Chapter: 27. Lingerie marun"Aku hanya terlambat makan, Tuan Vanderson. Asam lambungku naik karena harus membaca draf kontrak akuisisi dari perusahaanmu yang terlalu berbelit-belit itu."Valeryn menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangannya dari perut dengan gerakan sewajar mungkin. Dia menatap mata hitam Vee dengan tatapan paling dingin dan angkuh yang bisa dia pasang, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih bertalu liar akibat kepanikan instan tadi.Vee tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah pucat Valeryn sebelum akhirnya mendengus pelan. Seulas senyum sinis namun menawan kembali terukir di bibirnya."Asam lambung? Atau kau hanya mencari alasan untuk mengusirku karena kau tidak kuat berada terlalu dekat denganku, Val?" tanya Vee, melangkah satu ketukan lebih dekat hingga aroma maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Valeryn."Jangan terlalu percaya diri, Tuan Vanderson," cibir Valeryn, menggeser tubuhnya dan melangkah tegas menuju p
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 26. Kecurigaan"Aku tidak meragukan kemampuan kepemimpinan Nona Valeryn. Aku tahu persis seberapa keras kepala dan teguhnya dia saat mempertahankan apa yang menurutnya benar, termasuk saat dia mencoba melarikan diri dari sesuatu."Valeryn mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan sindiran tajam Vee menusuk tepat di harga dirinya.Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan awal untuk melanjutkan ke tahap uji tuntas (due diligence). Saat semua orang mulai berdiri dan saling bersalaman untuk meninggalkan ruangan, Vee tetap duduk di kursinya."Kalian semua bisa kembali ke hotel terlebih dahulu," perintah Vee kepada tim delegasinya, matanya tetap terkunci pada Valeryn. "Aku ingin melakukan diskusi privat empat mata dengan Direktur Utama untuk membahas klausul desain eksklusif."Clara sempat ingin memprotes. "Tapi Vee, jadwal kita setelah ini—""Keluar, Clara," desis Vee tanpa menoleh.Rose yang menyadari situasi yang semakin berbahaya ini memberikan tatapa
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: 25. Pertemuan dengan Vanderson"Kau gila, Val! Gaun ini terlalu ketat di bagian pinggang. Bagaimana kalau perwakilan Vanderson Group itu jeli dan menyadari sesuatu?"Rose praktis merebut ritsleting gaun sutra hitam yang sedang dicoba Valeryn di dalam ruang ganti butik utama. Wajah desainer itu dipenuhi gundukan kecemasan yang nyata saat dia menekan lembut bagian perut sahabatnya."Ini ukuran standarku, Rose. Kalau aku mendadak memakai gaun longgar berpotongan oversized di pertemuan sepenting ini, tim pemasaran kita justru akan curiga," sahut Valeryn sambil mematut dirinya di depan cermin besar. Dia menarik napas dalam, menahan perutnya agar tetap terlihat rata. "Lagipula, kehamilanku baru berjalan satu bulan. Belum ada perubahan fisik yang mencolok.""Satu bulan itu rentan, Val. Kau masih sering mual di pagi hari," Rose mengingatkan dengan nada berbisik yang ketat, matanya melirik ke arah pintu ruang ganti yang tertutup. "Dan jangan lupa, hari ini yang datang bukan cuma tim analis keuangan mereka. Kudengar dari
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: 24. Vanderson"Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya."Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—""Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri."Oke, aku
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Chapter: 23. Dua garis merahTiga minggu telah berlalu sejak taksi membawa Valeryn membelah dini hari Oahu yang sunyi. Tiga minggu pula dia menenggelamkan diri dalam tumpukan sketsa, laporan keuangan, dan kain-kain sutra Valerie’s Secret. Di permukaan, semuanya tampak berjalan sempurna. Vee tidak pernah menghubunginya lagi—atau lebih tepatnya, tidak bisa, karena nomornya telah diblokir secara permanen. Pria itu tampaknya telah menyerah, atau mungkin sudah kembali sibuk mengurusi butik lokalnya dan konflik panjangnya dengan sang mantan istri, Clara.Valeryn mengira dia telah menang. Dia mengira pelariannya kali ini berhasil tanpa meninggalkan luka baru.Namun pagi itu, alarm jam dinding belum sempat berbunyi ketika Valeryn mendadak terbangun dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isinya dipaksa untuk keluar. Dia menyibak selimut dengan tergesa-gesa, berlari ke kamar mandi dalam keadaan lemas, dan mencengkeram pinggiran wastafel sebelum akhirnya memuntahkan cairan b
Terakhir Diperbarui: 2026-06-05
Chapter: 22. Kembali"Val? Sayang, kau di kamar mandi?" Vee meregangkan lengan kekarnya, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang mendadak terasa begitu luas. Kosong. Matanya yang masih terasa berat dipaksa untuk terbuka sepenuhnya saat telapak tangannya hanya menyentuh permukaan seprai sutra yang sudah dingin. Tidak ada kehangatan tubuh Valeryn di sana. Vee langsung mendudukkan diri, selimut sutra merosot hingga ke pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan otot kokoh. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar suite mewah yang kini diselimuti keheningan mencekam. "Valeryn!" panggilnya lagi, kali ini suaranya naik satu oktav. Tidak ada jawaban. Hanya deru halus pendingin ruangan yang menyambut suaranya. Vee melompat dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya yang polos saat dia melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu dikuak kasar. Kosong. Handuk dan jubah mandi satin yang kemarin mereka gunakan terlipat rapi di gantungan. Kamar mandi itu kering, menandakan tidak ada akti
Terakhir Diperbarui: 2026-06-04
Chapter: 27. Amarah yang memuncak"Brengsek! Aku harap ini pertemuan terakhirku dengannya!" Arinka memang bersyukur saat Garel tidak mencoba menahannya lagi, bahkan tidak melakukan apapun pada tubuhnya saat sedang mabuk semalam. Tapi, bukan berarti Arinka merasa bersyukur juga karena bertemu dengan pria itu. Jika dia tahu harus bertemu dengan mantan kekasihnya, Arinka jelas akan lebih memilih bertemu pria lain. "Kenapa juga dia harus kembali muncul di hadapanku. Kenapa kita harus dipertemukan lagi, Tuhan?!" Keluh Arinka dengan kepala yang sudah menunduk. Bersamaan dengan helaan berat yang sudah dia lakukan di sana. Saat ini, Arinka tengah terduduk di salah satu halte bus yang tak begitu jauh dari gedung apartemen milik Garel sebelumnya. Dia terduduk dengan lesu, bukan hanya karena dia masih merasa pengar karena mabuknya semalam, tapi juga karena dia tidak tahu kemana dia harus pergi sekarang. Tidak ada tujuan yang bisa dia datangi, tidak ada tempat yang membuatnya merasa aman lagi. "Aku tidak mungkin pulang ke rum
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: 26. Tentang masa lalu"oh, shit! Kepalaku!" Arinka memegang kepalanya, ketika dia merasakan pening yang luar biasa begitu dia terbangun dari tidurnya. Kali ini dia sudah benar-benar terbangun dan mendapatkan kembali kesadarannya meski harus dibarengi dengan rasa pening dan juga sedikit rasa tak nyaman pada perutnya. Ya, efek alkohol yang dia minum sampai mabuk sebelumnya. "Di mana lagi ini?" gumam Arinka menatap kamar yang asing untuknya. Dia sebenarnya tidak lupa sepenuhnya. Dia ingat saat Nyonya Wylon membawanya ke sebuah kamar hotel yang cukup tak asing untuknya. Dia juga ingat saat sempat terbangun di sana beberapa waktu yang lalu dengan masih setengah sadar. Tapi, sekarang? Yang Arinka lihat bukanlah kamar hotel sebelumnya. Nuansanya berbeda, dan Arinka merasa kamar ini tidak begitu asing untuknya. Terlebih, saat melihat kamar ini lebih terlihat seperti kamar pribadi, bukan kamar sebuah hotel atau semacamnya. "Sialan! Jangan-jangan Nyonya Wylon benar-benar menjualku lagi pada pelanggannya!" Keluh
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: 25. Merindukan tubuhmu"Huh? Aku mau dibawa kemana?" Arinka bertanya saat Nyonya Wylon tiba-tiba saja menuntutnya untuk bangun dan berjalan menjauhi keramaian di dalam club tersebut. Masih dengan ketidaksadarannya, Arinka berjalan sempoyongan dalam tuntunan Nyonya Wylon. Ditambah dengan Arinka yang terus meracau dan bertanya kemana wanita itu akan membawanya. "Sstt, diam saja, Sayang. Aku hanya membawamu pada pundi pundi uang yang akan kau dapatkan nantinya!" Seru Nyonya Wylon meyakinkan. Meskipun dia sendiri tahu kalau Arinka juga pasti masih tidak sadar dan hanya meracau tak jelas. Percuma juga kalau dia mengatakan hal seperti ini. "Bawa wanita ini ke mobil, aku akan menghubungi seseorang terlebih dulu," ucap Nyonya Wylon pada dua bodyguard yang sudah menghampirinya. Wylon menyerahkan tubuh Arinka pada dua orang itu, sebelum akhirnya dia menekan panggilan untuk menghubungi seseorang. "Ini aku, Nyonya Wylon," ucapnya begitu panggilan tersebut sudah tersambung pada nomor tertuju. "Apa?" tanya seseora
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: 24. Semua pria brengsek!"Fuck! Sialan!" Teriakan itu menggelegar bersamaan dengan satu gelas yang sudah terlempar hingga pecah dan berserakan. Tak dapat dipungkiri, jika hal itu juga membuat wanita yang tengah terduduk di tepi ranjang menunduk dan meremat pakaian yang dia kenakan dengan cukup erat. Jelas dia merasa takut dengan apa yang terjadi di hadapannya. Takut menatap pria yang kini sudah dipenuhi amarah sampai berteriak dengan makiannya dan memecahkan barang yang ada di sekitarnya seperti itu. "M–maaf," ucap Arinka lirih. Seharusnya mereka masih melanjutkan acara bercinta mereka untuk ronde yang ke sekian kalinya. Akan tetapi, semuanya harus dihentikan tepat setelah Dean mendapatkan puncaknya hanya dengan kuluman mulut sang adik. Sebab Dean yang telah meraih kesadaran dari gairahnya itu mendengar kembali dering ponselnya yang sempat dia abaikan. Hal yang menjadi awal dari kemarahan pria itu sekarang. "Kalau kau tidak menahanku di sini, aku sudah pasti bisa membantu mereka di sana, Sialan!" Bentak
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 23. Tubuh yang berbahaya"Love, aku harus pergi dulu. Kau diam di sini dan jangan kemana-mana. Hubungi aku kalau ada apa-apa, biar aku suruh salah satu orangku untuk datang ke sini dan menjagamu. Oke?"Satu kecupan didaratkan oleh Dean tepat pada kening Arinka setelah pria itu berkata demikian pada wanita yang masih bernaring di atas ranjang. Wanita yang pagi ini dia gempur hingga beberapa kali.Arinka sendiri kini sudah menatap Dean dengan mata sayu yang dikuasai rasa lelah itu. "Mau kemana lagi, Dean?" tanyanya penasaran."Ada urusan yang harus aku selesaikan," jawab Dean yang sudah siap melangkahkan kakinya dari sana.Namun, dengan cepat Arinka meraih tangan Dean. Menahan pria itu hingga akhirnya kembali berbalik dan menatapnya heran."Lagi?" tanya Arinka dengan sedikit kekecewaan yaang dia tunjukan.Baru semalam dia merasa aman bersama Dean, tapi setelah diberikan kepuasan, pria itu lagi-lagi mau meninggalkannya? Arinka tahu dia tidak boleh egois, tapi bukan berarti dia diam saja kalau diperlakukan sepert
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: 22. Tentang kehamilanPergumulan panas kala pagi itu terasa begitu berbeda dari pergumulan yang sebelumnya biasa keduanya lakukan. Suasana yang hadir begitu hangat sampai-sampai sang wanita dibuat terbuai akan sikap manis yang diberikan oleh sang pria di kala pagi itu. Tidak ada alur permainan kasar yang biasa ditujukan oleh lelaki tersebut untuk sang wanita. Tak ada juag makian kasar yang tertutur dari lisan sang pria, rangkaian kata terkutuk tersebut kini telah berganti dengan ramuan pujian indah untuk sang wanita. "Do you like it?" tanya Dean seraya menatap lurus pada wajah cantik yang tengah berada di bawahnya. "I do really like it. Tapi, sepertinya ada yang beda. Kenapa tidak seperti biasanya? Ini tidak seperti Dean yang aku kenal," ucap Arinka menatap pria di atas tubuhnya. Dean seketika menghentikan alur gerakannya usai mendengar tutur pertanyaan dari Arinka di bawah kungkungannya. Tetap ia biarkan miliknya bersemayam hangat dalam titik senggama milik wanita itu. Yang ia tangkap adalah sang wani
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: 20. Keuntungan yang besar"Perkenalkan, ini istriku, Stacylia Frey. Dia yang akan menjadi Presdir sementara untuk menggantikan Pak Yovi."Itulah bagaimana Aldrich memperkenalkan Stacy pada beberapa orang yang sudah duduk di kursinya masing-masing. Sebuah perkenalan yang lantas membuat Stacy harus bersikap elegan sembari tersenyum dan memperkenalkan dirinya sendiri. Seperti yang diinginkan oleh Aldrich, Stacy sedang berusaha untuk menjadi seorang istri yang sempurna, untuk bisnisnya."Duduklah," ucap Aldrich pada Stacy.Stacy mengangguk dengan lembut. Dia pada akhirnya duduk tepat di samping Aldrich. Dan sekali lagi, Stacy tengah berusaha bersikap baik dengan segala manner yang dia miliki. Tak lupa, Stacy juga mencoba untuk terlihat angkuh.Membutuhkan waktu beberapa puluh menit untuk mereka semua membahas beberapa hal tentang perusahaan dan semacamnya. Stacy tak begitu tahu banyak hal tentang itu. Tapi, sedikitnya dia yang sudah paham dengan bisnis sedikit menger
Terakhir Diperbarui: 2025-01-08
Chapter: 19. Pria yang dikenal"Karena dengan menjadi istriku, keamananmu adalah nomor satu. Kau tak pernah tahu bahaya yang mungkin akan datang saat menjadi bagian dari diriku."Bisikan yang diberikan Aldrich di telinganya jelas membuat Stacy tidak bisa tenang begitu saja. Jelas yang dikatakan pria itu mampu membuat kecemasan dalam dirinya bangkit. Tidak mungkin Stacy tidak khawatir kalau Aldrich mengatakannya dengan begitu serius.Sebab, di sisi lain, Stacy juga tak pernah benar-benar mengenal bagaimana Aldrich sebenarnya. Bagaimana pria itu menjalani kehidupannya. Meski lelah dengan hidupnya, tapi Stacy juga tidak mau kalau dia harus mati konyol hanya karena telah menjadi istri seorang Christian Aldrich Devoire.Stacy menelan ludahnya sendiri. "Apa orang-orang mencoba memburumu atau semacamnya?" tanya Stacy pada akhirnya.Rasa penasaran dalam dirinya tak bisa dielakkan lagi.Bukannya menjawab, Aldrich justru malah tersenyum dan mengangkat kedua bahunya."Ay
Terakhir Diperbarui: 2025-01-08
Chapter: 18. Bahaya yang mengancamCukup memalukan untuk Stacy saat Levin berucap demikian. Dimana itu berarti, Levin benar-benar mengetahui apa yang terjadi semalam. Tentang apa yang dia lakukan bersama Aldrich di dalam kamar hingga membuat Stacy melenguh dan mendesah dengan begitu keras. Nyaris seperti jeritan, tepat dengan yang dikatakan oleh Levin.Pun begitu, Stacy sudah mendapati Levin pergi dari mereka. Pria itu sudah berlalu meninggalkan Stacy dan Aldrich di sana. Bahkan, membuat Aldrich bisa merasakan bahunya sengaja ditabrakkan oleh tubuh Levin. Membuat Aldrich ingin sekali memberikan pukulan pada Levin, jika saja Stacy tidak mengalihkan fokusnya."Dari mana? Kenapa tidak mengatakan akan pergi?" tanya Stacy penasaran pada Aldrich.Nyatanya, wanita itu lebih memilih untuk memberikan pertanyaan, daripada membahas apa yang sebelumnya dikatakan oleh Levin."Ada urusan," jawab Aldrich singkat."Kenapa tidak membangunkan aku? Kau malah meninggalkan aku sendiri," ujar S
Terakhir Diperbarui: 2025-01-07
Chapter: 17. Jeritan yang terdengarStacy cukup terkejut saat dia telah berjalan keluar kamar pagi ini. Dimana dia yang tengah mencari Aldrich yang entah kemana sejak pagi buta, malah menemukan suasana Mansion itu yang sudah rapi. Dengan beberapa pelayan yang ada di sana. Padahal, sebelumnya suasana di sana begitu ramai dan dapat dipastikan jika pagi ini tempat itu akan begitu berantakan.Mungkin, karena memang Aldrich atau entah siapa yang mengurus tempat itu telah mengerahkan puluhan pekerja untuk membereskan semua itu. Hingga akhirnya, semuanya cepat beres dalam waktu singkat. Saat waktu baru menunjukan pukul tujuh pagi."Selamat pagi, Nona Stacy."Sapaan itu terus terdengar selama Stacy berjalan ke sana kemari untuk mencari Aldrich. Ya, itu adalah sapaan dari beberapa pelayan yang berpapasan dengannya selagi dia menyusuri beberapa tempat yang ada di sana."Ya. Apa kau melihat Suamiku?" tanya Stacy saat dia mulai merasa lelah mencari Aldrich ke sana kemari."Ah, Tuan Ald
Terakhir Diperbarui: 2025-01-07
Chapter: 16. Fantasi liar"Jangan melakukan hal lain selain dengan menuruti perintahku dan menjadi istri yang baik untukku, Stacy. Atau kau, akan terluka. Lebih buruknya, kau mungkin akan mati."Kalau sudah seperti ini, jelas Stacy sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia hanya bisa menjadi seorang wanita yang telah patuh pada suaminya. Ah, atau mungkin lebih tepatnya itu adalah tuannya.Karena Stacy sendiri sadar kalau Aldrich tak benar-benar menganggapnya sebagai istri saja. Nyatanya pria itu juga menganggapnya sebagai seseorang yang bisa dia perbudak di antara bisnis dan urusan ranjangnya."Aku ingin beristirahat," ucap Stacy kemudian. Dia berusaha menghindari Aldrich di sana dengan bangkit dari duduknya.Aldrich malah menunjukan senyumnya pada Stacy yang sudah berdiri dari sampingnya."Memangnya siapa yang mengizinkanmu untuk beristirahat, sayang? Kau bahkan sudah menghabiskan beberapa waktu mu untuk tertidur di kamar Levin," ucap Aldrich dengan jari telunjuk yang sudah bergerak menggaruk pelipisnya yan
Terakhir Diperbarui: 2025-01-06
Chapter: 15. Jadilah istri penurutTidak seperti Stacy yang terlihat begitu gelisah mendengar suara Aldrich di luar sana. Levin justru terlihat santai dan tenang-tenang saja, seolah kehadiran Aldrich bukanlah hal yang akan menjadi masalah untuk dirinya. Padahal dari suaranya saja terdengar jelas jika Aldrich tengah berada di dalam sebuah amarah."Tenang saja, jangan khawatirkan apapun. Biar aku yang menjelaskan pada pria itu," ucap Levin saat melihat kekhawatiran Stacy.Dia juga sudah berjalan melewati Stacy di sana. Dimana dia kini telah membukakan pintu kamar tersebut.'Levin, benar-benar tidak merasa takut untuk berhadapan dengan Aldrich?' tanya Stacy dalam hati.Menghela nafasnya dalam, Stacy sempat memejamkan matanya untuk beberapa detik. Dia mempersiapkan diri jika saja Aldrich memarahi dan melemparkan makian padanya."Hai! Lama tidak bertemu, Aldrich. Kakakku!"Stacy kembali dikejutkan dengan hal lain. Kakak, katanya? Stacy sampai harus berpikir dengan baik, dia takut jika memang telinganya salah mendengar Levin
Terakhir Diperbarui: 2025-01-06
Chapter: 24. Bukan istri pengganti lagi"Apa kamu sedih saat Ghava tidak lagi menginap di sini?" tanya Davianq tiba-tiba. Hal itu membuat Arletta nyaris terlonjak dan menoleh ke arah Davian di sana. "Apa maksudnya?" Tidak menjawab, Davian hanya terlihat mengangkat kedua bahunya. Dimana Arletta hanya bisa melihat ketidakramahan Davian di sana. Apa, pria itu cemburu? Rasanya tidak mungkin kalau pria itu cemburu padanya. Karena sejak awal, mereka ini menikah hanya karena keadaan saja. Tidak benar-benar menikah karena ingin menikah dan saling mencintai. Arletta menikah dengan Davian karena paksaan pria itu, dan begitu pun sebaliknya. Davian menikahi Arletta tidak lebih dari meminta pertanggung jawaban wanita itu karena dia harus kehilangan Tiara. Menjadikan Arletta sebagai istri penggantinya dan mengurus bayinya bersama Tiara. Maka sekarang Arletta lebih memilih untuk menyingkirkan perasaan itu. Dia tidak bisa kalau harus berpikir kemustahilan tersebut. Teramat tidak mungkin untuk Arletta. "Aku merindukan Sena," gum
Terakhir Diperbarui: 2024-09-13
Chapter: 23. KecemburuanArletta tidak begitu yakin apakah dia memang harus berteman dengan Ghava atau tidak. Dia tidak begitu yakin akankah dia memang bisa melakukannya. Saat kenyataannya, dia itu adalah pria yang pernah dia sukai. Pria yang pernah menyita perhatian Arletta selama beberapa tahun. Meski begitu, Arletta juga hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk merespon apa yang dikatakan oleh pria itu. Rasanya akan terlalu tak enak kalau dia menolaknya. Bagaimana pun, pasti niat Ghava juga baik. Agar mereka tidak lagi merasa canggung satu sama lain, saat Ghava adalah merupakan salah satu keluarga dekat Davian, suaminya. Jadi, mungkin tidak akan menjadi masalah kalau Arletta mencoba menerima permintaan Ghava untuk berteman di sana dan melupakan apa pun yang pernah terjadi di antara mereka berdua. "Davian pergi kemana?" tanya Arletta kemudian. Ya, dia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka sekarang. "Entahlah, katanya dia harus menemui temannya. Mungkin dia juga akan segera kembali," jawab Ghava k
Terakhir Diperbarui: 2024-09-12
Chapter: 22. Berteman? "Jangan melewati batas yang lebih jauh! Sena juga masih kecil, kamu juga harus ingat kalau pernikahan kita cuma sementara. Aku tidak mau hamil, aku masih mau melanjutkan sekolahku!" Tegas Arletta yang sudah memegang perutnya sendiri. Davian langsung menoleh ke arah Arletta saat gadis itu berkata demikian. Dia juga melihat Arletta yang sedang meremat perutnya sendiri. Seolah gadis itu sudah merasa ngilu sebelum dia benar-benar membuatnya hamil. Tapi, jelas Davian juga tidak akan pernah menghamilinya. Dia jelas tidak pernah sekali pun memiliki pikirannya yang seperti itu. Tidak pernah sekali pun terlintas di dalam pikirannya untuk membuat Arletta hamil di sana. Gila saja kalau dia benar-benar membuat gadis itu hamil. Pasti semuanya akan semakin merepotkan. "Jangan terlalu percaya diri. Aku juga tidak akan melakukannya," ucap Davian kemudian dengan begitu yakin. Di mana setelahnya, Davian langsung berjalan untuk memasukan obat yang berada di tangannya itu ke dalam tempat sampah yang
Terakhir Diperbarui: 2024-09-11
Chapter: 21. Penyubur kandunganMelipat kedua tangannya di depan dada, sekarang Arletta tengah menatap pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Dia menatap Davia yang baru saja mengatakan pada Arletta untuk tidur lagi dan memberikan beberapa obat-obatan yang sudah diberikan padanya. Meski begitu, Arletta sekarang lebih memilih untuk tetap terdiam menatap Davia yang berdiri tak jauh dati sofa yang saat ini tengah dia duduki. Memperhatikan saat pria itu tengah berbicara dengan seseorang di seberang telfonnya. "Baiklah, kabari aku lagi kalau kalian sudah selesai," ucap Davian sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut. Dimana dia juga lantas kembali menyimpan ponselnya pada saku celana yang dia kenakan saat ini. Davian juga sudah menoleh pada gadis yang masih saja melipat kedua tangannya di depan dada. Dengan sorot mata gadis itu yang menatapnya dengan lekat, seolah penuh tanya. Bahkan, Selatan juga yakin setelah ini Arletta memang akan melayangkan beberapa pertanyaan pada dirinya. "Bukankah sudah a
Terakhir Diperbarui: 2024-09-11
Chapter: 20. Pikiran liarApa yang dikatakan Ghava semalam membuat Arletta benar-benar terus memikirkan hal itu. Dia benar-benar tidak mengerti sepenuhnya akan apa yang pria itu katakan padanya, akan tetapi, dia juga tidak berniat bertanya padanya secara langsung. Sebab, entah kenapa Arletta malah merasa takut jika dia mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh Ghava.Untuk itu, Arletta juga lebih memilih untuk melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ghava begitu saja setelah dia berkata demikian. Tanpa bicara apa pun lagi, Arletta lebih memilih melarikan diri. Tanpa dia memikirkan tentang pagi ini dimana dia harus kembali berhadapan dengan Ghava."Ayo keluar, Ghava mungkin sudah bangun juga. Kita harus sarapan," ucap Davian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang sudah rapi.Arletta menoleh ke arahnya. Dia menatap Davian dengan cukup ragu. "Apa hari ini kau mau membantu Ghava?" tanya Arletta kemudian.Davian menganggukkan kepalanya. "Iya, kenapa?"
Terakhir Diperbarui: 2024-08-06
Chapter: 19. Nostalgia"Kalian saling mengenal bukan?" tanya Davian. Membuat Arletta menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan. "Kalau begitu, sedekat apa kalian dulu? Karena sepertinya, Ghava memang terlihat senang sekali saat bertemu dengan kamu."Seharusnya pertanyaan yang diberikan oleh Davian adalah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Akan tetapi, entah kenapa Arletta kesulitan untuk menjawabnya. Entah apa yang harus dia katakan pada pria itu. Dia terlalu bingungkan apakah memang harus mengatakan semuanya dengan benar atau tidak. Meski begitu, Davian kini menatapnya dengan begitu lekat. Sorot matanya menajam dengan raut wajah yang terlihat begitu dingin. Semua itu jelas membuat Arletta jadi semakin gugup dibuatnya."Sebenarnya ... Ghava itu, dia pria yang aku suka saat di sekolah dulu," jawab Arletta pada akhirnya. Ya, dia mengatakannya. Dia mengatakan yang sesungguhnya pada Davian. Sebab, Arletta merasa jika dia tidak haru mengatakan sebuah kebohongan.
Terakhir Diperbarui: 2024-08-06