Madu Suamiku
Kejujuran adalah pondasi dalam membangun sebuah rumah tangga. kalau rumah tangga sudah mulai ada ketidak jujuran, bagaimana rumah tangga itu akan berdiri tegak!
hari itu, Zahra tengah bersantai sembari menunggu suaminya mandi. tiba-tiba rasa keingin tahunnya tinggi, tentang isi ponsel sang suami. entah dorongan dari mana, Zahra mulai menyentuh Hp sang suami, lalu jari jarinya bergulir membuka isi ponsel itu. tiba-tiba, matanya terbelalak menyaksikan sebuah Foto suaminya bersama wanita lain, tanpa busana, di sebuah hotel. hal itu membuat hatinya terbakar. Zahra mulai menanyakannya kepada Dimas. dan ternyata benar, perempuan itu, adalah Istri kedua suaminya.
bagai di sambar petir, Zahra mengetahui hal itu. lalu... bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk simak lengkapnya dalam kisah di bawah ini!!!
Read
Chapter: Madu Suamiku (The End)Gelap. Hal terakhir yang kuingat saat kesadaranku direnggut adalah kegelapan yang teramat dingin, sunyi, dan bunyi denging panjang yang memekakkan telinga. Namun, di balik kegelapan itu, jiwaku seolah dipaksa mendengar jeritan-jeritan pilu dari dunia atas yang kutinggalkan.Aku mendengar raungan Mas Zean yang terus memanggil namaku, hancur bagai laki-laki yang kehilangan seluruh arah hidupnya. Aku mendengar isak tangis Resti yang histeris. Dan sayup-sayup, aku merasakan getaran hebat dari pijatan di dadaku, disusul suara Zulfa yang bergetar parau memohon agar aku kembali demi anak-anak, demi dia yang kini telah mengikat janji suci sebagai maduku.“Kembali, Ra... Tolong kembali. Jangan biarkan pernikahan ini menjadi penyesalan seumur hidup kami...”Mungkin, Tuhan belum mengizinkanku pulang hari itu. Embusan napas yang sempat terhenti itu ditarik kembali oleh takdir. Aku terbangun beberapa hari kemudian di ruang rawat yang sunyi, menatap dua wajah yang begitu kuyu dan bersimbah air
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Akad Dadakan"Sorry Zean. Tapi ini permintaan Zahra. Aku udah berusaha nolak, tapi Istrimu sendiri yang kekeuh. Kalau kamu mau menolak, protes. Lanhsung sampaikan saja kepada Zahra. Aku sudah menyerah," ucap Resti Pasrah. "Zahra... kamu dengar Mas, kan? Mas nggak mau! Demi Allah, Mas cuma mau kamu, Ra!"Zulfa pun sama terkejutnya. Wajah dokter itu mendadak pias sempurna. Tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tiang infus di dekatnya. "Mbak Resti... Mas Dani... ini salah. Aku nggak bisa. Aku ini sahabatnya Zahra! Aku tidak pernah punya niat untuk merebut posisinya, demi Allah!"Zulfa menatap Zahra dengan tatapan terluka dan menggeleng cepat. "Zahra, please... jangan hukum aku seperti ini. Aku murni ingin menyembuhkanmu, bukan menggantikanmu!"Di atas brankar, di tengah badai penolakan dan kepanikan dari dua orang yang paling dicintainya, Zahra perlahan menggerakkan tangannya. Alat pulse oximeter di jarinya berbunyi semakin cepat seiring dengan detak jantungnya yang tidak stabil
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Permintaan TerakhirSuara Zulfa memecah keheningan koridor. Mendengar ucapan itu, Resti, Dani, dan semua yang ada di sana spontan menoleh ke arah Zulfa. Suasana sempat bergeming sejenak, diselimuti kecanggungan dan ketegangan yang aneh di tengah situasi kritis ini.Zulfa yang menyadari tatapan penuh selidik. terutama dari Resti. tidak mundur. Ia justru melangkah maju dengan tegas. "Ayo... kenapa pada bengong? Kita tidak punya banyak waktu bukan?!" ucap Zulfa, suaranya naik satu oktav demi menyadarkan mereka semua. Semua orang langsung tersentak. Dokter piket yang menyadari urgensi situasi segera mengangguk. "Baik, Dokter Zulfa, mari ikut saya ke ruang tindakan laboratorium untuk skrining kilat dan proses donor." Tanpa membuang waktu, Zulfa langsung melangkah cepat mengekor di belakang dokter, membiarkan jubah putih dokternya berkibar di koridor rumah sakit.Peninggalan Zulfa menyisakan keheningan baru di depan ruang ICU.Zean kembali terduduk dengan kedua tangan menopang kepala. Pikirannya carut-mar
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Kabar BurukPria itu tertegun menatap Zulfa yang baru saja keluar dari koridor poli kandungan dengan jas putih dokternya. "Zahra... belum sampai sini, Dok?""Belum, Mas," Zulfa mengernyitkan dahi, ikut bingung. "Malahan ini aku sudah nunggu dari satu jam lalu loh. Aku pikir dia nungguin kamu di luar. Soalnya pagi tadi pas aku telepon, dia bilang mau datang bareng kamu.""Nggak ada, Dok. Saya baru selesai meeting dengan klien, pulang sebentar ganti baju langsung kesini," sahut Zean, napasnya mulai tidak beraturan. Jantungnya berdegup makin kencang. "Aku pikir Zahra sudah nunggu di sini. Karena tadi pagi dia bersikeras minta janjiannya langsung ketemu di klinik."Raut wajah Zulfa langsung berubah serius melihat kecemasan Zean. "Coba Mas Zean hubungi nomor siapa gitu. Soalnya dari tadi saya sudah telepon nomor Zahra berkali-kali tapi tidak aktif. Atau barangkali Zahra punya nomor telepon darurat lain yang bisa dihubungi?""Ck..." Zean berdecak frustrasi.Ia segera mengeluarkan ponselnya dari sa
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Insting gawat daruratSepeninggalan Zahra, suasana rumah terasa sedikit berbeda. Meski anak-anak sudah besar, Zean tetap harus memastikan pagi ini berjalan lancar. Rayyan yang sudah kelas 1 SMP tampak tenang menghabiskan sarapannya, sementara Zahwa yang kelas 3 SD sibuk merapikan tas sekolahnya di ruang tengah."Kak, hari ini pulang sekolah jam berapa? Biar Papa tahu jam jemputnya," tanya Zean sembari merapikan dasinya di depan cermin ruang tamu."Jam satu siang, Pa. Hari ini ada ekskul sebentar," jawab Rayyan mandiri."Oke. Papa antar kalian sekarang. Kakak sama Adik ayo masuk mobil."Setelah mengantar kedua buah hatinya ke sekolah masing-masing, Zean langsung memacu mobilnya menuju sebuah restoran di dekat area perkantoran. Hari ini dia ada janji temu penting dengan seorang klien korporasi besar terkait kasus sengketa tanah yang cukup pelik. Sebagai pengacara ternama, Zean harus tampil prima dan fokus, meskipun sebagian pikirannya masih tertinggal pada kondisi kesehatan istrinya.Pertemuan hukum itu
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Pagi yang... Indah ?Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Zahra membuka kelopak matanya. Kamar masih temaram, namun jiwanya terasa begitu terjaga. Menatap wajah Zean yang masih terlelap pulas di sampingnya, Zahra tersenyum tipis. sebuah senyum yang menyimpan misteri mendalam. Perlahan, ia menyibak selimut, melangkah turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pagi itu, Zahra mendadak menjelma menjadi sosok yang luar biasa ceria. Tubuhnya yang kemarin pias dan lemas, kini bergerak lincah ke sana kemari. Ia merapikan ruang tamu yang sempat agak berantakan, menyapu lantai, hingga beralih ke dapur. Aroma harum nasi goreng mentega dan ayam suwir langsung memenuhi penjuru rumah, bersanding manis dengan kotak-kotak bekal anak yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Tidak sampai di situ, seragam sekolah Rayyan dan Zahwa, serta kemeja kerja Zean pun sudah ia setrika halus dan disiapkan di hanger kamar masing-masing.Bahkan, dirinya sendiri pun sudah mandi, berdandan tipis, dan mengenakan pa
Last Updated: 2026-07-10

Menikahi Gadis Malam
"Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan pria itu!" ucap Alin saat melihat gerombolan pria sangar berpakaian serba hitam dengan gerakan tegas itu.
Alin kini berada di kamar lantai dua, bangunan megah itu. Melihat banyak gerombolan pria itu membuatnya bergidik ngeri, sambil menggigit bibir bawahnya. Ia masih berdiri tegang di samping tirai jendela kaca itu.
"Tapi, perjanjian itu sudah terjadi, dan akad akan berlangsung lima belas menit lagi, oh Tuhan!!!"
Alin akhirnya kembali ke ranjang king size yang sudah didesain seperti ranjang pengantin dengan sepasang handuk yang di bentuk sepasang angsa di tepian-nya itu. Suara derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke kamar itu membuat suasana semakin tegang, matanya pun tampak awas memandangi pintu bercat putih itu.
'Krieek'
"Permisi Nona! Kami MUA yang di bayar oleh tuan Rizan untuk merias Nona!"
Kini, Alin agak bernafas lega. lalu ia tersenyum getir memandangi tiga orang wanita yang membawa koper make up itu.
Bagaimana kelanjutan kisah Alin dan Rizan? Yuk, baca ceritanya sampai tuntas 😊
Read
Chapter: Keributan dirumah lamaMatahari siang menyengat tanpa ampun, memantulkan hawa panas di atas aspal jalanan menuju desa tempat Alin dibesarkan. Sebuah mobil hitam mewah yang dikendarai oleh Anton melaju tenang, membelah jalanan kampung yang berbatu. Di kursi belakang, Alin duduk dengan jemari yang bertautan erat. Di sampingnya, Sari sesekali melirik dengan tatapan cemas.Mobil akhirnya berhenti di sebuah pekarangan luas yang gersang. Rumah kayu reyot dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini berdiri di hadapan mereka. Rumah yang dulu menjadi saksi bisu bagaimana Alin dipaksa melepas seluruh impiannya.Alin menarik napas dalam-dalam. "Pak Anton, Mbak Sari, tunggu di mobil saja ya. Saya tidak akan lama.""Tapi, Nyonya, Tuan Rizan berpesan agar—""Saya cuma menemui orang tua saya, Pak Anton. Di sini aman," potong Alin lembut namun tak terbantahkan. Ia membuka pintu mobil, melangkah turun ke atas tanah berdebu yang terasa begitu akrab sekaligus asing.Baru saja Alin berjalan beberapa langkah menuju pintu
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: Panggilan telphone dari AyahSari yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Alin langsung menghentikan suapannya. Ketakutan yang terpancar dari mata bening Alin terlalu nyata untuk diabaikan.Ponsel itu masih bergetar, bergerak beberapa milimeter di atas meja, seolah mendesak untuk segera diangkat. Harapan kecil sempat membubung di dada Alin. Apakah Ibunya menelepon untuk menanyakan kabarnya? Apakah Ibunya merindukannya setelah perpisahan menyakitkan di gedung pernikahan kemarin?Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alin menggeser layar ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ha—halo, Bu?""Alin! Akhirnya kamu angkat juga!"Bukan. Itu bukan suara lembut Bu Hanum yang penuh kekhawatiran. Suara di seberang sana adalah suara berat, serak, dan penuh tuntutan milik Pak Rustam. Jantung Alin mencelos jatuh. Kebahagiaan semunya menguap seketika."Ayah...?" ucap Alin, meremas daster lembutnya di bawah meja. "Ada apa? Ini ponsel Ibu, kenapa Ayah yang—""Halah, tidak usah cerewet! Ibu kamu sedang
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Kartu Hitam untuk AlinBeberapa menit berlalu. Hening kembali turun. Alin masih menatap piringnya yang sudah mendingin, tanpa selera. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak tadi.Langkah kaki terdengar lagi.Alin mendongak pelan. Rizan kembali muncul di ambang pintu. Ia berjalan mendekat, namun tidak mengambil tempat duduknya. Ia hanya berhenti di sisi meja, berdiri tegap sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya.Hitam. Polos. Berkilau.Tanpa kata-kata pembuka, kartu itu diletakkan tepat di depan Alin.“Untukmu,” ucap Rizan dingin.Alin menatap kartu itu, lalu menatap Rizan. “I-Ini… apa?”“Kamu bisa pakai itu untuk keperluanmu,” jawabnya singkat. “Apa pun yang kamu mau.”Alin terkesiap kecil. Tangannya ragu saat menyentuh kartu itu. Sebuah kartu berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Rizan melanjutkan tanpa jeda, nada suaranya tetap tenang. Tapi tak memberi ruang untuk membantah.“Kalau kamu bosan di rumah, kamu boleh keluar.”Alin mengangkat wajahnya cepat. Ada kilatan harapan
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: Penjara Sunyi"Astaga ! Apa aku kesiangan ?!" Pagi datang tanpa suara. Tak ada alarm. Tak ada ketukan pintu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai tebal, jatuh perlahan di wajah Alin. Matanya terbuka, tapi tubuhnya masih kaku. Beberapa detik ia tak bergerak, seolah takut kenyataan akan menyergap begitu ia benar-benar sadar. Lalu ingatannya kembali utuh. Akad. Tangis. Ibu yang pergi. Dan kamar ini. Alin bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Dan... "Hah ??? Tunggu !!!" Gaun pengantinnya sudah diganti. Kini ia mengenakan daster lembut berwarna pucat. "Bukannya semalam aku... Siapa yang mengganti pakaianku ? Jangan-jangan... nggak. Nggak. Nggak mungkin lah !" Ia segera membuang pikirannya jauh-jauh. Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi. Ia menoleh ke arah sofa. Kosong. Tak ada Rizan. Entah mengapa, perasaan yang muncul bukan lega, melainkan… asing. Seperti bangun di rumah orang lain, tanpa tahu batas mana yang boleh ia lewati. Alin berdiri, melangkah
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: Pernikahan Sang Pewaris"Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: akad yang tertunda"Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi
Last Updated: 2025-12-11