dia mengangguk mendengar penjelasanku.“Baiklah kalau gitu,” ucapnya sambil mensejajarkan langkahnya denganku yang mulai berjalan menuju shared house.Aku mengusap pelan dadaku agar berhenti gugup, Bara tidak boleh tau alasanku sebenarnya. Karena meski dulu kami begitu dekat, rasanya sulit bagiku untuk langsung percaya padanya begitu saja, apalagi sekarang dia sudah banyak berubah.“Mia, aku punya sesuatu.” Bara mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.Sebungkus coklat kecil.“Buat kamu.”Aku menatapnya bingung.“Kamu udah nggak suka coklat
Last Updated: 2026-06-27