Chapter: Apa yang Terjadi?Melihat bercak biru keunguan yang kian melebar di kulit mulus Arum, dada Jaka serasa dihantam godam tak kasat mata. Napas istrinya terdengar semakin putus-putus.“Bagaimana ini?” Jaka mengusap wajahnya kasar, bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.Namun, ingatan tentang perkataan Arum di kamar mandi penginapan waktu itu kembali terngiang.“Aku ini istri kamu, kalung dan ritual pernikahan kita itu bukan hanya semata pernikahan biasa, Jaka. Aku bisa menyembuhkan kamu, begitu pula sebaliknya.”"Penyatuan!” bisik Jaka dengan suara bergetar. “Benar, hanya itu satu-satunya cara.”Jaka tahu kondisi ini gila. Arum sedang tidak sadarkan diri, sekarat di depan matanya. Namun, tidak ada pilihan lain. Ini bukan lagi soal nafsu atau gairah liar yang menuntut kepuasan, melainkan gairah yang lahir dari rasa takut yang luar biasa—ketakutan mendalam akan kehilangan wanita yang baru saja ditakdirkan menjadi belahan jiwanya.Dengan tangan yang gemetar hebat, Jaka menanggalkan celananya. Kejantanann
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Serbuk RacunTak ayal, sosok pocong jadi-jadian itu langsung menyerang, membuat Arum sigap melompat mundur ke belakang sambil memegangi selimut yang melilit tubuhnya agar tidak terlepas.Sosok misterius itu terus merangsek maju. Bahkan kini kostum pocongnya sudah terlepas sebagian, membuat pergerakannya menjadi jauh lebih leluasa. Arum yang bingung dan tidak tahu apa-apa hanya bisa berusaha menghindar dari setiap sabetan celurit yang mengarah maut kepadanya.Wush! Srash!Arum berkelit mundur. Sabetan celurit itu meleset, hanya mengenai ujung selimut hingga terkoyak. Karena harus memegangi kain selimut dengan satu tangan, pergerakan Arum menjadi sangat tidak leluasa. Jika ia melepaskannya, kain itu pasti akan jatuh dan mengekspos seluruh tubuh polosnya.“Sial! Siapa orang ini? Apa musuh Jaka di desa?” batin Arum panik sambil terus merunduk menghindari tebasan beruntun.Sosok pocong jadi-jadian itu mulai kesal karena serangannya selalu bisa dihindari. “Dasar jalang! Mati kau!” raungnya.Deg!Arum me
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Siapa Sosok Itu?“Eh, Bu! Tunggu, Bu Lilis!” Jaka sedikit mendorong bahu Bu Lilis, berusaha melepaskan diri dari lumatan bibir yang tiba-tiba menyerang itu. Napas Jaka memburu, bukan karena gairah kali ini, melainkan karena syok. Gairah Jaka memang sedang memuncak gara-gara cumbuannya bersama Arum sempat tertunda tadi. Tapi saat ini—gara-gara melihat sosok pocong itu, Jaka ingin fokus terhadap masalah ini dulu.Bu Lilis melepaskan tautan bibirnya, matanya menatap Jaka dengan tatapan yang sayu dan sarat akan kebutuhan. Daster batik yang dikenakannya sudah sedikit melorot, memperlihatkan kulit bahunya yang masih terawat meski usianya sudah matang. “Jaka, rumah ini sepi banget. Saya beneran takut... Saya cuma butuh teman malam ini,” bisiknya menggoda, tangannya kembali merayap ke dada bidang Jaka.Jaka menelan ludah. “Iya, Bu. Saya tahu, tapi jangan sekarang. Kita fokus dulu sama pocong ini,” balas Jaka lagi.Bu Lilis menunduk. “Iya… tapi saya juga kangen sama pocong dalam celana kamu, Jaka,” rengeknya.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Teror Malam HariJaka yang sedang kepalang tanggung di dalam kamar tiba-tiba tersentak mendengar panggilan Bu Lilis dari luar. Arum pun ikut terkejut. “Si-siapa itu, Jaka?” tanya dengan suara serak, menahan gairah yang sudah membumbung tinggi. Tok Tok! “Jaka!” Jaka mendengus kesal. “Ya elah.” Jaka menarik miliknya, tidak jadi menerobos milik Arum yang sudah merekah. “Sabar ya sayang, tunggu sebentar!” bisiknya lembut. Arum hanya mengangguk pasrah, terpaksa menahan gairah yang membara. Jaka bangkit, kembali mengenakan celana pendeknya. Namun, gundukan di bawah perutnya masih terlihat jelas akibat gairah yang terhenti mendadak. Jaka menarik selimut, menutup tubuh Arum agar tidak kedinginan. Ia mengecup kening istrinya sejenak, lalu keluar untuk membuka pintu depan. Klek! Begitu pintu terbuka, terlihat Bu Lilis berdiri di sana dengan wajah sedikit gelisah. “Jaka! Tolong saya, Jaka,” katanya dengan suara gemeteran. “Hah, a-ada apa Bu?” “Malam ini saya boleh nginap di sini enggak
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Arum yang PolosNamun ternyata masalahnya bukan hanya pada pandangan tetangga. Di dalam kontrakan, saat Jaka menyuruh Arum untuk mandi, wanita itu malah bingung.Handuk sudah melilit di badan mulusnya, namun Arum hanya berdiri membeku menatap keran air yang sedang mengisi bak mandi.Begitu mendengar gemericik air yang memenuhi bak, Arum hanya berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih milik Jaka sudah melilit pasrah di tubuh mulusnya, memperlihatkan bahu indahnya yang bersih dan betisnya yang jenjang. Namun, sepasang matanya menatap keran air besi itu dengan dahi mengernyit, seolah sedang melihat benda magis paling aneh sedunia.Jaka yang sedang merapikan tas di ruang tengah menoleh karena tidak mendengar suara gayung sama sekali. Ia menghampiri kamar mandi dan mendapati istrinya masih membeku.“Loh, Rum? Kenapa belum mandi?” tanya Jaka heran.Arum menoleh, wajahnya tampak polos sekaligus bingung. “Jaka… ini besi apa? Kenapa bisa mengeluarkan air deras sekali tanpa ada mata air di atas
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bisik-Bisik WargaSetelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka kini tiba di kota. Di sana Putri dan dua temannya berpamitan pada Jaka. Mereka berpisah di terminal, namun Putri berjanji pasti akan mengunjungi Jaka setelah ia berhasil meminta alamat lengkap pria itu.“Hmm… ini si Arum gimana, Ka?” tanya Beno setelah rombongan Putri menjauh. “Kita antar ke mana?”“Enggak usah diantar,” jawab Jaka santai. “Si Arum bakalan pulang sama gue, tinggal di kontrakan.”“Ehh, anying! Serius lo?!”Jaka mengangguk tenang, tanpa beban.“Lah, gila kali lo! Anak orang main lo bawa pulang aja,” ujar Beno lagi, mengira Jaka sudah hilang akal sehatnya.Jaka menarik napas dalam-dalam. Melihat tidak ada gunanya lagi menyembunyikan kebenaran dari sahabatnya, ia akhirnya memilih jujur. “Arum istri gue, Ben.”“Apa?!”Betapa terkejutnya Beno mendengar pengakuan spontan itu. Sementara Arum yang berdiri di samping Jaka hanya mengulum senyum sambil menekuk wajahnya yang merona.“Ka, lo jangan bercanda deh,” ujar Beno l
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 148 — Akhir KisahMatahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru
Terakhir Diperbarui: 2026-03-01
Chapter: Bab 147 — Obsesi SarahHari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda
Terakhir Diperbarui: 2026-02-22
Chapter: Bab 146 — Malam PanasMalam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian
Terakhir Diperbarui: 2026-02-19
Chapter: Bab 145 — Tania LegaTidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-16
Chapter: Bab 144 — Kenikmatan Yang BerbedaKeesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi
Terakhir Diperbarui: 2026-02-15
Chapter: Bab 143 — Rumah SarahJam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12