Chapter: Bab 38 Suara hantaman tubuh Aruna yang pingsan di layar tablet itu seolah menghantam dada Darren secara langsung. Rahang Darren mengeras seketika. Pembuluh darah di pelipis dan lehernya bertonjol keluar, dan wajah tampannya memerah padam oleh kobar amarah yang luar biasa dahsyat. Aura membunuh yang teramat pekat mendadak merebak, memenuhi seluruh sudut ruang rapat yang dingin itu. Sekretarisnya merinding hebat. Merasakan tekanan udara yang mendadak mencekik leher, pria muda itu refleks melangkah mundur satu langkah dan menelan ludahnya kasar. Ia belum pernah melihat bos besarnya murka besar seperti ini. "Batalkan semua agenda saya hari ini," pangkas Darren. Suaranya mengalun sangat rendah, berat, dan dipenuhi ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri. "Siapkan penerbangan paling cepat kembali ke Indonesia. Sekarang juga." "B-baik, Tuan! Segera saya urus!" jawab sekretarisnya panik, langsung membungkuk dan berlari keluar ruangan untuk mengontak pihak maskapai. Darren berdiri s
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Bab 37Suasana ruangan langsung berubah seratus delapan puluh derajat! Jari-jari para wartawan bergerak kilat di atas kibor laptop mereka. Kamera-kamera kini beralih fokus merekam bukti-bukti mengejutkan di layar proyektor. Dalam hitungan menit, artikel dan tayangan live streaming konferensi pers itu menyebar di jagat maya dengan kecepatan kilat. Arus publik berbalik secara brutal! Opini masyarakat yang tadinya merujak Aruna seketika berbalik menghantam Adrian, Nadya, dan Ibu Sumi dengan kemarahan yang jauh lebih dahsyat. "GILA! Ternyata ibunya yang kurang ajar! Minta 5 miliar dan ngedukung anaknya selingkuh dengan perempuan lain?" "Sumpah gue emosi banget ngebaca kuitansi belian tas si Nadya! Pake uang perusahaan istrinya pulak! Muka tembok banget tuh cowok sama selingkuhannya!" "Anjir, untung Bu Aruna punya file rekaman CCTV asli! Kasihan banget dia, udah dikhianati, dikuras uangnya, mau dipukul pulak! Adrian sama Nadya wajib membusuk di penjara!" "Wajib cerai sih setelah i
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Bab 36Kembali ke gedung Pradipta Group, saat Aruna hendak berjalan menuju pintu keluar, Pak Pram tiba-tiba memotong langkahnya. "Tunggu sebentar, Bu Aruna!" Pak Pram bergegas menuju meja kecil di sudut ruangan, meraih sebuah gelas berisi air hangat dan dua butir obat pereda demam serta pusing yang sengaja ia ambil dari kotak P3K sekretariat. "Minum ini dulu, Bu," desak Pak Pram dengan tatapan yang sangat cemas. "Wajah Anda makin merah. Tolong, minum obat ini dulu sebelum turun ke bawah. Jangan paksakan diri terlalu keras." Aruna menatap dua butir obat di tangan Pak Pram. Tenggorokannya terasa sangat kering dan panas, tapi ia tahu obat ini tidak akan langsung menghilangkan rasa pusing yang bagaikan ditusuk ribuan jarum di kepalanya. Tapi, melihat perhatian tulus dari sekretaris seniornya, Aruna akhirnya mengangguk. Ia mengambil obat itu, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meminum air hangat itu hingga tandas. "Terima kasih, Pak Pram," bisik Aruna parau. Ia mengusap sudut bibirnya
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Bab 35Sensasi panas mendadak menjalar dari tengkuk hingga ke dada Aruna. Rasa pusing yang sejak tadi menekan kepalanya mendadak menghantam dengan begitu dahsyat, membuat pandangannya sempat kabur selama beberapa detik. Dada Aruna kempas-kempis menahan gejolak amarah dan kelelahan fisik yang menyatu. Jemarinya mencengkeram tepi meja kayu mahoni hingga kukunya memutih. "Siapa yang mengunggah video ini pertama kali? Apakah tim IT sudah melacaknya?" tanya Aruna, suaranya dingin menusuk, meski bibirnya yang pucat tampak sedikit gemetar. "Sedang dilacak oleh tim cyber, Bu," jawab Maya dengan wajah cemas. "Tapi videonya sudah di-repost oleh puluhan akun gosip besar. Trennya naik dengan sangat cepat!" Aruna memejamkan matanya sejenak, menahan denyutan nyeri yang bagaikan ditusuk jarum di kepalanya. Di dalam hatinya, sebuah kenyataan pahit menyengat kesadarannya. Pasti ini ulah Adrian dan Nadya! Siapa lagi kalau bukan mereka berdua? Aruna terkekeh sinis di dalam hatinya. Kedatangan A
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Bab 34Keesokan harinya, di kantor Pradipta Group. Pintu lift eksekutif terbuka di lantai teratas. Aruna melangkah keluar menuju ruang kerjanya. Namun, tak ada lagi pendar keanggunan yang segar seperti biasanya. Langkah kakinya terasa begitu berat. Blazer pastel yang membungkus tubuhnya tak mampu menutupi fakta bahwa wajah cantik Aruna tampak begitu pucat. Bibir merahnya yang biasa mengulas ketegasan kini terlihat agak kering, dan ada bayangan gelap yang samar di bawah matanya akibat sama sekali tidak tertidur semalaman. Kepalanya berdenyut-denyut, menimpakan rasa sakit yang menusuk di balik dahinya. Pak Pram yang sedang berdiri di dekat salah satu meja di sana seketika berdiri tegak. Begitu matanya menatap Aruna, raut wajah sekretaris senior itu langsung berubah penuh kecemasan. Kemudian dia mengikuti Aruna masuk ke dalam ruangannya. "Bu Aruna?" panggil Pak Pram sopan, dan melangkah mendekat dengan dahi berkerut dalam. "Selamat pagi, Bu... Maafkan saya, tapi wajah Anda terliha
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: Bab 33Setelah memastikan dua benalu itu benar-benar menghilang dari pandangannya, Aruna menghela napas panjang. Ia memberikan anggukan tipis penuh rasa terima kasih kepada Bara. Tanpa bersuara lagi, Bara membungkuk hormat lalu melangkah mundur, menghilang begitu cepat meninggalkan tempat itu. Aruna memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam mobil. Pak satpam membukakan gerbang. Aruna turun, dan berjalan masuk menuju rumah, menutup pintu dengan rapat dan langsung memutus kebisingan di luar dan menyisakan kesunyian yang dingin. Sementara itu, di sudut tikungan kompleks yang sepi dan luput dari jangkauan kamera pengawas, Adrian berjalan pincang sembari memegang pipinya yang mengucurkan darah. Di sampingnya, Ibu Sumi tak henti-hentinya menyumpah serapah dengan kata-kata paling kotor, meratapi nasib putra kesayangannya yang terluka. "Sialan! Perempuan iblis itu benar-benar merepotkan!" maki Ibu Sumi dengan napas memburu. "Sudah, Bu! Jangan menjerit-jerit terus, kepalaku mau peca
Huling Na-update: 2026-07-31
Chapter: 170. SelamanyaDua Tahun Kemudian Ballroom hotel telah dipenuhi cahaya kristal yang berkilauan. Rangkaian bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan. Alunan musik mengalun lembut, sementara keluarga, sahabat, serta rekan kerja memenuhi kursi-kursi yang telah disiapkan. Di ujung lorong, Azalea melangkah perlahan. Gaun putih yang dikenakannya menjuntai anggun hingga lantai. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga-bunga kecil, membuat senyumnya tampak semakin hangat. Bekas luka yang dahulu hampir merenggut hidupnya kini hanya tersisa sebagai kenangan. Hari itu... Ia terlihat begitu sehat dan bersemangat. Di ujung altar, Elvario memandang wanita itu tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak banyak orang mengenalnya... Tatapan dingin dokter pusat trauma itu dipenuhi kelembutan. Azalea berhenti tepat di hadapannya, dan mereka saling tersenyum. Tanpa perlu kata-kata, keduanya sama-sama teringat malam-malam panjang di rumah sakit. Saat Azalea berjuang antara hidup dan mati. Saat
Huling Na-update: 2026-07-04
Chapter: 169. Akan selalu begini Ruang staf pusat trauma sudah mulai lengang ketika El akhirnya menurunkan tubuhnya di kursi panjang dekat dinding. Satu tangannya masih menggenggam masker operasi yang sudah setengah kusut, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menekan batang hidungnya yang terasa berat. Cahaya putih dari lampu neon di atas kepala membuat kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya. Kantung matanya samar terlihat, tanda ia sudah terlalu lama tidak tidur. Tapi di wajah itu masih ada ketegasan yang sama — dingin, fokus, dan tidak menunjukkan keluhan sedikit pun. Suara mesin ventilator, langkah kaki perawat yang bergegas, dan panggilan singkat dari interkom menjadi latar belakang yang terus hidup di rumah sakit itu, seolah memberi tahu bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar tidur. El menatap arlojinya. Sudah lewat tengah malam. Itu berarti hampir dua puluh jam ia bekerja tanpa henti — berpindah dari satu ruang operasi ke ruang lainnya, dari IGD ke ruang resusitasi, kembali ke meja operasi, d
Huling Na-update: 2026-07-04
Chapter: 168. Saya tidak bisa istirahat Salah satu asisten segera memberikan benang pada El dengan gerakan cepat. Semua tim operasi El kali ini bekerja dengan cepat. El lalu menjahit luka besar itu dengan gerakan cepat namun rapi. Setiap jahitannya terpasang dengan ketegasan luar biasa. Menegaskan sosoknya yang bisa dibilang sempurna dalam urusan medis. Dia benar-benar adalah murid membanggakan dari tabib terkutuk. Dalam ruang operasi yang dingin itu, suara tik-tik-tik alat monitor menjadi satu-satunya musik di ruangan tersebut. Menjadi teman dengar bagi beberapa pasang telinga di sana. Dan ketika El sedang fokus menangani pasiennya, seorang perawat masuk ke dalam ruang operasi dengan tergesa-gesa. Di wajahnya terlihat panik yang kentara. “Dokter, ada dua korban lainnya yang baru tiba. Keduanya tidak sadar, salah satunya dengan luka bakar parah.” El menatap sekilas ke arah pintu, lalu berkata datar, “Beri prioritas lebih dulu pada pasien dengan nadi lemah. Minta Dokter Lina untuk ambil alih triase. Jangan biarkan
Huling Na-update: 2025-10-21
Chapter: 167. Terus menyelamatkan Roda brankar berdecit keras saat salah satu pasien didorong masuk ke ruang operasi darurat dua. Bau darah segar, dan campuran antiseptik, langsung memenuhi udara dingin di dalam ruangan tersebut. Lampu operasi yang tergantung di atas meja operasi menyala dengan terang, menyilaukan, dan menyorot tubuh pasien laki-laki yang penuh dengan luka. Wajahnya nyaris tak dikenali, tertutup darah dan serpihan kaca yang menempel di kulitnya. Nafasnya berat, pendek, dan terputus-putus. Elvario kini sedang berdiri di sisi meja operasi, dan mengenakan sarung tangan steril yang baru. Masker telah menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang penuh fokus. Di sampingnya, seorang dokter anestesi sedang memeriksa tekanan darah pasien dan saturasi oksigen yang terus turun drastis. “Tekanan 60 per 30, Dok! Saturasinya 78 persen!” “Buka jalan napasnya sekarang! Ventilator siap?” “Siap, Dok!” El menarik napas dalam, lalu menatap layar monitor. Detak jantung pasien melambat.
Huling Na-update: 2025-10-17
Chapter: 166. Terus berjuang menyelamatkan Setelah mengatakan perintah tersebut, El menutup panggilan telepon tersebut. Kemudian El berdiri dengan cepat, dan meraih jasnya lalu langsung mengenakan jas tersebut dalam satu gerakan. Tatapan semua orang yang ada di kantin itu mengikuti langkahnya saat El berjalan cepat keluar, suara sepatunya terdengar beradu dengan lantai yang licin karena basah. Sekarang koridor rumah sakit terasa lebih sibuk dari saat tadi El melewatinya. Dan beberapa orang perawat tampak berlarian di sana, dengan suara telepon yang terus berdering, disusul dengan suara pengumuman dari pengeras suara menggema dengan keras. “Seluruh tim trauma harap segera ke IGD. Tim trauma, ke IGD sekarang.” Suara panggilan itu terdengar tegas dan juga penuh permintaan. El semakin mempcepat langkahnya. Tatapannya tajam, dan juga fokus. Begitu El tiba di ruang trauma, aroma khas rumah sakit, berupa obat, darah, dan antiseptik langsung menyergap ke dalam hidungnya. Di sana, terlihat ada beberapa staf medis sudah bersiap
Huling Na-update: 2025-10-13
Chapter: 165. Apakah akan ada insiden lagi?Beberapa Jam Kemudian Ruang operasi telah digunakan bergantian. El keluar dari OR dengan seragam operasi yang basah oleh keringat. Maskernya ia turunkan perlahan, langkahnya berat. “Pasien perempuan sudah stabil,” lapor perawat ICU. “Transfusi berjalan baik, tekanan darah normal.” El mengangguk pelan. “Pantau urine output dan saturasi tiap lima belas menit. Jika turun, hubungi saya langsung.” Ia lalu menatap layar monitor di ruang observasi tempat pasien laki-laki dirawat pascaoperasi. Napas pria itu teratur, tapi masih dibantu ventilator. CT menunjukkan pendarahan sudah dibersihkan, namun kesadarannya belum pulih. Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul 13.47. Sudah lewat dari jam makan siang. Langkah kaki El bergema pelan di lantai rumah sakit yang bersih mengilap. Operasi yang El lakukan berjalan lancar, dan nyawa pasien selamat, tapi tenaga El terasa nyaris terkuras habis. Saat ia tiba di pintu keluar IGD, El kemudian berhenti. Pandangannya tertarik oleh sesuatu
Huling Na-update: 2025-10-12
Chapter: Bab 106 TamatMona masih terdiam, wajahnya memucat, tubuhnya perlahan gemetar. Informasi yang baru saja ia terima terasa seperti badai—membuat segalanya berputar dan kabur di kepalanya. Namun Ansel belum selesai. “Dan satu lagi,” ucapnya, kini dengan nada lebih tajam, menusuk. “Hendrik Hartono tidak mati bunuh diri di penjara.” Mona menoleh cepat, matanya terbelalak. “Apa maksudmu…?” Ansel menatap pria paruh baya di seberang dengan dingin yang mengancam. “Dia yang mengatur kematian Hendrik. Mengubahnya seolah-olah itu bunuh diri, padahal itu pembunuhan yang disabotase dari dalam.” Pria itu mengangkat alisnya pelan, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. “Hendrik tahu terlalu banyak. Dia mulai panik. Kalau aku biarkan, dia bisa buka suara—dan itu akan merugikan semua pihak.” “Termasuk kau,” potong Ansel tajam. “Karena jika dia bicara, semuanya akan tahu kalau selama ini dalangnya adalah kau. Kau yang menarik tali dari balik bayangan. Meracuni Dante, lalu menyingkirkan siapa pun yang bisa
Huling Na-update: 2025-04-11
Chapter: Bab 105Beberapa minggu setelah Mona melahirkan Arshaka, Ansel kemudian meminta izin kepada Lidia untuk membawa istrinya itu ke suatu tempat. Dan mertuanya itu senang karena diberi waktu lama untuk bermain dengan cucunya. "Kita akan kemana?" Mona bertanya saat dia dan Ansel berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh suaminya. "Ke suatu tempat. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Ansel, sembari fokus menatap jalanan di depan sana. Mendengar jawaban Ansel, Mona tak bertanya lagi. Ia hanya menggenggam jemari suaminya yang bebas satu, membiarkan keheningan menyelimuti mereka sambil menanti kejutan yang akan datang. Mobil yang Ansel kendarai akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat familiar—kantor polisi. Mona mengernyit heran, pandangannya menelusuri papan nama besar di atas gedung itu. “Apa… kita ada urusan di sini?” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, Ansel sudah keluar dari mobil dan mengitar
Huling Na-update: 2025-04-11
Chapter: Bab 104 Beberapa jam setelah persalinan Cahaya lembut dari lampu di sudut ruangan menciptakan bayangan hangat di wajah Mona yang tertidur pulas. Di pelukannya, Arshaka tampak damai, sesekali menggerakkan tangan mungilnya seolah sedang bermimpi. Ansel duduk di samping ranjang, tubuhnya bersandar santai tapi tetap waspada. Di antara jemarinya yang kokoh, ia menggenggam tangan kecil anaknya dengan hati-hati, seolah takut kekuatannya yang luar biasa bisa melukai makhluk sekecil itu. Dia menatap wajah mungil itu dalam diam. Hidung kecil, bibir mungil, dan alis tipis yang entah mengapa membuat hatinya terasa penuh. “Arshaka,” bisiknya pelan, seolah sedang menguji nama itu di lidahnya. “Kau bahkan belum bisa membuka mata, tapi kau sudah mengubah segalanya.” Ada senyum samar di wajah Ansel—bukan senyum sinis, bukan senyum licik, tapi senyum yang lembut, tulus, dan langka. Tangannya yang besar membenarkan selimut bayi itu dengan gerakan sangat hati-hati, lalu berpindah menyentuh pipi Mon
Huling Na-update: 2025-04-11
Chapter: 103Beberapa jam kemudian Suasana di dalam kamar perawatan semakin tegang. Mona kini terbaring dengan tubuh sedikit miring, keringat membasahi dahinya. Nafasnya semakin berat, tangannya menggenggam erat lengan Ansel setiap kali kontraksi datang. "Ahh…!" Mona meringis kesakitan saat gelombang kontraksi kembali menghantam. Ansel langsung mencondongkan tubuhnya, tangannya mengelus rambut Mona dengan lembut. "Mona, tahan sebentar… Aku di sini." Dokter kembali masuk untuk memeriksa perkembangannya. Setelah beberapa saat, dia mengangkat wajah dengan ekspresi serius. “Sekarang sudah pembukaan delapan.” Mata Ansel semakin gelap. “Apa dia masih harus menunggu lama?” Dokter tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Dari perkembangannya, sepertinya tidak akan lama lagi. Nyonya Mona, Anda harus tetap tenang dan mengatur napas. Jika terus panik, akan lebih sulit nantinya.” Mona mengangguk lemah, meskipun rasa sakit yang terus meningkat hampir membuatnya tidak bisa berpikir. Namun, saat
Huling Na-update: 2025-03-16
Chapter: Bab 102Dokter memasang sarung tangannya dan mulai memeriksa kondisi Mona dengan teliti. Ansel berdiri di sisi ranjang, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang menahan napas. Beberapa saat kemudian, dokter mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. "Seperti yang kami duga, Nyonya sudah memasuki pembukaan satu." Mona menghembuskan napas lega, meskipun di dalam hatinya tetap ada sedikit kegelisahan. Namun, berbeda dengan Ansel. Wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. "Pembukaan satu," ulangnya dengan suara datar, tetapi ada ketegangan yang terasa di baliknya. "Berarti Mona akan semakin kesakitan setelah ini?" Dokter mengangguk. "Kontraksi akan semakin sering dan intens. Tapi ini masih tahap awal, jadi butuh waktu sebelum benar-benar siap untuk melahirkan." Ansel tidak menjawab. Rahangnya semakin mengeras, dan tatapan matanya seakan menyelidik, mencari kepastian. "Aku masih baik-baik saja, Ansel," ujar Mona dengan suara lembut, berusaha menenangkan suaminya. A
Huling Na-update: 2025-03-15
Chapter: Bab 101Setelah memastikan Mona baik-baik saja, Ansel tetap berada di rumah sakit hingga larut malam. Mona akhirnya tertidur karena kelelahan, sementara Ansel duduk di sofa di dalam kamar VIP, menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin. Richard berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah. "Bagaimana situasinya?" tanya Ansel pelan, suaranya terdengar lebih berat di tengah keheningan malam. Richard sedikit menunduk. "XG Group benar-benar runtuh. Sahamnya anjlok hingga level terendah, dewan direksi kacau, dan pemegang saham utama mulai menjual aset mereka. Sepertinya mereka tidak akan bisa bangkit lagi." Ansel tidak bereaksi langsung. Dia hanya memutar cangkir kopinya yang sudah dingin di tangan. Ansel tersenyum kecil, tapi sorot matanya tetap tajam. "Bagus," gumamnya. Suasana ruangan terasa semakin dingin. Richard menatap Ansel dengan sedikit ragu, lalu memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Jenderal?" Ansel meletakkan cangkirnya ke meja d
Huling Na-update: 2025-03-14