Chapter: Bab 200 - TamatMatahari sore menyiram taman belakang Mansion Vanderwick dengan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan siluet megah pada pilar-pilar bangunan yang tetap kokoh berdiri selama belasan tahun. Di sebuah kursi taman kayu jati yang nyaman, Alistair Julian Vanderwick duduk dengan gaya tenangnya yang legendaris. Meski ada beberapa helai uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, aura kepemimpinannya justru semakin matang dan berwibawa. Alistair merangkul bahu Lala, menarik istrinya agar bersandar erat di dada bidangnya yang selalu menjadi pelabuhan ternyaman. Lala, yang masih terlihat sangat cantik dengan kerutan halus di sudut matanya, tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia mengamati bunga-bunga melati yang dulu mereka tanam bersama, kini telah tumbuh rimbun menutupi sebagian area gazebo. "Bub, lihatlah sekeliling kita. Rasanya seperti mimpi melihat mansion ini tetap sehangat dulu," bisik Lala pelan. "Tentu saja hangat, karena duniaku ada di sini, bersamamu, Lala," s
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 199 - Si kembar pintarMalam di Mansion Vanderwick terasa berbeda, seolah udara dipenuhi oleh haru yang tertahan di balik kemegahannya. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya temaram, menyinari Alistair dan Lala yang duduk berdampingan di sofa beludru. Besok adalah hari kelulusan jalur akselerasi bagi si kembar, sebuah tanda bahwa masa kanak-kanak mereka telah resmi berakhir. Alistair menatap kosong ke arah layar tabletnya, namun pikirannya melayang jauh pada memori belasan tahun lalu. Ia masih ingat sensasi menggendong Arlo yang merah dan Lyra yang menangis kencang di hari kelahiran mereka. Kini, kedua bayi itu telah berubah menjadi sosok remaja yang cerdas, tangguh, dan siap menaklukkan dunia pendidikan tinggi. "Bub, kenapa melamun? Besok kita harus bangun pagi untuk ke gedung wisuda," tegur Lala lembut sambil mengusap lengan suaminya. "Aku hanya merasa waktu benar-benar pencuri yang ulung, Lala. Rasanya baru kemarin aku membelikan mereka mobil-mobilan," gumam Alistair. "Dan sekarang mer
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 198 - Alistair prideMalam di Mansion Vanderwick terasa sangat tenang dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati. Alistair Julian Vanderwick berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan sikunya di pagar pembatas sembari menyesap kopi pahitnya. Matanya yang tajam tertuju ke bawah, ke arah taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman artistik yang hangat Di bawah sana, Arlo dan Lyra sedang duduk di gazebo kaca. Meski waktu sudah menunjukkan jam belajar mandiri, mereka berdua tampak sangat fokus. Arlo terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada tabletnya kepada Lyra, sementara sang adik mencatat dengan serius di buku sketsanya. Alistair menyeringai tipis, merasakan kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan itu. "Masih betah berdiri di sini, Bub? Kopinya sudah dingin lho," suara lembut Lala terdengar dari belakang. Alistair tidak menoleh, ia hanya merentangkan tangan kirinya untuk menarik Lala agar bersandar di sampingnya. "Lihat mereka, Bub. Rasanya baru kemarin aku p
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 197 - Kunjungan Elvin dan IntanMansion Vanderwick sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Gerbang emas terbuka lebar menyambut mobil SUV mewah yang sangat dikenal oleh seluruh penjaga. Alistair berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Arlo berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, menunjukkan aura dingin yang identik dengan sang ayah Elvin Fisher turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi, diikuti Intan yang kini terlihat sangat anggun sebagai Nyonya Fisher. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun bernama Leo tampak berlari ceria sambil membawa bola plastik. Pemandangan itu kontras dengan Arlo yang hanya menatap kedatangan mereka dengan pandangan datar dan penuh analisa. "Wah, si Kulkas akhirnya ingat jalan pulang ke mansion ini," ejek Alistair sambil menyeringai lebar. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak stres karena menghadapi Arlo yang sepertinya sudah mulai menguasai meja kerjamu, Al," balas Elvin tajam. "Mas Elvin, Tuan Alistair, b
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 196 - My brother, my bodyguardKantin sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat seorang siswa kelas dua belas berdiri menghadang jalan Lyra. Pria bernama Rangga itu tampak membawa beberapa lembar kertas dan menatap Lyra dengan senyum meremehkan. Para siswa lain mulai berbisik, menyadari bahwa ada seseorang yang cukup nekat untuk mengusik ketenangan sang ratu sekolah. Lyra berhenti melangkah, ia menatap Rangga dengan pandangan tenang namun tajam yang sangat mematikan. Ia melipat tangan di depan dada, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski tubuh Rangga jauh lebih besar darinya. Baginya, gertakan semacam ini hanyalah hiburan murahan di tengah jam istirahat yang membosankan. "Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang butuh perhatian sampai harus menghalangi jalanku," ucap Lyra dengan nada santai. "Lo pikir karena lo cantik dan kaya, lo bisa seenaknya menolak undangan acara angkatan kami?" tanya Rangga dengan nada menantang. "Aku menolak karena acaranya tidak menarik, sesederhana itu. Kenapa Kak
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16
Chapter: Bab 195 - Mommy, my bestfriendPusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung tinggi. Lala melangkah anggun sambil menggandeng lengan Lyra yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Di belakang mereka, lima pengawal berpakaian safari hitam menjaga jarak sepuluh meter dengan sangat ketat. Lyra menyesuaikan letak kacamata hitam di atas kepalanya dengan gaya yang sangat modis. Ia melirik tumpukan kantong belanjaan bermerek yang dibawa oleh dua pengawal di belakang mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kemerahan, mewarisi kecantikan Lala namun dengan aura yang jauh lebih berani. "Mom, apa Daddy tidak akan marah kita menghabiskan limit kartu kreditnya dalam dua jam?" tanya Lyra sambil terkekeh. "Kartu itu diberikan memang untuk dihabiskan, Lyra. Kalau tidak habis, Daddy-mu justru akan curiga kita tidak bahagia," jawab Lala santai. "Daddy memang aneh. Dia mencintai kita dengan cara membuang uang seolah itu hanya tumpukan kertas," gumam Lyra sambil menarik
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16
Chapter: Bab 672 : Hening "Semuanya sudah berakhir, Kaelan?" Suara parau Roselina memecah keheningan pekat di ruang bawah tanah yang luluh lantak itu. Gadis itu masih terduduk di lantai batu yang dingin, menatap tubuh tak bernyawa Tabib Caspian dengan pandangan kosong. Kaelan tidak langsung menjawab. Sang Tiran Lautan melangkah perlahan melewati genangan darah dan sisa-sisa kristal Jantung Samudera yang telah menjadi debu kelabu. Sesampainya di depan Roselina, Kaelan menjatuhkan dirinya berlutut. Tanpa ragu, Kaelan menarik tubuh rapuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sangat erat. "Sudah usai, Roselina. Semuanya benar-benar usai," bisik Kaelan, membenamkan wajahnya di perpotongan leher Roselina. Selama ini, Roselina memang satu-satunya manusia yang bisa menyentuhnya tanpa hancur menjadi debu es berkat energi pusaka di tubuhnya. Namun pelukan kali ini terasa sepenuhnya berbeda. Tidak ada lagi bayang-bayang kematian yang mengintai. Tidak ada lagi beban kutukan yang memaksa Kaelan menjaga jarak secara emosiona
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bab 671 : Akhir dari Caspian "Vaelia...?" Mata Caspian membelalak lebar. Pupilnya yang keruh bergetar tak terkendali. Napas Iblis Tua itu tercekat di tenggorokan seolah paru-parunya baru saja diisi dengan pecahan kaca. "Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Raja Keparat?!" jerit Caspian dengan suara serak yang pecah. Tangannya yang gemetar berusaha menggapai jubah Kaelan, namun sang Tiran menepisnya dengan kasar. Kaelan menatap pria tua di bawah kakinya dengan pandangan yang sedingin dasar palung samudera. Tidak ada lagi sihir es yang menguar dari tubuhnya, namun aura membunuh dari insting Varka murni yang memancar dari Kaelan jauh lebih mencekik. "Kau pikir aku tidak melacak asal-usul surat kelahiran palsu yang ditemukan Vaelia?" Kaelan berjongkok, suaranya rendah dan mematikan. "Kau menggunakan keahlian *The Scary* untuk mencuci otak bayi perempuanmu sendiri. Kau memanipulasi ingatannya, menanamkan doktrin bahwa dia adalah anak haram ayahku yang terbuang. Kau memberinya kebencian palsu agar dia tumbu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bab 670 : Lahirnya Iblis "Pukul terus... hancurkan tulangku, Yang Mulia... wujudkan sifat asli monster di dalam darahmu itu..." Suara tawa Caspian terdengar sumbang, bergetar di sela-sela gigi aslinya yang telah rontok. Pria tua itu terkapar tak berdaya di lantai batu yang dingin, wajahnya hancur tak berbentuk akibat hantaman brutal tangan kosong sang Tiran. *BUGH!* Tanpa sedikit pun keraguan, Kaelan kembali mendaratkan satu pukulan mentah ke wajah Iblis Tua itu. Darah hitam muncrat, memercik ke baju zirah Kaelan. Napas sang Raja Varka memburu, matanya memancarkan kemurkaan absolut seorang predator yang sedang menyiksa mangsanya. "Kau pikir ocehanmu bisa menunda kematianmu, Caspian?" geram Kaelan dingin, mencengkeram leher jubah pria itu dan mengangkatnya hingga kaki Caspian menggantung di udara. Caspian terbatuk hebat. Darah mengalir deras dari pelipisnya. Namun, alih-alih memohon ampun, mata keriput pria itu justru menyala liar, dipenuhi dendam kesumat yang telah berkarat selama ratusan tahun. "Kau t
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 669 : Pembodohan "Kristal nyawa?" Suara Kaelan bergema pelan di dalam ruang bawah tanah yang luluh lantak itu. Alih-alih melepaskan cengkeramannya, sang Raja justru mempererat cengkeramannya pada kerah jubah Caspian, menarik wajah pria tua yang hancur itu mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. ‘Aku tidak tau lagi harus mengancam nya sebagai apa. Tapi kau yang sudah gila karena wanita mu tidak akan bisa berpikir dengan baik Kaelan,’ Pria itu tersenyum wajah mereka saling menantang dalam suasana yang semakin menegang satu sama lain seolah tidak akan ada akhir dari pertempuran hari ini. Mata safir Kaelan yang kini memancarkan insting binatang buas menatap lurus ke dalam mata Caspian yang diliputi kepanikan. "Kau pikir... ancaman murahan seperti itu bisa menghentikan insting seorang Varka murni, Caspian?" bisik Kaelan tajam. Tangan Kaelan yang lain bergerak sangat cepat, mengunci lengan Caspian yang memegang kristal hitam tersebut. Dengan satu sentakan brutal... *KRAK!* "AAARRRGGHH!"
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 668 : Kartu As "Tarik kembali memorimu yang menjijikkan ini, Roselina! Hentikan sihir gila ini!" Jeritan histeris Tabib Caspian membelah keheningan ruang bawah tanah. Pria tua itu berguling di lantai batu, mencengkeram kepalanya sendiri seolah ingin merobek tengkoraknya. Darah segar menetes dari hidung, telinga, dan sela-sela matanya akibat tak sanggup menahan beban dari lima puluh lima memori kematian memilukan milik Roselina. "Kau yang memintanya masuk ke dalam jiwaku, Tabib," bisik Roselina dengan napas tersengal, namun senyum sinis tak lepas dari bibir pucatnya. "Telan semuanya sampai kau hancur." Tepat di detik itu, sisa-sisa kristal Jantung Samudera di lantai meredup sepenuhnya, berubah menjadi debu kelabu. Tanda *Criss Blossom* di punggung Roselina berhenti memancarkan cahaya, menandakan ikatan pusaka itu telah putus secara mutlak. *PRAAANG!* Suara retakan terdengar bukan dari lantai, melainkan dari dalam dada Kaelan. Sang Tiran Lautan membelalakkan matanya. Jalur racun hitam yang sela
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 667 : Sebuah kebangkitan "Apa... apa yang sebenarnya kau lakukan pada kekuatan ini, Gadis Jalang?!" Suara tawa kemenangan Tabib Caspian mendadak berubah menjadi jeritan panik yang tertahan. Pria tua berjubah hitam itu tersentak mundur, namun telapak tangannya seolah menempel paksa di atas tanda *Criss Blossom* pada punggung Roselina. Di lantai batu yang dingin, Kaelan mengangkat kepalanya dengan susah payah. Napasnya masih memburu, namun mata safirnya membelalak tajam melihat apa yang terjadi di depan altar. Kabut hitam beracun yang semula diserap Caspian dengan rakus kini berubah wujud. Energi itu tidak lagi mengalir lancar ke dalam tongkatnya, melainkan berbalik menyerang. Cahaya pekat kemerahan merambat naik ke lengan keriput Caspian bagai sulur berduri yang hidup, membakar kulitnya dari dalam. "L-lepaskan! Lepaskan tanganku!" raung Caspian dengan urat leher menonjol, meronta hebat mencoba menarik tubuhnya menjauh. Namun, tarikan energi itu terlalu absolut. Tongkat sihir kayu hitam di tangan Caspian
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: SIDE STORY 5 - ENDMenara Timur Istana Obsidian bermandikan cahaya emas matahari sore. Debu-debu cahaya menari di udara, menciptakan suasana magis di dalam perpustakaan raksasa yang dibangun oleh Ratu Aurelia delapan tahun lalu. Tempat ini seharusnya sunyi. Seharusnya menjadi tempat suci bagi para pencari ilmu. Namun, sore ini, kesunyian itu hanyalah mitos. "Kakak Max! Lihat! Aku nemu buku gambar naga!" "Itu ensiklopedia anatomi Wyvern, Isabella. Taruh kembali. Kau memegangnya terbalik." Di sofa beludru panjang dekat jendela besar, Xaverius dan Aurelia duduk berdampingan. Sang Kaisar sedang tidak memegang dokumen negara, melainkan membiarkan istrinya bersandar di dadanya sambil membelai rambut perak Aurelia. Mereka menikmati tontonan rutin sore hari: Dua buah hati mereka yang sedang 'berdiskusi' di antara rak buku. Pangeran Maximilian, yang duduk rapi di meja baca anak dengan postur tegak sempurna, sedang membaca buku tebal berjudul 'Sejarah Runtuhnya Kekaisaran Kuno'. Wajah datarnya tak terg
Terakhir Diperbarui: 2026-03-09
Chapter: SIDE STORY PART 4Malam telah larut di Istana Obsidian. Suara jangkrik malam dan desau angin dari Hutan Terlarang menjadi satu-satunya musik pengiring di ruang kerja Kaisar yang luas. Lampu kristal diredupkan, menyisakan cahaya hangat dari perapian yang menyala pelan. Di balik meja kerja mahoni yang besar, Xaverius Dracul duduk memeriksa tumpukan dokumen negara. Kacamata baca tipis bertengger di hidung mancungnya sebuah aksesori yang ia pakai hanya saat bekerja, yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa. Di sofa beludru merah tak jauh dari sana, Aurelia duduk bersantai dengan kaki diselonjorkan ke meja kecil, memangku sebuah novel tebal. Sesekali ia menyeruput teh chamomile hangatnya. Hening. Tapi bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Keheningan sepasang suami istri yang sudah berbagi nyawa selama bertahun-tahun. "Hhh..." Helaan napas panjang Xaverius memecah keheningan. Bukan helaan napas lelah karena pekerjaan, tapi helaan napas frustrasi yang spesifik. Aure
Terakhir Diperbarui: 2026-03-09
Chapter: SIDE STORY PART 3Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General Jenderal Bayangan The Silent Blade Pedang Sunyi atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: SIDE STORY PART 2Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf langsung tersedak. Mata merah emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balk
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: SIDE STORY PART 1Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus warisan mutlak dari sang Ibu berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul deng
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: Bab 125- Akhir yang bahagiaPesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari dengan musik, tarian, dan arak madu yang mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas sehingga menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki karena sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom akibat kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut sambil menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot,
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08