author-banner
Thresia Alfina
Thresia Alfina
Author

Novel-novel oleh Thresia Alfina

Pacar Rahasia Bos Muda

Pacar Rahasia Bos Muda

"Besok kamu akan datang ke pernikahanku 'kan, Je?" Jena terdiam. Tubuhnya gemetar. Bagaimana pun Jena tahu jika hari itu kan tiba, tapi mendengarnya langsung keluar dari mulut Jo-- pria yang bahkan sedang memeluk tubuh tanpa busananya dari belakang itu, ternyata tetap saja tersa menyakitkan. -- Jena merupakan seorang gasis yatim piatu. Dia tumbuh dari satu panti asuhan ke panti asuhan lainnya. Namun itu membuatnya tumbuh menjadi gadis ambisius yang perkerja keras, dia berusaha menggapai mimpinya untuk biisa berkuliah di universitas favorit dari menyisihkan sedikit gajinya sebagai seorang karyawan toko buku. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat mewah untuk Jena. Dia tida pernah berpikir bahwa kelak akan terlibat dengan cinta yang rahasia dengan Bos muda yang tampan dan ketus--yang ternyata menyimpan banyak beban yang tek pernah dia tunjukkan pada siap pun. Di hadapan Jena, Jo bukanlah seorang Bos yang memimpin sebuah toko buku cabang pusat terbesar di Velmore. Dia hanya seorang pria yang lepas dari semua beban dan bahagia; sampai akhirnya Jena ditampar keras realita jika dia dan Jo bukan hanya berbeda kasta, tapi Jo juga merupakan suami orang.
Baca
Chapter: Sebuah Pertanyaan
"Masa cewek secantik kamu Jomblo, Je?" Wajah Jena memanas seketika. Namun dia memaksakan sebuah tertawa yang hambar, "emang siapa sih yang mau sama orang kaya aku," katanya. "Kalau kamu mau, aku mau," kata cowok itu membuat Jena hampir sersedak ludahnya sendiri. Poppy dengan cepat menyodorkan air pada Jena yang sedang terbatuk-batuk. "Jangan nervous gitu, kali, Je. Biasa aja," ledek Poppy kemudian tiba-tiba ia mengode pria di hadapannya dengan kedipan mata, agar mereka meninggalkan Jena dan cowok itu berduaan saja. Pria yang ada di hadapan Poppy itu mengerti, dia segera berdiri sambil berkata, "eh, Je. Aku boleh pinjem Poppy sebentar, ya... Aku ada yang pengen dibeli, nih. Kayanya selera Poppy bagus dan bisa bantuin gue milih." Jena melempar pandangan ke arah Poppy dengan tampangnya yang polos, lalu pandamgannya beralih pada cowok di hadapannya. "Gimana kalau kita ikut sekalian?" tanya Jena pada cowok itu--namanya Rayan. Cowok itu melirik ke arah temannya, untuk ber
Terakhir Diperbarui: 2026-05-11
Chapter: Kencan?
Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu
Terakhir Diperbarui: 2026-03-15
Chapter: Istilah yang tidak Jena sukai
Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May
Terakhir Diperbarui: 2026-03-12
Chapter: Dunia Baru Jena
"Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang
Terakhir Diperbarui: 2026-03-11
Chapter: Gadis yang mulai berani
"Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan
Terakhir Diperbarui: 2026-03-10
Chapter: Hubungan yang sudah terlalu lama
"Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya

Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya

Ditinggalkan kekasihnya tanpa kabar saat mengandung, Aderyn harus menelan kenyataan pahit ketika ia diusir dari Akademi Kerajaan karena dianggap mencoreng kehormatan. Tanpa tempat kembali, ia bertahan hidup di jalanan hingga akhirnya melahirkan dalam keadaan nyaris tak tertolong—sampai seorang pria misterius datang menyelamatkannya dan memastikan bayinya lahir dengan selamat. Namun pertolongan itu datang dengan syarat, pria tersebut mengakui anak Aderyn sebagai miliknya. Demi mendapat perlindungan dan keselamatan bayinya, Aderyn menerima… tanpa tahu bahwa pria itu adalah Putra Mahkota Arkhavel! Dalam semalam, hidup Aderyn berubah drastis—dari wanita biasa yang terbuang, menjadi wanita yang berdiri di sisi Putra Mahkota dan menggemparkan seisi istana!
Baca
Chapter: Perjalanan
Aderyn terjaga semalam. Ia mendongak memandang ke arah wajah Arkhavel yang kini sedang terpejam sambil mendekap tuhuhnya erat. Melihat itu, membuat dada Aderyn terasa sesak. Hatinya sakit sekali. Pelukan Arkhavel di tubuhnya sangat erat seolah sedang berusaha menahan apapun yang sedang dipikirkan Aderyn untuk bisa terjadi, tapi semakin ia memikirkannya, semakin Aderyn memantapkan langkah untuk pergi. Tak ada cara lain lagi. Kalau sampai Lord Cassian kembali membawa sesuatu, mungkin ia tidak hanya harus pergi, melainkan harus kehilangan kepalanya karena telah berbohong tentang status Caelan. Dan yang lebih buruk lagi, hal itu mungkin akan membuatnya kehilangan Caelan. Membayangkannya saja sudah begitu menakutkan untuk Aderyn. Aderyn melirik ke arah jam besar di bawah kakinya. Sudah tengah malam. Ia kembali teringat pada perkataan Ratu sebelum ia meninggalkan ruangannya tadi sore. "Kalau kau sudah memikirkannya dengan baik, datanglah tengah malam ini bersama Caelan ke taman be
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Kepergian Aderyn
Aderyn sudah kembali ke kamarnya. Kini dia duduk di atas ranjang dengan bibir yang sedikit bergetar. Caelan tak Aderyn kembalikan ke tempat tidurnya, melainkan tetap ia peluk dengan erat seperti hanya manusa kecil itulah satu-satunya hal yang terakhir yang ia miliki. "Yang Mulia Ratu, bagaimana kau bisa meminta hal seperti itu dariku?" tanya Aderyn setelah kalimat yang Ratu ucapkan tadi terasa seperti bongkahan batu besar yang menimpa kepalanya. Aderyn memang tak bisa melihat dengan jelas raut wajah sang Ratu dari balik cahaya yang remang, tapi Aderyn bisa merasa bahwa saat itu sebuah senyum miring terbit di bibir wanita tua itu. "Aderyn, kau tahu betapa pentingnya takhta ini untuk Arkhavel? kalau dia sampai kembali menentang dewan kerajaan untuk dirimu, dia akan kehilangan alasan kenapa dia terlahir." Batu besar itu seperti menekan kepala Aderyn hingga membuat tubuhnya hampir tertanam kedalam bumi, bak palu yang mengetuk paku. Untuk sesaat ia lupa jika Arkhavel adalah
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Sebuah Permohonan
Aderyn berdiri di dekat jendela. Iris cokelatnya menerawang jauh ke balik kegelapan yang mulai menyingsing, sambil menggigiti kuku jempolnya sendiri. Pikiran Aderyn terus saja berputar pada percakapan yang terjadi antara dirinya dan Duke Harrington tadi. Caelan sudah tertidur oulas di dalam buaiannya, sedang Arkhavel masih belum kembali dari ruang kerjanya. Tangan Aderyn kini berpindah, mencengkram kuat daun jendela. Pikirannya kacau. Terakhir sekali Ratu Evelyn turun tangan, dia hampir membuat Aderyn mati di hutan. Aderyn benar-benar takut jika kali ini yang berada dalam bahaya adalah Caelan--sebab sekarang, Ratu pasti mulai menjurigai bahwa Caelan bukan merupakan darah daging Arkhavel. Ia mulai berjalan mondar-mandir di dekat buaian Caelan sambil sesekali melirik ke arah bayi itu. Rambut Aderyn yang panjang bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuhnya yang tampak gusar. Gerakan byangan dirinya memantul di sudut ruang kamarnya terhenti, ketika kembali terdengar sebuah ketukan d
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Ratu Mulai Bergerak
"Apa yang membuatmu repot-repot datang kemari, Duke Herrington?" tanya Aderyn dengan suara yang berusaha ia tekan agar tetap terdengar tenang. Padahal jantungnya sekarang sudah seperti ingin copot dari tempatnya melekat. Ia mulai melangkah, dan mengambil duduk di kursi yang ada di sebelah Duke Harrington. Tak segera ada kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang dengan tatapan penuh makna sambil tersenyum tipis ke arah Aderyn. Sebuah senyuman yang cukup membuat Aderyn bergidik melihatnya. "Kau pasti sudah mendengar tentang rumor yang beredar di istana akhir-akhir ini, Lady Aderyn," kata Duke Harrington kemudian. Aderyn tidak menjawabnya. Ia tahu Duke Harrington sedang tidak mengajukan pertanyaan, melainkan sedang memastikan. Jemari Aderyn bertaut saling meremas lebih kencang dari sebelumnya. Tanpa menunggu jawaban dari Aderyn, Duke Harrington kembali melanjutkan, "kau juga pasti sudah tahu berapa Putra Mahkota membelamu di depan semu
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Jejak yang Tertinggal
Pagi itu, langit di atas istana tampak kelabu. Kabut tipis masih menggantung di halaman ketika para pelayan mulai menjalankan tugas mereka. Suara roda kereta dan derap kaki kuda terdengar lebih sering dari biasanya, memecah ketenangan yang biasanya menyelimuti istana di jam-jam sepagi itu. Di gerbang utama, beberapa pengawal kerajaan sudah bersiap. Kuda-kuda perjalanan dipasangi pelana, peti-peti dokumen dinaikkan ke dalam kereta. Semua tampak seperti persiapan inspeksi wilayah biasa. Setidaknya di tampak begitu untuk orang-orang luar. Namun bagi orang-orang yang memahami cara kerja istana, keberangkatan pagi itu tidak sesederhana yang terlihat. Lord Cassian berdiri di samping kudanya dengan mantel perjalanan berwarna gelap yang menutupi pakaian bangsawannya. Sebuah map kulit tebal berada di bawah lengannya. Tatapannya menyapu halaman sekali, sampai sebuah suara terdengar dari belakangnya. "Aku berharap kau tidak membawa terlalu banyak masalah saat kembali nanti, Lord Cassi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Chapter: Menuju Timur Kerajaan
Lord Cassian melangkah masuk dengan membawa map kulit tebal di bawah lengannya. Raja Albercth mengangkat alis sedikit. "Kau datang lebih pagi dari biasanya." "Saya memiliki permohonan resmi, Yang Mulia." "Itu biasanya berarti aku akan mendapatkan pekerjaan tambahan." Cassian tidak tersenyum sebagaimana biasanya. Ia meletakkan dokumen di atas meja raja. "Wilayah Greznov bagian timur belum menerima inspeksi lanjutan sejak wabah berakhir." Raja Albercth membuka dokumen itu. Matanya menyusuri beberapa halaman dengan cepat. Laporan distribusi bantuan, pembangunan kembali klinik desa, perbaikan jalur perdagangan. Suamnya benar-benar terlihat normal untuk membuat Lord Cassian sampai turun tangan. "Kau ingin pergi sendiri, Cassian?" "Ya, Yang Mulia." Raja Albercth menutup dokumen itu perlahan. Tatapannya beralih pada Lord Cassian yang masih berdiri di hadapannya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara lebih lanjut. Raja Albrecht menyandarkan punggung di kirsinya.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-05
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status