author-banner
Mardiana Kappara
Mardiana Kappara
Author

روايات بقلم Mardiana Kappara

Kadrun

Kadrun

Sebagai seorang desainer batik, Kadrun selalu percaya bahwa karya yang indah lahir dari cinta dan ketulusan. Hingga perempuan yang paling dia cintai mengajarkannya hal baru, tentang rasa sakit, cemburu, dan benci, yang ternyata juga mampu mendorongnya menghasilkan karya. Bahkan dari luka tersebut lahirlah “Selayang Air Mato”, motif batik yang mengubah masa depannya sekaligus membangkitkan kembali masa lalu yang selama ini sempat terkubur. Kadrun dipaksa untuk menghadapi pengkhianatan, kehilangan, dan konspirasi yang tidak saja mengancam cintanya, tetapi juga nama baik, karya, dan hidup yang selama ini ia perjuangkan. Sebab, tidak semua luka berakhir menjadi kenangan. Ada yang justru kembali untuk menghancurkan segalanya.
قراءة
Chapter: Chapter 32
Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara
آخر تحديث: 2026-07-26
Chapter: Chapter 31
Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me
آخر تحديث: 2026-07-26
Chapter: Chapter 30
Malam telah larut ketika mobil yang disetir Zulaikah berhenti di halaman sebuah rumah bergaya kolonial di kawasan perumahan elit Kota Jambi. Zulaikah baru tiga bulan lalu membeli rumah itu. Dan dia baru menempati rumah itu kurang lebih satu bulan.Rumah itu sunyi.Dari luar, lampu ruang tamu masih tampak menyala redup, sementara taman yang biasanya dipenuhi bunga kamboja tampak lengang tanpa seorang pun.Zulaikah mematikan mesin mobilnya.Entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Kadrun terus memenuhi pikiran Zulaikah. Ini sudah pertemuan ke sekian dengan Kadrun setelah dia menetap di rumah barunya tersebut. Tapi dia belum pernah mengajak Kadrun ke kediamannya.Zulaikah tersenyum kecil.Lelaki itu masih sama. Masih tertawa dengan suara yang keras. Masih menggaruk rambut kribonya setiap kali gugup. Masih berbicara seolah hidup tak pernah memberinya beban."Aneh..." gumamnya pelan. "Setelah bertahun-tahun, kau masih sama."Zulaikah melangkah masuk ke dalam rumah.Asisten
آخر تحديث: 2026-07-25
Chapter: Chapter 29
Mobil SUV hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bengkel di pinggiran Kota Jambi dengan plang besar bertulis “BENGKEL BANG SOMAD”.Mesinnya masih menyala.Siti termangu dari dalam mobil memandangi lorong di samping bengkel tersebut. Dadanya mendadak sesak."Bukalah."Suara Eko terdengar datar dari kursi depan.Siti tidak bergerak, "aku tidak mau turun."Eko menoleh melalui kaca spion."Itu bukan permintaan.""Aku mau bertemu Pak Bram.""Tidak bisa.""Kalau begitu antarkan aku ke hotel.""Tidak bisa."Siti menggenggam erat test pack yang masih berada di dalam tasnya."Dia bilang akan bertanggung jawab...."Eko menghela napas pendek, lalu turun membuka pintu mobil."Bu Siti."Nada suaranya tetap sopan, tetapi dingin. "Pak Bram tidak pernah mengulang ucapannya dua kali."Jantung Siti berdegup semakin cepat. "Dia pembohong!""Hubungan bisnis Ibu dan Pak Bram sudah selesai."Siti menggeleng kuat-kuat."Tidak mungkin. Bram bilang dia mencintai aku." Siti mulai men
آخر تحديث: 2026-07-25
Chapter: Chapter 28
Bram Wijaya berdiri bertelanjang dada dengan hanya sehelai handuk putih melilit pinggang di depan cermin besar kamar mandi sebuah hotel bintang lima di Bali. Wajah Bram dipenuhi busa cukur, sementara tangan kanannya dengan tenang menggerakkan pisau cukur menyusuri garis rahangnya yang tegas. Setiap gerakan yang ia buat tampak santai dan presisi.Sudah hampir sebulan Siti selalu berada di sisinya.Perjalanan bisnis itu dimulai dari Pekanbaru, berlanjut ke Jakarta, Batam, hingga akhirnya berakhir di Bali. Selama mengikuti Bram, Siti bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Saat Bram sibuk menghadiri rapat, bertemu relasi bisnis, atau menghadiri jamuan makan dengan para kliennya, Siti menghabiskan waktu dengan berbelanja, menikmati spa, atau menjelajahi berbagai tempat wisata. Semua kebutuhannya dipenuhi tanpa pernah ditanya ke mana ia pergi atau apa yang dilakukannya.Sejak meninggalkan kontrakan Kadrun, Siti mengikuti Bram ke mana pun pria kaya itu melangkah. Kemewahan yang selama in
آخر تحديث: 2026-07-23
Chapter: Chapter 27
Kadrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Dia tidak melanjutkan bertanya apapun.Sedangkan Zulaikah, dia tampak kembali mendekati salah satu ibu pembatik yang dengan hati-hati mengguratkan canting di atas kain mori.“Ini kain premium, Bu?” tunjuk Zulaikah pada kain yang sedang dikerjakan si Ibu.“Iya, kalau untuk batik tulis kita pakai kain katun premium atau kadang pakai sutra juga.”“Satu lembar ini selesai berapa lama dengan Ibu?” tanya Zulaikah.“Ya, setengah bulan lah, Bu. Tergantung motif, kalau rumit, ya harus lebih hati-hati jadinya butuh waktu lebih lama, bisa 1 bulan sendiri.” “Ibu yang buat desain ini sendiri?”Ibu itu tertawa, “saya bagian yang melukis saja, Bu.”“Siapa yang buat desain ini?” tanya Zulaikah lagi.“Ada, si Udin. Dia sudah sejak SMP diajarkan Bang Kadrun mendesain,”“Motif apa ini, bu?”“Riang-riang,” kali ini Kadrun yang menjawab, “ia terinspirasi dari serangga tonggeret yang melambangkan semangat dan kehidupan.”Kadrun melambaikan tangan ke arah
آخر تحديث: 2026-07-22
قد تعجبك أيضًا
Pembalasan sang Istri Tertindas
Pembalasan sang Istri Tertindas
Romansa · Danira Widia
929.4K وجهات النظر
Gairah Cinta sang Pewaris
Gairah Cinta sang Pewaris
Romansa · LuciferAter
902.4K وجهات النظر
Mempelai yang Tak Diharapkan
Mempelai yang Tak Diharapkan
Romansa · iva dinata
901.0K وجهات النظر
Bos, Jangan di Sini!
Bos, Jangan di Sini!
Romansa · Olivia
890.5K وجهات النظر
TURUN RANJANG
TURUN RANJANG
Romansa · naftalenee
879.9K وجهات النظر
HOT NIGHT
HOT NIGHT
Romansa · Jemyadam
871.1K وجهات النظر
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status