author-banner
Nanda64
Nanda64
Author

Novels by Nanda64

Setelah Terbangun Sistem Menyuruhku Membunuh Sang Raja

Setelah Terbangun Sistem Menyuruhku Membunuh Sang Raja

Setelah terbangun, Liriel mendapati dirinya berada di tengah hutan, tanpa ingatan apa pun. Sebelum ia sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah suara yang mengaku sebagai sistem pun terdengar. Jika Liriel ingin mendapatkan kembali seluruh ingatannya dan identitasnya, ia harus menyelesaikan sebuah misi yang mustahil. [Bunuh sang raja.] Tentu saja, sistem memberikan sedikit kelonggaran dengan memerintahkan Liriel untuk mengumpulkan tujuh pejuang kuat untuk membantunya menyelesaikan misi tersebut. Liriel: "Apa yang harus aku lakukan agar mereka setuju untuk membunuh raja yang mereka percayai?" Sistem: "... Sebenarnya, segalanya mungkin. Namun, aku sarankan agar Tuan Rumah menaklukkan mereka." Liriel: "Menaklukkan...?" Akhirnya, gadis yang mengalami masalah ingatan itu menemukan tujuh pejuang hebat dan menyatakan dengan lantang: "Aku, Liriel, menantang kalian untuk duel, dengan ketaatan sebagai hadiah kemenangan." Tujuh pejuang hebat: "...." Sistem: "... ITU BUKAN JENIS PENAKLUKAN YANG AKU MAKSUD."
Read
Chapter: 17. Restu Terakhir.
"Hapus pandangan iba itu dari matamu. Mereka tidak butuh dikasihani, baik Viner maupun Belia jauh lebih kuat dari yang kau kira. Dan—" Suara Reiji mendadak terhenti, tatapannya melihat kejauhan ke tempat Viner berada.Refleks, Liriel menoleh, memelototi pria itu tidak senang sambil mendengus. "Aku tidak merasa kasihan!""Aku hanya... ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu bukan kasihan!” Gadis itu memalingkan wajah, dengan tangan terlipat di dada dan wajah tertekuk.Reiji diam memperhatikan gadis itu berjalan pergi meninggalkannya dengan marah. Bibir merahnya terbuka dan menutup, melontarkan semua omelan.Tanpa sadar, sekilas senyum melintas di wajahnya. Reiji melirik ke belakang sejenak sebelum bergegas mengikuti Liriel, mencegah gadis itu tersesat di hutan ilusi ini.“Hati-hati, jika terus cemberut nanti cepat tua." Pria itu menusuk pipi Liriel dengan ujung jarinya, terkekeh pelan saat ia merasakan tubuh gadis itu sedikit kaku.Liriel menepis tangan Reiji, mendengus sekali lagi. N
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: 16. Perpisahan Di Bawah Cahaya Jingga.
Kelopak mata Viner perlahan terbuka. Cahaya samar jingga dari sela-sela dedaunan menampakkan kilau keemasan di ujungnya. Matahari perlahan bangkit untuk menyinari hari baru.​Dia berkedip beberapa kali, menyipitkan mata menyesuaikan pandangannya. Perlahan dia menengadah, mencoba mencari tahu di mana ia berada sekarang.​Seketika itu juga, dia membeku saat melihat gadis yang selama ini ia rindukan tengah menatapnya dengan senyum manis.​Viner bisa merasakan bagaimana jari-jemari gadis itu mengusap lembut rambutnya. Ia tak kuasa menahan napas, tanpa sadar air mata merembes keluar.​Namun, Viner tak sedetik pun berkedip seolah takut kekasihnya akan hilang bagai malam-malam biasa saat ia merindukannya dulu.​"Kenapa menatapku begitu? Ada sesuatu di wajahku? Atau..." Gadis itu berhenti sejenak, lalu dengan wajah cemberut ia kembali berkata, "Aku sudah tidak cantik lagi?"​"Hah? Tidak!" sangkal Viner tegas. Dia buru-buru bangkit ingin menjelaskan. Namun, rasa sakit di tubuhnya membuat pria
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: 15. Janji Di Bawah Pohon Maple.
Setiap detik yang berlalu suhu di sini semakin menurun. Liriel memeluk dirinya, tubuhnya bergetar. Dia mendekati Reiji lalu memeluk erat lengan pria itu, mencari kehangatan di sana. "Bukannya kau itu makhluk laut, ya? Suhu segini saja sudah menggigil," ejeknya sambil melepaskan Liriel dan menghindar kesamping. Kedua alis Liriel berkerut erat, kesal dengan gerakan menghindar pria itu. Dia menggertakan gigi sebelum menerkanya. "Jangan bergerak! Sebagai rubah dengan banyak bulu, kamu tidak berhak menghakimiku." Dengan lihai Reiji mundur selangkah, membiarkan gadis itu terhuyung dan menggeram marah. Seringai tersungging di wajahnya. "Sigh... sekarang seorang pria harus pandai menjaga diri, apalagi dari gadis aneh yang selalu ingin memanfaatkannya," desahnya tak berdaya. "Hei!" Teriak Liriel tak terima. "Jangan mencuri dialogku! Dan... berhenti bergerak Reiji, biarkan aku merasakan kehangatanmu~" Sudut mata Reiji terkedut mendengar kata ambigu itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk m
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: 14. "Kamu sengaja, kan. Reiji."
Tatapan Liriel berhenti beberapa detik di punggung Reiji, sebelum ia mengalihkannya."Reiji."Jika saja pria itu tidak memiliki pendengaran yang baik, mungkin ia akan melewatkan panggilan samar yang gadis itu bisikkan.Tanpa menoleh, Reiji mengeluarkan "Mm" pelan, menjawab panggilannya.Liriel menghentikan langkahnya menatap lurus ke arah pria itu. "Bukannya sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskannya padaku?"Kibasan kipasnya terhenti sesaat, sebuah emosi melintas sekilas di matanya. Reiji tetap diam tanpa berbalik namun dia menghentikan langkahnya. "Menjelaskan apa? Ah, maksudmu tentang Seliora? Dia hanya—""Bukan itu," potong Liriel. "Ini tentang semua upaya yang kamu lakukan untuk memikatku agar masuk ke dalam hutan."Melihat pria itu membuka mulutnya lagi untuk kembali mengalihkan perhatiannya. Tak akan Liriel biarkan, ia segera menyela."Jangan mengelak Reiji, sejak awal aku sudah merasakan ada yang aneh tentang semua ini," ujarnya dengan percaya diri.Melihat pria itu diam t
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: 13. Kau ingin menyelamatkannya?
Liriel menarik napas, matanya berkedip pelan, setengah wajahnya terangkat dari air setengahnya lagi ia biarkan tetap di dalam. Gadis itu diam mengamati Reiji di sisi sungai yang tengah berbincang dengan Seliora. Tanpa sadar secuil senyum tipis terukir di bibirnya, tatapan gadis itu melembut. "Kamu pintar sekali membuatku bingung, mana dirimu sebenarnya?" bisiknya samar terbawa arus sungai.Ia kembali membenamkan wajahnya ke dalam air. Membiarkan tubuhnya terombang-ambing oleh arus sungai. Sementara di tepi sungai, tatapan Reiji menajam melihat kekeraskepalaan rubah kecil di hadapannya. Ia memijat pangkal hidungnya sambil mendesah pelan. "Kau tahu jelas, aku tidak bisa membantu lebih dari ini.""Aku tahu! Aku tidak akan meminta lebih. Jadi..." Rubah kecil itu terus menatap pria di depannya. "Aku mohon Reiji. Hanya satu hari lagi— Tidak setengah hari atau satu jam juga tidak apa-apa.""Aku hanya..." Suaranya bergetar, ia menundukkan kepala. Dengan mata memerah menahan air mata, Seli
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: 12. Dia... terlalu malas untuk peduli.
Liriel mendongak, keningnya mengernyit erat. "Reiji, ketemu tidak?" ​Teriakan itu membuat pria yang tengah berdiri di dahan pohon tinggi tersebut ikut mengernyitkan pelipisnya. Namun, Reiji tetap diam, memilih fokus menajamkan indranya untuk mencari. ​Gadis itu mendesah pelan, menggosok-gosok keningnya yang mulai terasa pening. Ia kemudian mengalihkan perhatian pada rubah kecil di hadapannya. "Bagaimana denganmu, Seliora?" ​Seliora membuka matanya, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi murung. Respons itu membuat Liriel kembali mengembuskan napas berat. ​"Ke mana Belia pergi?" gumam Liriel frustrasi. ​Tepat saat itu, Reiji membuka matanya. Ia melompat turun dari dahan pohon dengan gerakan seringan bulu, lalu berkata pelan, "Aku menemukannya." ​Mata gadis itu langsung berbinar cerah. Ia bergegas menghampiri pohon tempat pria itu berada. "Kalau begitu, ayo kita ke sana!" ​Reiji tidak langsung menjawab. Ia menatap Liriel dengan pandangan yang teramat dalam. Tanpa disadar
Last Updated: 2026-05-26
OUR STORY

OUR STORY

"Kami hanya ingin hidup bebas seperti kebanyakan remaja di dunia, kami tidak pernah sekali pun meminta untuk berlahir seperti ini, jadi bisakah kalian membebaskan kami?" Raymond, Liora dan Arion hanyalah remaja biasa yang ingin melalukan banyak hal yang mereka sukai, tapi takdir seakan tidak mengijinkan hal itu. Orang yang sangat mereka sayangi menghilang membuat mereka merasakan kebingungan dan kesepian. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencarinya, pencarian itu membuat mereka terlempar ke dalam dunia aneh dan unik. Dan perjalanan mereka pun di mulai.
Read
Chapter: Bab 10
Refleks, mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Di sana, seorang anak berusia enam tahun berlari kencang menerobos kerumunan, berusaha menghindari kejaran pria bertubuh besar.​Dengan napas yang berburu tak beraturan, anak itu mendekap erat sepotong roti di dadanya. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan jarak antara dirinya dengan sang pengejar.​“Ketangkap kau, bocah nakal!” teriak pria itu geram. Ia menyambar lengan si anak dengan kasar, hingga kulit mungil itu memerah seketika.​“Lepaskan! Lepaskan aku!” Anak itu meronta hebat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sangar tersebut.​“Hah... hah... Terima kasih, Tuan, sudah menangkap pencuri ini,” ucap pemilik roti dengan napas tersengal-sengal saat tiba di lokasi.​Raymond dan kedua temannya saling pandang, lalu mendekati kerumunan agar bisa melihat lebih jelas.​“Anak itu mencuri roti lagi. Sudah berapa kali dalam sebulan ini?” bisik salah satu warga.​“Sejak dia datang ke sini, hampir setiap minggu ada saja barang
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Bab 9
Waktu berlalu dengan cepat, sudah satu minggu Raymond datang kedunia ini. Dalam satu minggu ini tidak ada yang istimewah. Hari-hari nya diisi oleh pertengaran dengan Liora atau Arion. Bahkan sesekali Madam Sami dan Sion akan mampir kemari hanya untuk mengecek keadaan kami dan menagih hutang atas patung yang mereka pecahkan waktu itu. Dan sepertinya kali ini pun Madam Sami datang dengan alasan yang sama.Saat ini Raymond, Liora dan Arion tengah menghadapi keadaan kritis.“Jadi kapan kalian akan membayar uang untuk rumah dan patung yang kalian pecahkan?”Raymond memalingkan wajah saat Madam Sami memandangnya, begitu pun dengan Arion dan Liora. Tidak ada yang berani berbicara. Raymond menghela napas, memberanikan diri menatap Madam Sami.“Kami tidak memiliki uang.”Madam Sami terdiam sejenak lalu menyerap kembali tehnya sembari berkata,“Aku tau.”“Jadi kami tidak bisa membayarnya sekarang.”&ld
Last Updated: 2022-03-12
Chapter: Bab 8
Raymond menatap kagum pada rumah di depannya, dia tidak bisa berkata apa pun pada apa yang dia lihat, begitu pun dengan Liora dan Arion. Dia ingat dengan jelas Madam Sami mengatakan bahwa rumah yang akan kita tinggali adalah rumah yang paling sederhana diantara rumah yang dia miliki. Sekali lagi Raymond mulai bertanya-tanya seberapa kaya Madam Sami. Raymond berjalan menuju rumah itu disusuli Liora dan Arion, rumah 2 lantai penuh dengan hiasan indah disetiap dindingnya, ada juga patung didepan pintu masuk.“Rumah ini bahkan lebih mewah dari rumah Paman.”“Paman? Kamu punya Paman Ray?”“Tentu saja memangnya ada yang tidak punya paman didunia ini? Walaupun tidak punya paman sedarah tapi setidaknya mereka punya orang yang bisa mereka sebut paman kan?”“Tapi aku tidak memilikinya, aku hanya punya Kapten dan profesor.”“Kau yakin Liora? Aku saja memiliki Paman.”Liora terdiam mendengar pe
Last Updated: 2022-01-06
Chapter: Bab 7
"Tidak ada yang ingin menjawab? Ku ulangi sekali lagi sedang apa kalian disini?"Sekarang Raymond yakin bahwa suara yang di dengarnya memang suara Madam Sami, diam- diam Raymond melangkah mundur. Setelah dipikir kembali suara berisik Arion dan Liora tidak lagi terdengar Merasa ada yang salah Raymond melirik kesamping dia terteguh menyadari Arion dan Liora sudah tidak ada disana.Suara langkah kaki dari belakang menarik perhatian Raymond, dia memalingkan wajah kebelakang. Di lihatnya Arion dan Liora tengah berlari cukup jauh dari posisinya sekarang.'Sialan'Raymond benar- benar ingin membunuh mereka berdua, tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah melarikan diri. Nenek tua di depannya sangat mengerikan.Entah kenapa Raymond selalu merasa agak takut pada Madam Sami, rasa takut serupa yang terkadang Raymond rasakan saat bersama Paman. Belum sempat Raymond berlari cuku
Last Updated: 2021-10-18
Chapter: Bab 6
[Aku tau kau akan menjawab seperti itu, tapi tetap saja aku terkejut mendengar kamu menerima tugas ini]"Aku berhutang budi pada seseorang, anggap saja ini salah satu balasan ku."[......begitu, baiklah aku sangat sibuk sekarang aku tutup dulu. Tolong jaga mereka untuk ku, sampai jumpa Sami]Cahaya dibola itu mulai menghilang, Madam Sami menghela nafas lelah. Dia menyandarkan dirinya kekursi."Apa anda yakin akan mengambil tugas ini Nyonya?"Madam Sami mengalihkan pandangan nya menatap Sian yang sedari tadi ada di sampingnya."Ya, dan juga sudah berapa kali ku bilang jangan bicara formal pada ku.""Maaf tapi saya tidak bisa Nyonya.""Hah.... kau masih saja keras kepala.""Maafkan saya."Madam Sami diam tidak menjawab Sian, Dia tau mau berapa kalipun dia mengatakan bahwa Sian bisa berbicara santai dengannny
Last Updated: 2021-09-16
Chapter: Bab 5
"Kita sudah mengalahkan nya Liora." "Monster pohon? Maksud mu Kleine Boom, kalian cukup beruntung bertemu dengan nya." "Beruntung?" "Ya, ada dua cara untuk keluar dari Hutan Kematian. Pertama mengalahkan Penguasa Hutan salah satu makhluk terkuat dibenua ini. Kedua dengan mengalahkan Boom Family." "Boom Family? Maksud mu keluarga Kleine Boom?" "Ya, kerena Hutan Kematian yang didominan oleh Pohon Tentu saja Pohon akan tau jalan keluar. Hanya saja tidak mudah untuk menemukan Boom Family mereka pandai bersembunyi dan mereka cukup kuat." Madam Sami mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, batu biru yang memancarkan cahaya terang batu yang sangat Raymond kenal. "Bukankah itu inti dari Kleine Boom yang sudah kami kalahkan? Bagaimana itu ada disini?" "Kau yang membawanya bukan pria cantik." "Aku? Tidak, jika dipikir- pikir bagaimana kita bisa berada disini?"
Last Updated: 2021-09-16
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status