Chapter: Bab.84 Buah Dari Perbuatan Masa LaluFadhil nanar menatap sekumpulan keluarga besar yang sedang tertawa bahagia di taman sebuah rumah yang telah disulap menjadi aula pesta kebun yang semarak. Semesta seakan merestui hari bahagia itu dengan cuaca cerah langit memamerkan gemerlap bintang bermunculan ketika hari telah beranjak semakin malam. “Seharusnya aku yang ada di sana,” gumamnya sambil tak lepas memandang seorang wanita cantik yang bergelayut manja pada seorang pria tampan berkulit putih dengan anak perempuan mungil dalam gendongan. Itu adalah hari bahagia Sarah pada acara resepsi pernikahannya bersama Dokter Wan. “Sudahlah, Bang tak usah dilihat terus! Apa, Abang tak sadar itu sudah jadi masa lalu? Sekarang lihat kenyataan bahwa Sarah sudah bahagia dan kita juga harus melanjutkan hidup berusaha bahagia dengan keadaan yang ada,” kata Zubaidah sambil menggoyangkan lengan sang suami untuk menyadarkannya. SETAHUN YANG LALU Pada hari Zubaidah melahirkan seorang putra, Sarah sang madu juga tersadar dari baby b
Terakhir Diperbarui: 2023-01-28
Chapter: Bab 83. Tak ingin KehilanganLaras berlari cepat ke parkiran rumah sakit di mana Sarah dirawat. Ketika Dokter Wan mengabarkan bahwa Zubaidah melahirkan di rumah sakit yang sama, dirinya segera menghubungi sang suami. Anton sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit membawa bayi Putri dan neneknya juga Bibi sebagai pengasuh. Mereka harus segera dihentikan agar jangan sampai bertemu Fadhil ataupun Zubaidah yang mungkin saja keluar ruang rawat menjenguk bayinya yang konon dirawat khusus di NICU karena lahir premature. “Ayo dong, Bi … angkat,” gumam Laras sambil terus menekan-nekan keypad gawainya lalu menempelkan ke telinga. Karena panggilan terus saja gagal wanita berjilbab panjang itu berinisiatif menunggu di loby. Benar saja tak berapa lama kendaraan dengan nomor polisi yang dikenalnya memasuki loby utama. Laras mengetuk kaca bagian pengemudi ketika mobil melambat. Jelas Anton jadi mengerutkan dahi melihat istrinya tampak panik . “Buka saja kuncinya biar aku masuk dulu.” Laras segera masuk ke jok tengah ken
Terakhir Diperbarui: 2022-12-24
Chapter: Bab 82. Misteri Lantai TeratasZubaidah telah berbaring kembali di ranjang pasien dengan selimut yang kurapikan menutupi tubuhnya hingga ke dada. Meski matanya terpejam, aku tahu kalau dirinya sama sekali tidak tidur. Dia sepertinya masih marah karena kutinggalkan cukup lama hingga kehausan. Luka di perutnya masih basah hingga belum bisa bangun atau duduk apa lagi beranjak mengambil minum di meja samping temat tidur sendiri. Jaraknya cukup jauh dari jangkauan tangan.Alih-alih mencemaskan kemarahan istri, ingatanku justru kembali pada Laras di lorong rumah sakit tadi.“Siapa yang dia jenguk?” gumamku tanpa sadar.“Siapa, Bang?”Aku menoleh dan mendapati Zubaidah telah membuka matanya kembali. Tatapannya mengisyaratkan tanya. Mungkin dia telah menatapku dari tadi tetapi aku yang tidak menyadarinya karena asyik melamun. Aku bergerak dalam dudukku seolah mencari posisi yang baik tapi sebenarnya aku sedang memilah kata untuk kusampaikan padanya tentang hal-hal aneh yang kutemukan di rumah sakit ini. Wanita ini baru sa
Terakhir Diperbarui: 2022-12-23
Chapter: Bab 81. Suasana yang AnehKebahagian ini rasanya ada yang kurang entah apa itu. Kelahiran bayi yang dilahirkan Zubaidah adalah hal istimewa karena sejak awal pernikahan tak pernah terpikir akan mendapatkan anak darinya. Perjalan hampir tiga tahun bersamanya aku lebih banyak merasa mendapat jekpot dalam hidup ini. Biaya hidup keluarga yang tak perlu kupikirkan sampai hadiah-hadiah special juga pelayanan istimewa yang kudapatkan dari istri keduaku ini sungguh membuatku senang. Keadaan yang jauh berbeda dari kehidupan pernikahanku bersama Sarah. Begitupun cintaku tetap lebih besar pada wanita mungil yang mendampingiku lebih dulu. Sampai akhirnya hadir Arjuna di Rahim Zubaidah. Semua seperti terbalik. Rasa ingin membalas kebaikan yang kudapatkan darinya membuatku membantunya untuk mendapatkan kebahagiaan juga. Agar dia juga merasa beruntung memilikiku maka selalu kubantu dia untuk menggapai apa yang diinginkannya sampai hal dia ingin lebih lama bersama atau lebih aku perioritaskan kehidupannya dari Sarah dan anak
Terakhir Diperbarui: 2022-12-22
Chapter: Bab 80. Ingin MenjaganyaAku seorang dokter yang dituntut profesional menghadapi pasien bagaimanapun keadaannya. Hanya saja aku sungguh tak bisa mengendalikan diri jika menghadapi lelaki yang telah menyakiti hati seorang wanita. Yah, khusus wanita itu. Sarah. Datanya kusimpan secara khusus ketika hati ini tak bisa berhenti memikirkannya. Semula aku mengira mungkin ini karena rasa kasihan mengetahui dirinya yang telah disakiti seorang suami sedemian rupa. Namun rasa ini sungguh terlalu dalam. Wajah sayunya selalu membayang di pelupuk membuatku sulit memejamkan mata sebelum memastikan keadaannya. Apakah baik-baik saja? Apakah nyaman dalam menerima setiap tindakan medis juga perawatannya? Apakah obatnya sudah diminum? Apakah cukup menerima asupan? Juga apakah-apakah yang lain. Kekhawatiranku semakin bertambah sejak hari ini. Biang yang telah membuatnya sakit tengah berkeliaran di rumah sakit tempatnya dirawat. Istri lelaki yang sama sekali tak pantas disebut suami itu sedang melahirkan. Kandung
Terakhir Diperbarui: 2022-12-20
Chapter: Bab 79. Kelahiran ArjunaKularikan mobil dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. Sebelumnya telah kuhubungi dokter Wan yang bertanggung jawab pada istriku sejak awal kehamilan. Aku sendiri tak berani asal masuk ke rumah sakit lain karena kondisi kehamilan Zubaidah yang cukup menghawatirkan. Dokter Wan lebih tahu kondisi pasien karena memiliki catatan medisnya sejak awal. “Bapak tunggu di luar saja biar Dokter focus bekerja! Bapak bantu doa saja,” kata perawat menahan langkahku memasuki ruang periksa. Perasaanku sangat kacau. Tak seperti kelahiran anak-anakku bersama Sarah yang bisa kuhadapi dengan tenang karena kondisi ibunya yang sehat dan normal juga bantuan keluarganya yang ikut siaga baik moril maupun materil. Sekarang aku bingung sendirian. “Pak Fadhil!” “Ya!” Entah mengapa aku seperti mendapatkan tatapan yang kurang menyenangkan dari semua orang di rumah sakit ini. Bahkan ketika aku sedang kesulitan seperti sekarang wanita berseragam putih-putih itu tetap bicara dengan nada tinggi seperti kesal
Terakhir Diperbarui: 2022-12-18
Chapter: Bab 160. Tak Menghina LagiZubaidah pulang ke rumah dengan langkah gontai.Matanya masih sembab memerah akibat menangis lama di rumah adiknya.Anak dan suaminya belum pulang. Untuk mengisi waktu senggang, dirinya mulai menyibukkan diri membereskan semua hal di rumah. Dalam hati ia berjanji akan berubah pelan-pelan. Menguasai emosi yang semakin mudah meledak, menghentikan kebiasaan berprasangka buruk pada semua orang, dan tidak lagi terburu-buru menunjukkan pada dunia betapa menderitanya dirinya.Bayangan interaksi Sarah dan Fadhil saat hari kunjungan anak, hubungan harmonis Fadhil dan Bu Mona saat mereka tak sengaja bertemu di mal, membuatnya berpikir. Kenapa semua orang tampak mampu berinteraksi dengan wajar sementara dirinya sendiri selalu saja terjebak dalam salah paham dan salah sikap?Setiap perkataan yang pernah ia lontarkan untuk merendahkan suaminya satu demi satu muncul dalam ingatan. Saat itu semua terasa benar. Semua terasa pantas diucapkan. Namun kini, ketika mengingatnya kembali, kata-kata itu terd
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 159. Tak Lagi Demi Anak“Tak Semua orang berpikir picik sepertimu, kak.”Zubaidah memandang adiknya dengan sorot mata tajam dan semburat kesedihan yang membuat Laras tak tega terus memojokkannya.“Kak, meski kita tak selalu bertemu, bukan berarti aku tak tahu bagaimana sepak terjang mu selama ini. Jujur jadi adik dan sebagai wanita aku malu, kak.” Zubaidah diam sambil memegang botol minumannya dengan erat.“Kakak sudah berhasil menguasai suami sepenuhnya dan menyingkirkan Sarah. Untuk hal ini, anggap buklan salahmu sepenuhnya tapi Mas Fadhil andil banyak. Aku bersyukur sahabatku terbebas dari manusia toksik seperti kalian.” Zubaidah menahan napas mendengar ungkapan pedas Laras tentangnya tapi tak menyela.“Kau Ingat, Kak? Rezeki suami adalah rezeki istri dan keluarganya. Setelah hanya bersamamu Mas Fadhil jatuh parah ekonominya, dan sebagai istri apa yang kau lakukan? Marah dan menjatuhkan habis harga diri suami karena tak ikhlas uang pribadi terpakai.”“Kau ingin menguliti ku habis-habisan kali ini Laras?”
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 158. Selalu MembayangiZubaidah mengambil cuti selama empat hari. Sayangnya baru sehari menjaga Arjuna, hari ini anak itu dibawa ke kantor lagi sama ayahnya. Karena bingung mau mengerjakan apa,. Zubaidah memilih datang ke rumah adiknya. Laras jarang pergi keluar di jam kerja. Waktu sibuknya justru sore hari saat anak-anak yang belajar mengaji bersamanya mulai berdatangan ke rumah. Kalau suami libur baru keluar untuk mencari kebutuhan sekalian mengajak main putri semata wayang mereka untuk bermain di luar, atau bertandang ke kerabat dan teman. Dulu rumah Zubaidah rutin didatangi setidaknya dua kali dalam sebulan, tapi belakangan ini adik perempuannya itu sudah jarang melakukannya kalau tidak ada hal yang sangat mendesak. Mimi adalah keponakan yang selalu dimanjakan oleh Zubaidah. Setiap menerima gaji di tempatnya mengajar, Zubaidah bersemangat mencari pernak-pernik cantik untuk keponakan tersayangnya itu. Tapi itu dulu, sebelum menikah dengan Fadhil dan memiliki Arjuna.Mengingat semua itu membuat Zubaid
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 157. Terjebak Salah PahamFadhil pulang setelah lewat jam sembilan malam. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Selama ngantor membawa anak jelas lelaki itu tak bisa kerja dengan maksimal.Rumah sudah sepi. Sepertinya istri dan anaknya sudah tertidur. Fadhil membawa serep kunci rumah hingga tak harus mengganggu orang di rumah untuk membukakan pintu.“Abang baru pulang?” tanya Zubaidah mengagetkannya dari belakang.“Oh. Kau belum tidur?“Arjuna rewel mencari ayahnya dan baru berhenti menangis setelah kecapean baru tertidur.” Fadhil mantapnya dengan wajah menyesal dan membuka mulut untuk menjelaskan. Tapi, “Abang bahkan tak mau mengangkat telponku.” Zubaidah sudah memotongnya lebih dulu.Lelaki itu hanya menarik nafas panjang dan berlalu meninggalkan Zubaidah masuk ke dalam. Istrinya menyusul di belakang dengan wajah masih mengerut tidak puas.Ketika sang suami membereskan diri, Zubaidah masih menunggu untuk menuntaskan protes di hatinya akan respon Fadhil yang tak sesuai harapan.Ayah Arjuna pura-p
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 156. Menjadi AsingSuasana kantor masih sepi pagi ini. Fadhil melenggang melewati meja Bu Mona yang masih kosong. Ruang kantor hanya diisi Fadhil dan Bu Mona. Sekat yang dibuat menggunakan partisi dibongkar karena ruangan terasa sempit. Staf lain merangkap beberapa pekerjaan hingga memiliki ruang gerak masing-masing. Fadhil meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu menyalakan komputer. Dengung pendingin ruangan menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit, masih cukup pagi untuk ukuran kantor yang biasanya mulai ramai menjelang pukul delapan.Ia duduk sejenak tanpa langsung membuka pekerjaan. Pandangannya menyapu ruangan yang kini terasa lebih lapang. Tidak ada lagi deretan partisi yang memisahkan satu meja dengan meja lainnya. Dari tempatnya duduk, seluruh sudut kantor dapat terlihat dengan jelas.Perubahan itu dilakukan beberapa bulan lalu atas usul Bu Mona. Katanya, ruangan yang terbuka membuat komunikasi lebih mudah dan suasana kerja tidak teras
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Bab 155. Asalkan BaikZubaidah membuka mata saat langit di luar jendela masih gelap. Untuk beberapa saat ia hanya berbaring diam menatap langit-langit kamar. Napas Fadhil terdengar teratur dari sisi lain ranjang, sementara lampu tidur yang redup memantulkan bayangan samar pada dinding. Zubaidah tahu lelaki yang tampak damai itu belum lama terlelap. Begitupun dirinya. Ia melirik ke arah box bayi. Arjuna juga masih nyenyak dengan kedua tangan terangkat di samping kepala. Dada kecilnya naik turun dengan tenang.Perlahan Zubaidah menyingkirkan selimut dan turun dari ranjang. Ia bergerak hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Namun saat melewati box bayi, langkahnya terhenti.Sudah berapa lama ia tidak benar-benar memperhatikan wajah putranya saat tidur?Zubaidah berjongkok di samping box. Jemarinya terulur ragu-ragu, lalu menyentuh lembut punggung tangan mungil itu. Hangat.Arjuna menggerakkan bibirnya pelan seolah sedang mengisap sesuatu dalam mimpi, membuat sudut bibir Zubaidah tanpa sadar terangkat."Se
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Bab 128. Musibah atau Berkah?Prosesi pemakaman papa berjalan lancar dihadiri segelintir tetangga yang mengenal keluarga mama. Rumah yang ditinggali sekarang memang rumah warisan nenek untuk anak perempuannya itu dan keluarga nenek dulu termasuk orang baik di lingkungan. Kak Dio dan keluarga besar Pratama juga hadir termasuk Azka dan … Enjang. Aku mengabari Kak Dio berharap mendapatkan simpatinya tak menyangka mereka datang rombongan termasuk wanita itu. Mama Salma memelukku dengan tangis lirih. Aku tahu beliaulah yang paling menerimaku dalam keluarga itu. Ayah mertua yang dulu juga sangat mendukung aku dan putranya menjadi keluarga utuh monogami, sekarang acuh tak acuh karena kepercayaannya telah ternodai oleh perbuatan jahat orang tuaku di masa lalu. “Mama … ayo pulang.” Mama masih bergeming menatap kosong pada gundukan tanah merah di mana jasad papa beristirahat untuk selamanya. Wanita itu seperti punya naluri bahwa keluarganya tengah berkabung. Meski tidak menangis tapi terus-terusan berwajag sendu. S
Terakhir Diperbarui: 2022-12-24
Chapter: Bab 127. Sah sebagai JandaHari sudah malam ketika aku berjalan lunglai menuju pintu rumah. Lampu ruang tamu masih menyala seperti saat kutinggalkan mengikuti Kak Dio tadi. Dari balik kaca aku masih bisa melihat dengan jelas tubuh kurus Papa yang terduduk membisu di depan TV. Aku tahu beliau tidak sedang menonton karena layar datar di depannya terlihat gelap. Apakah yang sedang dipikirkannya? Kalah oleh tubuh ringkihnya pikiran papa masih normal untuk memahami banyak hal. Tentu itu penyiksaan tersendiri bagi beliau. Beda dengan mama yang sekarang bahkan tak mengingat aku sebagai putrinya. “Papa ….” Rupanya papa duduk sambil memejamkan mata. Mungkin tertidur saat menungguku pulang karena sejak aku datang lelaki yang dulu selalu lembut pada keluarga itu tak melepas pandangan dari putri kesayangannya ini. Bagaimanapun jahatnya papa di luar sana dia tetap seorang suami dan ayah terbaik. Aku tersentak mendapati tubuh papa yang sangat panas. Kuraba dahi untuk memastikan dan ternyata benar kalau papa demam ti
Terakhir Diperbarui: 2022-12-24
Chapter: Bab 126. Mengalah untuk MenangTelah satu jam lebih, lamanya kami tetap duduk berhadapan terhalang sebuah meja kecil dan saling membisu. Di meja itu terdapat dua gelas minuman dingin yang es batunya telah mencair juga sebuah map yang tergeletak begitu saja. Setelah ketegangan di rumah mama dan papa tadi kami sepakat untuk bicara berdua secara pribadi. Café inilah yang dipilih Kak Dio. Lelaki yang kulihat semakin tampan diusia matang itu setia menekuri lantai dibawahnya. Wajah cantik istrinya ini yang telah lima tahun berpisah pun bahkan tak menarik minatnya. Justru lembaran berkas perceraian yang disodorkan di depanku. Keterlaluan! “Sampai kapan kau akan bersikap begitu, Rindi?” tanya, Kak Dio menatapku lelah. Haruskah aku mengalah? “Pikirkan baik-baik. Uang dan waktumu bisa kau gunakan untuk mengurus keluargamu yang sekarang keadaannya memprihatinkan. Juga adik yang perlu perhatianmu. Aku tak mungkin terus mengurus mereka apalagi kau sudah kembali.” Uraian panjang itu justru membuat emosiku menanjak. “S
Terakhir Diperbarui: 2022-12-22
Chapter: Bab 125. Keluargaku yang Berharga“Benar, Pak. Bu Rindi datang ke rumah lama Pak Amir lalu pergi lagi setelah mendapati rumah berpindah pemilik.” “Apa kau tahu ke mana lagi dia pergi setelahnya?” “Ya. Pak. Kami terus mengikutinya dan perkiraan kita tepat sekali. Bu Rindi kemudian mengunjungi rumah lama orang tuanya. Seperti perintah Pak Dio, pengurus rumah tidak bekerja di hari sebelumnya hingga keadaan mereka menjadi sangat menyedihkan.” “Baik. Terus awasi dia! Saya meluncur ke sana,” kataku mengakhiri panggilan telephon orang suruhan yang bekerja mengikuti pergerakan Rindi. Aku tak boleh kembali kecolongan. Sikap polos istri pertamaku itu telah melenceng jauh dari harapan agar menjadi wanita yang pantas untuk Azka putra pertamaku bersamanya. Rindi merusak semuanya. Menyakiti anaknya sendiri demi ego, juga bertindak keterlaluan pada Enjang yang nota bene seseorang yang telah menolongnya bertahun-tahun mengasuh seorang anak dari suami dengan wanita lain meski itu adalah istri pertama suaminya. Aku memiliki an
Terakhir Diperbarui: 2022-12-18
Chapter: Bab 124. Perjuangan RindiRindi melesat membelah jalanan bersama limousine hitam yang kendarainya. Bentuknya yang panjang sebenarnya sedikit merepotkan mengingat di Indonesia begitu banyak daerah macet lalu lintas dan juga sangat repot ketika mendatangi wilayah padat penduduk dengan gang-gang sempit seperti kota J. “Aku harus segera ganti mobil,” gerutu Rindi sambil berjuang keras mengendalikan kendaraannya. Limousine itu dibelinya menghabiskan tabungan nafkah yang selalu dikirimkan oleh sang suami tetapi tidak terpakai. Dengan harapan menaikkan status social di depan Enjang ketika kembali dari luar negeri. Sayangnya mencari sopir pribadi untuk layaknya pemilik sebuah limousine tidaklah mudah apa lagi dulu Rindi selalu tergantung suami, mama atau papanya untuk segala urusan hidup. Bahkan ketika dirinya telah berstatus istri Dio, peran orang tuanya tetap besar menyetir hidup Rindi. Rindi kesulitan hidup mandiri di Negara ini yang memang armada umum tak sebaik kota terakhir dirinya tinggal di luar sana. S
Terakhir Diperbarui: 2022-12-17
Chapter: Bab 123Dio melajukan mobil dengan kecepatan sedang ke arah timur kota. Melewati pemukiman yang cukup padat kemudian lurus naik mengarah ke tanah luas berbukit. Suasana asri segera terpampang memanjakan penglihatan. Pepohonan rindang berjejer rapi di kanan kiri jalan. Hingga sampailah pada sebuah gerbang yang lengkap dengan post penjagaan.Bimm!!!Seorang lelaki berseragam biru tua dengan topi di kepala bergegas keluar memeriksa. Setelah dipastikan mengenal mobil dan pengendaranya, kemudian dia bergegas membuka gerbang.Dio melesat masuk bersama kendaraannya menyusuri taman yang cukup luas untuk mencapai rumahnya bersama Rindi.Tampak di kejauhan petugas yang membuka gerbang tengah bicara dengan seseorang.“Benar, Pak Amir. Pak Dio datang sendirian.”“....”“Baik, Pak.”🍀“Ada apa, Pak?” tanya Bu Amir melihat ketegangan di wajah suaminya.“ Den Dio datang sendirian tanpa memberi kabar terlebih dahulu.”“Kita tidak pernah membuat masalah, Pak ... Kenapa harus khawatir?” tanya istrinya lagi de
Terakhir Diperbarui: 2022-05-31