Chapter: Bab 24. Bunuh Aku.Xiwu berdiri mematung di teras kamarnya, membiarkan angin sore yang dingin menyapu wajahnya yang pucat.Cangkir teh di tangannya sudah mendingin. Matanya sesekali melirik ke arah paviliun Shen Mo, lalu dengan cepat beralih kembali ke hamparan taman, seolah ada magnet tak kasat mata yang terus menariknya ke sana, meski hatinya menolak dengan keras.Ia meletakkan cangkir itu dengan bunyi yang tajam, lalu berjalan menuju gazebo di sisi kolam. Langkahnya pelan, tetapi penuh tekad.Di tepi kolam, ia menunduk, menatap ikan-ikan koi yang berenang tenang. Pemandangan itu seharusnya menenangkan, tetapi di kepalanya, suara Permaisuri Suyin terus bergema.“Ibu tidak tahu kabar mana yang kau dengar, Wu’er... Sangat tidak masuk akal mereka semua meninggal karena ketakutan melihat Shen Mo.”Penjelasan itu tidak bisa ia terima. Tidak masuk akal bagi seorang putri bangsawan atau selir pilihan untuk mati hanya karena ‘takut’ melihat wajah suaminya.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-16
Chapter: Bab 23. Tatapan yang Sama.Yu Hao masuk ke dalam kamar Shen Mo, langkahnya terhenti saat melihat sosok jangkung di depannya. Ia segera membungkuk dalam.“Yang Mulia.”Shen Mo tidak langsung menyahut. Punggungnya yang tegap tampak sedikit miring, tumpuan kakinya tidak lagi seakurat biasanya.Bau alkohol samar tercium dari jubah sutranya, tetapi bukan mabuk itu yang membuat Yu Hao waspada, melainkan sorot mata Shen Mo yang gelap dan kacau.“Bagaimana Xiwu?” suara Shen Mo terdengar berat dan serak.Yu Hao terdiam. Cukup lama hingga keheningan itu terasa semakin mencekam. “Putri Mahkota... masih menangis, Yang Mulia.”Shen Mo perlahan menoleh ke arah jendela besar. Langit sudah hitam pekat di sana. Rembulan tertutup awan tebal.Sudah berjam-jam sejak kejadian di kamar itu. Xiwu belum juga berhenti menangis.Tanpa kata, Shen Mo berbalik. Niatnya terbaca jelas melalui langkahnya yang meski goyah, tetap memaksa maju menuju kamar sang istri.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 22. Di Antara Hasrat dan Luka.Mata Shen Mo akhirnya bertemu Meilin, tajam, dingin, seolah sedang menghunuskan pedang tidak kasat mata. Pada detik berikutnya, tatapannya kembali berpindah pada Xiwu. Ada kobaran yang berbeda di sana. Bukan kebencian, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan menuntut. Tanpa peringatan, Shen Mo menarik pinggang Xiwu dengan sentakan kuat. "Apa yang—" Bibir Shen Mo memutus kalimat Xiwu. Dalam, pasti, dan tanpa ragu. Sentuhan di bibir mereka tidak tergesa, tetapi tidak memberi ruang sedikit pun untuk dihindari. Seolah semua kata-kata, tuduhan, dan keraguan yang sempat dipertukarkan di ruangan itu kehilangan maknanya di bawah dominasi Shen Mo. Xiwu sempat menegang. Tubuhnya bereaksi secara refleks, tangannya mendorong dada bidang Shen Mo. Namun, Shen Mo jauh lebih siap. Tangan kirinya sudah lebih dulu menahan belakang kepala Xiwu, menariknya lebih dalam. Jemarinya yang h
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 21. Yang Tidak Bisa Disentuh.Langkah mereka terdengar pelan di lorong panjang menuju paviliun Ibu Suri. Tidak ada percakapan yang berarti.Hanya suara kain sutra yang bergesekan dan irama langkah kaki yang teratur di atas lantai batu yang dingin.Shen Mo berjalan sedikit di depan dengan punggung tegak. Xiwu mengikuti di sampingnya, menjaga jarak yang cukup jauh untuk disebut bersisian, tetapi cukup dekat untuk dilihat tidak dalam satu jalur yang sama.Shen Mo melirik ke samping tanpa menoleh sepenuhnya. “Lebih dekat,” perintahnya pelan.Xiwu bergeser sedikit. Sangat sedikit, hingga pergeseran itu nyaris tidak terlihat.Shen Mo menghentikan langkahnya, membuat Xiwu ikut berhenti dan menoleh sekilas. Tatapan mereka bertemu di tengah lorong yang sepi.Tanpa peringatan, Shen Mo menarik lengan Xiwu. Tangannya yang lain langsung melingkar di pinggang ramping istrinya, menariknya paksa ke sisinya tanpa memberi ruang untuk penolakan.Jarak di antara mereka
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 20. Bukan Tempat Asing.“Kalau begitu,” ucap Qingrong dengan suara yang bergetar, “kau tentu tidak keberatan jika Beishan melakukan penyesuaian terhadap posisi Putri Mahkota.”Meilin langsung mengangkat dagunya. Inilah momen yang ia nantikan, saat di mana harga diri wanita asing di depannya akan diruntuhkan oleh hukum tidak tertulis Beishan.Yan Qingrong melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan dari Xiwu.“Pernikahan Shen Mo terjadi dalam situasi politik yang tidak sederhana. Beishan tidak akan mengikat posisi mahkota tanpa pertimbangan jangka panjang. Termasuk kemungkinan perubahan status istri Shen Mo di masa depan.”Meilin melirik Xiwu cepat, menahan senyum kemenangan. Baginya, kata-kata Ibu Suri adalah vonis bahwa posisi Xiwu hanyalah sementara.“Yang Mulia Nenek,” Meilin menyela dengan nada yang dibuat seolah-olah prihatin, “mungkin lebih baik jika beberapa hal dijelaskan sejak awal. Agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.”Ma
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 19. Atas Nama Liyang.Pintu tertutup dengan bunyi klik yang halus di belakang Shen Mo. Suara itu kecil, tetapi cukup untuk menghapus sisa-sisa kekacauan konyol para penguping tadi. Ia berbalik, mendapati Xiwu sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapan wanita itu tidak lagi berkabut demam, melainkan jernih dan tajam. Tanpa sepatah kata pun, Xiwu mengangkat tangan ke sanggulnya. Dengan gerakan luwes, ia menarik keluar sebuah tusuk konde. Rambut Xiwu jatuh sedikit longgar, membingkai wajahnya yang masih pucat. Ia melangkah maju mendekati Shen Mo. Lelaki itu tidak bergerak, membiarkan istrinya mendekat. Xiwu meraih tangan kanan Shen Mo, membalik telapak tangannya, lalu meletakkan tusuk konde itu di sana. Tusuk konde itu ringan, tetapi bagi Shen Mo, benda itu terasa memiliki beban yang tidak kasat mata. “Simpan saja tusuk konde itu,” ucap Xiwu dingin. Tanpa menunggu jawaban, Xiwu berbalik. Langkahnya m
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 155. Kembalinya Sang Pangeran.Musim semi sudah berganti tiga kali sejak peristiwa berdarah itu. Semua orang cuma melanjutkan hidup tanpa benar-benar seutuhnya melupakan rasa sakit.Burung-burung kecil terbang rendah di atas atap paviliun, dan aroma wangi teh melati menggantung di udara. Daun-daun plum berguguran perlahan, menyentuh pelataran berlumut yang basah oleh embun kemarin. Semburat jingga menyelimuti langit sore Hangzi. Jiali meletakkan kembali surat yang sudah ia baca berulang di atas meja. Pandangannya jauh menatap ke tengah taman.Tawa malaikat kecil yang ia pikir tidak akan bisa didengar, membuatnya tersenyum.“Ceng'er! Berhentilah bermain! Kemarilah!”Sepasang mata bulat bening, penuh rasa ingin tahu menatap Jiali. Bocah lelaki itu melambaikan tangan. Pipinya tampak kemerahan. Senyum lebar tidak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.Qing Lianceng mengenakan jubah kecil berwarna hijau muda dengan motif awan yang dijahit rapi oleh tangan Xiumei sendiri. Kaki mungilnya berlari tanpa alas di pelataran
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Bab 154. Akhir Dari Sepenuh Jiwa Mencintaimu.“AAAAAAAGHH!!”Yunqin menerjang lebih dulu. Pedangnya melayang dalam ayunan panjang, liar, berbahaya tidak terarah.Yuwen menangkis. Logam beradu logam, percikan api melesat. Suara benturan keras memantul di seluruh pelataran. Yuwen mundur setengah langkah.Belum sempat menyeimbangkan diri, Yunqin sudah menyerang lagi. Kali ini lebih cepat, lebih beringas. Tebasan menyilang ke dada, tikaman rendah, lalu ayunan tinggi ke arah kepala. Semuanya dilakukan tanpa jeda.Yuwen belum punya ruang untuk menyerang balik. Ia menangkis, bertahan, mundur.“KAU AKAN MATI!” raung Yunqin, matanya merah, wajahnya nyaris kehilangan bentuk manusia karena amarah.Yuwen kembali menangkis. Sial! Satu pukulan keras membuatnya hilang keseimbangan. Tumitnya terpeleset di genangan darah yang mengering di atas batu hingga tubuhnya terhempas ke tanah.Jiali menjerit, “Yuwen!!”Yuwen menoleh dan Yunqin tidak memberikan jeda untuk keduanya berinteraksi. Ia melompat maju, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap me
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Bab 153. Mahkota Terakhir.Langkah kaki Jiali berdentam cepat menyusuri lorong batu yang sepi. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis. Ia tidak berhenti. Ia yakin sudah berlari sejauh mungkin, tetapi ….“Jiali!! Berhenti!! Jangan lari dariku!!”Suara di belakangnya semakin jelas. Sekilas ia menoleh. Cukup untuk melihat sosok lelaki itu berlari menerobos lorong sempit dengan wajah penuh amarah.“Jiali! Berhenti!!”Jiali tidak akan berhenti. Sudut lorong bercabang di hadapannya. Tanpa ragu, Jiali memilih jalur ke kiri. Arah menuju gerbang utara.“Berlarilah Jiali, Yuwen ada di sana, dia di sana,” bisiknya berulang-ulang seperti mantra yang membuatnya tetap kuat.
Terakhir Diperbarui: 2025-08-01
Chapter: Bab 152. Pengecut Menjijikkan.“Kau akan melarikan diri di tengah perang yang akan menghancurkan rakyatmu?"Langkah Yunqin dan Jiali terhenti. Keduanya menatap wanita yang bersandar di pilar lorong. Dia yang balas menatap dengan tangan menggenggam pedang yang ujungnya berlumur darah.“Qilan,” cicit Jiali."Apa tidak pernah ada yang memanggilmu dengan sebutan bajingan menjijikkan?"Mei Qilan berjalan mendekat. Tiap langkahnya seperti gaung nyaring di lorong batu yang kosong. Darah masih menetes dari ujung pedangnya, menggurat lantai dengan warna merah.“Kau membakar istanamu sendiri hanya karena seorang wanita?” tanyanya menunjuk Jiali dengan sorot mata, “wanita yang tidak ingin bersamamu kau masih ingin menyeretnya dalam pelarianmu? Kau bodoh atau bagaiman
Terakhir Diperbarui: 2025-07-31
Chapter: Bab 151. Gerbang yang Terbuka.Di sisi utara, barisan utama pasukan Hangzi telah tiba dan bergabung bersama Yuwen. Kuda-kuda tempur meringkik liar. Feilong berdiri di garis depan, Yuwen duduk tegak di atas punggungnya. Yu Yong mendekat. “Yang Mulia, gerbang selatan berhasil didobrak pasukan Pangeran Zeming. Pasukan dari Menteri Xi serta Nona Qilan bergerak mengosongkan kota. Rakyat Anming akan dievakuasi.”“Bagus. Aku tidak akan bisa menahan amarah Zeming ketika dia melihat Yunqin, tetapi tidak boleh ada rakyat yang menjadi korban.”Kaisar Tao yang berada di barisan kedua akhirnya maju setelah mendengar ucapan Yuwen. Setengah hatinya malu karena ternyata pangeran mahkota bisa menyebabkan kekacauan ini, lalu setengahnya bangga karena anaknya yang lain masih memikirkan rakyat.“Wen’er, kau begitu memikirkan rakyat, kalau begitu, izinkan aku bicara pada penjaga gerbang. Aku masih hidup, kita tidak perlu membuang darah dari para prajurit setia Anming.”Yuwen terdiam lalu menatap ke arah puncak istana yang berdiri meg
Terakhir Diperbarui: 2025-07-30
Chapter: Bab 150. Kebenaran Menyerbu.Aroma bunga sedap malam memenuhi ruangan. Di atas meja giok, beberapa kotak ukiran emas dibuka satu per satu, menampilkan perhiasan baru yang didatangkan khusus dari negeri seberang. Gelang, kalung, bahkan sisir berhias zamrud. Semua itu dipamerkan dengan harapan menyenangkan satu orang, yaitu Han Jiali.Jiali menarik napas dalam-dalam. Kemewahan yang disodorkan di hadapannya membuat dadanya sesak menahan muak.Sang kaisar tampak duduk di sebelahnya, mengamati ekspresi Jiali, berharap ada sedikit senyum di sana.“Apakah hadiah ini tidak cukup menarik hatimu?” Yunqin menyentuh gelang emas dengan ukiran naga dan phoenix. Jiali tidak menjawab, tetapi kini ia menatap Yunqin. “Apa Yang Mulia sungguh mencintai hamba?”Yunqin bangkit dari duduk kemudian menghampiri Jiali. Diraihnya tangan Jiali hingga istrinya itu terpaksa berdiri. “Tentu saja. Aku akan memberikan semuanya untukmu. Aku akan membuatmu bahagia.”Jiali menarik tangannya dari genggaman Yunqin. “Bahagia? Yang Mulia ingin hamba
Terakhir Diperbarui: 2025-07-29