Chapter: Bab 130"Udangnya pesan beberapa porsi ya, Nah. Oke, Kita nanti meluncur ke sana. Nemenin Edi dulu sebentar." Hasby menutup ponselnya."Bagaimana? Mau ikut apa tinggal di sini?" Hasby melirik Sani yang langsung tersipu malu."Saya punya suami, Bang." Mumu, Yanti, Iman dan Nisa langsung tergelak - gelak. "Emang Saya nanya?"Edi mengerucutkan bibirnya. Hasby tak dapat menahannya lagi. Tawanya terlepas. "Dia ngomong begitu karena takut Kamu kena php, Di.""Ayok, jalan." Edi menyeruput kopinya lagi sebelum berjalan."Mau kemana? Yanah di sebelah sana!" Hasby menunjuk arah yang sebaliknya. Edi memutar langkahnya. "Kasihan Bang Edi." ucap Nisa. Iman merengkuh bahu dan memeluk Nisa.Yanti tau Mumu tidak akan melakukan itu karena tidak terbiasa. Ia berinsiatif memeluk lengan Mumu lagi. Tapi tak di sangka Mumu melepaskan tangan Yanti dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Yanti hampir menangis karena bahagia. Netra Edi yang tajam langsung melihat keberadaan Yanah dan Ijay. "Nah!" ter
Last Updated: 2024-07-11
Chapter: Bab 129"Bang Hasby tidak terlalu memuja pada kecantikan. Yang penting klik.""Tapi Aku nggak pe de tanpa make up." kata Ratna, mulai goyah. "Ya, jangan harap Bang Hasby akan melirik Mbak. Padahal Dia lagi cari pendamping hidup, lho. Dia sudah lama jadi duren. Duda keren." Yanti mulai menjadi kompor. "Udah, yuk. Kita mau ke toilet." ajak Yanah. "Eh, nanti dulu. Kalau Saya nggak pakai make up apa Hasby akan menyukai Saya?"Ikan memakan umpannya. Nisa tersenyum. "Sudah pasti. Abang pernah bilang suka kok, sama Mbak. Tapi katanya,'Sayang ya, Dia pakai make up. Coba kalau enggak." Nisa heran kenapa Yanti begitu lancarnya berbohong. Ratna termenung. "Andai Mbak bisa jadi kakak ipar Kita, Kita pasti seneng banget bisa makan enak terus." rayu Yanah lagi. Dalam hatinya ia bergumam, 'Duh - duhh..! Apanya yang enak, siiih?'Ratna tercenung. Apakah Hasby benar - benar akan tertarik padanya tanpa riasan di wajahnya? Mereka melanjutkannya dengan cerita mengenai Hasby. Hasby yang seorang psikiate
Last Updated: 2024-07-10
Chapter: Bab 128"Ra.. Ra..?" Edi tergagap. Ia terkesima bukan karena takjub tapi lebih karena terkejut dan takut. "Ratna?" sapa Hasby dengan senyum yang mengembang. Bertolak belakang dengan Edi yang kemudian memalingkan wajahnya, Hasby justru bangun untuk menjabat tangannya. Di mata Edi Ratna begitu menyeramkan. Alisnya hanya tinggal sebelah - sebelah karena tidak ada lukisan dari pensil alis di sana. Bibirnya juga hampir membiru karena tidak ada sapuan lipstik di atasnya. Hasby tersenyum."Apa kabar?" tuturnya. Lebih hangat dari biasanya. "Baik." Ratna langsung duduk di sebelah Hasby. Ia merasa Hasby telah meresponnya dengan baik. Tidak kaku seperti sebelumnya. Bibir birunya menguakkan senyum. "Kapan - kapan Saya main ke rumah Abang, ya?" katanya tanpa melirik sedikitpun pada Edi yang belum pulih dari rasa terkejutnya. "Boleh." Hasby tersenyum tipis. Ia tidak takut Ratna datang ke rumahnya karena banyak anak buahnya yang dapat menghalangi Ratna untuk bertemu dengannya. Ratna semakin senang
Last Updated: 2024-07-09
Chapter: Bab 127Iman ikut tertawa sedang Hasby yang baru keluar dari ruangan itu menahan senyumnya. Baru kali ini Mumu mencemburui istrinya. Sudah puluhan tahun sejak mereka menikah. Selama ini Iman yang terkenal dengan kecemburuannya. Mumu selalu cuek pada istrinya. Tapi sekarang? Setelah menghentikan tawanya Edi berujar, "Habis ini Aku akan bertemu dengan Ratnaku. Aku sudah rindu berat." Ratnaku? Yang lain sontak menepuk jidatnya masing - masing. Gusti, bagaimana menyadarkbuan manusia satu ini? "Emang Kita mau ke sana lagi? Makanannya 'kan kurang enak?" berengut Yanah. "Iya." timpal Iman setuju. Edi menatap Hasby. Ia mulai cemas. Hasby mengerti kecemasan Edi. Bagaimanapun Ia tidak ingin mengecewakan adiknya yang satu ini. "Ya. Nanti Kita ke sana." Edi kembali ceria dan bersemangat. "Yes!"Nisa menggelengkan kepalanya. Prihatin. 'Kasihan Bang Edi. Dia kesepian.'Yanti menarik lengan Nisa."Ayok nanti Kita kerjain ondel - ondel itu, Nisa." bisiknya. "Bagaimana?" Yanti membisikkan sesu
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 126"Sabar, dong. Orang sabar itu kekasih Allah." ucap Hasby. Bijak seperti biasanya. "Taraaa!" Nisa mengembangkan kedua tangannya. Netra merah Mumu membelalak saat Yanti kembali. Yanti mengenakan gamis seperti Yanah dan Nisa. Kepalanya juga memakai hijab instan. Ada sapuan bedak dan lipstik tipis - tipis. Yanti terlihat berbeda. Yanti terlihat berbeda. Ia tersenyum malu saat netra suaminya nyaris tak berkedip menatapnya. "Kamu apain Dia, Nisa?" tanya Edi dengan mengerjapkan netranya berulangkali. "Ternyata gamis Teh Yanti banyak. Bagus - bagus. Tapi Dia nggak berani pakai. Takut Bang Mumu nggak suka. Takut diketawain.""Aku suka. Suka banget." cetus Mumu tanpa sadar. Air liurnya bahkan menetes. Ia seperti siap menelan Yanti sekarang juga."Iler tuh, iler!" Edi tertawa diikuti yang lain. "Nggak ada yang nggak suka sama perempuan feminin." ujar Iman sambil meraih Nisa dan menghadiahinya dengan sebuah kecupan kecil di pipinya. Cup! "Hadiah karena udah membuat Teh Yanti jadi peremp
Last Updated: 2024-07-07
Chapter: Bab 125Yanah kembali memeluk Nisa. 'Kasihan anak ini. Dia benar - benar jadi korban untuk semuanya.'Ijay menatap Nisa. Ia kini menyadari perasaannya. "Itu bukan cinta, Nah. Itu cuma rasa kagum yang dibaluri rasa iri karena tidak dapat memilikinya. Nisa seperti boneka yang tidak bisa Kamu miliki, Jay. Jadi Kamu terobsesi padanya."Yanah dan Ijay mengangguk. Mereka sama menatap Nisa yang memerah wajahnya karena dikatakan boneka. Bulu matanya yang lentik mengerjap. Dia memang seperti boneka. "Boneka kesayangan." Yanah mencium pipi Nisa yang memerah karena malu.Nisa menyadari sesuatu. "Tolong, Teh, Bang, Iman nggak usah tau hal ini, ya?" Nisa tidak ingin membuat Iman menjadi posesif bila melihat Ia bersama Ijay."Masalah ini Kita tutup sampai di sini. Yang lain nggak usah tau, bukan hanya Iman." tegas Hasby. "Ya." Ijay dan Yanah mengangguk. Hasby tersenyum. Ia juga langsung pamit untuk pulang. Masalah ini sudah mereka selesaikan dengan baik karena campur tangan Hasby. Ijay berjanji aka
Last Updated: 2024-07-06
Chapter: Bab 254 Seminggu lagiSeminggu lagi. Athena mulai menyebarkan undangan virtualnya."Akhirnya Kamu menikah juga, Atha. Selamat." Kirana menepuk bahunya untuk mengucapkan selamat. "Terimakasih, Bu Kirana. Datanglah bersama Pak Sandro, ya?" Sahut Athena dengan perasaan bahagia. Tapi untuk tetangga di rumah lamanya ia memberikan undangan fisik yang akan ia titipkan pada pak Rodi. "Apa Pak Rodi nggak keberatan?" Tanya Evara sambil melipat undangan di tangannya dengan hati - hati. Ia juga baru tahu dari adiknya itu kalau pak Rodi adalah ketua RT mereka sekarang. "Dia yang minta! Biarin aja!" Sela Safira. Pak Rodi memang menawarkan jasanya untuk membantu Athena menyebarkan undangan di wilayahnya. Tentu saja itu karena ia ingin mengambil hati Safira. Athena berbisik pada Evara dan kakaknya itu tertawa kecil mendengarnya. "Memang Kamu baru tahu?" Bisik Evara. Athena mengangguk. "Aku nggak nyangka, lho. Bagaimana menurutmu, Eva? Apa Kita akan merestui hubungan mereka? Kurasa pak Rodi itu orang yang baik."
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: Bab 253 Ternyata Pak Rodi..Athena memang baru sekali ini dari pagi berada di toko roti tempat Siska bekerja. Ia ingin melihat keseharian Siska di tempat kerjanya itu. Ternyata melihatnya saja sudah membuatnya lelah. "Kamu memang hebat." Bisik Athena seraya kembali ke tempat duduknya. Pelanggan datang lagi dan Athena tidak ingin mengganggu Siska. Sang bos keluar dari ruangannya dengan kertas di tangan. Ia melihat Siska yang sibuk lalu matanya mencari dengan melihat ke sekeliling. Matanya akhirnya berhenti mencari setelah menemukan Athena yang duduk di dekat jendela. Ia segera datang menghampiri. "Atha, ini daftar nama yang akan Kalian undang. Nomor whats up nya juga." Katanya. Athena mengangguk dan menerima kertas itu. Ia lalu mengerutkan dahinya. Tidak banyak nama yang tertulis di sana."Apa memang hanya segini, Pak?" Tanyanya tidak percaya. "Sebenarnya sih, masih banyak lagi, tapi Aku takut merepotkan Kalian."Athena tertawa. Ucapan Sang bos sama persis dengan ucapan Siska tadi pagi. "Bapak kok sama ban
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 252 Seharian bersama Siska"Berapa orang yang akan Kamu undang?" Tanya Athena, dua minggu sebelum hari pernikahan mereka. Siska menggeleng ragu. "Nggak banyak, Atha. Di sini Aku nggak punya banyak teman." Kata Siska lirih. Siska merasa ia tidak cukup menarik untuk mendapatkan teman yang banyak. "Para pelangganmu itu, apa mereka tidak cukup pantas untuk Kamu undang?" Tanya Athena. Ia tahu Siska mempunyai banyak pelanggan dari toko rotinya. Mereka datang dan datang lagi karena mereka suka pada pelayanan Siska. Siska menoleh dan menatap Athena sekilas. Lalu ia kembali sibuk menata roti yang baru ia keluarkan dari oven. "Apa Kita harus mengundang mereka?" Tanyanya tidak yakin. Ia lalu menyerahkan nampan pada teman sejawatnya tapi temannya itu menolaknya. "Kamu saja yang bawa ke depan. Sekalian ajak Atha ke sana. Kasihan dia ikut panas - panasan di sini." Katanya."Tapi..""Sudah sana." Temannya itu bahkan sedikit mendorongnya agar mengikuti keinginannya. Siska menatap temannya itu dengan tatapan berterim
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Bab 251 Pak Rodi dan SafiraAdamis mencuci tangannya lalu mendekati Evara. "Sayang, itulah. Kamu selalu mencemaskan sesuatu padahal itu belum terjadi. Relax, hadapi semuanya dengan hati yang tenang. Aku minta bulan madu untuk Kamu agar Kamu bisa lebih santai. Nggak selalu memikirkan kewajibanmu sebagai istri, sebagai ibu. Jalani aja seperti air yang mengalir."Evara terdiam. Ia sampai tidak sadar saat Adamis melumat bibirnya yang masih belepotan kecap dari semur ayam yang ia makan. "Adam!" Teriaknya saat pagutan mereka terlepas. "Tapi Kamu membalas ciumanku." Balas Adamis menggoda. Wajah Evara spontan memerah karena malu. Ia bahkan tadi mengalungkan tangannya di leher Adamis. Evara meneruskan makan siangnya tanpa menoleh pada Adamis yang terus menatapnya penuh arti. Adamis bukannya mengusap bibirnya yang terkena kecap dari bibir Evara, dia justru menjilat bekasnya tanpa malu - malu."Ih!" Kata Evara melihat itu. Adamis tertawa seraya meraih cangkir tehnya. Evara mengikuti gerakannya karena tenggorokannya y
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Bab 250 Keinginan SafiraSafira sangat bersemangat mengamati renovasi rumahnya yang hampir selesai. Ia naik ke atas untuk melihat dengan bimbingan Ardi yang diamanati oleh Athena untuk menjaga ibunya. "Kalau saja Aku masih muda, Aku ingin tinggal di atas." Decak Safira kagum. "Kenapa nggak bisa? Ibu belum terlalu tua." Sahutan Ardi yang membuat Safira merasa tersanjung. Tapi Safira menggeleng. "Aku ini nggak bisa terus diam di kamar. Aku ini senangnya jalan sana jalan sini. Tulang tuaku ini nggak cukup kuat untuk terus naik turun." Katanya sambil mengibaskan tangannya. Ardi tertawa kecil tanpa maksud menghina. Ternyata Safira cukup sadar diri dengan tidak memaksakan keinginannya untuk tinggal di atas. "Semua fasilitas diadakan di atas sini, Bu. Ibu nggak perlu naik turun." Kata Ardi. "Bagaimana kalau Aku ingin ngerumpi di rumah tetangga?" Sahut Safira seraya mengerucutkan bibirnya. Ardi kembali tertawa. Ia merasakan sikap Safira yang sedikit berubah akhir - akhir ini. "Itu di luar prediksi." Sahut Ar
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Bab 249 Kerinduan Lukman HakimLukman Hakim melirik bungkusan pastel di tangan Sabrina. Ia membuka pintu setelah memutar kunci. "Masuk dulu. Kamu ini!" Omelnya. Tangannya merebut bungkusan pastel itu dan membawanya ke dalam. Sabrina tercengang. Kakaknya ini memang luar biasa menyebalkan! Sabrina terpaksa ikut masuk dengan rentetan omelan yang keluar dari mulutnya, "Kakak ini gimana, sih? Kenapa nggak mau ngelanjutin omongan yang tadi? Mau ingkar janji? Jangan bikin pe ha pe, ya! Atau kakak sengaja ingin membuatku marah? Nanti Aku.. Mmf!"Omelan Sabrina terputus karena Lukman Hakim menjejalkan sepotong pastel ke mulutnya. Rasa asin dan gurih langsung terasa di lidahnya tapi ia segera mencabut pastel itu dari mulutnya. "Kak!! Apaan, siihh?!" Gelegarnya setinggi langit. Ia nyaris membuang pastel itu tapi bayangan wajah Alea menahannya. Pastel ini pemberian Alea yang baru saja memaafkannya. Lukman Hakim duduk di depan meja barnya. Ia mengunyah pastel itu dengan cibiran di mulutnya. "Makan! Yang rugi Kamu kalau
Last Updated: 2026-06-25