MasukJagat persilatan dibuat gempar dengan kemunculan lelaki bertopeng. Dia membunuh banyak sekali pendekar-pendekar aliran putih hanya demi mendapatkan pengakuan sebagai pendekar yang terkuat Lelaki itu adalah Argani Bhadrika. Dia mendirikan sebuah partai yang diberi nama Persaudaraan Iblis. Tujuannya adalah ingin menguasai dunia persilatan dan menduduki kerajaan Jayakastara. Argani dipengaruhi oleh penyihir jahat yang bernama Dewa Kalajengking. Dia menyuruh Argani supaya mengumpulkan "Empat Pusaka Penakluk Jagat" sebagai syarat bila Argani hendak menundukkan seluruh dunia persilatan. Salah satu dari keempat pusaka itu dipegang oleh Giandra Lesmana. Dia memiliki pusaka yang bernama Pedang Penebas Setan. Senjata tersebut merupakan warisan dari kakeknya. Giandra bertekad akan mengalahkan Argani Bhadrika dan menghancurkan seluruh Persaudaraan Iblis. Dia juga bertekad akan mencari dan membinasakan Dewa Kalajengking demi mengembalikan kedamaian di dunia persilatan. Mampukah Giandra melakukan hal itu? Apa saja rintangan dan bahaya yang dia hadapi? Baca ceritanya hanya di GoodNovel!
Lihat lebih banyakDi waktu pagi ketika matahari baru terbit, cahayanya berwarna keemasan menyapa daun-daun di pepohonan yang basah oleh embun. Saat itu aroma daging manusia yang tengah dibakar di atas perapian terbawa angin keluar melewati pintu gua.
Gunung Ratri sudah lama dikenal sebagai Gunung Sarang Siluman, begitulah masyarakat Desa Lubuk Cempaka menamainya. Di puncak gunung itu terdapat sebuah gua yang menjadi tempat tinggal siluman jahat, warga menjulukinya sebagai Iblis Hitam.
Iblis Hitam suka turun ke desa mencari anak-anak kecil untuk dibawa dan jadikan santapan, bahkan dia juga sering menculik gadis-gadis untuk memuaskan nafsunya. Warga desa sudah tidak tahan lagi dengan kekejaman siluman tersebut.
Sudah banyak para pendekar yang datang menyerang ke gua itu. Namun mereka semua kalah dan mati terbunuh di tangan si Iblis Hitam. Kesaktian siluman ini sungguh sangat luar biasa. Tidak ada satu pun orang yang mampu menandingi kekuatannya yang begitu besar.
Pagi ini empat orang pendekar sepuh telah berkumpul di Gunung Ratri. Mereka adalah para jagoan dari berbagai aliran silat. Kedatangan mereka atas permohonan dari para penduduk desa. Sebab sudah terlalu banyak korban nyawa yang berjatuhan karena kejahatan si Iblis Hitam.
Empat orang pendekar sepuh itu ialah Datuk Subrata, Datuk Ancala Raya, Datuk Gastiadi, dan Nenek Kumari. Mereka semua dikenal sebagai para pendekar sepuh penjaga kedamaian di dunia persilatan.
Datuk Subrata yang paling tua di antara mereka berempat berucap, “Siluman terkutuk itu tidak akan dapat dibunuh kecuali di dalam sarangnya sendiri. Kita harus masuk menyerbu ke dalam sana.”
“Kita tetap harus hati-hati,” ujar Datuk Ancala Raya. “Karena siluman itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Sudah puluhan pendekar yang mati di tangannya.”
Datuk Gastiadi kemudian mengeluarkan tiga butir batu mutiara dari balik bajunya. Batu mutiara itu berwarna hijau, putih, dan juga biru. Ketiganya tampak indah dan berkilau, sehingga membuat terkagum Nenek Kumari yang berdiri di sampingnya.
“Mutiara yang sangat indah sekali. Baru pertama kali ini aku melihatnya,” kata Nenek Kumari.
“Ini adalah Tiga Mutiara Inti Samudera, mustika milik kerajaan siluman ular kipas,” Datuk Gastiadi memberitahukan kepada para sahabatnya.
“Darimana kau mendapatkan benda itu?” Datuk Ancala Raya heran dan mengerutkan dahi.
“Aku meminjamnya dari Dewi Ratu Niranjana, penguasa kerajaan Ular Kipas,” jawab Datuk Gastiadi. Kemudian dia berkata lagi, “Jika ketiga mutiara ini disatukan dan dibacakan mantra tertentu, maka akan berubah menjadi sebuah rantai emas yang dapat membelenggu siluman sekuat apapun.”
“Sungguh mustika yang sangat hebat!” Datuk Subrata mengangguk-angguk karena kagum mendengarnya.
Nenek Kumari lalu menghentakkan tongkat tembaganya ke tanah. “Ayo, kita serbu ke dalam gua itu sekarang! Aku sudah tak sabar lagi ingin menghajar siluman biadab itu dengan Tongkat Tembaga Merah milikku ini!”
Akhirnya mereka berempat pun segera bergerak menyerbu ke gua tempat kediaman si Iblis Hitam. Tapi ketika para pendekar sepuh sudah hampir mendekati pintu gua itu, tiba-tiba siluman yang mereka cari keluar sendiri dari sarangnya, dia menampakkan wujud di hadapan para pendekar, seakan telah mengetahui kalau pagi ini ada lagi empat orang pendekar sakti yang ingin menantangnya.
Siluman itu bertubuh besar, berkulitnya hitam legam, mempunyai dua taring yang panjang, memiliki dua tanduk di kepalanya yang menyerupai seperti tanduk kerbau, dan wajahnya pun sangat menyeramkan, membuat jantung siapa saja akan berdebar kalau berjumpa dengannya.
Sambil mengangkat dagu, si Iblis Hitam pun berkata, “Pantas saja dari tadi aku mencium aroma tanah busuk, rupanya para kakek dan nenek jompo telah berkumpul di wilayah kekuasaanku ini! Hahahahaha.”
Datuk Ancala Raya merasa tersinggung karena ucapan tersebut. Dia lalu berkata, “Kurang ajar kau, Iblis Hitam! Hari ini adalah hari kematianmu! Bersiaplah menerimanya!”
Iblis Hitam gelak tertawa mendengar gertakan itu. Dia kemudian menantang, “Coba saja keluarkan seluruh kesaktian kalian jika memang mampu membunuhku! Tubuh kalian berempatlah yang akan kubuat hancur lebur sampai jadi debu!”
Nenek Kumari sudah emosi, dia menghentakkan tongkatnya ke tanah. “Sombong sekali kau, Siluman Busuk! Rasakanlah kekuatan dari tongkat pusaka milikku ini!”
Nenek Kumari pun memulai serangan, dia mengayunkan tongkatnya dari kiri ke kanan. Keluarlah cahaya kemerahan yang menyerupai nyala api. Iblis Hitam tak sempat menghindar dari serangan tersebut. Cahaya merah itu mengenai tubuhnya, membuatnya terpental ke belakang.
Namun hanya sebentar satelah itu, Iblis hitam langsung bangkit dan kembali lagi berdiri. “Dasar keparat kau, Nenek Tua!” makinya terhadap Nenek Kumari.
Iblis hitam melompat tinggi ke udara, tubuhnya melayang dan berputar-putar, dia lalu menerjang Nenek Kumari dengan kakinya yang besar.
Nenek Kumari segera melintangkan Tongkat Tembaga Merah di depan dadanya untuk menahan terjangan itu. Tapi rupanya tenaga Iblis Hitam terlalu kuat, si nenek tak kuasa menahan serangan tersebut, hingga dia terpental dan lalu jatuh.
Pertarungan kini sudah dimulai, Datuk Gastiadi pun mengeluarkan jurus Cakar Lima Jari Penghancur Tengkorak. Dia ikut maju menyerang Iblis Hitam. jurusnya itu hendak mengincar ke ubun-ubun siluman tersebut.
Iblis Hitam dapat merasakan hawa dari serangan itu sebelum cakar Datuk Gatiadi sampai padanya. Sedikit lagi tangan kanan si datuk akan menyentuh kepala siluman itu, tapi Iblis Hitam menoleh dan langsung bertindak, dia menangkap lengan Datuk Gatiadi dengan tangan kirinya.
Tangan kanan Iblis Hitam kemudian memukul perut Datuk Gastiadi, setelah itu dia mencengkram kerah baju pendekar tua itu, lalu diangkat dan dilemparnyalah tubuh Datuk Gastiadi hingga jatuh terguling di tanah.
Melihat kedua orang sahabatnya yang sudah jatuh, Datuk Ancala Raya tidak tinggal diam, dia pun berlari dan ingin menyerang si Iblis Hitam.
“Terima ini, Siluman Biadab! Jurus Tendangan Ekor Hiu Memecah Karang! Hiyaaa!”
Datuk Ancala Raya melompat tinggi, tubuhnya lalu berputar bagaikan angin tornado, tendangan kaki kirinya lalu mengayun sangat deras dengan kekuatan penuh, menghantam tepat ke bagian tengkuk Iblis Hitam hingga membuatnya kesakitan.
Tak berhenti sampai di situ, Datuk Ancala Raya menjatuhkan badannya dan berputar lagi di tanah untuk melakukan teknik sapuan. Kaki kirinya mengayun ke arah dalam dan menghantam kuda-kuda si Iblis Hitam. Teknik sapuan itu berhasil merobohkan siluman tersebut, dia terjungkal ke belakang karena kuda-kudanya kehilangan keseimbangan.
Tidak terima dihajar seperti demikian, Iblis Hitam segera bangkit dan kembali berdiri. Dia melompat ke arah Datuk Ancala Raya. Tangannya yang panjang terulur ke depan dan mencengkeram leher si pendekar tua itu. “Akan kubunuh kau, Kakek Tua!”
Cengkeraman Iblis Hitam sangat kuat, sampai-sampai Datuk Ancala Raya tidak bisa bernafas. Dia mampu mengangkat tubuh Datuk Ancala Raya hanya dengan sebelah tangan saja.
Sorot mata Iblis Hitam menyala bagaikan kobaran api. Dia betul-betul marah sekali! Datuk Ancala Raya tersedak karena menahan lehernya yang sakit, dia berusaha melepaskan tapi tidak bisa.
Datuk Subrata yang dari tadi masih diam akhirnya mulai bertindak. Dia berlari seraya mencabut sebilah pedang yang tergantung di belakangnya.
Pedang ini adalah senjata pusaka yang bernama Pedang Penebas Setan. Kehebatan dari pedang pusaka tersebut sudah masyhur terdengar di seluruh dunia persilatan.
Datuk Subrata melompat, dia mengangkat pedang itu membujur di atas kepalanya, kemudian langsung dipancungnyalah tangan si Iblis Hitam yang sedang mencekik leher Datuk Ancala Raya.
Saat mata pedang yang tajam itu menimpa lengan Iblis Hitam yang besar, seketika lengannya langsung putus dan memuncratkan banyak sekali darah, potongan lengan itu lalu berdebuk jatuh di tanah.
Datuk Subrata lanjut menendang perut Iblis Hitam dengan tumitnya. Siluman itu pun terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Berkat pertolongan Datuk Subrata, akhirnya Datuk Ancala Raya selamat dari cekikan siluman buas tersebut, padahal hampir saja tadi dia kehabisan nafas.
Malam yang dingin menyelimuti rimba raya, suasana larutnya menenggelamkan suara jangkrik, kelompok kunang-kunang masih berpijar, gemerlapan di ranting pohon, kelap-kelipnya seolah menggantikan cahaya kejora yang sirna di langit. Kala itu embun dini hari sudah turun, rerumputan yang basah pun memancarkan bau lembab, berpadu dengan aroma daun-daun busuk yang menghitam di tanah.Dalam kondisi setengah sadar, Patrioda diikat tergantung pada sebatang dahan pohon. Kepalanya menghadap ke bawah, sedangkan dua kakinya mengarah ke atas. Dia sekarang tak ubahnya bagaikan kelelawar yang biasa bergelantungan di langit-langit gua.Lilitan akar-akar yang kokoh dan tumbuhan liar yang melayap membelenggu sekujur badannya. Entah sudah berapa lama dia siksa seperti itu, tenggorokannya terasa kering mencekat, kepalanya pusing dan perutnya mual. Cuma dialah satu-satunya yang terpisah dari rombongan saat berada di Gunung Ratri. Setelah yang lain sudah kembali ke istana, lelaki ini malah jadi bulan-bulanan
Di hadapan pintu kamar Jaka Purnama sendirian termenung. Walaupun malam kian meninggi, tapi lelaki itu masih belum jua istirahat. Dengan ditemani nyianyian Jangkrik dan hawa dingin yang menari di keheningan, dua tangannya bertumpu pada pagar kayu, dia silangkan semua jemarinya, pikirannya pun mulai membayangkan tentang apa yang akan terjadi besok.Derap langkah di lantai papan tiba-tiba terdengar. Ada yang datang mendekatinya. Jaka Purnama pun mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Tampaklah olehnya seorang wanita berpakaian kuning muncul, berjalan dengan anggun. Dia ini tidak lain adalah Alindra, dirinya tampak sedang membawa gelas bambu yang mengepulkan asap.Wanita itu tersenyum manis. Dia berhenti di dekat Jaka Purnama, lalu menyuguhkan minuman yang dibawanya tersebut. Aroma harum pun seketika tercium dari asap yang mengepul itu. Jaka Purnama tahu kalau itu adalah segelas kopi tubruk yang nikmat.“Minumlah, Kakang. Aku sengaja membuatkannya untukmu, biar Kakang tidak bosan mer
Setiba di ruangan khusus tempat menghadap sang raja, Giandra dan Jaka Purnama berjalan menginjakkan kaki di atas hamparan karpet merah. Cahaya obor menerangi ruangan yang megah ini. Di atas kepala mereka langit-langit istana yang remang dihiasi dengan berbagai ukiran gambar, menambah nuansa keelokan yang memukau pandangan.Senopati Wibisana segera mengambil tempat duduk di bawah anak tangga batu, berseberangan dengan Senopati Taraka. Tugasnya telah selesai untuk menghadirkan ayah dan anak ini ke hadapan sang raja. Di atas anak tangga batu yang bertingkat tiga itu terdapat lantai tinggi yang mirip seperti panggung. Di sana ada tiga buah singgasana dari kayu jati yang berukir, lapisan luarnya berupa sapuan emas yang berkilauan dan dihiasi pula dengan taburan-taburan intan. Pada singgasana yang di tengah, duduklah Prabu Surya Buana. Dia mengenakan jubah berwarna perak, mahkota bertabur permata, dan di lehernya ada seutas kalung yang berliontinkan Mustika Permata Hijau, benda ajaib yang
Malam telah turun menggantikan siang. Kilauan kejora menaburi langit di atas Istana Kerajaan Jayakastara. Puing-puing dari sebagian bangunannya yang runtuh masih berserakan tidak karuan. Bulan yang menggantung di awang-awang menyorotinya dalam warna keremangan. Angin yang lembut perlahan mendesah, membawa hawa dingin yang membelai kulit, berpadu dengan bau rumput dan semerbak bunga-bunga yang tumbuh di halaman istana. Kawanan kunang-kunang berkerlipan pada setiap lembar daun yang berjuntaian di pohon-pohon. Cahaya mereka terus berjoget bagaikan para penari. Dendangan syahdu dari jangkrik malam pun turut mengiringinya.Kala itu di halaman istana, Giandra tegak seorang diri di atas pendopo yang terbuat dari kayu jati. Sepasang bola matanya menatap ke angkasa raya yang luas. Seakan-akan dia hendak bertanya pada Ilahi, mengapa dunia ini begitu kejam?Sudah banyak nyawa gugur dalam pertempuran menghadapi Persaudaraan Iblis. Sekitar dua ribu pasukan yang diturunkan semuanya habis tanpa te
Bayu Halimun terus mengejar orang yang dahulu pernah menjadi sahabat dekatnya itu. Dia tak tahu kemanakah Pangeran Kelelawar ingin membawanya. Mereka terbang melewati pohon-pohon besar di tengah kegelapan hutan yang sunyi.Walau mata Pangeran Kelelawar tak menoleh ke belakang, namun kehadiran Bayu
“Hah … hah … hah ….” Senopati Taraka akhirnya terengah-engah kelelahan. Jurus tadi telah berhasil memusnahkan binatang peliharaan Dewa Kalajengking. Dia butuh jeda dulu untuk menarik nafas saat ini, karena jantungnya berdegup kencang akibat memforsir tenaga dalam. Namun, Dewa Kalajengking yang ber
Mpu Bhiantar menyandarkan tubuh Alindra di bawah pohon. Dia berusaha menyalurkan energinya untuk mengobati murid dari adik seperguruannya itu.Patrioda yang melihat kalau Alindra dan Damayanti telah dikalahkan oleh Dewa Kalajengking rupanya jadi merasa penasaran, dia ingin pula untuk menguji kemamp
Di puncak Gunung Ratri, di depan pintu gua yang pernah menjadi sarang Iblis Hitam, tujuh orang anggota Persaudaraan Iblis bersama Dewa Kalajengking kembali akan melakukan ritual. Malam ini adalah penyempurnaan bersatunya sukma Iblis Hitam ke dalam tubuh Argani Bhadrika.Sambil berdiri meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak