Chapter: Bab 154 Berdama Dengan Masa Lalu (END)Belinda berdiri di depan pintu kamar rumah sakit dengan tangan gemetar, napasnya terengah saat menekan bel. Matanya sembab, menahan air mata yang ingin tumpah. Begitu pintu terbuka, dia melihat sosok Iren yang duduk lemah di kursi roda, wajahnya pucat dan matanya memancarkan amarah sekaligus duka.Iren sudah dibawa pulang Galen ke apartemen. Meski tidak suka, tapi Galen memaksa. Iren sedang hamil anaknya, akan sangat tidak bertanggung jawab Galen jika membiarkan Iren di kota lain.Belinda mengumpulkan keberanian, suaranya bergetar, “Kak Iren,” Panggil Belinda.Galen menghela napasnya, dia sudah melarang Belinda datang. Namun adiknya ini memaksa, kini Belinda berdiri di ambang pintu ditemani Gala, kembarannya."Maafin aku, Kak. Sungguh aku nggak sengaja... karena ulah aku, Kakak kehilangan ayah Kakak."Iren menatap tajam, dadanya naik turun seiring napas beratnya. "Nggak sengaja? Kamu yang nyetir, Bel. Bukan Galen. Kenapa dia harus ngaku segala hal yang kamu lakukan? Aku merasa dikhiana
Terakhir Diperbarui: 2025-06-28
Chapter: Bab 153 Bertemu Istri KembaliGalen berdiri terpaku di depan ranjang rumah sakit, matanya membelalak melihat Iren yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan mata sembab. Istrinya sudah dapat ia temukan, betapa senang hati Galen melihat Iren.Dengan jantung berdetak kencang Galen masuk semakin dalam, Iren sedang memejamkan matanya. Vera yang melihat pria asing yang ia Yakini itu suami Iren lalu mempersilakan masuk.“Aku tunggu diluar,” kata Vera pelan. Galen mengangguk, seraya mengucapkan terima kasihnya.Diluar sendiri Vera bertemu dengan Naka dan Lika, orang tua Galen.Di dalam, Galen mendekat ke ranjang sang istri. "Sayang," suaranya bergetar, penuh campur aduk antara cemas dan penyesalan.Iren yang sudah bangun merasa mendengar suara suaminya. Dia pun menoleh, matanya yang basah menatap tajam, terkejut sekaligus bingung saat melihat suaminya di sana."Ngapain kamu kesini?" suara Iren lirih, namun penuh penolakan yang keras. Tubuhnya mencoba menarik diri, tapi Galen melangkah lebih dekat, menundukkan kepala seo
Terakhir Diperbarui: 2025-06-19
Chapter: Bab 152 Akhirnya Ada Kabar Darimu..Iren duduk di sudut kamar yang remang, tubuhnya menggigil meski udara tak terlalu dingin. Perutnya mulai terasa bergejolak, namun wajahnya pucat pasi, dahi berkerut karena mual yang tak kunjung reda.Setiap kali berdiri, kepala berputar begitu hebat hingga ia harus cepat-cepat duduk lagi. Nafasnya tersengal-sengal, dan tangan yang gemetar tak mampu meraih segelas air di meja. Vera menatapnya dengan penuh kekhawatiran.“Ke dokter ya, Iren. Jangan dibiarkan terus-terusan seperti ini,” ucap Vera lembut, namun tegas.Iren menggeleng pelan, mata berkaca-kaca. “Nggak usah, Ver.”“Kamu kan lagi hamil,” ujar Vera khawatir.“Iya katanya orang hamil memang begini. Mual dan pusing.”“Tapi mereka konsul ke dokter kandungan. Kamu kan nggak Ren.” Vera makin khawatir karena wajah Iren yang pucat.“Ren, aku khawatir banget nih,” kata Vera yang tidak bisa menutupi kekhawatirannya. “Kita telepon suami kamu ya, Ren-““Ver, please,” desis Iren memohon untuk jangan membahasnya lagi.Vera berdecak, dia jug
Terakhir Diperbarui: 2025-06-08
Chapter: Bab 151 Masih Berusaha MencariIren mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut, perutnya mulai terasa tidak enak. Belum lagi mual dan ia coba tahan karena sedang bekerja. Sumpah demi apapun yang Iren ingin lakukan adalah merebahkan diri, bersantai saja dirumah.Kehamilannya membuat langkah Iren semakin berat di antara meja-meja yang penuh pelanggan. Aroma bumbu dan asap gorengan menusuk hidungnya, membuat rasa mual semakin menghantui. Vera yang melihat wajah Iren yang pucat langsung merangkul bahunya, "Istirahat sana, aku yang gantikan kamu dulu." Suara Vera penuh perhatian, tapi Iren hanya bisa mengangguk lemah sambil melangkah ke sudut restoran. Karena tidak tahan ia menurut saja, lagipula Iren takut mengacaukan pekerjaan yang lain.Namun, di sana Iren tak menemukan ketenangan. Ayu, rekan kerja yang lebih senior berdiri tak jauh, melontarkan suara pedas tanpa ampun, "Enak banget, anak baru kerja kok istirahat terus! Makan gaji buta, ya?" Tatapannya tajam, seolah ingin menekan Iren lebih dalam.Iren menunduk, mencob
Terakhir Diperbarui: 2025-06-08
Chapter: Bab 150 Kamu Di mana Sayang?Galen berjalan gontai menuju apartemennya, dia membawa banyak cemilan, termasuk cokelat, es krim, bahkan sampai bunga. Galen berharap Iren bisa memaafkannya. Mungkin tak akan mudah, tetapi setidaknya ini bisa mengurangi kemarahan Iren padanya.Saat pintu apartemen dibuka, semua tampak normal saja. Apartemennya memang selalu rapi, walaupun sibuk dengan urusan kampus, tetapi Iren cukup pandai membersihkan rumah. "Baby!" panggil Galen."Iren Sayang!" panggil Galen lagi saat tak mendapatkan jawaban dari istrinya.Perasaan Galen mulai merasa aneh, saat apartemennya ternyata hening tanpa aktivitas Iren seperti biasanya. Setidaknya selalu terdengar musik atau suara film yang diputar Iren, tetapi kali ini apartemen itu benar-benar sepi.Galen langsung berlari ke kamar dan benar saja Iren tidak ada di sana. Galen mencari Iren ke balkon, ke taman belakang, dan ke semua penjuru apartemen, tetapi sialnya dia tak menemukan istrinya di sana."Astaga, Iren kamu di mana?" tanya Galen dengan panik.Ga
Terakhir Diperbarui: 2025-06-04
Chapter: Bab 149 Mengakui SemuanyaRasanya begitu sesak saat mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat, Lika melirik Naka, menunjukkan bagaimana kekecewaannya pada kedua anak mereka yang ternyata selama ini membohonginya.Lika mengusap wajahnya, dia berjalan mondar-mandir dengan pikiran yang kacau. "Maksud kamu apa Galen, Belinda, kalian sengaja membohongi Mami sama Papi?" ujar Lika."Bukan gitu Mami, a-aku hanya ingin melindungi Belinda. Aku tahu dia salah, tapi—""Tapi apa? Kamu pikir dengan menjadikan kamu sebagai pelaku semua masalah menjadi selesai? Kamu bahkan harus menikahi Iren yang bahkan seharusnya bukan tanggungjawab kamu!" tegas Lika yang mulai marah dengan kenyataan ini.Galen tengah bicara dengan Belinda dan tidak sengaja Lika mendengar itu. Naka juga kebetulan berjalan di belakang istrinya, membuatnya juga tahu kebenaran yang sebenarnya.Mau tak mau Galen pun membuka semuanya, bukan untuk meminta pembelaan tapi dukungan dari keluarganya.Naka hanya menutup mata saat Lika marah besar pada a
Terakhir Diperbarui: 2025-06-04
Chapter: 68. Mulai Terungkap DalangnyaDi ruang rapat utama, Perusahaan Kharis.Emir sudah duduk dengan Raana di sampingnya. Juga Roni dan tim legal di seberang.Pintu terbuka, Vina masuk. Nampak terkejut karena semua lengkap, habislah dia ini.Langkahnya pelan, tapi matanya langsung bertemu dengan Emir.Satu detik.Dua detik.Emir tidak menatap dengan marah, tidak juga dengan hangat. Hanya tenang bahkan terlalu tenang.Dan itu justru membuat Vina semakin takut.“Silakan duduk, Bu Vina,” kata Roni.Vina duduk.Sunyi.Lalu Emir membuka suara pertama. “Vina…”Suara itu membuatnya sedikit menegang.“Saya tidak di sini untuk menghukum kamu.”Vina menatapnya cepat. “Ma-maksud kamu?”Emir melanjutkan pelan. “Saya hanya ingin tahu satu hal. Apa yang sebenarnya terjadi di Singapura?”Ruangan itu hening.Dan untuk pertama kalinya…Vina tidak langsung menjawab. Tangannya gemetar di bawah meja.Karena ia sadar…Kalau ia bicara sekarang…Semua orang yang selama ini bersembunyi di baliknya akan ikut jatuh.Dan jika ia diam…Emir akan m
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: 67. Dilanda KekalutanPintu Ruang Rapat C terbuka perlahan. Vina langsung berhenti di ambang pintu, perasaannya sungguh tidak enak.Di dalam ruangan itu, Roni duduk bersama dua orang dari tim Legal dan HRD. Suasana tidak lagi seperti “evaluasi biasa”.Ini terlalu sunyi.Terlalu resmi.Terlalu dingin.“Silakan duduk, Bu Vina,” ujar kepala HRD perusahaan Khalis.Vina melangkah masuk perlahan. Tangannya dingin, tapi wajahnya dipaksa tetap tenang.“Ada apa ya, Pak?” tanyanya pelan.Kepala HRD membuka map di depannya.“Kami sedang melakukan klarifikasi terkait perjalanan dinas ke Singapura.”Vina mengangguk kecil, “Saya sudah jelaskan semua yang saya tahu kemarin.” Vina memang sempat ditanya, namun tidak detail.“Ini hanya evaluasi, kan?” tanyanya kembali.Tidak ada yang langsung menjawab.Kepala HRD menatapnya cukup lama sebelum berkata, “Bu Vina… kami ingin menanyakan sesuatu yang lebih spesifik.”Vina menelan ludah. “Silakan.”Roni menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Kenapa nama anda baru masuk dalam daftar pes
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: 66. Semuanya Mengarah pada Vina, Roni Mulai Menemukan JejakDi sisi lain...Vina duduk sendirian di kamar hotel, koper miliknya sudah terbuka. Tangannya gemetar saat melipat pakaian. Ponselnya kembali berdering.Nomor yang sama.Kali ini ia tidak langsung mengangkat. Namun dering itu terus berbunyi, dengan napas memburu, akhirnya ia menekan tombol hijau."Halo..."Suara di seberang terdengar dingin."Pulanglah ke Indonesia.""Apa?""Perjalananmu di Singapura selesai.""Tapi kantor belum...""Ikuti saja instruksinya."Vina menggigit bibir. "Apa... apa mereka mulai curiga?"Tak ada jawaban selama beberapa detik.Kemudian suara itu berkata pelan."Ingat.""Kalau ada yang bertanya...""Katakan kamu tidak tahu apa-apa."Sambungan telepon kembali terputus.Vina memejamkan mata. Untuk pertama kalinya...Ia merasa benar-benar sendirian.Sore harinya.Dokter kembali memasuki ruang perawatan."Selamat sore.""Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok?" tanya Raana.Dokter membuka berkas di tangannya. "Kondisi Pak Emir sudah jauh lebih baik."Raana mengembuska
Terakhir Diperbarui: 2026-07-22
Chapter: 65. Muncul Satu Nama.. Vina?Di rumah sakit, dokter spesialis penyakit dalam mulai memeriksa Emir. Beberapa sampel darah diambil.Setelah pemeriksaan selesai, dokter menatap Raana dan Emir bergantian. "Untuk sementara kondisi pasien sudah stabil."Raana mengembuskan napas lega. “Ah syukurlah.”"Namun kami tetap akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan."Emir yang sudah sadar sepenuhnya mengangguk pelan. “Ya, saya mengerti."Dokter menutup map pemeriksaan. "Karena gejala yang muncul cukup mendadak, kami ingin memastikan tidak ada faktor lain yang memengaruhi kondisi Bapak."Raana bertanya pelan, "Berapa lama hasilnya keluar, Dok?""Sebagian hasil laboratorium bisa kami terima malam ini. Sisanya mungkin besok pagi.""Baik."Setelah dokter keluar, ruangan kembali sunyi.Raana duduk di tepi ranjang, lebih baik suaminya diperiksa seluruhnya. Jangan sampai meninggalkan penyakit, sungguh Raana takut sekali.Ia mengusap rambut Emir yang sedikit berantakan."Mas.""Hm?""Kamu istirahat saja."Emir mengangguk pelan.Na
Terakhir Diperbarui: 2026-07-22
Chapter: 64. Selamat Dari Jebakan MautTak lama kemudian, Emir dibawa ke ruang medis hotel untuk mendapat penanganan awal sebelum dirujuk ke rumah sakit.Raana tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Sedangkan Alesha yang berada dalam gendongan Mama Sofia terus memanggil ayahnya dengan suara kecil."Pap pappp..."Emir menoleh, meski tubuhnya masih lemah, ia tetap tersenyum, "Papa di sini, sayang."Bayi itu mengulurkan kedua tangannya, Raana membantu mendekatkan Alesha. Jemari mungil itu langsung memegang jari telunjuk Emir, seolah menguatkan ayahnya. Melihat pemandangan itu, beberapa petugas rumah sakit ikut tersenyum haru.Dokter memeriksa lebih lanjut, Raana dan yang lainnya keluar ruangan. Tadi Emir sempat mendapat penanganan pertama, terlihat sedikit membaik dari sebelumnya.Di luar ruang medis... Vina berdiri seorang diri. Kedua telapak tangannya terasa dingin, ia terus menatap pintu yang tertutup rapat. Semua berjalan di luar perkiraannya, ia mengira Emir akan sendirian dan tidak akan ada siapa pun yang datang s
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: 63. Wanita Lain Di Atas Ranjang SuamikuDing...Pintu lift terbuka perlahan.Raana melangkah keluar lebih dulu sambil tersenyum."Alesha, nanti kita bilang apa kalau ketemu Papa?"Bayi kecil itu bertepuk tangan."Papp papp papp..!"Mama Sofia tertawa pelan. "Nah, itu baru semangat cucu oma."Raana menoleh dengan gaya candanya, “Nggak jadi nenek nih?”“Nggak ah, Oma saja. Kan Mama masih muda,” ujar Sofia, menolak tua.Koridor hotel tampak lengang saat Raana akan mengeluarkan ponsel, berniat menghubungi Emir, tetapi mengurungkan niatnya."Biar benar-benar jadi kejutan."Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara seseorang terdengar dari ujung koridor.Sementara itu..“Sial, kenapa aku.”Saat itulah Vina mendekat, “Pak Emir, saya bantu.”Emir menolak, tapi kepalanya sakit sekali berdenyut tajam saat kakinya melangkah menuju pintu kamar hotelnya. Setiap gerakan terasa seperti ribuan jarum menembus otaknya.Vina segera mendekat, berusaha menolong, namun tangan Emir dengan tegas menolak sentuhannya. Tubuhnya mendadak memb
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: 9. Bersedia DibookingMikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: 8, Executive PackageKeheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Terakhir Diperbarui: 2026-06-20
Chapter: 7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar DaddyBottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb
Terakhir Diperbarui: 2026-06-20
Chapter: 6. Gadis Bayaran Om KamaKama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe
Terakhir Diperbarui: 2026-06-02
Chapter: 5. Temani Saya Selama di Bali!Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah te
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12
Chapter: 4. Menyentil Harga Diri MikhaMikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat K
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12