Chapter: Bab 80 Kembali Seutuhnya“Aku akan memanggilmu lagi saat membutuhkan,” ucapnya masih membelakangi Weqing.“Ya, dengan senang hati, Yang Mulia.”Lan Weqing mengenakan kembali baju seragamnya dengan hati berbunga. Penantian panjang dan tindakan-tindakan yang diambilnya untuk mendapatkan Mu Lan, berujung kebahagiaan. Senyumnya terus mengembang.“Jenderal,” panggil Mu Lan membuat Weqing berbalik cepat menghadapnya.“Ya, Yang Mulia.”Mu Lan mendekat dengan langkah gemulai. Tangannya mendarat lembut di bahu Weqing. Ujung jari telunjuk kanannya bergerak turun dengan gerakan memutar menyusuri dada Weqing, membuat pria itu menggelinjang girang.“Y-yang Mulia, secepat ini?” tanya Weqing panik sekaligus senang.“Bawa laporan keuangan seluruh kementerian yang bisa kau dapatkan, saat kau datang mengunjungiku lain hari.” Mu Lan menjulurkan lidahnya menyapu rahang Weqing hingga tubuh pria itu bergetar.“K-kapan?” tanya Weqing menggeram menahan hasratnya yang kembali meronta.“Kapanpun kau siap, Jenderal,” desah Mu Lan di wa
Last Updated: 2024-04-17
Chapter: Bab 79 Saatnya Telah TibaSecepat kilat, Zening mendongak tidak percaya. “Kak, kaukah itu?”Wang Yang dan Ru Lan menyingkir menjauhi ranjang, memberi ruang untuk Deyun dan Zening.Alih-alih memeluk adiknya seperti keinginannya tadi, Deyun berlutut dan mengangkat kedua tangannya memberi hormat. “Li Deyun, menghadap Yang Mulia Permaisuri!”“Kak!” pekik Zening lega. “Mereka melepaskanmu?” tanyanya seraya menangkup wajah Deyun yang terlihat tirus dan lelah. “Apa mereka juga menyiksamu?”Li Deyun menggeleng dengan senyum samar menghiasi bibirnya. “Mereka tidak akan berani menyiksa kakak permaisuri,” godanya pada Zening. “Aku menyelinap keluar untuk mengucapkan selamat atas pernikahan dan penobatanmu menjadi permaisuri. Aku harap, kau tidak mengecewakan kami, Rakyatmu.”Dug.Zening meninju perut Deyun kuat-kuat. “Kau berkata begini saat aku khawatir tentangmu? Sungguh keterlaluan!&rdq
Last Updated: 2024-04-13
Chapter: Bab 78-2“Kak Yang, aku ….” “Tarik napasmu. Nikmati semuanya.” Wang Yang mulai bergerak cepat. “Ya, begitu ….” Zening merasakan sensasi aneh yang terjadi padanya. Seolah tenaganya terisi penuh setelah lama kering dan kosong. Seluruh otot dan sendinya yang layu, kembali merekah dengan cepat. “Ah, Kak. Aku akan meledak,” bisik Zening sambil terengah mengimbangi gerakan Wang Yang. Wang Yang berhenti dan menatap Zening. “Ini hadiah pernikahanku untukmu. Aku kembalikan semuanya padamu.” Wang Yang mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman panjang hingga Zening tertidur pulas. Beberapa lamanya, Wang Yang hanya menatap wajah cantik Zening yang lelap seperti bayi kenyang menyusu. Ibu jarinya mengusap bibir bengkak Zening akibat ulahnya. Tek tek tek. Sebuah ketukan di pintu kamar menarik Wang Yang dari gulungan hasrat yang membungkusnya. Tangannya cekatan menarik selimut menutupi tubuh polos Zening, lalu menarik tirai ranjang hingga menutup semp
Last Updated: 2024-04-05
Chapter: Bab 78-1 Hadiah Malam PertamaTrang!Anak panah lain yang melesat cepat dari busur Hanxiu, menabrak anak panah yang nyaris menancap di dada Zening.“Ada penyusup! Ada penyusup!”Entah dari mana asal teriakan itu, seketika semua yang hadir bercerai-berai. Suasana halaman istana menjadi gaduh dan tidak terkendali karena teriakan itu. Setiap orang berlari saling tabrak menyelamatkan diri.“Yang Mulia, sebaiknya kita juga kembali ke istana. Situasinya sulit untuk dikendalikan,” usul Huazhi dengan mata waspada mengawasi udara sekitarnya.“Ayo!” Wang Yang mengulurkan tangannya membawa Zening di bawah perlindungannya. “Ning’er,” tegurnya kala menyadari Zening sedang sibuk mencari sosok yang berhasil menghalau anak panah untuknya.“Yang Mulia, siapa yang menghalau anak panah tadi?” tanya Zening penasaran dengan mata masih mengedar ke sekitar.“Huazhi akan menyelidikinya. Ayo, kita segera kembali ke is
Last Updated: 2024-04-04
Chapter: Bab 77-2“Yang Mulia, apa Anda tidak enak badan?” cemas Yuru.“Tidak. Aku merasa kondisiku hari ini adalah yang terbaik dari semua hari sejak aku melangkahkan kaki memasuki istana. Kenapa?” Zening memutar tubuhnya seraya merentangkan gaun sutra paduan warna emas dan merah.“T-tidak.” Yuru menggeleng takut-takut.Akhirnya, Zening tak kuasa menahan tawanya melihat wajah Yuru begitu tertekan akibat perubahan sikapnya, membuat dayang muda itu semakin kebingungan.“Ayo, pasang lagi yang perlu kau pasang.” Zening merentangkan tangannya, bersiap menerima perlakuan selanjutnya.“Sabuk!” pekik Yuru seraya menepuk dahinya.Ketika Yuru setengah membungkuk merapatkan diri memasang sabuk, Zening menundukkan kepalanya sedikit dan berbisik, “Setelah ini, pergilah ke penjara. Temui kakakku dan peringatkan dia untuk tetap waspada.”Yuru mematung, tidak merespon.“Pst! Kau deng
Last Updated: 2024-03-23
Chapter: Bab 77-1 Teror PernikahanMata Mu Lan melebar. “M-maksudmu kau mengelabuinya?!”“Tidak sepenuhnya. Hanya membuatnya tidak mewaspadaiku.” Wang Yoo berjalan meninggalkan aula.“Aku tidak mengerti jalan pikirannya,” gumam Mu Lan.“Wang Yoo adalah pemuda yang pintar. Isi pikirannya sulit ditebak. Sebaiknya, kita tetap waspada.” Ziliang mengibaskan lengan hanfunya dan berjalan keluar.“Cih! Tidak ada yang benar-benar bertindak demi kepentinganku.” Mu Lan mendesah kesal. “Baiklah, karena kalian hanya memikirkan kepentingan kalian sendiri, maka aku juga akan berlaku yang sama.” Mu Lan memandangi token Rajawali Emas di tangannya dan mulai memikirkan hal apa yang bisa dia buat melalui token kayu itu.“Selir pun tidak masalah asalkan bisa memilikimu dan menyingkirkan lainnya,” gumam Mu Lan seraya tersenyum bengis.Keesokan harinya, seluruh istana sudah sibuk menyiapkan upacara pernikahan raja.
Last Updated: 2024-03-23
Chapter: Bab 50Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 49“Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 48Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem
Last Updated: 2024-05-10
Chapter: Bab 47Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny
Last Updated: 2024-05-06
Chapter: Bab 46“Mana Elia, Bang?” Jonas heran melihat hanya ada Barata di meja makan sedang termenung.“Ha? Eh, dia baru saja berangkat.”Jonas makin heran, kala melihat piring dengan nasi dan sendok masih utuh di meja. “Ada apa, Bang? Elia gak jadi sarapan?”Barata mendesah. “Sepertinya aku membuat napsu makannya hilang,” akunya lemah.“Ish, dia ‘kan lagi hamil. Butuh banyak nutrisi. Emangnya, bahas apaan, sih?!” Jonas bergegas menuju pintu rumah. Dilihatnya, Elia sudah mencapai lobi puskesmas. “Marah dia?” tanyanya seraya berbalik menatap Barata.“Hhh, entahlah. Kenapa jadi aku yang susah, ya? Padahal niatnya cuma pengen bantuin.” Barata menengadah menatap langit rumah.“Udah, biarin aja.” Jonas menghampiri Barata. “Kita semua sudah dewasa. Bisa selesaikan masalah masing-masing. Jangan ikut campur, Bang.”Barata melirik iparnya sambil
Last Updated: 2024-05-05
Chapter: Bab 45“Masuk, Bang!” Jonas mengiring Barata masuk. “Kok gak kabar-kabar dulu? Kakak gaka ikut?”Elia hanya terbengong melihat Jonas begitu akrab dengan dosen walinya. Kalau hanya kenal, dirinya juga mengenal Barata dengan baik. Tapi ini, lebih dari sekedar saling kenal.“Halo, Elia. Apa kabar?” sapa Barata ramah. “Mau ikut wisuda periode berapa?” Barata duduk di sofa panjang satu-satunya yang ada di ruangan itu. “Duduk, El.”Jonas kasihan melihat Elia yang terkejut. “El.” Jonas menyentuh lengan Elia dan mengajaknya duduk. “Aku kenalkan, meskipun kamu pasti sudah kenal baik.”Rasa gugup menghampiri Jonas ketika mata Elia menuntutnya. Ia menggosok kedua tangannya ke celana menutupi rasa gugupnya.“Engh, ini kakak iparku. Suami kakakku Elena. Di kampus, biasanya kita panggil Prof. Bara.”Tawa Barata menggelegar. “Bisa gugup juga kamu, Nas?” god
Last Updated: 2024-05-04
Chapter: Bab 131-2Vila Danutirta, Bandung“Gimana, Han? sudah dapat tiket pesawatnya?” tanya Jelita gelisah. “Kasihan Alina dan Rangga, mereka belum pernah menemani ibu bersalin, pasti bingung dan panik.” Jelita mondar-mandir seperti kain pel.“Belum, Bu. Penerbangan hari ini penuh semua. Tiket kereta juga ludes sampai besok,” lapor Hanna tak kalah gelisah.“Haduh ... kenapa bisa habis semua di saat seperti ini? Galih, kamu sudah hubungi Galih dan Reno? Biasanya otak pria bisa berpikir cepat saat situasi mendesak begini.”Hanna menggeleng. “Mas Galih dan Reno sedang berada di kawasan proyek, Bu. Ponselnya dinonaktifkan.”“Astaga, ya Allah Gusti ...! Kok bisa barengan begini, sih?!” Jelita menepuk kedua pahanya putus asa.Yuki yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya bengong sambil kepalanya bergerak mengikuti Hanna dan Jelita bergantian.Jelita melambaikan tangannya denga
Last Updated: 2022-06-02
Chapter: Bab 131-1 Perjuangan PanjangRangga sedang iseng mengintip isi kantong belanjaan yang tergeletak di atas ranjang manakala telinganya mendengar seruan panik dari dalam kamar mandi. Rangga bergegas ke kamar mandi, melihat Maura sedang berdiri berpegang erat pada pinggiran wastafel, tapi mimiknya tidak menyiratkan kesakitan, membuat Rangga menurunkan kewaspadaannya.“Ada apa?” tanya Rangga tenang.“Balonnya meletus,” ucap Maura bingung.Rangga mengedarkan pandangan ke arah langit-langit, mencari bohlam yang pecah. “Mana? Gak ada yang pecah, kok.”“Ini, yang di sini.” Maura menunjuk ke bawah kakinya.“Astaga! Ini balon apa yang pecah, kok isinya air keruh?!” panik Rangga. “Jangan-jangan ... ini ketuban, ya?” tebak Rangga sambil menatap Maura meminta penjelasan.“Sepertinya begitu.”Rangga bergegas mengangkat Maura, membawanya keluar dan membaringkannya di ranjang.“Jangan
Last Updated: 2022-06-02
Chapter: Bab 130-2“Hoek, hoek!” Maura bersandar lemas di depan pantry dengan kran menyala deras. Di sampingnya, Alina dengan telaten memijat lembut tengkuknya. “Maura kenapa, Al?” Rangga yang penuh keringat setelah bermain tenis bersama Kirman terlihat cemas. “Entahlah, sejak tadi pagi sudah begini.” Alina meraih selembar tisu untuk mengusap peluh yang membasahi leher dan dahi Maura. “Sini, biar aku saja.” Rangga menggantikan Alina, memijit tengkuk dan mengusap peluh. “Masih mau muntah?” tanyanya lembut. Maura menggeleng. “Aku mau duduk, Kak.” Rangga dengan sigap menggendong Maura, membawanya ke kursi goyang kayu kesayangan eyang kakungnya. “Duduk sini dulu, aku ambilkan minum.” “Aku mau teh lemon madu hangat,” sahut Maura cepat. “Oke, segera datang.” Rangga melesat kembali ke dapur bersih dan sibuk menyiapkan teh yang Maura minta. “Kak, apa masih ingin muntah? Perlu aku ambilkan baskom kecil?” tanya Alina seraya mendekat.
Last Updated: 2022-06-01
Chapter: Bab 130-1 Keluargaku DuniakuRangga, Hanna dan Galih kompak mengernyit jijik melihat isi gelas yang Jelita sodorkan ke depan Maura. Sedangkan wanita hamil itu, dengan mata membeliak, mengintip ke dalam gelas dan penasaran pada isinya.“Sudah, jangan intip-intip. Minum!” desak Jelita lagi.Maura memasang wajah memelas. “Eyang, boleh tidak kita lewati saja tradisi yang ini?”Jelita menggeleng.“Kalau minumnya setelah makan?” tawar Maura lagi.“Bisa-bisa kamu makin eneg dan muntah nanti,” celetuk Rangga, membayangkan dirinya yang meminum ramuan Jelita.Maura mendelik marah ke arah Rangga yang memasang wajah tanpa dosa. “Kalau begitu, biar dia saja yang mewakili Maura, Eyang!” ketus Maura sambil terus menatap Rangga kesal.“Hush! Yang hamil kamu, yang lahiran kamu, masa’ iya yang minum jamu Rangga?” Jelita tersenyum memahami kekesalan Maura, tapi gelas di tangannya tetap teguh di depan waja
Last Updated: 2022-06-01
Chapter: Bab 129-2Jelita tersentak melihat Maura berdiri di tengah ruangan dengan lengan menggamit Rangga dan tangan lainnya menggandeng Yuki. Di belakangnya, ada Hanna dan Galih. “Lho, kalian?” heran Jelita sampai tidak bisa berkata-kata. Warsih yang pertama kali tanggap, menarik lengan Kirman dan Barno untuk membawa koper tamunya masuk. “Ayo, kopernya diurus dulu,” bisiknya memberi perintah. “Trus, urusan cacing ini gimana, Mbak?” protes Barno. “Tahan dulu!” hardik Warsih sambil melotot kesal. “Ehhem! Kalian ke belakang dulu, buatkan Maura minuman hangat.” Kumpulan abdi dalem itu pun membubarkan diri dengan wajah penasaran tentang apa yang terjadi pada majikannya. Jelita berdiri, mempersilakan tamunya duduk di sofa tengah. Sikapnya kaku dan canggung, membuat Galih dan lainnya merasa makin bersalah. “Kenapa tiba-tiba datang tanpa kasih tahu dulu? Ada apa?” tanya Jelita datar. Galih dan Hanna duduk mengapit Jelita. “Bu, kami datang untuk
Last Updated: 2022-05-29
Chapter: Bab 129-1 Hal TerindahPuri Mangkunegaran 15, Yogyakarta“Sih, Warsih! Ayo, jangan lama-lama. Keburu siang nanti.” Jelita berpaling ke belakang sambil merapikan sanggulnya.Warsih tergopoh-gopoh masuk dari pintu belakang. “Maaf, Ndoro. Saya baru selesai bantu Kirman motong ayam,” ujarnya sambil membenahi kebayanya yang berantakan.“Ya, sudah. Tolong kamu panggilkan Barno, minta dia untuk mengantar kita ke pasar.” Jelita menjinjing tas belanja yang terbuat dari anyaman plastik warna-warni kesayangannya dan berjalan mendahului Warsih ke teras.Nyatanya, Barno sedang sibuk mengelap mobil kuno warna hijau pastel yang bagian atasnya berbentuk lengkung. Melihat majikannya mendekat, Barno bergegas membuka pintu penumpang.“Sudah selesai bersih-bersihnya?” tanya Jelita seraya memeriksa hasil kerja abdinya.“Sampun, Ndoro.” Barno memeras kanebo sebelum memasukkannya ke dalam kotak plastik warna k
Last Updated: 2022-05-29
Chapter: Bab 40Alarm ponselnya bordering nyaring tepat pukul lima pagi. Hendro menggeser layar ponsel untuk mematikannya. Biasanya, Hendro tidak menyentuh lagi ponselnya sampai ia menyelesaikan sesi olahraga pagi dan persiapan bekerja sekitar pukul delamapn pagi.Namun, hari ini hatinya gelisah tanpa sebab. Setelah mematikan alarm, Hendro membuka notifikasi di layar ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk dari Ivander, keponakan dari mendiang istrinya. Pria yang bisa dipastikan mengirim pesan padanya satu tahun sekali untuk mengucapkan selamat ulang tahun.“Ivan? Tumben dia kirim pesan. Ada apa?”Hendro membaca pesan Ivander dengan cermat. Keningnya berkerut, matanya memicing. “Astaga … Emmy!”Buru-buru ia turun dari ranjang, mandi dan bergegas menuju alamat yang Ivander bagikan padanya. Sepanjang jalan, Hendro tak henti berdoa untuk keselamatan menantu dan calon cucunya. Beberapa kali ia menghubungi Arthur, tapi tidak ada jawaban. Begitu pula Raditya, tidak ada jawaban.Pagi ini jalanan pada
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 39Pamela keluar dari bilik periksa dengan wajah kesal. “Sebaiknya, apa yang igin kamu bicarakan adalah hal yang benar-benar penting,” sembur dokter cantik itu.“Aku yang akan jadi wali pasien,” singkat Ivander.“Hah?! Apa? Kamu apanya pasien?!” desis Pamela dengan mata mendelik. “Jadi kamu yang—.”“Dengar!” bentak Ivander tertahan. “Aku akan ceritakan detailnya, yang pasti tidak seperti bayanganmu. Biarkan aku yang tanda tangan semua dokumennya.”Dahi Pamela mengkerut dalam. “Aneh! Aku tidak pernah berpikir kamu akan seputus asa ini, Van.”“Hentikan fantasimu! Aku tidak sebejat itu.”Mata Pamela mengerjap lega. “Syukurlah. Tapi, kamu tetap tidak bisa menjadi wali pasiennya. Harus keluarganya. Kecuali, kamu memang keluarga pasien,” sindir Pamuela jenaka.“Van,” panggil Emily dari balik tirai.Ivander mendekatkan kepalanya ke telinga Pamela dan berbisik, “Segera!” Setelahnya, ia menghilang di balik tirai.“Ya.” Ivander berdiri di samping ranjang Emily. Tangannya mengepal melihat kondaisi
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 38“Hei!” hardik Ivander kaget seraya mencekal lengan Emily yang menghajar tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan?!” Matanya membulat marah.“Aku yang bertanya lebih dulu padamu, apa maksudnya ini?!” balas Emily tak kalah marah. “Seolah kamu berhak mengatur seluruh kehidupanku hanya karena beberapa kali memberiku bantuan. Begitu?!”Ivander menarik tubuhnya duduk dan membawa Emily bersamanya, duduk di atas pangkuannya. “Dan beberapa kali itu tidak bisa membuatmu percaya padaku? Baiklah. Aku akan tunjukkan sikap yang akan membuat kepercayaanmu semakin pudar.”Cekalan Ivander berpindah dari pergelangan tangan Emily ke tengkuk wanita itu. Dengan satu kali hentakan, kepala Emily meneleng sesuai perintah Ivander dan menerima ciuman yang menuntut.Emily berontak. Marah dan kesal dengan sikap sesuka hati pria itu. Ia menggigit bibir pria itu dan mulai menangis. Sakit di bibir bawahnya, membuat Ivander terpaksa melepaskan ciumannya.Sikapnya melunak melihat Emily menangis tersedu di pangkuannya. Tangan
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Bab 37Grep!Ivander mencium Emily dengan rakus. Bibirnya menekan, memaksa wanita itu menerima dan membalasnya. Emily terpaku beberapa detik lamanya, sebelum kedua tangannya mulai mendorong dan memukul Ivander.“Humpt … humpt …!” Emily berontak sekuat tenaga, tapi sia-sia. Ivander terlalu kuat untuk dilawan.Tangan Emily berhasil menyusup di antara tubuhnya dan Ivander. Kepalan tangannya mendorong sekuat tenaga. Pikirannya hanya fokus untuk melepaskan diri dari jeratan gairah Ivander yang nyaris menghanyutkannya.“Hhh … hhh … hhh.” Emily terengah-engah kehabisan napas. Kepalanya menggeleng cepat ketika kepala Ivander kembali mendekat. “Tidak … hentikan,” tolaknya lemah.“Lihat aku!” perintah Ivander yang hanya dijawab gelengan kepala Emily. “Emily, lihat aku.” Nada Ivander melembut.Emily mendongak dengan wajahnya yang basah dan merona karena ciuman Ivander. Mata itu basah oleh air mata.“Kamu menangis? Apa aku menyakitimu?” tanya Ivander sambil mengusap bibir bengkak Emily dengan ibu jariny
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Bab 36Tok tok tok.Pintu kamar terbuka. Jemari Ivander masih melanjutkan aktivitasnya.“HEI …!” bentak Arga menghambur masuk.Emily hendak menurunkan kemejanya, tapi tangan bebas Ivander mencegahnya. “Rahimnya keras. Cepat siapkan USG portable-mu!”“Oke.” Dengan kesal karena Ivander tidak berusaha menghentikan aktivitasnya, Arga membuka koper kecil dan mulai menyiapkan peralatannya. Makin kesal hatinya manakala melihat Emily bersemu merah karena sentuhan itu.“Minggir!” usir Arga dingin.Kalimat Arga tidak serta-merta membuat Ivander beranjak. Ia masih sempat mengambil tisu, membersihkan krim dari perut Emily dan bangkit perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily dan tentu saja, semu merah itu terekam juga olehnya.“Emmy, kamu sedang mengalami kontraksi.” Arga menempelkan jemarinya lembut sebelum menuang gel dingin berwarna biru muda. “Ayo, kita cek dulu.”Layar hitam putih segera berubah begitu probe USG Arga menempel di perut Emily. Arga beberapa kali terdiam dan mengambil tang
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 35“Pagi, Emmy!” sapa pria itu penuh semangat dan senyum cerah.“K-kamu?!” pekik Emily kaget. “Untuk apa kamu di sini?” tanyanya bingung.“Lupa? Dalam rekaman itu, ada kita, tidak hanya kamu.” Ivander menarik kursi kosong di sebelahnya dan menyilakan Emily duduk dengan gerakan dagu.“Karena semua sudah datang, mari kita mulai,” ujar Bayusena membuka pembicaraan resmi. “Hari ini kami berempat diberikan tugas dan wewenang untuk meminta penjelasan atas foto dan video terkait anda berdua. Silakan dewan direksi.”Dua jam lamanya, Emily dan Ivander menjawab berbagai pertanyaan dan menjelaskan banyak tuduhan terkait video dan foto yang beredar di kalangan intern rumah sakit. Mereka keluar dari ruangan beriringan dengan raut wajah yang berbanding terbalik. Emily dengan gurat emosinya, sedangkan Ivander dengan senyum cerianya.Begitu mereka keluar dari pintu ruangan, Hendro sudah berdiri menyambut dengan wajah tegang.“Kita perlu bicara,” ujarnya singkat tanpa ingin dibantah.“Dengan kami?” tanya
Last Updated: 2026-07-21