Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku
Chyara terbangun di dalam sebuah novel sebagai antagonis yang ditakdirkan mati. Mengetahui seluruh alur cerita, ia memilih memanfaatkan takdir demi bertahan hidup dan merebut masa depannya sendiri.
Namun, perubahan itu justru menarik tiga tokoh utama ke arahnya. Darian, tunangannya yang dingin dan berbahaya, mengalihkan obsesinya padanya. Arthur, sosok hangat yang seharusnya mencintai pemeran utama wanita, tak mampu melepaskan Chyara. Reynard, siluman rubah merah yang licik dan menggoda, pun terikat padanya.
Ketika takdir yang ia kendalikan berbalik mengikat mereka di sisinya, Chyara menyadari, di dunia yang seharusnya membunuhnya, tiga tokoh utama justru bertekuk lutut padanya.
Read
Chapter: Bab 317. PerasaanChyara mengepalkan kedua tangannya erat di samping tubuhnya. Sorot matanya tetap tenang, tetapi dadanya dipenuhi gejolak yang sulit ia bendung.Sebagai seseorang yang telah membaca keseluruhan kisah dunia ini, ia mengetahui dengan sangat jelas bagaimana kehidupan Chyara yang asli dipenuhi penderitaan sejak masih kecil.Di dalam novel, Chyara memang dikenal sebagai tokoh antagonis yang dibenci banyak orang. Namun, setelah mengetahui seluruh masa lalunya, Chyara menyadari bahwa sifat itu tidak pernah muncul begitu saja.Kebencian dan dendam gadis itu lahir dari luka yang terus bertambah selama bertahun-tahun tanpa pernah ada seorang pun yang berusaha menyembuhkannya.Ingatannya kembali pada satu kenyataan yang selalu membuat dadanya terasa sesak. Selisih usia Azelia yang hanya terpaut sedikit darinya menjadi bukti bahwa Cassio telah mengkhianati ibu kandung Chyara bahkan ketika wanita itu masih hidup. Sejak awal, keluarga ini telah dibangun di atas sebuah pengkhianatan yang pada akhirn
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Bab 316. Sakit ... bukan?Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan keras hingga membentur dinding. Di ambang pintu, Callister berdiri bersama Darian, diikuti beberapa kesatria dan pengawal istana yang segera mengepung ruangan."Ara!" seru Callister panik.Bukannya memeriksa keadaan ayahnya, Callister justru berlari menghampiri Chyara. Kedua tangannya memegang bahu adiknya, lalu matanya bergerak memeriksa dari ujung kepala hingga kaki untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun. Raut wajahnya dipenuhi kecemasan yang selama ini berusaha ia tahan sepanjang perjalanan kembali ke kediaman."Apa kau terluka, Ara?" tanyanya dengan napas yang masih memburu. "Apa mereka menyakitimu? Katakan padaku."Chyara tersenyum tipis melihat kepanikan kakaknya. Ia menggeleng pelan sambil menenangkan Callister dengan tatapan yang lembut.Melihat adiknya yang masih bisa berdiri dan tak terluka sedikitpun, Callister akhirnya dapat mengembuskan napas lega meski kewaspadaannya belum sepenuhnya hilang.Beberapa waktu sebelumnya, Chyara mema
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 315. Prediksi"Apa kau benar-benar yakin dengan semua itu?"Suara Chyara terdengar tenang, tanpa emosi sedikit pun. Ia berdiri tegak di hadapan Clara dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Alih alih menunjukkan kepanikan, sorot matanya justru tampak begitu tenang hingga membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin menegangkan.Clara mengangkat sebelah alisnya, lalu tertawa pelan. Tawa itu perlahan berubah semakin lebar, seolah ia baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu. Baginya, ketenangan Chyara hanyalah kepura-puraan terakhir sebelum gadis itu benar-benar kehilangan segalanya."Tentu saja aku yakin," jawab Clara dengan senyum penuh kemenangan. "Para pelayan sudah berdiri di luar kamar ini. Begitu mereka masuk dan melihat keadaan Cassio, kaulah orang pertama yang akan mereka tuduh."Ia melangkah semakin dekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Chyara. Tatapannya dipenuhi rasa puas, seakan ia sudah bisa membayangkan kehancuran anak tirinya itu. Semua sudah berjalan sesuai renc
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 314. Perasaan"K–ka ... kau ...." Suara Cassio terputus di tengah kalimat. Tubuhnya kembali terguncang oleh batuk hebat hingga darah segar menyembur dari bibirnya. Wajahnya memucat, sementara napasnya mulai tersengal karena racun yang menggerogoti tubuhnya semakin cepat menyebar. Tangannya yang gemetar berusaha meraih Clara seolah ingin meminta penjelasan. Namun, tenaga yang tersisa tidak lagi cukup untuk mengangkat lengannya dengan sempurna. Tatapan pria itu dipenuhi rasa tidak percaya kepada wanita yang selama ini begitu ia cintai dan menaruh kepercayaan sepenuhnya. Clara hanya memandangnya dengan senyum tipis. Tak ada sedikit pun rasa bersalah ataupun penyesalan di wajahnya. Baginya, penderitaan Cassio hanyalah tanda bahwa rencananya selama ini akhirnya akan mencapai garis akhir. Perlahan, Clara mengalihkan pandangannya ke arah Chyara. Sorot matanya dipenuhi kemenangan, seolah ia sedang menikmati setiap detik kepanikan yang seharusnya dirasakan gadis itu. Ia melipat kedua tangannya di depan
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 313. Mulai Beraksi"Tuan Marquess memanggil Anda ke kamarnya, Nona."Suara pelayan itu terdengar pelan setelah ia memasuki kamar Chyara. Ia membungkukkan badan dengan hormat, lalu menunggu beberapa saat hingga Chyara benar-benar mengalihkan perhatian kepadanya.Di sisi lain, Chyara yang semula berdiri di dekat jendela perlahan menoleh sambil menutup kembali daun jendela yang terbuka. Ia mengangkat sebelah alisnya dengan heran. Malam sudah cukup larut, ia tidak menyangka ayahnya justru memanggilnya pada waktu seperti ini."Ayah memanggilku?" tanya Chyara pelan. "Apa Ayah mengatakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku?"Pelayan itu kembali menundukkan kepalanya. "Maaf, Nona. Saya tidak mengetahui alasannya, saya hanya menerima perintah untuk mengantar Nona menuju kamar Tuan Marquess."Chyara terdiam sejenak. Tatapannya meneliti wajah pelayan itu dengan saksama, mencoba memastikan apakah ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Namun, raut wajah pelayan itu tampak tenang dan tidak menunjukkan sediki
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 312. Waktu yang Tepat"Anna, tolong ambilkan aku kertas dan pena."Chyara mengangkat pandangannya dari surat yang baru saja selesai ia baca. Tatapannya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia baru saja mengambil sebuah keputusan penting.Tanpa membuang waktu sedikit pun, ia segera memberikan perintah kepada pelayannya. Anna yang berdiri tidak jauh darinya langsung membungkukkan badan dengan hormat.Melihat keseriusan di wajah sang nona, ia tidak berani mengajukan pertanyaan apa pun. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti."Baik, Nona, saya akan segera menyiapkannya."Anna berbalik dan berjalan keluar dari kamar. Langkahnya terdengar cepat menyusuri lorong kediaman. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil membawa beberapa lembar kertas berkualitas tinggi, sebuah pena berbulu, tinta hitam, serta lilin penyegel surat.Anna meletakkan semua perlengkapan itu dengan rapi di atas meja kerja Chyara. Setelah memastikan semuanya sudah tersedia, ia mundur beberapa langkah dan menung
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Ekstra Part 3“Nathan cuma mau pelgi kalau Mama juga pelgi!” seru Nathan dengan suara lantang. Meski pelafalannya masih cadel, nada bicaranya tegas dan penuh penolakan. Ia segera menjatuhkan diri duduk di lantai, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi keras kepala. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada yang bisa mengubah keputusannya. Ethan yang melihat itu langsung meniru tanpa ragu. Ia duduk di samping Nathan dengan gerakan sedikit goyah, lalu ikut menyilangkan tangannya. “Ethan jugaa ...,” katanya pelan. “Nggak mauu pelgi ...,” tambahnya dengan bibir mengerucut. Grey tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kedua anak itu. Ia menyandarkan tubuhnya santai sambil melirik ke arah Neilson, jelas menikmati situasi tersebut. Wajahnya dipenuhi ekspresi geli, seolah menemukan hiburan dadakan di pagi hari itu. Ia lalu menggeleng kecil sebelum kembali menatap ke arah keponakannya. “Wah, gimana ini?” godanya ringan. “Sepertinya Kakak nggak jadi menikmati waktu berdua.” Neilson
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: Ekstra Part 2Lyra berdiri di sisi ranjang sambil merapikan beberapa pakaian kecil milik Nathan dan Ethan ke dalam tas. Gerakannya rapi dan teratur, sesekali ia memastikan tidak ada yang tertinggal.Di atas ranjang, kedua anak kembarnya masih terlelap dengan posisi berantakan, selimut mereka sudah bergeser ke sana kemari. Pemandangan itu membuat sudut bibir Lyra terangkat, hangat dan penuh kasih.Ia memandanginya lebih lama ke arah mereka, lalu melangkah mendekat dengan langkah pelan. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya mengusap lembut kepala kecil mereka.“Nathan ... Ethan ... bangun, sayang,” ucapnya lembut. “Kita mau pergi ketemu kakek, sebentar lagi kita berangkat.”Nathan adalah yang pertama merespons. Ia mengerjap pelan, lalu meregangkan tubuhnya dengan gerakan malas sebelum akhirnya duduk di atas ranjang.Namun, matanya masih terpejam rapat, kepalanya sedikit terangguk ke depan seperti menahan kantuk yang belum pergi.Lyra tak bisa menahan tawa kecil melihat itu. “Nathan ... kamu bangun a
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: Extra Part 1“Pangeran Allain akhirnya menarik pedangnya,” ucapnya pelan. “Ia melawan penyihir jahat dan berhasil mengalahkannya.”Lyra menatap kedua anaknya dengan senyum hangat. “Rakyat kerajaan Arcania pun selamat, dan mereka semua hidup bahagia.”Lyra menutup halaman terakhir buku cerita dengan lembut. Suaranya merendah, seolah ikut tenggelam dalam akhir kisah yang baru saja ia bacakan.Nathan yang sejak tadi menyimak dengan serius langsung mengangkat kepalanya. Matanya berbinar terang, wajah kecilnya dipenuhi semangat dan kekaguman yang belum pudar.“Nathan mau menjadi seperti pangeran Allain!” serunya dengan pelafalan yang masih sedikit cadel.“Nathan mau lindungin semuanya!”Ethan yang berbaring di sampingnya ikut bergerak, meski kelopak matanya mulai terasa berat. Ia memaksakan dirinya bangun sedikit, tidak ingin kalah dari saudara kembarnya.“Ethan jugaaa …,” ucapnya pelan. “Ethan jadi pangeran ... jagain Mamaa ....”Lyra tersenyum lebih lebar mendengar itu. Ia mengulurkan kedua tangannya
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Extra PartSatu tahun kemudian. “Ma i… nain … punyaku!” “Nggaaa … punyaku!” Dua anak kembar itu saling melotot dengan wajah mungil yang sama-sama mengerucut cemberut. Tangan kecil mereka mencengkeram satu mainan yang sama, menariknya ke arah masing-masing tanpa mau mengalah sedikit pun. Tarikan mereka tidak kuat, tetapi cukup untuk membuat mainan itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti ikut bingung harus memilih siapa. Salah satu dari mereka akhirnya melepaskan pegangannya dengan kesal. Ia berdiri dengan gerakan sedikit goyah, tubuhnya sempat miring sebelum kembali seimbang, lalu menunjuk ke arah dapur dengan mata berbinar penuh ide. “... Mamaa punyaku!” serunya dengan suara cadel yang masih belum jelas. Ia langsung melangkah cepat menuju dapur tempat Lyra berada. Langkahnya pendek-pendek dan belum stabil, kadang hampir tersandung, tetapi semangatnya membuat ia tetap melaju seperti berlari kecil. Melihat itu, saudara kembarnya langsung panik. Ia buru-buru bangkit, hampir kehilangan k
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 306“A–apa? Kenapa aku harus mengatakan itu?” Suara Lyra terdengar terburu-buru, seolah ia ingin menepis sesuatu yang baru saja menyentuh hatinya. Ia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memerah di bawah cahaya bulan. Tangannya menggenggam ujung selimut dengan gelisah, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Neilson memperhatikannya dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Tatapannya tidak berpindah, seolah ia menikmati setiap reaksi kecil yang ditunjukkan Lyra. “Aku ingin mendengarnya langsung darimu,” katanya pelan. Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung harapan yang tidak main-main. Beberapa detik kemudian, Neilson mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di depan mereka. Namun senyum itu masih tersisa di wajahnya, seolah ia sedang mengingat sesuatu. “Aku pernah mendengarnya sekali,” lanjutnya santai. “Tapi kali ini … aku ingin mendengarnya lagi.” Lyra langsung mematung mendengar itu. Ia menoleh perlahan, ekspresinya berubah menjadi b
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 305“B–bukan begitu maksud— Neil! Apa yang kamu lakukan?!” Suara Lyra terputus di tengah kalimat, berubah menjadi nada panik yang tidak sempat ia kendalikan. Ia bahkan belum selesai berbicara, ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat dari tanah. Neilson melangkah mendekat tanpa ragu, lalu dengan mudah mengangkat Lyra ke dalam gendongannya. Gerakannya tenang dan pasti, seolah keputusan itu sudah ia ambil sejak awal tanpa perlu meminta izin. Pipi Lyra langsung memanas, rona merah menjalar cepat hingga ke telinganya. Ia refleks menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di dada Neilson untuk menghindari tatapan orang-orang di sekitar. “N–Neil … turunkan aku …,” bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam. Grey yang berdiri tidak jauh dari mereka tidak bisa menahan tawanya. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Neilson dengan santai, matanya menyipit penuh godaan. “Kak, kamu ini … benar-benar tidak bisa menahan diri,” ujarnya ringan sambil tersenyum. Nada bicaranya santai, tetapi cukup u
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 84. Target BaruLaura berjalan menuju ruangan karyawan dengan perasaan gembira. Dia merasa bahwa mendekati Allen adalah pilihan yang tepat. Dirinya merasa pria itu lebih mudah daripada Kean.Laura mulai menyapu dan memunguti sampah-sampah kertas yang berserakan di lantai. Dia merasa enggan memungut itu, seharusnya posisinya sebagai karyawan yang memiliki meja kerja, bukan yang membersihkan seperti ini.Laura terpaksa melakukan tugas itu karena hal yang dia pikirkan adalah bertahan di perusahaan ini sampai dirinya berhasil mendapatkan Allen."Ambilin aku minum dong," ucap salah satu karyawan wanita pada Laura sambil masih fokus mengetik pada komputernya.Laura menoleh ke sana kemari mencoba mencari tahu kepada siapa wanita itu berbicara. Melihat tak ada orang di sekitarnya, dia lebih memilih untuk melanjutkan membersihkan lantai.Wanita itu merasa kesal ketika Laura mengabaikan perintahnya begitu saja. Dia kemudian menggebrak meja dengan keras membuat sekeliling menatapnya, begitu juga dengan Laura."
Last Updated: 2024-10-12
Chapter: bab 83. Mendapat KeringananKean mengerjapkan matanya beberapa kali ketika sinar matahari masuk dari sela-sela jendelanya. Dia mencoba mengambil ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sepertinya dia bangun kesiangan karena kelelahan sejak kemarin.Kean segera bangkit kemudian berjalan keluar kamar dan melewati kamar Azelyn, dia mencoba mencari tahu apa yang dilakukan gadis itu, tetapi ketika membuka pintu, sosok gadis itu tak terlihat.Kean berjalan masuk ke kamar Azelyn kemudian melihat secarik kertas yang berada di meja tersebut. Dia mengambil kertas itu kemudian membaca setiap kalimatnya.Azelyn menulis di kertas tersebut bahwa hari ini dia izin untuk pergi karena ada masalah yang terjadi pada temannya. Dia juga mengatakan bahwa dirinya tak tahu apa akan pulang atau tidak.Kean meremas kertas tersebut, bisa-bisanya Azelyn lagi-lagi pergi tanpa sepengetahuannya. Dia mencoba melihat ponselnya dan membuka aplikasi pelacak, kali ini aplikasinya tak berfungsi lagi karena gadis itu mematikan po
Last Updated: 2024-10-10
Chapter: Bab 82. Hari PertamaKeesokan harinya Allen langsung menyuruh Laura untuk datang ke perusahaan Marvino. Laura menggunakan kemeja putih dengan rok sepaha untuk pergi ke perusahaan Marvino, pakaiannya benar-benar mencerminkan seorang karyawan wanita di perusahaan. Dia tak tahu posisi apa yang akan diberikan Allen padanya, tetapi dia tak terlalu memikirkannya karena tujuan sebenarnya adalah untuk mendekati pria itu. Laura memesan taksi untuk pergi ke perusahaan tersebut. Ketika taksinya sudah datang, dia lansung meluncur tanpa menunda waktu lagi. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke perusahaan tersebut. Jarak perusahaan Marvino lebih jauh dibanding perusahaan Adhlino, tetapi Laura meyakinkan semangatnya karena dia sudah terlalu lelah untuk mencari pekerjaan dan tak akan membuang kesempatan emas ini. Laura berjalan memasuki perusahaan, tiba-tiba seisi perusahaan meliriknya kemudian berbisik-bisik membuatnya merasa risih. Sepertinya berita tentang dirinya yang dipecat di perusahaan Adhlino secara tak t
Last Updated: 2024-10-08
Chapter: Bab 81. Masalah baruLaura berdiri diam di tengah jembatan. Di belakangnya beberapa motor dan mobil berlalu lalang tanpa memedulikan dirinya yang sedang berdiri sendirian. Dia menatap kosong ke arah air sungai yang mengalir dengan deras. Gadis bermanik coklat itu sudah mengirimkan lamaran pekerjaannya ke berbagai tempat setelah dia dipecat dari Perusahaan Adhlino, tetapi satu pun tak ada yang menghubunginya untuk interview. Laura mengacak-acak rambutnya kesal. Dia meremas dokumen lamaran pekerjaannya dengan perasaan penuh emosi. "Azelyn! Ini semua gara-gara kamu! Berani-beraninya kamu menghancurkan karirku! Aku tak akan tinggal diam, aku pasti akan membalasmu!" teriak Laura emosi. Suara teriakannya tenggelam karena suara mobil dan motor yang mengebut. Laura melampiaskan emosinya dengan mengacak-acak rambutnya frustasi. Tanpa sengaja dokumennya terlepas dari genggaman dan terjun jatuh ke bawah sungai. Laura secara spontan menaikkan kaki kanan ke penghalang jembatan mencoba untuk menangkap dokumen
Last Updated: 2024-10-07
Chapter: Bab 80. Kecemburuan membawa masalahLino tak menduga bahwa Reliza akan mengatakan itu. Dia melirik ke arah Kean yang masih terdiam sembari menyisir rambutnya ke belakang. "Sepertinya Anda sangat mengenal saya, Nona Reliza," ucap Kean dingin. Dia menatap tajam pada gadis itu kemudian melanjutkan kalimatnya, "Karena Anda terlihat sangat mengenal saya, Anda pasti tahu bagaimana sikap saya pada wanita selama ini, kan?" tanyanya. Reliza terdiam, tentu saja dia sangat mengetahui itu. Karena dia adalah salah satu wanita yang mengejar Kean, tetapi pria itu tak pernah meliriknya sedikit pun. "Saya akan langsung mengatakan tidak suka dan sangat membenci wanita yang selalu ingin menempel pada saya. Jadi, apa Anda masih menganggap saya berbohong dan meragukan pernikahan saya sebagai pernikahan palsu yang diatur?" kata Kean yang langsung membuat Reliza terdiam. Reliza menggenggam erat ujung gaunnya mendengar penuturan Kean. Tentu saja wanita yang selalu menempel pada pria itu yang dimaksud adalah dirinya. Kean melirik ding
Last Updated: 2024-10-06
Chapter: 79. Pertanyaan yang berulangAllen melirik pada Azelyn sembari mencoba menahan tawanya. Dia merasa tak percaya dengan situasi yang dia hadapi sekarang. Rumor yang diketahui Allen selama ini adalah Kean memiliki sifat yang dingin. Sebelumnya juga banyak yang mengatakan bahwa Kean adalah pria yang tak berperasaan. Namun, apa ini? Kean justru terlihat sangat posesif pada Azelyn. "Maafkan saya atas sikap saya selama ini, Tuan Kean," kata Allen sambil sedikit membungkuk sebagai tanda permintaan maafnya. "Karena saya sudah berpisah cukup lama dengan Azelyn, saya masih ingin bertemu dan mengobrol dengannya lebih lama lagi, tapi sepertinya saya sudah melewati batas," lanjutnya sembari melirik wanita bermanik biru itu. Kean mengeratkan rangkulannya ketika mendengar perkataan Allen. Perasaannya terasa berdenyut sakit mendengar kalimat itu. Apa itu memiliki arti bahwa pria itu masih menyimpan perasaan pada istrinya? "Saya harap ini tidak terjadi lagi, saya merasa tak nyaman jika istri saya bertemu dengan pria lain t
Last Updated: 2024-10-05