author-banner
Galaxybimasakti
Galaxybimasakti
Author

Novels by Galaxybimasakti

Tergoda Pesona Ibu Mertua

Tergoda Pesona Ibu Mertua

Raka (27) baru menikahi Tiara, wanita yang ia cintai. Saat Tiara dinas ke luar kota, Raka tinggal di rumah mertuanya untuk sementara. Di sana, ia mulai merasakan ketertarikan tak terduga pada Mama Siska, ibu tiri Tiara yang mempesona di usianya yang ke-42. Awalnya, hanya perhatian wajar seorang mertua, tetapi perlahan, tatapan, senyuman, dan sentuhan kecil mulai menggoyahkan batas. Apakah ini sekadar permainan seorang wanita kesepian, atau ada sesuatu yang lebih berbahaya di baliknya?
Read
Chapter: Bab 443. SELESAI (end)
Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, kami semua kelurga Dupont akan berlibur ke Swiss. Kami sudah mempersiapkan semuanya, kami berjalan menuju bandara. Nayla tampak terlihat bahagia, aku senang melihatnya tersenyum dan ceria seperti dulu.Setelah beberapa kali transit, akhirnya kami tiba di Swiss. Dinginnya udara Alpen menyentuh wajahku, namun hangat yang menjalar di hatiku jauh lebih kuat. Aku berdiri di balkon sebuah chalet mewah di kawasan Zermatt, Swiss.Di depanku, Gunung Matterhorn berdiri kokoh dengan puncak bersalju yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi. Ini adalah destinasi impian Nayla, dan hari ini, aku mewujudkannya sebagai hadiah atas segala ketegaran yang telah ia tunjukkan."Papa! Lihat! Louis lucu sekali pakai baju astronot salju!" teriak Nayla dari halaman bawah yang tertutup salju putih bersih.Aku menunduk dan tertawa. Di bawah sana, Nayla sedang membantu Louis yang kini berusia hampir satu tahun untuk berdiri di atas salju. Louis tampak bulat dengan baju musim
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 442. Perjamuan Cinta dan Tahta
Malam ini, kediaman baruku di kawasan elit Menteng berubah menjadi pusat perhatian Jakarta. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula utama memantulkan kemilau kemewahan yang tak tertandingi.Ribuan bunga lili putih dan mawar merah segar diimpor langsung dari Belanda, menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan aroma wangi yang menenangkan sekaligus elegan.Aku berdiri di dekat tangga besar, mengenakan setelan jas custom-made dari penjahit terbaik di Paris. Di sampingku, Siska tampak sangat memukau dengan gaun malam berwarna champagne yang senada dengan dasiku.Ia menggendong Louis yang tampak menggemaskan dengan tuksedo mungilnya. Sementara itu, Nayla dan Lila berada di ruang atas, bersiap untuk momen yang akan mengubah hidup mereka selamanya.Malam ini bukan sekadar acara lamaran biasa. Ini adalah pernyataan kepada dunia bahwa keluarga Dupont telah kembali, lebih kuat dan lebih solid dari sebelumnya."Raka, lihat siapa yang datang," bisik Siska sambil menyenggol le
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: POV Raka
Aku berdiri di balkon lantai dua rumah baruku, menghirup dalam-dalam udara pagi Jakarta yang entah mengapa terasa jauh lebih segar dari biasanya. Di pelukanku, Louis, putra kecilku, menggeliat pelan dalam tidurnya. Berat tubuhnya yang hangat di dadaku adalah jangkar yang membuatku tetap membumi, pengingat paling nyata bahwa badai dahsyat itu benar-benar telah berlalu. Melihat wajah tenang Louis, ingatanku tiba-tiba melayang jauh ke belakang. Sangat jauh, ke masa-masa di mana kata "bahagia" terasa seperti kemewahan yang mustahil kuraih. Aku masih ingat dinginnya lantai panti asuhan tempatku tumbuh. Aku adalah bocah tanpa nama belakang, tanpa asal-usul, yang hanya punya tekad untuk bertahan hidup. Aku berjuang sendiri, bekerja serabutan demi membayar biaya sekolah, hingga akhirnya aku bisa menggenggam ijazah sarjana. Masa-masa awal bekerja di kantor desain iklan terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan, meski saat itu gajiku hanya cukup untuk makan dan membayar kos yang sempit. Di ka
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 440. Berkahir bahagia
Nayla dan Lila kini berada dalam kondisi koma medis yang sengaja dilakukan untuk menyelamatkan otak mereka dari kerusakan lebih lanjut. Tom dan Liam dipisahkan dan dimasukkan ke dalam ruang sterilisasi kimia."Semuanya sudah berakhir, Bu," bisik Henri pada istrinya yang menangis di sampingnya. "Kita mungkin bisa menyelamatkan tubuh mereka, tapi kita telah kehilangan jiwa mereka selamanya."Lyon yang dingin tidak memberikan kehangatan bagi keluarga yang hancur ini. Hanya ada suara mesin medis yang berbunyi teratur, dan tangisan bayi prematur yang baru saja lahir dari rahim Siska.Waktu seolah melambat di Château de la Guérison. Musim dingin yang keras perlahan-lahan berganti menjadi musim semi yang hangat, membawa harapan baru bagi para penghuninya. Berbulan-bulan setelah insiden kelam yang mengguncang fondasi keluarga Dupont, mukjizat medis yang didanai oleh kekayaan dan cinta Mr. Henri akhirnya membuahkan hasil.Nayla dan Lila, dua jiwa yang sempat terperangkap dalam badai hormonal d
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 439. Gairah di Tengah Pemulihan
Keluarga Dupont kini benar-benar sedang melakukan eksodus besar-besaran. Mereka meninggalkan Jakarta, kota yang telah memberikan kekayaan sekaligus kehancuran bagi mental mereka. Di atas ketinggian 35.000 kaki, Mr. Henri menatap ke luar jendela pesawat, melihat kegelapan malam.Ia sadar, meski mereka bisa melarikan diri dari Jakarta, rahasia tentang apa yang telah terjadi tentang hubungan intim yang terlarang, penularan nafsu yang gila, dan kehormatan yang tercoreng akan selalu mengikuti mereka seperti bayangan yang tak pernah hilang."Kesembuhan membutuhkan pengorbanan," bisik Henri pelan, menutup matanya dan bersiap menghadapi pertempuran medis terakhir di Lyon.Pesawat jet medis keluarga Dupont membelah awan kelabu di atas langit Prancis Timur, mendarat dengan keheningan yang mencekam di bandara privat dekat Lyon. Suasana di sini sangat berbeda dengan Jakarta yang panas dan bising.Udara musim dingin yang menusuk tulang menyambut rombongan "pasien" kelas atas ini. Mr. Henri turun p
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 438. Gairah tak tahan
Suasana di lantai dasar apartemen Dupont berubah menjadi pangkalan militer medis. Tiga unit jet ambulans telah disiagakan di bandara, sementara iring-iringan mobil van medis berjejer di area parkir bawah tanah yang telah dikosongkan.Mr. Henri berdiri di ruang pantau, mengawasi setiap pergerakan melalui layar CCTV. Wajahnya yang kaku menunjukkan bahwa ia tidak akan mentoleransi kegagalan sekecil apa pun."Beni, pastikan semua rute menuju bandara telah dibersihkan oleh tim intelijen. Aku tidak ingin ada satu pun kamera jurnalis atau warga yang menangkap momen kepindahan ini," perintah Henri dingin."Siap, Monsieur. Semua sudah terkendali," jawab Beni.Namun, di tengah keseriusan itu, Mr. Henri tahu bahwa pengobatan "cuci darah" hormonal yang diberikan kepada para pria belum sepenuhnya menghapus sisa-sisa gairah yang telah mendarah daging.Justru, sebelum obat-obatan penetralisir mencapai puncaknya, terjadi lonjakan gairah terakhir yang sering disebut oleh para dokter sebagai the final
Last Updated: 2026-01-03
Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya

Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya

Ayahku sekarat, tapi ibu tiriku malah bersenang-senang dengan sopir kami setelah berhasil menguasai harta keluargaku. Sekarang, aku baru berpikir untuk berencana membalasnya, tapi aku tidak menyangka jika dia malah menjeratku dalam fantasi gilanya!
Read
Chapter: Bab 266. Permainan panas dan liar
Aku membuka mataku, menatap lurus ke arah Ayah dan Tante Rina di depanku. Tante Rina terlihat begitu sangat bersemangat dan agresif menikmati senjata Ayah dengan mulutnya.Ayah sendiri tampak memejamkan matanya kenikmatan, kedua tangan kasarnya menjambak rambut Tante Rina, menarik kepalanya maju mundur agar Tante Rina bisa lebih dalam lagi menghisap senjatanya.Melihat pemandangan di depan mata itu, gairahku justru semakin terbakar hebat. Menyaksikan ayah kandungku sendiri sedang bercinta secara eksplisit di depanku membuat saraf kepalaku meledak. Apa aku sudah tidak waras? Kenapa aku jadi seperti ini? Awalnya aku merasa sangat jijik dengan lingkaran ini, tapi justru sekarang aku merasakannya sebagai sebuah sensasi baru yang lebih seru dan menantang.Kami tidak membuang waktu lebih lama lagi untuk sesi pemanasan mulut ini. Aku merengkuh tubuh Tante Lisa, mendorongnya bersama Tante Rina hingga kedua wanita itu berbaring terlentang berdampingan di tengah kasur luas. Aku dan Ayah sama
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 265. Semakin tidak waras
Aku tidak memberikan celah jeda sedikit pun untuknya bernapas. Pinggulku langsung bergerak memacu kecepatan penuh, melakukan sodokan bertenaga tinggi maju mundur secara liar, cepat, dan agresif ke dalam lubang intinya. Ranjang kayu kamar mereka sampai berderit-derit riuh beradu nyaring dengan suara gesekan kulit selangkangan kami yang basah bercampur deru derit kepuasan.Plok-plok-plok-plok!"Ahhh... terus, Aris... hajar terus lubang Tante... ssshh, lebih kencang lagi tumbukannya!" rintih Tante Lisa tersengal-sengal dengan urat leher yang menonjol tegang, pinggul mulusnya bergerak ikut aktif membalas setiap goyangan liarku dari bawah seiring remasan tangannya yang mencakar seprai kasur yang sudah berantakan.Tante Rina yang berada di sebelah kami tidak tinggal diam menonton. Dia bergerak merapatkan tubuh polosnya dari arah samping, membusungkan sepasang buah dadanya yang besar tepat di depan wajahku. Aku langsung memajukan wajahku beringas, menyergap dan melumat salah satu buah da
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 264. Tanggung basah
Ketiga wanita muda di atas ranjang itu terlihat sangat puas menikmati gempuran liar Ayah. Setiap kali pinggul Ayah bergerak kencang menumbuk liang rahim mereka berkali-kali, mulut mereka langsung mendesah keras dan meluncurkan kata-kata yang kotor diguyur birahi yang memuncak."Ahhh... Om Gunadi... lebih kenceng lagi... ssshh, pepek aku habisin di dalam, Om...!" lenguh Resa parau sembari mencakar seprai kasur."Iya, Pa... tusuk terus punya Tasya, Pa... mentok banget... ahhh!" pekik Tasya histeris dengan urat leher yang menonjol tegang menerima sodokan beringas Ayah dari atas.Gara-gara tontonan panas di kamar Tasya itu, aku menjadi sama sekali tidak bisa tidur lagi. Aku berjalan melangkah menjauh menyusuri koridor lantai atas yang remang. Saat aku berjalan melintas di depan kamar tidur milik Tante Lisa dan Tante Rina, sepasang mataku melihat pintu kamarnya juga sedang dalam keadaan terbuka sedikit.Aku melongokkan kepala mengintip ke dalam. Di bawah temaram lampu tidur, terlihat Tan
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 263. Tontonan gila
"Iya, Bu, bentar," kataku sembari melangkah menghampiri mereka.Aku pun bergabung bersama rombongan untuk berfoto di tepi pantai. Namun, saat sedang berpose di depan kamera, pikiranku terus berputar memikirkan isi pesan chat dari Bagas barusan. Kalimatnya yang misterius membuat isi kepalaku menjadi sangat bingung dan tidak tenang.Setelah sesi foto bersama itu selesai, aku memilih untuk kembali memisahkan diri. Aku duduk di salah satu kursi taman lalu segera membuka ponsel untuk mengetik balasan pesan menuntut kejelasan dari Bagas.[Bagas, apa maksud ucapan kamu tadi? Siapa orang yang kamu maksud akan dilenyapkan di sini? Katakan yang jelas sama aku, Gas!] ketikku dengan cepat.Begitu tombol kirim kutekan, status pesan itu ternyata hanya centang satu. Aku mencoba melakukan panggilan telepon ke nomor HP-nya, namun terdengar suara operator yang menyatakan kalau nomornya sedang tidak aktif. Aku mengembuskan napas panjang. Aku hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja di sini.
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 262. Pesan dari Bagas
Ayah kemudian berjalan menuju tempat tidurnya lalu berbaring santai. "Lebih baik kamu istirahat saja sekarang biar ada tenaga buat nanti malam seneng-seneng. Sepertinya nanti malam akan Ayah ajak saja semuanya main bareng di lobi biar lebih seru."Aku hanya diam, mencoba mencerna semua perkataannya barusan. Aku bingung, apa aku yang sudah gila atau memang aku sudah terjebak di dalam pusaran keluarga yang tidak waras ini. Ada rasa penyesalan besar kenapa dulu aku memilih kembali ke rumah Ayah. Kalau tahu aslinya seperti ini, lebih baik dulu aku tetap tinggal di kontrakan kecilku saja dan kerja jadi kuli di pelabuhan daripada harus hidup di dalam neraka bermoral rendah seperti ini.Aku pun akhirnya memilih berbaring di tempat tidurku. Karena tubuhku sangat capek setelah menempuh perjalanan Gianyar, tidak terasa mataku terpejam dan aku tertidur pulas.---Saat aku terbangun dari tidur, suasana di dalam kamar sudah menggelap. Aku melirik ke tempat tidur sebelah, ternyata Ayah sudah ti
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 261. Hidup di keluarga tidak waras
"Waw, keren banget pemandangannya," kata Tasya ketika kami semua turun dari mobil."Iya nih, foto-foto yuk mumpung belum gelap," sambung Resa bersemangat.Susi menoleh ke arah kami. "Kak Vira, Kak Aris, ayo ikutan foto di sini!""Kalian saja dulu. Aku kebelet nih pengen ke toilet. Kak Aris saja yang ikut foto," kata Vira sambil melangkah cepat masuk ke dalam bangunan.Baru saja aku ingin menolak, tapi Tasya dan Susi sudah menarik tanganku ke area dekat pagar pembatas."Udah... gabung saja, Kak. Bagus banget nih pemandangannya buat kenang-kenangan," kata Susi."Iya, Kak, kakak berdiri di tengah ya," sahut Tasya sembari mengarahkan kamera HP-nya ke arah Tante Rina yang bersedia memotret kami.Akhirnya aku tidak bisa menolak. Kami berfoto beberapa kali dengan berbagai gaya.Tante Rina memotret kami bergantian, lalu ikut bergabung setelah meminta bantuan Pak Nana untuk memegang HP. Sementara itu, Nikita, Ayah, dan Vira sudah masuk ke dalam vila duluan.Bangunan vila milik Tante Lisa ini t
Last Updated: 2026-07-15
Rayuan Maut Para Tetanggaku

Rayuan Maut Para Tetanggaku

Aku memang bukan lelaki polos yang nggak pernah nonton video panas di situs dewasa, tapi siapa sangka kalau tenyata salah satu wanita di situs dewasa itu adalah tetanggaku sendiri?!
Read
Chapter: Bab 349. Benih Baru di Tanah Harapan (end)
Pagi pertama sebagai kepala keluarga di unit apartemen kami sendiri terasa begitu tenang.Tidak ada deru helikopter, tidak ada instruksi taktis dari Riko lewat earpiece, dan tidak ada denyut panas dari zat kimia yang dulu sering menyiksa kesadaranku. Aku terbangun karena aroma kopi yang baru diseduh dan suara denting spatula yang beradu dengan teflon di dapur.Aku melangkah keluar kamar, hanya mengenakan celana pendek santai. Sinar matahari Jakarta yang masuk melalui jendela besar menyinari punggung Sabrina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Ia mengenakan daster rumahan tipis, rambutnya dicepol asal-asalan, namun di mataku, ia tampak jauh lebih cantik daripada saat mengenakan kebaya pengantin senilai ratusan juta semalam."Mas, sudah bangun? Sini sarapan dulu, aku buatkan omelet sayur kesukaanmu," sapanya tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar begitu ceria.Aku menghampirinya, melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengecup pundaknya yang hangat. "Harum sekali. Kamu bela
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 348. Langkah Pertama di Gerbang Baru
Pagi ini, meja bundar besar di sudut ruangan yang cukup privat itu diisi oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupku. Papa Adrian duduk tegap di sisi kananku, sesekali berbincang akrab dengan Ibu yang duduk di hadapannya. Di sebelah Ibu, Alisa sibuk menunjukkan foto-foto dokumentasi acara semalam dari kamera profesionalnya kepada Tante Sarah.Aku melirik Sabrina yang duduk di sampingku. Ia mengenakan terusan dress selutut berwarna krem yang sangat sederhana namun tetap memancarkan aura keanggunan seorang istri. Wajahnya tampak segar, sisa-sisa kelelahan dari resepsi megah semalam seolah menguap berganti dengan rona bahagia yang tulus."Bima, makan yang banyak. Hari ini kamu harus antar Ibu dan Alisa kembali ke Bandung, kan?" ucap Ibu sambil menyodorkan sepotong roti gandum panggang ke piringku. "Ibu sudah titip pesan ke Mang Ujang di toko, katanya stok beras Cianjur yang baru sudah masuk. Jadi Ibu harus segera sampai sana sebelum asar.""Tenang saja, Bu. Mobil sudah disiapka
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 347. Malam Pertama dan Fajar Keutuhan
Pintu Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh hiruk-pikuk pesta, denting gelas sampanye, dan jepretan kamera wartawan di luar sana. Seketika, keheningan yang mewah menyelimuti kami. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesir pelan dan detak jantungku sendiri yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat berdiri di pelaminan tadi.Aku melepaskan blangkon dan meletakkannya di atas meja marmer, merasakan aliran udara dingin menyentuh kulit kepalaku. Sabrina berdiri di dekat jendela besar yang menyajikan panorama Jakarta dari ketinggian lantai tiga puluh. Gaun kebaya beludru hitamnya yang megah tampak berkilau terkena pantulan lampu kota Sudirman. Ia perlahan melepas satu demi satu perhiasan yang melekat di tubuhnya—anting, kalung, hingga bros besar yang menghiasi dadanya."Mas... rasanya masih seperti mimpi," bisiknya tanpa menoleh, jemarinya menyentuh kaca jendela yang dingin. "Tadi aku melihat Ibu Dewi tertawa bersama Tante Sarah
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 346. Resepsi di Belantara Beton
Aroma bunga melati sisa siraman masih tercium samar dari kulitnya. Keheningan malam di apartemen ini seolah menjadi saksi betapa kuatnya ikatan yang telah kami bangun. Gairah yang tulus dan mendalam perlahan bangkit, bukan sebagai ledakan emosi liar, melainkan sebagai bentuk pengabdian terakhir sebelum kami sah menjadi suami istri di mata hukum dan Tuhan.Aku membimbingnya menuju kamar utama. Di bawah temaram lampu yang temaram, aku menanggalkan pakaianku dan membantu melepaskan jubah mandinya. Keindahan tubuh Sabrina selalu berhasil membuatku terpaku, namun malam ini ada aura kesucian yang berbeda.Aku membaringkannya di atas sprei sutra yang dingin. Aku masuk ke dalam dekapannya dengan penuh kelembutan. Kami bergerak dalam irama yang sangat pelan, seolah ingin merekam setiap detak jantung dan hembusan napas masing-masing.Aku membisikkan janji-janji setia di telinganya saat kami menyatu dalam kehangatan yang mendalam. Penyatuan malam ini terasa sangat sakral, menjadi penutup d
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 345. Siraman dan Air Mata Restu
Kami menghabiskan hampir dua jam di sana, memastikan setiap detail mulai dari urutan musik hingga posisi meja Ibu Dewi dan Alisa yang aku minta diletakkan di tempat paling nyaman, tidak terlalu dekat dengan speaker namun memiliki pandangan jelas ke panggung.Saat kami berjalan menuju parkiran hotel, hujan gerimis mulai membasahi Jakarta. Suasana menjadi lebih sejuk. Aku membukakan pintu mobil untuk Sabrina, lalu masuk ke kursi kemudi."Mas," panggil Sabrina saat aku baru saja hendak menghidupkan mesin."Ya, Sab?""Tadi saat berdiri di panggung itu... aku tiba-tiba merasa sangat takut," ucapnya pelan, jemarinya bertautan gelisah."Takut kenapa?" tanyaku sambil menggenggam tangannya."Takut kalau ini semua hanya mimpi. Takut kalau tiba-tiba aku bangun dan kita masih di apartemen lama, dikejar-kejar oleh orang-orang jahat itu lagi. Segalanya terasa terlalu indah untuk jadi kenyataan."Aku menariknya ke dalam pelukanku, membiarkan wajahnya tersembunyi di dadaku. "Ini nyata, Sabrina. Semua
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 344. Gemuruh Persiapan dan Restu Menteng
Kami duduk dan mulai membicarakan bisnis. Ternyata, ini bukan soal zat kimia atau penelitian ilegal. Beliau ingin mengajak perusahaanku bekerja sama dalam proyek pembangunan kawasan hunian hijau di dekat Ibu Kota Nusantara yang baru. Ini adalah proyek legal, besar, dan memiliki visi jangka panjang untuk negara."Kami butuh mitra yang punya integritas. Saya sudah dengar bagaimana kamu menangani sisa-sisa jaringan Hans dulu tanpa membuat kegaduhan publik. Kamu punya ketenangan yang jarang dimiliki anak muda zaman sekarang," lanjut Sang Jenderal.Percakapan malam itu berlangsung sangat produktif. Papa tampak sangat bangga padaku karena aku bisa mengimbangi pembicaraan teknis tingkat tinggi tersebut. Di satu sisi, aku merasa terhormat, namun di sisi lain, aku tetap menjaga hatiku agar tidak dikuasai oleh ambisi yang buta. Pelajaran dari Ibu di Bandung tadi pagi tetap bergema di kepalaku: jangan terlalu rakus.Menjelang pukul sepuluh, aku pamit pulang. Papa mengantarku sampai ke teras.
Last Updated: 2026-04-07
Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda

Alya, seorang gadis desa yang polos dan sederhana, tiba-tiba harus bekerja di kota besar demi melunasi hutang keluarganya. Nasib mempertemukannya dengan Arkan Mahendra, CEO muda yang arogan dan dingin, pewaris utama Mahendra Group. Tanpa disangka, Arkan ternyata adalah pria yang pernah Alya tolong bertahun-tahun lalu saat ia mengalami kecelakaan di desanya. Kini, pria itu berdiri di hadapannya, tetapi tak lagi seperti dulu—sikapnya berubah dingin dan penuh amarah. Namun, sekeras apa pun Arkan berusaha mengabaikan Alya, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang terus menariknya. Saat sebuah kesepakatan gila membuat mereka harus terikat dalam pernikahan kontrak, perasaan yang dulu terkubur perlahan kembali. Akankah Alya bisa meluluhkan hati Arkan yang membatu? Ataukah ia hanya akan menjadi boneka dalam permainan pria itu?
Read
Chapter: Suasana semakin tegang
Malam itu, aku duduk di dalam mobil Om Martin, jari-jariku bermain di ujung gaun yang kukenakan. Hawa dingin dari AC menyelimuti tubuhku, tapi pikiranku justru terasa panas, berputar-putar memikirkan semua yang telah terjadi hari ini."Kamu capek?" suara Om Martin terdengar lembut, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum, tatapan matanya yang teduh membuat dadaku berdesir.Aku menggeleng pelan. "Nggak, aku cuma... banyak mikir aja."Dia mengangguk seakan mengerti. "Kalau ada yang ingin diceritakan, aku siap mendengar."Aku menghela napas, mencoba menyusun kata-kata. "Aku cuma merasa aneh. Rasanya... terlalu nyaman berada di dekat Om. Seperti ada sesuatu yang mengisi ruang kosong di hatiku. Tapi di sisi lain, aku takut kalau ini hanya perasaan sesaat."Om Martin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku juga merasakannya, Laura. Aku tahu aku bukan ayahmu, dan aku tidak akan pernah bisa menggantikannya. Tapi kalau keberadaanku bisa membuatmu merasa lebih baik, aku berse
Last Updated: 2025-04-05
Chapter: Semakin rumit
Laura menatap sosok di hadapannya dengan napas tertahan. Jantungnya berdebar kencang saat dia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Orang itu berdiri di ambang pintu, matanya menatap Laura dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan."Kamu... kenapa bisa ada di sini?" suara Laura bergetar.Pria itu tersenyum kecil, langkahnya mendekat. "Aku selalu ada di sekitarmu, hanya saja kau tidak pernah menyadarinya."Reno yang berdiri di samping Laura menatap pria itu dengan sorot tajam. "Siapa dia, Laura?"Laura menggeleng, seakan mencoba mengusir kebingungan di kepalanya. "Aku... aku tidak tahu. Aku pernah mengenalnya, tapi aku tidak mengerti kenapa dia muncul sekarang."Pria itu tertawa kecil, suara rendahnya penuh misteri. "Laura, aku tidak muncul tiba-tiba. Aku datang karena waktunya sudah tepat. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui."Ketegangan semakin meningkat. Reno maju selangkah, posisinya protektif di depan Laura. "Aku tidak peduli siapa kamu. Kalau niatmu buruk, sebaiknya p
Last Updated: 2025-04-04
Chapter: Malam yang menegangkan
Malam itu, hujan turun deras, menciptakan suasana tegang di dalam ruangan yang dipenuhi oleh ketegangan yang menggantung. Laura menatap pria di depannya, napasnya tercekat saat kata-kata yang baru saja diucapkan pria itu menggema di kepalanya."Aku sudah tahu semuanya, Laura," kata pria itu dengan suara berat dan tajam.Jantung Laura berdebar kencang. "Maksudmu apa?" tanyanya, mencoba tetap tenang.Pria itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di atas meja. Dengan tangan gemetar, Laura mengambilnya dan membuka isinya. Matanya melebar saat melihat foto-foto di dalamnya. Itu adalah foto dirinya bersama seseorang dari masa lalunya—seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam hidupnya."Bagaimana kau mendapatkan ini?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan ketakutan.Pria itu tersenyum tipis. "Aku punya sumberku sendiri. Dan aku yakin, kau tahu bahwa seseorang sedang mengincarmu."Laura menelan ludah. Dia tahu persis siapa yang dimaksud pria itu. Sosok yang seharus
Last Updated: 2025-04-03
Chapter: Konflik Memuncak dan Kejutan yang Tak Terduga
Laura merasa jantungnya berdetak kencang saat melihat seseorang dari masa lalunya muncul tiba-tiba di depan pintu apartemennya. Pria itu berdiri dengan wajah serius, seolah membawa kabar buruk yang akan mengubah segalanya. "Kita perlu bicara," katanya dengan nada mendesak.Sementara itu, di tempat lain, Arya dan Reza sedang mencoba menghubungi Laura setelah menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pesan yang dikirimkannya sebelumnya. Liam yang biasanya ceria juga terlihat lebih serius. "Aku nggak suka firasat ini," gumamnya sambil menggenggam ponselnya erat.Di dalam apartemen, Laura menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. "Kenapa kamu di sini? Aku pikir kita sudah selesai bertahun-tahun lalu," katanya dengan suara bergetar.Pria itu, yang ternyata adalah mantan kekasih Laura yang menghilang tanpa jejak, menghela napas panjang. "Aku tahu aku banyak salah, tapi aku kembali karena ada sesuatu yang harus kau tahu. Ini tentang keluargamu… tentang ayahmu."Kata-katanya langsung membuat
Last Updated: 2025-04-02
Chapter: BAYANGAN MASA LALU
Malam semakin larut, tetapi suasana justru semakin tegang. Napasku memburu, pikiranku berputar cepat. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi—seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang dari kehidupanku.Dia berdiri di sana, bersandar santai di pintu belakang ruangan ini, seakan kedatangannya adalah hal yang wajar. Senyumnya tipis, nyaris seperti ejekan.“Lama tidak bertemu, Laura,” suaranya tenang, tapi dingin.Aku menelan ludah. “Kenapa kau di sini?”Dia tidak langsung menjawab. Malah, dia melangkah maju dengan perlahan, membuat jantungku berdebar lebih kencang. Reno dan Arya sudah bersiap siaga di sampingku, siap melakukan apa pun jika keadaan memburuk.“Kau tahu, aku selalu tertarik melihat bagaimana kau berkembang setelah semua yang terjadi,” katanya sambil menatapku tajam. “Aku hanya ingin melihat sendiri apakah kau masih sekuat dulu… atau justru lebih lemah.”Aku mengepalkan tangan. “Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.”Dia tertawa kecil. “Permainan? Ah,
Last Updated: 2025-04-01
Chapter: Konflik baru
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit hitam pekat tanpa bintang, seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin terlihat. Di dalam ruangan yang remang, suasana penuh ketegangan.Laura menatap seseorang di depannya dengan napas memburu. Sosok itu tersenyum samar, tatapannya sulit ditebak."Kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku di sini, bukan?" suara baritonnya terdengar begitu akrab, tapi ada sesuatu yang janggal di baliknya.Laura menelan ludah. "Kenapa kau ada di sini? Apa maumu?"Sosok itu hanya menghela napas, lalu berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Setiap langkahnya bergema di ruangan yang sepi.Di saat bersamaan, di tempat lain, Reno berlari menerobos lorong sempit, mencoba mencari Laura. Ada firasat buruk yang mengusiknya sejak tadi. Jantungnya berdebar kencang, dan tanpa sadar, tangannya mengepal erat.Sementara itu, di dalam ruangan, Laura berusaha tetap tenang meskipun pikirannya berkecamuk. Sosok itu kini berdiri di hadapannya, menyodorkan
Last Updated: 2025-03-31
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status