Chapter: Restu Seorang IbuPintu ruang perawatan kembali terbuka.Mira masuk lebih dulu, diikuti Alena yang sejak tadi tidak sabar ingin kembali menemui ibunya.Begitu melihat Leon masih berdiri di samping ranjang, Alena langsung menatap wajah keduanya bergantian."Bu...""Sudah selesai?"Bu Rina tersenyum tipis."Sudah."Alena menoleh kepada Leon."Om... Ibu tidak memarahi Om, kan?"Leon terkekeh pelan."Menurutmu?"Alena langsung menggeleng cepat."Kalau Ibu marah, pasti Om sudah keluar dengan wajah kusut."Mira ikut tertawa."Kalau begitu, berarti wajah Leon sekarang masih tampan?"Pipi Alena langsung memerah."Aduh, Bu...""Saya bukan begitu maksudnya.""Kalau begitu bagaimana?"Mira sengaja menggodanya. Alena sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan."Ibu...""Jangan ikut-ikutan."Ruangan yang tadi dipenuhi ketegangan mendadak dipenuhi tawa kecil. Bahkan Bu Rina ikut tersenyum melihat tingkah putrinya."Baru begini saja sudah malu.""Bagaimana nanti kalau benar-benar dilamar?""Ibu..."Alena semakin sala
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Mulai MengertiSuasana di ruang kerja Leon berubah sunyi. Tak seorang pun berbicara. Alena masih belum mampu mencerna semua penjelasan Mira."Ibu..."Suaranya terdengar lirih."Jadi... Ibu saya benar-benar pingsan karena mendengar Ibu ingin melamar saya?"Mira menundukkan kepala."Maafkan Ibu.""Ibu benar-benar tidak bermaksud membuat semuanya seperti ini.""Ibu hanya terlalu bahagia melihat Leon akhirnya menemukan wanita yang benar-benar dicintainya.""Tapi ternyata Ibu terlalu terburu-buru."Alena menggeleng pelan."Tidak, Bu.""Ini bukan sepenuhnya salah Ibu."Meskipun berkata demikian, dadanya tetap terasa sesak membayangkan ibunya terbaring di rumah sakit. Leon yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekati sang ibu."Ibu."Mira mengangkat wajah."Kenapa Ibu tidak menelepon Leon lebih dulu?""Aku pasti langsung datang."Mira mengembuskan napas panjang."Saat itu Ibu panik.""Yang ada di pikiran Ibu hanya memastikan Bu Rina mendapat pertolongan secepat mungkin.""Setelah dokter bilang kondisi
Huling Na-update: 2026-07-30
Chapter: Urusan PentingLeon mengernyit."Ibu?"Sekretarisnya mengangguk."Iya, Pak. Beliau terlihat sangat terburu-buru."Belum sempat Leon menjawab, pintu ruangannya kembali terbuka. Mira masuk dengan napas sedikit memburu. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan."Ibu."Leon segera berdiri dari kursinya."Ada apa?"Tatapan Mira langsung tertuju pada Leon, lalu bergeser kepada Alena yang berdiri tidak jauh dari Leon. Sesaat ia tampak ragu."Apa... Alena masih di sini?"Alena buru-buru melangkah ke arah pintu."Kalau begitu saya keluar dulu, Bu.""Jangan."Suara Mira menghentikannya."Kamu ikut mendengarkan saja."Alena menoleh bingung."Saya?""Iya."Nada suara Mira terdengar lebih serius daripada biasanya. Perasaan Leon mulai tidak enak."Ibu, sebenarnya terjadi apa?"Mira menarik napas panjang sebelum berkata pelan,"Ibu baru saja dari rumah sakit."Wajah Leon langsung berubah."Rumah sakit?""Iya.""Ada seseorang yang pingsan."Jantung Alena berdetak lebih cepat. Entah kenapa firasat buruk
Huling Na-update: 2026-07-27
Chapter: Aku Ingin Kamu Yakin"Aku belum berkata kalau kamu boleh pergi."Langkah Alena yang sudah hampir mencapai pintu langsung terhenti. Perlahan ia membalikkan badan. Tatapannya bergantian memandang Leon dan Cyntia."Maaf, Pak."Alena kembali berdiri di tempat semula. Sementara itu, Cyntia mengangkat sebelah alis. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya menunjukkan rasa heran."Leon."Pria itu mengalihkan pandangannya."Ada lagi yang ingin kau bicarakan?"Leon mengangguk singkat."Ada."Ia lalu menoleh kepada Alena."Duduk."Alena tampak ragu."Pak... kalau memang pembahasannya urusan pribadi, saya bisa menunggu di luar.""Tidak perlu."Jawaban Leon terdengar tenang, tetapi tegas."Kau tetap di sini."Alena semakin bingung. Ia akhirnya duduk kembali, meski perasaannya mulai tidak menentu. Di sisi lain, Cyntia memperhatikan semua itu tanpa berkedip."Leon," ucapnya pelan. "Aku rasa akan lebih baik kalau kita bicara berdua."Leon menyandarkan tubuhnya ke kursi."Kenapa harus berdua?"Pertanya
Huling Na-update: 2026-07-26
Chapter: Akibat Menggoda BosTatapan mereka masih bertemu. Alena buru-buru mengalihkan pandangan."Pak Leon...""Hm?""Jangan terus melihat saya seperti itu.""Kenapa?""Bikin gugup."Sudut bibir Leon kembali terangkat."Kalau gugup, berarti memang ada yang sedang kamu sembunyikan."Alena mendengus pelan."Tidak ada.""Bohong.""Benar."Leon menggeleng kecil sambil terkekeh."Aku belum pernah melihat orang yang wajahnya semerah ini kalau memang tidak sedang memikirkan sesuatu."Alena memejamkan mata sejenak."Ya Tuhan...""Om ini kenapa sih?""Biasanya pendiam.""Sekarang malah suka menggodaku."Leon kembali bertanya dengan suara lembut."Jadi...""Apa yang sedang kamu pikirkan?"Alena tetap menggeleng."Tidak mau bilang.""Ayo.""Tidak.""Sedikit saja.""Tidak."Melihat Alena yang terus menolak, Leon justru semakin geli. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak di antara mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter."Kalau begitu...""Aku akan menunggu sampai kamu mau cerita."Alena mendongak. Tatapan mata
Huling Na-update: 2026-07-25
Chapter: Bos Cuma Cari KesempatanKeesokan paginya, suasana kantor Mahardika Group kembali sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang sambil membawa map dan laptop masing-masing. Beberapa sibuk menyapa rekan kerja, sementara yang lain sudah tenggelam dalam tumpukan pekerjaan sejak pagi.Pintu lift terbuka.Alena melangkah keluar sambil membawa tas kerjanya. Langkahnya masih sedikit pelan karena pergelangan kaki kanannya belum benar-benar pulih."Alena!"Suara ceria itu membuat Alena menoleh. Sisca melambaikan tangan sambil berjalan cepat menghampirinya."Wah, akhirnya datang juga."Alena tersenyum."Pagi, Sis."Sisca bukannya membalas salam, malah langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada."Hayo, jujur.""Jujur apa?""Kemarin tugas ke mana sama Pak Leon?"Alena menjawab santai."Ya... kerja.""Kerja?"Sisca menyipitkan mata."Masa kerja menjelang sore?"Alena langsung gelagapan."Itu... karena permintaan clientnya sendiri yang harus didatangi.""Oh ya?"Sisca semakin mendekat."Lalu kenapa pulangnya mala
Huling Na-update: 2026-07-25
Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti
Ia mati sebagai istri Albert Pratama, bersama anaknya yang belum lahir. Namun ketika membuka mata, ia kembali ke masa sebelum semuanya dimulai.
Kali ini, Zafira melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat: kematiannya sendiri… kematian ayahnya… dan satu kata yang mengikat semuanya-tumbal.
Albert, pria yang pernah ia cintai, kini penuh misteri.
Vivi, kakak tirinya, menyimpan kebenaran yang terlalu rapi.
Dan Pak Garda, peramal yang “menyelamatkan” Albert… mungkin sumber dari semua takdir itu.
Di kehidupan keduanya, ia tidak lagi ingin menjadi korban. Ia ingin membongkar takdir, sebelum dia dan semua orang yang ia cintai mati sekali lagi.
Basahin
Chapter: Undangan yang Tak TerdugaSuasana pagi di Arkanza Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa karyawan berlalu-lalang membawa berkas, sementara para sekretaris keluar masuk ruang rapat untuk memastikan seluruh agenda hari itu berjalan sesuai jadwal. Albert baru saja menyelesaikan rapat dengan jajaran direksi ketika sekretaris pribadinya mengetuk pintu. "Permisi, Pak Albert." "Masuk." Sang sekretaris meletakkan sebuah map berwarna hitam di atas meja kerja. "Ini undangan yang baru saja dikirim panitia." Albert mengambil map tersebut. Di bagian depan tertera tulisan berwarna emas. Gala Business Night 2026 Acara tahunan yang mempertemukan para pemilik perusahaan, investor, serta tokoh-tokoh penting dunia bisnis. Albert membuka halaman pertama. Pandangannya berhenti pada salah satu kalimat. Dress Code : Formal Couple Ia menutup kembali undangan itu sambil mengembuskan napas pelan. Selama beberapa tahun terakhir, ia selalu datang bersama Fifi yang mewakili perusahaan Hendro. Tidak pernah sekalipun meng
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Jejak yang TerputusAlbert memarkir mobilnya di halaman Arkanza Group. Namun, sebelum sempat memasuki lobi, ponselnya berdering.Nama petugas keamanan rumah sakit muncul di layar. Albert segera mengangkat panggilan itu."Selamat pagi.""Selamat pagi, Pak Albert. Maaf mengganggu waktu Bapak.""Tidak apa-apa. Ada kabar mengenai rekaman CCTV?""Iya, Pak."Albert menghentikan langkahnya."Bagaimana hasilnya?""Tadi pagi kami sudah mencoba memulihkan file yang rusak.""Sayangnya...""...hasilnya nihil."Albert terdiam."Benar-benar tidak bisa dipulihkan?""Sudah kami coba beberapa kali. Bahkan teknisi kami juga ikut memeriksa.""Hasilnya tetap sama."Albert mengembuskan napas pelan."Baik. Terima kasih atas informasinya.""Maaf belum bisa membantu, Pak."Panggilan pun berakhir. Albert masih berdiri di tempatnya. Tatapannya menerawang ke arah halaman parkir perusahaan.Entah mengapa...Semakin banyak ia mencari jawaban, justru semakin banyak kejanggalan yang ia temukan. Rekaman dari sudut yang seharusnya palin
Huling Na-update: 2026-07-30
Chapter: Menyelidiki KejadianPagi itu, setelah memastikan kondisi Hendro stabil, Albert berpamitan kepada Zafira untuk kembali ke kantor."Aku ada sedikit urusan di luar sebelum masuk kantor," ucapnya sambil mengenakan jas.Zafira mengangguk."Mas hati-hati."Albert tersenyum tipis sebelum meninggalkan rumah sakit. Namun mobilnya tidak langsung menuju perusahaan.Beberapa menit kemudian, mobil itu kembali memasuki area rumah sakit melalui pintu samping. Albert berjalan menuju ruang keamanan."Selamat pagi."Petugas keamanan yang mengenal Albert segera berdiri."Selamat pagi, Pak Albert.""Ada yang bisa kami bantu?""Aku ingin melihat rekaman CCTV parkiran kemarin."Petugas tampak sedikit terkejut."Masalah penjambretan itu, Pak?""Iya.""Baik, silakan."Tak lama kemudian, layar monitor menampilkan rekaman dari beberapa kamera. Albert memperhatikan setiap detiknya tanpa berkedip.Terlihat dirinya keluar dari gedung rumah sakit bersama Zafira. Beberapa saat kemudian, seorang pria berhelm melintas menggunakan sepeda
Huling Na-update: 2026-07-27
Chapter: Kecurigaan yang Mulai TimbulPagi itu, suasana rumah sakit jauh lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Cahaya matahari yang menembus jendela membuat kamar rawat Hendro terasa hangat. Aroma obat yang biasanya menyengat kini bercampur dengan wangi bunga segar yang diletakkan Zafira di atas meja kecil di samping ranjang.Zafira tersenyum tipis sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh ayahnya."Semalam Ayah tidurnya nyenyak?" tanyanya lembut.Hendro mengangguk pelan."Jauh lebih baik.""Syukurlah."Zafira mengambil segelas air hangat, lalu menyerahkannya kepada sang ayah dengan kedua tangan. Setelah itu, ia membantu mengatur posisi bantal agar Hendro bisa duduk lebih nyaman.Semua gerakannya dilakukan dengan begitu telaten.Tanpa terlihat sedikit pun rasa lelah.Padahal sejak Hendro dirawat, hampir setiap hari ia datang paling pagi dan pulang paling malam.Albert yang baru saja masuk ke kamar hanya bisa memperhatikan dari ambang pintu. Tatapannya tanpa sadar melembut.Dulu, ia mengira Zafira adalah pere
Huling Na-update: 2026-07-26
Chapter: Wajah Asli ViviPintu lift terbuka perlahan. Vivi melangkah keluar dari gedung perusahaan Albert dengan wajah tenang.Tak seorang pun yang melihatnya akan menyangka bahwa beberapa menit sebelumnya, ia baru saja menerima penolakan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ucapan Albert masih terus terngiang di telinganya."Selama Zafira masih menjadi istriku... aku akan menghormati dan menjaganya sebagai istriku."Vivi mengepalkan kedua tangannya. Semakin ia mengingat kalimat itu, semakin sesak dadanya."Dulu..." gumamnya lirih. "Kamu tidak pernah membelanya seperti itu."Ia menghentikan langkahnya di area parkir basement. Sebuah mobil hitam sudah menunggu di sudut yang jauh dari keramaian. Seorang pria bertopi hitam turun begitu melihat Vivi mendekat. Pria itu menundukkan kepala."Nona."Vivi hanya mengangguk singkat."Masuk."Keduanya masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam kabin berubah sunyi. Vivi menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memejamkan mata beberapa saat."Bagaimana hasiln
Huling Na-update: 2026-07-25
Chapter: Pertemuan yang Tak Lagi SamaSinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar.Zafira masih terlelap di atas ranjang. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Meski sesekali dahinya masih berkerut, setidaknya malam itu ia bisa tidur tanpa terus-menerus terbangun.Albert yang baru selesai mandi keluar dari kamar mandi sambil merapikan dasinya. Tatapannya langsung tertuju pada wanita yang masih tertidur.Ia melirik jam tangan. Sudah hampir pukul delapan. Albert sama sekali tidak berniat membangunkannya."Biarkan dia istirahat."gumamnya pelan.Ia berjalan mendekati sisi ranjang. Selimut yang sedikit bergeser dirapikannya hingga menutupi bahu Zafira. Wanita itu bergerak pelan, tetapi tidak membuka mata.Senyum tipis terukir di bibir Albert."Semoga saat bangun nanti, kamu sudah merasa lebih baik."Tanpa mengganggu tidurnya lagi, Albert keluar dari kamar. Di ruang makan, Bi Inah telah menyiapkan sarapan."Pak Albert, Ibu Zafira belum bangun?"Albert menggeleng."Jangan dibangu
Huling Na-update: 2026-07-24