Chapter: Bab 10Hingga Nadel selesai fisioterapi, sosok Noval tak juga muncul. Chandani beberapa kali melihat ke arah pintu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Sesi fisioterapi telah selesai, Chandani mengambil tasnya dan berniat pulang. Bude Ita menggendong Nadel dan meletakkan di stroller. “Hai cantik, aku pulang dulu ya.” Chandani mengusap pelan kepala Nadel. Nadel membalas dengan tersenyum riang. “Ketemu lagi besok sabtu ya cantikku.”“Mau pulang sekarang?”Chandani terkejut mendengar suara Noval. Dia melihat ke arah sumber suara. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tengah berdiri di dekat pintu sambil tersenyum. Laki-laki itu mendekat, tangannya merapikan lengan seragam kerja Chandani yang tampak kusut.“Hai pak Noval.” sapa Chandani dengan canggung. Sedetik kemudian entah kenapa tiba-tiba dia melambaikan tangan.Lambaian tangan Chandani dibalas oleh senyuman Noval. “Kamu mau pulang sekarang?”“Iya pak Noval, sudah sore.”“Mau saya antar?”Chandani terdiam, apa maksud dengan mengantarnya pula
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 9Pasien di klinik hari ini cukup ramai. Chandani, Cahya dan Rika sampai kelelahan. Chandani pergi ke dapur untuk meminum segelas air putih. Dia menghela napas panjang. Mulutnya tengah mengunyah roti coklat saat sebuah notifikasi pesan masuk ke handphonenya. Pak Noval :[Sudah makan siang?] Chandani terkejut membaca pesan tersebut. Noval tiba-tiba menanyakan dia sudah makan apa belum. Apakah Noval salah kirim? Sepertinya tidak. Satu pesan kembali masuk ke handphonenya. Pak Noval : [Mau makan nasi rames. Tadi Zaidan beli kebanyakan. Masih sisa tiga. Kalau mau saya antar ke klinik kamu.]Chandani berpikir sejenak sebelum membalas pesan tersebut. Chandani :[Boleh pak Noval. Saya minta ojek online buat ambil ya?] Pak Noval : [Tidak perlu. Saya mau keluar kok. Sekalian aja, saya antar] Pak Noval :[Saya berangkat ke klinik sekarang.]Noval segera berlari mengambil jaketnya. Dia merapikan rambutnya sebelum pergi. Lagi-lagi dia pakai alasan - beli kebanyakan, hanya untuk menemui Chandani.
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: bab 8Chandani melihat hujan yang sudah reda. Sudah saatnya pulang. Malam ini, dia sudah terlalu banyak merepotkan Noval. Tidur adalah satu-satunya hal yang ingin dia lakukan saat ini. Saat mencoba mengambil kunci mobil dari dalam tas, Noval tiba-tiba memegang tangan Chandani. "Saya antar pulang ya?" Chandani belum menjawab. "Kamu lagi sedih, kamu juga habis nangis lama sekali. Saya khawatir kalau kamu nyetir sendiri. Mobilnya taruh saja di sini. Besok pagi kamu ambil.”"Kenapa saya malah terus-terusan merepotkan pak Noval?" Chandani menatap lekat-lekat laki-laki yang ada di depannya. "Tidak merepotkan sama sekali. Ayo pulang." Noval menggandeng tangan Chandani. Mengajak gadis itu keluar dari kantor. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Dia juga membantu Chandani memakai sabuk pengaman. Sepanjang jalan mereka berdua terdiam. Tidak ada percakapan yang berarti. Hanya suara musik yang terdengar. Chandani memilih untuk melihat pemandangan kota Jogja dari jendela mobil.“Sebentar y
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 7Chandani mengikuti Noval dari belakang. Dapur kantor Noval penuh dengan makanan ringan. Ada berbagai macam rasa mie instan. Mata Chandani tertuju pada rak susun tiga yang berada di pojok ruangan. Ada obat-obatan dan pembalut wanita. "Karyawan saya ada yang perempuan juga." Noval seperti tahu isi pikiran Chandani. "Jaga-jaga kalau mereka tiba-tiba menstruasi saat kerja. Jadi saya sediakan pembalut."“Ah..” Chandani menganggukkan kepala - paham.Tidak banyak owner yang akan berpikiran seperti Noval. Dan itu membuat Chandani merasa takjub. Bahkan dirinya yang perempuan pun tidak pernah berpikir menyediakan pembalut untuk karyawannya di klinik. "Menstruasi seharusnya bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. Saya selalu bilang ke mereka jangan sungkan untuk minta cuti karena nyeri menstruasi atau ambil pembalut di sini.""Wah, pak Noval keren sekali." Chandani mengacungkan kedua jempolnya. “Kamu mau mie kuah atau mie goreng?”“Mie kuah saja pak.”Noval menuang air panas ke dalam cup mie.
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 6Chandani menepikan mobilnya di pinggir jalan. Air matanya terus menetes. Sore ini tangisnya meledak dan tidak bisa dikendalikan. Bahkan cuaca Jogja hari ini seperti mendukung suasana hatinya yang muram. Diantara takdir Tuhan, kenapa Tuhan harus mempertemukan dirinya lagi dengan Duna. Setelah tiga tahun Chandani berusaha untuk melupakan laki-laki itu. Setelah perjuangan terbebas dari rasa sakit selama tiga tahun. Setelah hatinya mulai tertata kembali. Tapi semuanya runtuh hanya karena sekali pertemuan. Hari itu, hubungan yang terbangun selama sembilan tahun akhirnya selesai begitu saja. Chandani memilih untuk pulang ke Indonesia. Tidak ada harapan lagi untuk bertahan lebih lama di sana. Dia telah mengubur impian-impian besarnya di Australia.“Sialan! ” Chandani mengutuki dirinya sendiri yang masih menangis. “Stop, stop, stop berhenti menangis, Chandani.”Semakin dia menahan tangisnya agar tidak keluar, semakin deras air matanya keluar. Chandani memukuli dadanya yang terasa sesak. B
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 5“Jadi gimana pak duda satu itu?” Cahya mendekatkan dirinya ke Chandani yang tengah membereskan kabel TENS. Chandani masih sibuk merapikan kabel TENS yang berserakan. “Gimana apanya?”Cahya mendekat. “Wajahnya? Kata Rika ganteng.”“Iya ganteng terus tinggi.” jawab Chandani seadanya. “Terus-terus, setelah nganterin kamu ke bengkel sepedah kalian ngapain?” Cahya terlihat mengekor Chandani. Mengikuti ke manapun langkah gadis itu.“Dia beliin aku bubur ayam. Ternyata enak loh bubur ayam yang dekat bundaran itu. Porsinya banyak.”“Beliin kamu bubur ayam?” Cahya menutup mulutnya - terkejut. Chandani menganggukkan kepala dua kali. “Kalian baru ketemu sekali tapi kok udah dekat.”“Dekat gimana?” Chandani duduk di kursi pendaftaran. Merapikan rekam medis pasiennya.Cahya mendorong kursi mendekat. “Setelah kamu putus sama Duna, kamu kan selalu membatasi diri sama lawan jenis.”Cahya benar, setelah putus dari Duna, Chandani selalu menghindar dari lawan jenis. Setiap kali ada yang mengajaknya
Last Updated: 2026-07-10