Chapter: BAb 343Langit Jakarta malam itu berubah menjadi gelap gulita. Awan mendung menggantung rendah, menutupi kerlip bintang tanpa menyisakan setitik pun cahaya bulan.Satria mengemudikan mobil SUV hitam milik Vera dengan kecepatan sedang membelah jalanan lingkar luar kota. Di kursi belakang, Vera sedang menutup matanya rapat-rapat sambil memijat pelipisnya karena kelelahan setelah seharian membereskan sisa urusan kantor yang menumpuk."Mau mampir makan dulu, Non? Atau langsung pulang ke rumah?" tanya Satria sambil melirik lewat kaca spion tengah."Langsung pulang saja, Sat. Saya pengin langsung istirahat. Badan rasanya remuk semua," jawab Vera dengan suara lemas."Baik, Non."Namun, begitu mobil melewati sebuah ruas jalan raya yang agak sepi dan dikelilingi oleh pepohonan rimbun di sisi kiri dan kanan, mata Satria mendadak menyipit tajam. Insting militernya berteriak kencang. Di kaca spion, dua buah truk boks besar berukuran sedang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan kecepatan tinggi, meny
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: BAB 342Di ruang kerja mewah miliknya, Surya Aryatama membanting vas kristal antik ke lantai hingga berkeping-keping. Berita utama di semua televisi dan portal berita siang ini kompak menyoroti kegagalan total kantor hukum mereka dalam kasus gugatan palsu tanah proyek Hadiwinata.Hendrawan, sang pengacara kepercayaan, berdiri gemetar di hadapannya dengan kepala tertunduk dalam."Bodoh! Kalian semua benar-benar tidak berguna!" bentak Surya dengan suara menggelegar. Urat-urat di leher pria tua itu menonjol keluar menahan amarah yang luar biasa. "Hanya mengurus sengketa tanah murahan saja kalian bisa kecolongan dan membuat nama keluarga kita jadi bahan tertawaan publik!""Maafkan saya Tuan Surya... Kami tidak menyangka pengawal Vera itu bergerak selambat dan sesenyap itu mencari Mardani," jawab Hendrawan dengan suara parau ketakutan."Keluar!" teriak Surya penuh murka.Tanpa buang waktu, Hendrawan langsung berlari terbirit-birit keluar dari ruangan, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.Sury
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: BAB 341Keesokan paginya, suasana di ruang tunggu Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mendadak riuh. Para wartawan media hiburan dan bisnis berkumpul setelah mendapat bocoran bahwa sidang sengketa lahan proyek mal Hadiwinata Group akan memasuki agenda mediasi awal.Vera datang didampingi oleh tim hukum perusahaan dan Satria yang berdiri tegap di belakangnya. Wajah direktur muda itu tampak tenang, meski ada sedikit rasa penasaran tentang hasil temuan Satria kemarin sore.Di sisi seberang ruangan, pengacara kepercayaan keluarga Aryatama—Hendrawan—duduk bersama klien mereka, Mardani. Hendrawan tampak sangat percaya diri. Sambil merapikan jas mahalnya, dia tersenyum sinis ke arah Vera, seolah sudah di atas angin.Pintu ruang sidang utama terbuka. Hakim ketua memanggil kedua belah pihak untuk masuk dan duduk di kursi pesakitan."Baiklah, agenda hari ini adalah mendengarkan pokok perkara dan tanggapan awal dari pihak penggugat terkait sengketa lahan di tapak proyek Hadiwinata," buka hakim ketua dengan
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 340Siang itu, matahari ibu kota bersinar terik. Satria memacu motor sportnya menuju sebuah kawasan perkampungan tua di pinggiran kota. Tempat itu dulunya adalah area perkebunan sebelum berubah menjadi zona pemukiman padat. Berdasarkan data singkat yang berhasil dilacak Bima, Mardani—pria yang mengaku sebagai ahli waris sah tanah proyek mal—pernah tinggal di wilayah tersebut sebelum merantau puluhan tahun lalu.Satria memarkir motornya di sebuah warung kopi kecil dekat balai warga. Dia memesan segelas es teh manis sambil mengobrol santai dengan pemilik warung, seorang pria paruh baya yang tampak sudah lama tinggal di sana."Permisi Pak, kalau kenal sama Pak Mardani yang rumahnya dekat bekas perkebunan dulu, kira-kira beliau sekarang tinggal di sebelah mana ya?" tanya Satria ramah sambil menyodorkan sebatang rokok kretek.Pria paruh baya itu menerima rokok tersebut, menyalakannya, lalu menghela napas panjang. "Mardani? Oh, si Dardan maksudnya? Wah, anak itu sudah lama sekali tidak kelihata
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 339Dua hari berlalu dengan tenang. Proyek pembangunan mal Hadiwinata Group kembali berjalan normal tanpa ada gangguan apa pun. Satria bahkan sempat mengendurkan sedikit pengawasannya karena mengira kubu Aryatama sudah benar-benar mundur setelah tentara bayaran mereka kabur.Namun, ketenangan itu mendadak pecah pada Kamis pagi.Vera baru saja tiba di ruang kerjanya ketika Laras masuk dengan langkah terburu-buru dan napas tersengal-sengal. Wajah asisten pribadinya itu terlihat sangat pucat."Nona Vera... gawat Non!" seru Laras sambil meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kerja Vera.Vera mengerutkan kening, merasa tidak suka dengan nada panik di pagi hari. "Ada apa lagi Ras? Jangan bilang ada demo LSM palsu lagi.""Bukan demo Non. Ini jauh lebih buruk," jawab Laras dengan suara bergetar. "Petugas juru sita dari Pengadilan Negeri baru saja datang ke gerbang depan. Mereka menyerahkan surat panggilan resmi dan gugatan perdata untuk perusahaan kita."Kening Vera berkerut semakin
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: BAB 338Berikut adalah Bab 381, menceritakan ketenangan palsu di kantor dan langkah tak terduga yang diambil oleh Surya Aryatama.Bab 381: Langkah Licik Sang KonglomeratHari itu, suasana di kantor Hadiwinata Group berjalan sangat produktif. Dua rapat penting bersama calon investor luar kota berhasil ditutup dengan kesepakatan kerja sama yang memuaskan. Vera tampak tersenyum lebar saat melangkah keluar dari ruang rapat bersama Laras."Wah, hari ini bener-bener hari keberuntungan kita Non! Semua investor setuju buat suntik dana tambahan," kata Laras antusias sambil merapikan dokumen di tangannya.Vera mengangguk setuju. "Iya Ras. Semuanya berkat kerja keras tim, dan tentu saja karena kita bisa melewati badai fitnah kemarin dengan bersih."Satria berdiri di sudut lorong dekat jendela kaca, mengawasi keadaan sekitar dengan tenang. Ponsel di sakunya sempat bergetar beberapa kali. Itu pesan singkat dari Bima yang mengabarkan kalau tim pembunuh bayaran Igor terlihat memesan tiket penerbangan pagi k
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: BAB 204Langkah kaki Joko terasa berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban dosa dunia di pundaknya. Napasnya menderu kasar, memecah keheningan malam yang mencekam. Di punggungnya, tubuh kaku Ki Banyu terkulai, lengan-lengan panjang pria itu berayun-ayun tak bernyawa mengikuti irama langkah Joko, sesekali menyentuh semak belukar yang mereka lewati.Joko menghindari jalan raya. Ia menyusup melewati pagar pembatas yang rusak, masuk ke dalam area lahan kosong bekas sengketa yang luas, tempat yang sama di mana ia bertemu bayangan Eyang Giri Sewu dalam visi sebelumnya. Namun kali ini, ini bukan visi. Ini nyata. Darah yang merembes membasahi punggung kemejanya adalah darah asli. Bau amis yang menusuk hidungnya adalah bau kematian yang sesungguhnya.Area itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung. Ilalang setinggi dada manusia tumbuh liar, menyembunyikan pergerakan Joko dari mata dunia luar. Suara serangga malam terdengar nyaring, seolah
Last Updated: 2025-12-12
Chapter: Bab 203Kekuatan pukulan Joko begitu besar hingga dada Ki Banyu amblas ke dalam. Tulang rusuknya patah, menusuk paru-paru dan jantungnya seketika.Hempasan tenaga dalam itu kemudian meledak, melemparkan tubuh Ki Banyu ke belakang seperti layang-layang putus.BUM!Tubuh Ki Banyu terbang melintasi jalan raya, menghantam batang pohon besar di seberang jalan dengan suara gedebuk yang keras, lalu jatuh merosot ke tanah. Ia tidak bergerak lagi. Punggungnya tersandar di pohon, kepalanya terkulai miring dengan sudut yang tidak wajar.Seketika itu juga, kabut putih yang menyelimuti jalanan lenyap.Seperti tirai yang ditarik paksa, ilusi air itu menguap menjadi udara kosong. Pemandangan jalan raya malam hari kembali terlihat jelas. Lampu jalan kembali bersinar kuning. Suara jangkrik kembali terdengar.Joko berdiri mematung di tengah jalan. Tangan kanannya masih terulur ke depan dalam posisi memukul. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan cipratan darah
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: BAB 202Kabut putih itu bukan sekadar uap air. Itu adalah penjara hidup.Joko terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Udara di sekitarnya terasa lengket dan basah, setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup air laut yang asin dan pekat. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang semakin menipis. Pandangannya benar-benar buta. Putih. Hanya putih sejauh mata memandang, diselingi oleh bayangan-bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti belut raksasa di sekelilingnya.“Sia-sia, Nak,” suara Ki Banyu terdengar bergema dari segala arah, memantul-mantul di dalam dinding kabut, membuatnya mustahil untuk dilacak. “Kau mungkin punya tenaga dalam yang besar, kau mungkin punya kulit yang keras, tapi bisakah kau bertarung melawan udara yang kau hirup?”Sreeet!Sebuah sabetan air yang tajam tiba-tiba muncul dari samping kanan. Joko terlambat menghindar. Bahu kirinya tergores, kain kemejanya robek, dan darah segar merembes keluar. Lukanya terasa perih luar biasa, seol
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: BAB 201Joko masuk ke dalam mode fokus penuh. Dunia di sekelilingnya melambat. Ia melihat lintasan pukulan api itu. Ia menepis pukulan ke arah wajah dengan telapak tangan, mengelak pukulan ke rusuk dengan memutar pinggang, dan menahan pukulan ke perut dengan lututnya.Tak! Buk! Plak!Suara adu fisik terdengar cepat dan ritmis. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan yang sunyi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, terjadi letupan kecil antara energi emas dan api merah.Joko mulai merasakan pola serangan Ki Agni. Kuat, eksplosif, tapi… emosional. Terlalu mengandalkan amarah.“Dia petarung kasar,” bisik Khodam. “Dia boros tenaga. Jangan adu kekuatan, bocah. Gunakan kelincahanmu. Matikan apinya dari sumbernya.”‘Sumbernya?’ tanya Joko dalam hati sambil menunduk menghindari sabetan tangan Ki Agni yang nyaris membakar rambutnya.“Pusat napasnya! Ulu hati! Di situlah dia mengumpulkan panasnya!”Joko mengerti.Saat Ki Agni menarik tangannya ke belakang untuk melancarkan puk
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: BAB 200Sebuah dinding cahaya transparan berwarna keemasan muncul seketika di depan pagar.BOOM!Bola api itu menghantam dinding cahaya Joko. Ledakan terjadi, namun tertahan. Api merah dan cahaya emas beradu, menciptakan percikan bunga api yang menyilaukan di tengah malam buta. Suara ledakannya cukup keras, namun teredam oleh perisai energi itu.Joko merasakan panas yang luar biasa menyengat telapak tangannya. Kakinya terdorong mundur beberapa senti, menggerus tanah halaman. Serangan ini kuat. Jauh lebih kuat dari serangan preman manapun.Di seberang jalan, Ki Agni tampak terkejut namun juga senang. “Oh? Lumayan juga. Kau bisa menahannya. Tapi sampai kapan?”Ki Agni mengangkat tangan kirinya juga. Bola api kedua mulai terbentuk di udara, kali ini lebih besar, lebih panas.Joko mengertakkan gigi. Ia tidak bisa terus bertahan di sini. Ledakan tadi pasti sudah membangunkan beberapa orang. Jika bola kedua itu dilepaskan, ia tidak yakin bisa menahannya tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan di
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: BAB 199Lampu kamar mandi yang remang-remang menjadi satu-satunya penerangan di kamar nomor 13. Joko menarik selimut tipisnya sebatas dada, membiarkan tubuhnya yang remuk redam tenggelam dalam keheningan. Matanya terasa berat, kelopak matanya bergetar pelan, siap untuk menyerah pada dunia mimpi. Ia sudah melakukan segalanya hari ini. Bekerja, bertarung, menyelamatkan orang, bahkan menghadapi godaan ibu kos. Ia pantas mendapatkan istirahat.Namun, tepat saat kesadarannya berada di ambang batas antara terjaga dan terlelap, sebuah sensasi asing menyentaknya.ZING!Bukan suara. Bukan sentuhan. Melainkan sebuah getaran tajam yang menusuk langsung ke dalam ulu hatinya. Rasanya seperti ada jarum es yang ditancapkan ke dadanya, menembus kulit, daging, dan langsung menyentuh pusaka yang tergantung di sana.Joko tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungnya yang tadinya melambat kini kembali memacu cepat.Pusaka Semar Mesem di dadanya bereaksi instan. Benda
Last Updated: 2025-12-08
Mendadak Menjadi CEO
Teguh Waluyo, seorang pemuda sederhana dari desa. Dia merupakan lulusan SMK, dengan keluarga yang terkenal sebagai tokoh agama di desa tersebut.
Teguh juga merupakan aktivis organisasi di sekolahnya, namun, karena menunggu ijazah untuk mencari pekerjaan, Teguh harus bekerja terlebih dahulu, sebagai kuli bangunan di desa sebelah.
Akan tetapi, di desa tersebut, Teguh selalu dicemooh dan diejek oleh pemuda lainnya, yang juga bekerja di sana. Namun, karena mereka juga mengejek orang tuanya, maka, Teguh pun tidak bisa menerimanya, sehingga terjadilah perkelahian.
Akibat Teguh yang memukul salah satu dari mereka, dan membuatnya pingsan di tempat, maka, Teguh pun melarikan diri dari incaran warga di sana.
Akhirnya, Teguh pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana.
Hingga akhirnya, Teguh dipertemukan dengan orang tua yang baik hati, yang telah mengangkat derajatnya.
Read
Chapter: 74"kami mohon nona Amber ini masalah keluarga kita tidak ada kaitanya dengan tempat kerja saya" mohon sang rektor itu kali ini bersujud, memohon ampun kepada AmberTeguh semakin mengepalkan tanganya , dia tidak menyangka ternyata begitu banyak orang kaya yang anaknya menyalah gunakan kekuasaan keluarganya."aku yang akan mendisiplinkan anakmu, dan segera kosongkan kampus ini, biar anda bagaimana rasanya hancur" ucap Amber dengan nada penuh intimidasi"bawa dia dan hancurkan" perintah Amber kepada anak buahnya untuk membawa, rektor itu dan kemudain memporandakan gedung kampus."baik nona" seketika mereka mengangguk dan mulai menjalankan tugas, dari mengusir mahasiswa sampai menghancurkan kelas,,tidak bisa di bayangkan bagaimana takutnya para mahasiswa kala itu, mereka di paksa keluarga kampus dengan kasar, bahkan ada siswa laki-laki yang berusha melawan mereka, tapi malah mahasiswa itu yang di hajar sampai babak belur.ada juga mahasiswi yang menolak diseret oleh mereka , sehingga membu
Last Updated: 2025-02-23
Chapter: 73Waktu semakin larut mereka tidak terasa sudah begitu lama mengobrol, kali ini Teguh tidak datang ke kantor karena Brian yang meminta. tak lupa juga Brian mengajak Teguh untuk makan malam, dan disitu Brian menemukan sebuah keanehan dimana melihat Clara begitu perhatian sama Teguh, dari mengambilkan nasi lauk dan menuangkan minum bahkan sesekali Clara melihat ke arah Teguh. Brian pun sudah tidak tahan melihat sikap Clara pada Teguh ."Teguh Clara ada yang mau saya tanyakan" ucap Brian pada Teguh dan Clara"iya yah ada apa?" tanya Clara"sebenarnya hubungan kalian sejauh mana?" tanya Brian, membuat Clara dan Teguh kaget'ini memang sudah waktunya memberi tahu' gumam Teguh dalam hatinya"baik sebenarnya........." Teguh belum selesai mengucapkanya sudah di sambar oleh Naya"mereka sudah pacaran" ucap Naya langsung to the point,seketika Brian menjatuhkan sendok dan garpunya di piring . klang...... terdengar bernturan suara sendok dan garpu.."kenapa kalian merahasiakanya dari saya" kini Bria
Last Updated: 2025-02-23
Chapter: 72Teguh kemudian memasang kuda kuda dan bersiap jika sewaktu waktu mereka akan menyerang ,"akan aku tunjukan apa itu sombong" balas Cibir Teguh , dan tanpa di duga mereka seketika berlari kearah Teguh untuk menyerang, untung saja Teguh sudah memasang kuda kuda, sedangkan di dalam mobil jelas sekali Clara dan Naya sangat cemas dengan Teguh. meraka selalu berdoa supaya ada keajaiban.mereka tidak tanggung tanggung mereka langsung mengkroyok Teguh lebih dari tiga puluh orang turun dari mobil van yang tadi mengepung Teguh mereka bergerak serentak. dan detik berikutnya terdengar suara tulang saling bertabrakan dan suara erangan dan pukulan, dan itu membuat pimpinan mereka yang mengkordinasi serangan itu memicingkan matanya dia tampak tidak percaya jika pemuda yang sombong di depanya benar, benar tidak takut mati."aahhhhh' Teguh berteriak untuk menambah kekuatanya dan seketika mengeluarkan aura yang sangat dingin, baru lah kemudian Teguh mengangkat salah satu dari mereka dan kemudian melem
Last Updated: 2025-02-23
Chapter: 71Keesokan harinya setelah mereka selesai berish bersih ganti baju dan sarapan, mereka melanjutkan aktifitasnya sedangkan Burhan dia berangkat bekerja, Teguh Clara dan Naya mereka berangkat ke kampus, seperti biasa mereka sampai di kampus akan berpisah di lobi kampus, Clara dan Naya kali ini fokus kuliah, beda halnya dengan Teguh entah mengapa hari ini dia tidak fokus karena banyak fikiran yang mengganggunya, terutama gengster Black Jack itu, dia terus terbayang, dan dia baru dapat info jika geng itu dipimin oleh Jack yang bengis dan kejam dia memiliki dua petarung hebat kelas atas di sampingnya."Guh kenapa?" tanya Adam yang melihat Teguh melamunkemudian Teguh tersadar dan menoleh ke arah Adam."aku tidak apa-apa" jawab Teguh kepada Adam, setelah itu Teguh berusaha fokus, disisi lain tiga hari lagi dia akan terbang ke Bali.sedangkan di kediaman Pak Brian sangat tegang disana ada Brian dan tentunya Wicak dan juga Tegar, dia adalah orang kepercayaan Brian dan Wicak, Tegar adalah petaru
Last Updated: 2025-02-22
Chapter: 70Teguh dengan Clara semakin asik berselfi ria, sampai mereka tidak menyadari jika mereka berpose dengan mesra dan parahnya lagi Naya ternyata melihatnya , karena setelah selesai mandi Naya ingin bergabung tapi ketika melihat Clara dengan Teguh dia mengurungkan niatnya, tetapi tanpa sengaja Naya menyenggol vas bunga yang di atas meja deka pintu 'bruk' suara pot bunga jatu, sontak membuat Clara dan Teguh melihat kearah itu. dan ternyata Naya yang berada disana."Nay kenapa" ucap Teguhseketika Naya menjadi canggung bingung harus bagaimana dia sekarang."ah tidak mas, gak sengaja menyenggol vas itu" ucap Naya dengan gelagapan"tenang saja , tidak apa-apa" jawab Teguh kemudian"ah aku lapar" celoteh Clara karena merasa lapar."em bukanya barusan kamu sama Naya makan jajan yang banyak" jawab Teguh, karena benar saja tadi Clara bersama Naya menghabiskan jajan yang dia beli"cemilan sama makan beda" gerutu Clara dengan kesalTeguh pun tidak tega dia memutuskan untuk memasak kebetulan dia juga
Last Updated: 2025-02-22
Chapter: Kejutansetelah Clara selesai mengajari dan merapikan belanjaan di apartemen Teguh mereka kini istirahat menunggu kepulangan Teguh.sedangkan Teguh masih berkutik dengan berkas dan komputer di depanya, tak terasa juga waktu sudah menunjukan jam pulang kantor, setelah selesai Teguh bergegas untuk merapikan dan pulang, karena dia yakin Clara dan Naya menunggunya.sebelum pulang Teguh mampir keruangan Aldo"Do mau pulang bareng tidak?" tanya Teguh pada Aldo"sepertinya saya nanti saja tuan, masih banyak perkerjaan" jawab Aldo karena bernar saja banyak kerjaan kantor belum lagi Tugas yang di berikan Teguh kepadanya."baik lah aku duluan" jawab Teguh, kemudian Teguh keluar dan menuju mobilnya, tak lupa dia membeli jajanan kesukaan Naya yaitu jajanan seperti cilok, pempek telor gulung dan lain-lain. setelah membeli itu Teguh langsung menuju apartemenya, tak lama Teguh pun sampai karena dia sendirian dan fokus menyetir.Clara dan Naya yang sedang bercanda seketika mendengar pintu terbuka mereka ko
Last Updated: 2025-02-19