Cinta Jatuh Tempo
Rp 150 Juta. Satu Bos Perfeksionis. Dan satu proposal yang mengubah segalanya.
Hidup dan karier Raia Andini (29) terancam karam gara-gara utang investasi bodong milik kakaknya. Aksenna (32), bos baru yang dikenal dingin dan tanpa kompromi, mengetahui masalah tersebut dan menawarkan bantuan pelunasan dengan satu syarat mutlak: Raia harus menyerahkan proposal non-tunai dalam waktu tujuh hari.
Masalahnya, ide proposal seperti apa yang bisa melunasi ratusan juta tanpa uang sepeser pun?
Terjebak dalam kontrak transaksional yang memaksa mereka berinteraksi lebih dekat, dinamika kaku di antara keduanya perlahan berubah menjadi permainan perasaan yang berbahaya. Apalagi saat Nevan, rekan kerja yang hangat di kubikel sebelah, mulai hadir sebagai distraksi yang memicu percikan cemburu sang atasan.
Di tengah batas waktu yang terus berjalan, bisakah Raia menyelamatkan kariernya, atau justru hatinya yang tersita oleh bosnya sendiri?
Baca
Chapter: Investasi Segelas Kopi dan Kreditur Baru di Dalam LiftSetelah melewati dua hari, ide soal proposal pelunasan itu tidak kunjung datang.Raia kembali ke kehidupan korporat yang selalu ada gebrakan setiap harinya. Dari seller penuh drama, sampai bos yang suka menuntut.Karena begitulah dunia ini bekerja. Kalau kamu pintar, kamu diandalkan. Dan jika terlalu baik, kamu diandalkan selamanya. Baik di rumah, atau di kantor.Hfft!‘Jika semua bersandar padaku, lalu aku bersandar ke mana?’Kalau Raia harus jujur, jawabannya sederhana: ke kursi kantor yang empuk, atau coffee shop di lobi bawah. Yang jelas, tempat bersandar Raia bukan lagi saldo tabungan. Angka di rekeningnya itu sudah runtuh duluan akibat seringnya donasi paksa untuk kekacauan di rumah“Katanya bokek, tapi ngopi?”Wajah Alin tiba-tiba muncul di antara Raia dan Wina, memotong sesi rumpi di coffee shop lobi bawahBadan Raia spontan bergeser sedikit ke kanan. “Kalau buat kopi ada ya. Buat kopi ada!” cetusnya sambil menggoyangkan cup americano.“Iya, diada-adain tepatnya,” celetuk Win
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Gadis Miras si Tumbal Investasi Bodong‘Good? Nanti juga tahu? Apa maksudnya??’Raia mendengus jengah. Sepertinya bos baru ini selain punya julukan si eksekutor ternyata dia juga hobi kasih teka-teki.“Mau dibilang misterius gitu, Pak?” batin Raia sinis.Namun, ingatan Raia melompat mundur ke kejadian memalukan lainnya. "Kamu adalah staf pertama yang berani menyentuh bosnya sambil bertanya mau apa dalam keadaan setengah telanjang."Raia menepuk jidatnya. ‘Bodohnya kamu, Raia! Bisa-bisanya nantangin bos, belagak goda-goda, padahal nyali ciut, eh ditolak pula. Dan dia cuma ... merapikain jubah mandi. Tanpa ekspresi. Malu, tauk!.‘Ouch!’Tubuh Raia sedikit terdorong ke depan saat taksi online-nya mengerem mendadak, berbelok memasuki gang sempit area Barat kota yang bising.Seketika, semua pikiran tentang Aksenna dan apartemennya menguap. Digantikan oleh realitas rumah yang harus ia hadapi.Beberapa menit kemudian, langkahnya tertahan di depan rumah minimalis berpagar hitam setelah ia turun dan menutup pintu taksi dengan les
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bukan Malaikat Berkedok Bos, kan?‘Ingat Raia! Tidak ada makan siang gratis!’Skrip sinis itu sudah berputar otomatis di kepala Raia. Maklum, di dunia korporat yang kejam, tidak ada yang namanya malaikat berkedok bos tajir melintir.Raia bahkan sudah menyiapkan skenario terburuk. ‘Silakan ambil apa yang kamu mau, asal masalahku beres.’Tapi, alih-alih merobek harga diri Raia, Aksenna malah bergerak pelan. Tangannya meraih ujung bathrobe Raia yang melorot, lalu menariknya ke atas—merapikannya. Gestur kecil yang terasa jauh lebih mengintimidasi daripada sentuhan."Saya tidak suka bertransaksi menggunakan tubuh staf saya sendiri," ujar Aksenna dingin.Napas Raia tercekat di tenggorokan. Ada rasa panas yang langsung menjalar ke pipinya—bukan karena debaran klise ala novel romantis, tapi karena rasa malu luar biasa. Sadar dirinya baru saja salah duga, ego Raia meronta."Terus apa?" sergah Raia cepat, mendongak tajam demi menutupi salah tingkahnya. "Bapak sengaja mau bikin saya terjebak paternalistic complex? Mau bikin s
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: Kehilangan Harga Diri atau Utang Budi Bertempo‘Astaga!’ Memangnya apalagi yang bisa diharapkan ketika separuh rahasia busukmu—utang keluarga hingga aksi payah mabuk-mabukkan yang memalukan—diketahui bos barumu sendiri. Kilasan semalam berputar pelan di kepalanya. Gelas-gelas kosong di bar. Bisikan parau dan kalimat paling bodoh yang ia ucapkan. ‘Kalau satu-satunya hal berharga yang aku punya cuma tubuh ini, kamu mau beli?’Raia menelan ludah susah payah. Tenggorokannya mendadak kering. Tanpa sadar ia merutuki kebodohannya sendiri ketika tatapan tajam Aksenna sudah menguncinya sejak detik pertama."Bapak sendiri, apa yang Bapak lakukan di sini?" suara Raia akhirnya keluar, meski sedikit serak dan bergetar."Dan kenapa saya bisa ada di sini? Apa rencana Bapak?" ia membalas tatapan intimidasi Aksenna dengan sisa-sisa harga dirinya yang hampir karam. "Apa bapak sengaja manfaatin kondisi saya semalam?"Aksenna tertawa rendah. Tawa maskulin yang terdengar seksi sekaligus mengintimidasi. Dia memajukan tubuhnya, mengikis jarak hingga
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: Perkenalan Jalur Utang, dari Lobi Menuju Apartemen‘Oh Tuhan! Dari semua cara buat diperhatiin bos baru, kenapa juga harus lewat jalur utang sih?’Raia menghela napas panjang sebelum mendorong pintu. Semerbak aroma mahal mendominasi ruangan. Ia berdeham. Secuil kode bahwa orang yang bosnya tunggu ini sudah datang. Melihat Raia, Aksenna melepas kacamata kotaknya sambil menyandarkan tubuh tegapnya ke kursi. Tanpa bingkai kaku itu, wajahnya makin jelas terlihat seperti mas-mas flanel di parkiran kemarin."Orang-orang di lobi depan tadi sudah saya minta pulang," buka Aksenna langsung.Raia mengerjap. ‘Langsung gas? Bahkan gak ada basa-basi?’."Kebetulan saya tadi beli kopi di bawah dan melihat keributan itu. Coba jelaskan apa yang terjadi. Saya tidak mau performa tim menurun hanya karena drama sampah keluarga kamu."Raia menahan napas. Kalimat itu menghantam ego Raia telak. Alih-alih menahan kesal, Raia justru melangkah maju, meletakkan laporan mingguan kosmetik Korea di atas meja Aksenna.“Terima kasih atas intervensinya di lobi, Pak Ak
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: Uji Nyali di Depan Neraka Korporat‘Dia ternyata ….’Dari semua kesialan hidup yang bergelimpangan, mungkin momen saat ini yang paling membuat Raia panas dingin. Saking syoknya, kaki Raia serasa lupa menjejak bumi.Mas-mas flanel seksi yang kemarin menangkap pinggangnya di pilar parkiran nomor tujuh, dan sempat satu lift, kini berdiri tegap di podium utama sebagai pemimpin baru yang katanya disegani.“Oh! Akhirnya gue tahu perasaan karyawan yang bosnya udah mah cakep, pinter pula.” Distraksi kecil dari Alin membawa kembali kesadaran Raia.Dengan fokus yang masih terkunci ke podium, Wina ikut ngoceh. "Mendadak kita semua kepengen jadi cegil, nggak sih?”Saking takjubnya, mereka sampai lupa caranya tertawa. Nola yang masih ternganga, berbisik. “Berwibawa dan kharismatik. Ya ga sih?!”“Cerdas, meski kurang ramah …” Feli menambahkan.Bisikan-bisikan itu saling tindih, separuh kagum, separuh bercanda. Tapi atmosfernya sama. Tidak ada satu pun yang bisa menyangkal aura yang terpampang nyata di depan sana. Perlahan, mata-mat
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27