author-banner
Gibran Dangumaos
Gibran Dangumaos
Author

Novels by Gibran Dangumaos

Gairah Liar Istriku

Gairah Liar Istriku

Nara hidup dalam pernikahan yang tampak sempurna dari luar bersama Rama, suaminya. Akan tetapi, kesepian yang mendera membuatnya terjerat dalam gairah terlarang dengan seorang pria bernama Arka. Hingga sebuah pesan singkat dari Arka membuka rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Sebuah kisah tentang cinta yang penuh luka, pengkhianatan yang membara, dan perjuangan menemukan diri di tengah badai kehidupan.
Read
Chapter: Bab 135. Bayangan Terakhir
Udara malam di pelabuhan itu berat dan lembab, beraroma asin laut bercampur dengan sisa-sisa bau logam serta debu jelaga dari kapal yang baru saja berangkat. Lampu-lampu dermaga yang bergetar tertangkap kabut tipis, tampak seperti bintang yang kelelahan dan hampir tenggelam.Di atas dek kapal yang kini tinggal puing-puing, Reno mendekap tubuh Nara. Kehangatan tubuh perempuan itu terasa meresap di balik kain yang robek, namun napasnya yang berat dan tersendat membuat Reno panik. Kulit pucat Nara berkilat lembab oleh keringat dingin.“Bertahanlah, Nara…” bisiknya, suaranya sarat dengan kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia tak lagi merasakan pedih di luka-luka tangannya, atau darah hangat yang masih menetes dari pelipisnya. Yang ada hanya Nara—perempuan yang sudah terlalu lama dihancurkan, bukan oleh musuh, melainkan oleh obsesi kejam orang-orang yang mengklaim diri mereka berkuasa.Reno menuruni tangga darurat kapal dengan kehati-hatian yang menyakitkan, menjejakkan kaki ke derma
Last Updated: 2025-10-29
Chapter: Bab 134. Siapa
Tubuh Reno menegang, reflek seketika. Ia memutar kepala perlahan, sorot matanya yang lelah langsung mengeras.Sosok itu—hanya beberapa meter jauhnya—berdiri diam. Siluet yang terserap pekat oleh kabut panas, sesekali tertelan oleh kilatan jingga dari sisa api yang masih merayap. Sebagian wajahnya tersorot, dan itu cukup.Wajah yang dikenalnya.Terlalu dikenal.Air asin bercampur jelaga menetes dari rambut sosok itu, menodai jaket kulit yang kini compang-camping, seolah baru saja diseret keluar dari perut reruntuhan. Namun yang membuat napas Reno tersangkut adalah tatapan mata itu—sepasang iris yang kosong, tak lagi membawa gejolak kebencian maupun harapan, hanya kehampaan yang dingin, sepi, seperti laut dalam di tengah malam.“…Kau…” Reno mencoba berbicara, tapi tenggorokannya tercekat, serak karena asap. “Mustahil… kau seharusnya…”“—mati?” Sosok itu memotong, suaranya pelan, senyumnya tipis, lebih menyerupai ejekan lembut daripada sapaan. “Sayangnya, dunia tak semurah itu, Reno.”Ia
Last Updated: 2025-10-26
Chapter: Bab 133. Neraka Dalam Gudang
“Nara!” teriak Reno, suaranya bukan lagi teriakan pertempuran, melainkan jeritan putus asa seorang pelindung.Tak ada jawaban—hanya gemuruh api yang memakan kayu, desis nyala yang seolah mengejek, dan napas Reno sendiri yang terasa tajam dan menyesakkan di tenggorokan.Ia menerjang ke dalam kepulan asap, bau hangus memedihkan mata dan bensin menusuk hidungnya. Panas itu terasa menghanguskan harapan, bukan sekadar membakar kulit. Setiap langkahnya adalah pertaruhan, sepatu berdecit di lantai yang retak, yang sudah mulai menyerah pada amukan api.Di dekat tumpukan peti, ia melihat Nara. Kursi rodanya terguling, lambang ketidakberdayaan yang menyayat, tubuhnya setengah jatuh. Selimut yang menutupi adalah satu-satunya pelindung yang kini tinggal abu di sisi tubuhnya. Reno tanpa berpikir meraih tubuh itu, mengangkatnya dalam pelukan protektif, merasakan bobot ringan dan rapuh yang harus ia selamatkan.“Tahan, Nar—tahanlah sebentar,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri, mencari kekuatan
Last Updated: 2025-10-20
Chapter: Bab 132. Api
Suara ombak menghantam batu karang di kejauhan, kini terdengar lebih dekat, seperti detak jam yang memperingatkan waktu yang hampir habis. Angin laut yang dingin membawa aroma asin, bercampur anyir karat dan samar bau darah. Dita baru saja mengunci rapat pintu besi gudang tua itu, dan bunyi klik yang mematikan itu terasa seperti pukulan ke dada Reno. Di luar, hujan rintik telah berubah menjadi gerimis yang menusuk, memantulkan cahaya kuning pucat dari lampu mobil yang menyala redup, menciptakan ilusi suram.Reno terhuyung dan berlutut di tanah lumpur. Bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena beban kegagalan yang menindihnya. Napasnya tersengal, seperti paru-parunya penuh air dingin. Jari-jarinya yang gemetar memegang pistol, benda dingin yang kini terasa tidak berguna.Di belakangnya, Rayan merintih, suaranya tercekat oleh rasa sakit yang dalam. Ia bersandar di pohon pinus yang basah, darahnya menetes, menciptakan noda gelap yang dengan cepat diserap oleh tanah liat. Udara di
Last Updated: 2025-10-13
Chapter: Bab 131. Gema yang Menghina
Tok… tok… tok.Suara ketukan itu datang begitu pelan, tapi energinya cukup untuk membekukan darah di pembuluh nadi Reno. Dunia terasa terdistorsi. Angin malam seolah menahan napasnya, dan derik jangkrik menghilang total. Yang tersisa hanyalah denting halus dari kuku Dita yang menyentuh permukaan logam mobil, sebuah ritme yang dingin yang mengumumkan kedatangan kematian.Reno memejamkan mata, hanya sepersekian detik, memaksa paru-parunya untuk mengingat cara bernapas yang benar. Di sebelahnya, Rayan menatap dengan mata kosong, kulit wajahnya pucat pasi. Ia tak hanya takut; ia merasa bodoh. Mereka berdua baru saja menyadari bahwa bersembunyi di bagasi mobil hanyalah pindah dari satu kandang ke perut binatang buas yang sudah kenyang—dan binatang itu tahu persis di mana mereka berada.Langkah kaki Dita terdengar semakin dekat. Setiap injakan tumitnya yang rapi beradu dengan tanah lembap, menciptakan gema yang menghina di keheningan malam. Ia tidak terburu-buru, dan justru ketenangan yang
Last Updated: 2025-10-10
Chapter: Bab 130. Udara Malam Seketika Mambeku
Mobil melaju membelah malam, menembus jalan pesisir yang sepi dan lembap. Hujan baru saja usai, menyisakan embun tebal di kaca jendela dan aroma asin laut yang terasa menusuk. Di dalam bagasi yang gelap, Reno dan Rayan nyaris tak berani bernapas, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Suara mesin mobil, derit roda yang melewati genangan air, dan detak jantung mereka sendiri berpadu menjadi satu kesunyian yang mencekam.Reno berusaha keras menatap melalui celah sempit di penutup bagasi. Ia hanya bisa melihat pantulan samar cahaya lampu jalan yang sesekali menyinari kursi belakang—siluet tempat Dita dan Nara duduk. Setiap detik terasa seperti jam. Pikirannya berlari kencang, menyadari bahwa salah perhitungan sekecil apa pun bisa menjadi akhir hidupnya.Dari earset kecil yang terpasang di telinganya, suara Phantom terdengar lirih, hampir seperti bisikan dari dimensi lain.“Kau masih hidup, Reno?”Reno menjawab dengan suara tercekat, “Masih. Kami di bagasi. Mobil ber
Last Updated: 2025-10-09
Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri

Apa jadinya kalau adik tiri yang seharusnya jadi keluarga… justru berubah jadi godaan terbesar? Arion, mahasiswa semester akhir yang hidupnya selalu rapi dan teratur, mendadak kehilangan kedamaian ketika ayahnya menyuruhnya menerima adik tirinya tinggal bersama di apartemennya. Shana—adik tiri yang baru setahun di bawahnya. Ia adalah kebalikan dari dirinya- berisik, spontan, dan seenaknya. Awalnya Arion hanya berusaha menjaga jarak. Namun ada satu kebiasaan aneh Shana yang membuat segalanya rumit—ia sering berjalan dalam tidur dan tanpa sadar masuk ke kamar Arion hampir setiap malam. "Kamu sadar nggak, Shana... kalau setiap kali kamu masuk ke kamarku, aku harus berjuang mati-matian buat nggak menarikmu lebih dekat?" WARNING 21+
Read
Chapter: 131. Gairah Ini
Malam semakin larut.Rintik hujan yang sejak sore turun perlahan kini berubah menjadi gerimis halus.Butiran air memantul pelan di balik kaca apartemen.Lampu ruang tamu sengaja diredupkan.Menyisakan cahaya hangat yang membuat ruangan terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.Seolah-olah...keributan yang hampir terjadi di depan pintu apartemen tadi hanyalah mimpi.Arion merebahkan punggungnya ke sofa.Kedua matanya terpejam.Ia mengembuskan napas panjang."Hari ini..."gumamnya lirih."...gila."Shana yang sedang duduk bersila di atas karpet langsung terkekeh kecil."Baru sadar?"Arion membuka sebelah matanya."Kamu masih bisa bercanda?"Shana mengangkat bahu."Kalau nggak ketawa...""...aku bisa stres."Jawaban itu membuat Arion ikut tersenyum.Benar juga.Hari ini terlalu banyak hal yang hampir menghancurkan mereka.Bel apartemen.Alena.Arka.Satpam.Bahkan seekor kucing oren yang entah datang dari mana.Mengingat semua itu...Arion justru tertawa pelan.Shana ik
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: 130. Siapa Arka Madya Raka
Ruangan itu nyaris tak bersuara.Hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar lirih.Pria tua itu mengangkat ponsel ke telinganya.Tatapannya tetap mengarah ke hamparan kota di balik dinding kaca.Ia tidak membuka percakapan.Menunggu.Karena ia tahu...orang di seberanglah yang selalu memulai.Beberapa detik berlalu.Lalu...suara berat seorang laki-laki terdengar dari speaker ponsel."Aku kira..."suara itu tenang."...kau sudah lupa cara mengangkat telepon."Sudut bibir pria tua itu terangkat tipis."Lama tidak bertemu.""Tidak."Suara itu langsung memotong."Kita hanya lama tidak berbicara."Jawaban singkat itu membuat ruangan terasa semakin dingin.Pria yang sejak tadi berdiri di belakang meja ikut menelan ludah.Ia tidak dapat mendengar isi percakapan dengan jelas.Namun...ia bisa merasakan perubahan ekspresi atasannya.Untuk pertama kalinya...orang yang selama ini tampak mengendalikan segalanya...terlihat berhati-hati.Pria tua itu berjalan pelan menuju meja.Mengambil seb
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: 129. Orang Yang Punya Rencana Besar
Ruangan itu kembali sunyi.Pria tua itu berdiri membelakangi semua orang.Tatapannya menembus kaca besar yang menghadap hamparan kota.Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu.Indah.Namun baginya...kota itu tak ubahnya papan catur raksasa.Dan setiap orang...hanyalah bidak."Apa laporan terakhir tentang Roy?"tanyanya tanpa menoleh.Pria di belakangnya segera membuka tablet yang sejak tadi ia bawa."Roy baru saja bertemu Damar."Alis pria tua itu bergerak tipis."Berapa lama?""Hampir satu jam.""Lalu?""Mereka sempat dikejutkan oleh seseorang yang mengawasi dari atas pohon."Pria tua itu mengangguk pelan.Seolah informasi itu memang sudah ia duga."Orang kita?""Bukan."Kini...barulah ia menoleh.Tatapannya berubah tajam."Bukan?""Bukan, Pak.""Identitasnya belum diketahui.""Orang itu kabur sebelum berhasil ditangkap."Ruangan kembali hening.Beberapa detik kemudian...pria tua itu justru tersenyum tipis."Akhirnya..."gumamnya."Mulai banyak pemain baru."Ia berjalan pe
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: 128. "Kita Percepat"
BRAAKK !!!Suara benturan keras mengguncang ruangan.Gelas di atas meja bergetar.Beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi berhamburan ke lantai.Pria tua yang berdiri di balik meja besar itu baru saja menghantam permukaan kayu dengan kedua telapak tangannya.Wajahnya memerah.Ia murka.Karena sesuatu yang selama ini ia susun perlahan—kininmulai retak."Bagaimana bisa?"Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.Di hadapannya, seorang pria lain berdiri diam.Kepala tertunduk dalam.Sama sekali tidak berani menatap langsung."Saya minta maaf, Pak.""Maaf?"Pria itu tertawa kecil.Tapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya."Rencana yang dibangun selama bertahun-tahun mulai berubah arah, dan jawabanmu hanya maaf? Kamu pikir ini lucu, hah?!"Ruangan itu kembali sunyi.Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.Di layar besar di belakangnya—terpampang beberapa foto.Foto Arion.Foto Alena.Foto keluarga Mahendra.Dan foto terbaru...Alena sedang duduk di sebuah kafe bersama
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: 127, Apa Lagi
Mobil hitam itu meringkuk di seberang jalan, menyatu dengan bayang-bayang malam yang pekat.Ia diam.Tak mencolok,Namun kehadirannya seperti predator yang sabar menunggu mangsa.Kaca di sisi pengemudi turun sedikit, membiarkan angin yang dingin menyelinap masuk, menyapu wajah pria di dalamnya.Suhu dingin itu tak mampu menembus fokusnya. Mata pria itu terkunci rapat pada satu titik di dalam kafe: meja tempat Alena duduk bersama Arka.Ponsel di genggamannya bergetar.Memecah keheningan kabin. Tanpa perlu melirik layar, ia mengangkatnya, matanya tetap tertuju pada interaksi di balik kaca kafe."Halo." Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang ditekan."Lapor." Suara di seberang terdengar tajam dan singkat.Pria itu mengamati Alena yang sedang berbicara, dan Arka—pemuda itu—tengah bersandar ke depan, berusaha memancing tawa dari perempuan tersebut."Target bersama seseorang," lanjut suara di telepon.Pria itu terdiam, alisnya bertaut. "Siapa?""Belum diketahui.""Pria?""Iya."Suara
Last Updated: 2026-06-24
Chapter: 126. Belum menyadari
Kafe itu tidak terlalu ramai.Hujan tipis di luar membuat suasana terasa lebih tenang dibanding biasanya.Lampu-lampu kuning temaram memantulkan cahaya hangat ke meja-meja kayu yang tersusun rapi.Aroma kopi memenuhi udara.Namun anehnya—semua itu gagal menenangkan pikiran Alena.Perempuan itu duduk diam di dekat jendela.Kedua telapak tangannya memeluk cangkir kopi yang sejak lima belas menit lalu bahkan belum sempat ia minum.Tatapannya kosong.Jauh.Masih tertinggal di depan pintu apartemen Arion.Masih tertinggal pada celah pintu yang sedikit terbuka.Masih tertinggal pada firasat buruk yang sejak tadi menolak pergi.Di seberangnya—Arka duduk dengan posisi yang jauh lebih gelisah.Kakinya bergerak-gerak sendiri di bawah meja.Sesekali ia melirik Alena.Sesekali menggaruk tengkuk.Sesekali berpura-pura sibuk melihat menu meski sejak tadi tidak membacanya sama sekali.Jujur saja—situasi ini jauh lebih menegangkan daripada saat ia menghadapi dosen penguji skripsi dulu.Karena Alen
Last Updated: 2026-06-13
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status