LOGINThe college student I had a passionate night with at the hotel turned out to be the intern I was supposed to mentor. On his first day at the company, he pulled me into the break room and wrapped his arms around my waist. "You have such a slender waist. That night, I never expected you to be that fervent..."
View MoreMalam ini, Cafe Bintang Timur ramai seperti biasa. Wiro bergerak lincah di antara meja-meja, membawa nampan berisi pesanan dengan gerakan yang sudah terlatih selama setahun terakhir.
Tubuhnya lelah. Bagaimana tidak, ini adalah pekerjaan ketiganya hari ini. Pagi tadi dia sudah menjadi kuli angkut di pasar induk, siang menjadi kurir paket, dan sekarang melayani tamu di cafe ini hingga tengah malam. Dua tahun sudah Wiro merantau ke Jakarta. Dua tahun penuh perjuangan, tidur di kontrakan sempit yang pengap, makan seadanya, semua demi satu tujuan, yaitu membiayai Lisa, kekasihnya yang setahun lalu menyusul ke Jakarta untuk kuliah. "Sayang, aku butuh uang untuk beli buku," begitu pesan Lisa minggu lalu. "Wiro, uang kuliahku kurang," begitu pesan sebelumnya. Dan Wiro selalu mengirim. Selalu. Meski tubuhnya harus remuk, meski perutnya harus kelaparan. Karena itulah cinta, pikirnya. Berkorban tanpa pamrih. Pintu cafe terbuka. Wiro menoleh secara refleks, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Lisa masuk. Tapi tidak sendirian. Tangannya melingkar mesra di lengan seorang pria berpenampilan necis, kemeja branded, jam tangan yang kelihatan mahal, rambut ditata rapi dengan gel. Di belakang mereka, empat orang pria lain mengikuti, tertawa-tawa dengan suara keras. "Lisa...?" suara Wiro nyaris tak terdengar. Lisa melihatnya. Mata mereka bertemu. Tapi tidak ada keterkejutan di wajah gadis itu. Yang ada hanya senyum mengejek yang membuat perut Wiro serasa diremas. "Oh, itu yang namanya Wiro?" seru pria di samping Lisa. "Jadi ini pacar kampungmu yang selama ini membiayai hidupmu, sayang?" Mereka duduk di meja yang kebetulan masuk dalam area pelayanan Wiro. Dengan langkah gemetar, Wiro menghampiri. "Lisa, siapa dia?" tanya Wiro, suaranya bergetar menahan emosi. "Kenalkan, ini Krisno," jawab Lisa tanpa rasa bersalah. "Pacarku yang sebenarnya." Krisno tertawa. Suaranya nyaring dan menyakitkan. "Bro, kasihan banget sih lo. Setahun membiayai cewek orang!" Dia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto. "Nih, liat. Selama lo kerja banting tulang, gue yang nikmatin tubuhnya." Wiro memegang handphone milik Krisno itu dengan tangan gemetar. Foto-foto itu. Foto-foto yang membuat dunia Wiro runtuh seketika. Lisa dan Krisno dalam posisi-posisi intim, di hotel, di apartemen. Dan jelas mereka biasa melakukannya. "Lo tahu yang paling lucu?" Krisno melanjutkan dengan nada mengejek. "Lo bahkan nggak pernah nyentuh dia. Bego banget sih lo!" Teman-teman Krisno tertawa terbahak-bahak. Lisa ikut tertawa, seolah pengkhianatannya adalah lelucon terbesar tahun ini. Sesuatu dalam diri Wiro pecah. PRAK! Ponsel Krisno terbanting ke lantai, layarnya retak. Detik berikutnya, tinju Wiro mendarat telak di wajah Krisno, membuat pria itu terjungkal dari kursinya. "WIRO!" teriak Lisa. Kafe menjadi kacau. Tamu-tamu berteriak. Manager berlari menghampiri. "Apa-apaan ini?!" bentak sang manager. Krisno bangkit sambil memegangi hidungnya yang berdarah. "Pak, pelayan Bapak menyerang saya! Saya mau lapor polisi!" "Wiro! Ke ruangan saya, sekarang!" *** Lima belas menit kemudian, Wiro keluar dari pintu belakang cafe dengan kardus berisi barang-barang pribadinya. Dipecat. Tanpa pesangon. Tanpa referensi kerja. Tapi itu bukan akhir dari malamnya yang buruk. "Oi, kampungan!" Wiro menoleh. Krisno berdiri di ujung gang, diapit empat temannya. Wajahnya bengkak di bagian yang tadi kena pukul. "Lo pikir lo bisa mukul gue terus kabur gitu aja, heh?" Setelah itu, mereka menyerang bersamaan. Wiro berusaha melawan, tapi satu lawan lima jelas bukan pertarungan yang adil. Pukulan dan tendangan menghujani tubuhnya dari segala arah. Dari sudut matanya yang mulai membengkak, Wiro melihat Lisa. Gadis itu berdiri di kejauhan, menonton. Tidak berteriak minta tolong. Tidak berusaha menghentikan. Hanya menonton dengan wajah datar, sesekali memeriksa ponselnya. Tendangan terakhir menghantam perutnya, dan Wiro ambruk. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Tulang rusuknya terasa retak. Darah mengalir dari bibirnya yang sobek. "Udah, udah," kata Krisno, mengatur napasnya. "Biar dia mampus di sini." Krisno berjalan menghampiri Lisa, merangkulnya mesra, lalu menciumnya dengan sengaja tepat di depan Wiro yang terkapar. "Ayo, sayang. Kita lanjutkan permainan kita." Mereka pergi. Meninggalkan Wiro dalam kegelapan gang, dengan tubuh yang hancur dan hati yang lebih hancur lagi. Anehnya, air mata tidak keluar. Yang tersisa dalam diri Wiro hanyalah kebencian. Kebencian yang begitu pekat kepada Lisa, kepada pengkhianatan itu, kepada kebodohannya sendiri. 'Mati', pikir Wiro. 'Mungkin memang lebih baik aku mati di sini.* --- "Anak muda." Suara itu parau, seperti kertas pasir menggesek kayu. Wiro berusaha membuka matanya yang bengkak. Seorang pria tua berdiri di atasnya. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal, kulitnya gelap karena kotoran. Wiro mengenalinya, tunawisma yang selama tiga hari terakhir selalu duduk di samping cafe. Pria yang beberapa kali diberi makanan oleh Wiro ketika tidak ada yang melihat. "Ka-kek..." Wiro terbatuk, darah muncrat dari mulutnya. Pria tua itu berlutut di sampingnya. Tangannya yang kurus dan berkeriput memegang sesuatu, sebuah kalung dengan liontin berbentuk aneh, seperti simbol kuno yang tidak dikenali Wiro. "Kau anak yang baik," kata orang tua itu. "Kau memberiku makan ketika orang lain bahkan tidak mau menatapku. Sekarang, biar aku yang membantumu." "A-apa..." "Kalung ini akan menyembuhkan lukamu," lanjut pria tua itu, matanya berkilat dengan cara yang aneh, seolah ada cahaya di balik kegelapan. "Dan lebih dari itu. Kalung ini akan membantumu jadi kuat... Dan membalas dendammu."When I came out of the restroom, I ran into a drunk guy at the corner of the hallway. He put both hands on my shoulders, then leaned his head close to mine, staring at me with a sleazy grin. "Want to have some fun together?"After saying that, he moved his hands to my waist and started groping me. I was startled and tried to push him away, but he had me trapped, and I could not break free.Emboldened by his success, he leaned in and started kissing my cheek. When I saw the situation getting out of control, I lifted my leg and kicked him hard in the groin.When Dexter noticed I had not returned for a while, he came looking for me. He grabbed the man by the collar and threw him to the ground, then kicked him several times.The man, having gotten the worst of it, immediately knelt down and begged for mercy, then kept slapping himself. He was hoping we would not make a scene.Dexter told him to get lost, then pulled me to an empty corner and asked if I was hurt.I shook my head. Se
"That won't work. The idea of crashing an ex-boyfriend's birthday party sounds more exciting the more I think about it," Dexter teased."I'm warning you, don't cause any trouble, or I'm not saving you.""So, you agree, then.""I didn't agree.""Oh? Babe, you're being naughty again. Looks like I'll have to leave some hickeys for our colleagues to see."He lowered his head and was about to kiss my neck when I stopped him in time.Good Lord! Just what exactly had I done to deserve this?…Saturday arrived, and I ended up bringing Dexter to Caleb's birthday party. "Lincoln, I didn't expect you to actually come."Before I could respond, a man beside him looked me over and said, "I've heard so much about you."He continued sarcastically, "I should thank you. If he hadn't broken up with you, I never would've met him."I did not want to argue with this guy at a time like this. I planned to brush it off and leave, but Dexter jumped in to argue with him first."Yeah, for some people,
I deliberately did my makeup in a way that would make me look older, put on a tacky fake hairpiece, and rented a middle-aged man's outfit. I had aged myself by about ten years, and I was very satisfied with the result.The appointed time was approaching, and I was staring out the window in boredom. Suddenly, I turned around and saw Dexter walking into the restaurant.No way. Was he here to dine too?I could not worry about Dexter now because another guy was walking toward my table. He wore glasses and looked quite refined. He had to be my blind date.He seemed very surprised when he saw me, and I secretly felt pleased. Now, no one could say I was being picky. This guy was the one who did not find me attractive.After this experience, my mother would probably be so discouraged that she would leave me alone for a while.The guy took a phone call and then said he needed to use the restroom. I sat at my table, chatting with a friend on the phone and making plans to play cards at his
I realized Dexter had just been pretending to be drunk. I bit down on his shoulder in frustration.In the end, I lost count of how many times it happened. I fell asleep under his tireless demands.If the first time was a drunken mistake, then what was last night? I had clearly rejected his request to date, yet I kept sleeping with him again and again.The next day, I ate the breakfast he prepared with a gloomy expression, barely paying attention to the food."Actually, there's nothing to be embarrassed about. I can wait for your answer." Dexter seemed to see right through my thoughts. He glanced at me and said with a smile."I'll say it again—no.""You must have a reason for rejecting me, right? Tell me why not." He seemed somewhat angry and put down his fork to question me."You're too tall, too handsome, and too smart. You're also way younger than me. I don't feel secure, okay?""Are you sure those are reasons to reject me and not reasons to like me?""Bullshit!" I cursed an
"This is only my second time at a bar. That night was the first," Dexter said, sitting next to me."Tsk, tsk. Don't bother. Your innocent act has completely fallen apart with me," I said dismissively, taking a sip of my drink."I've never put on an innocent act. If you insist on seeing me as some
"Babe, I've missed you so much." Dexter reached out and hugged me, as if savoring the memory. "You have such a slender waist. That night, I never expected you to be so fervent. No matter how I held you, you never got tired.""Dexter, are you out of your mind? I already told you that night is over."
After I finished speaking, I saw anger and disappointment flash in Dexter's eyes.I quickly tried to comfort him, saying, "I was really satisfied with your performance last night. Well, I wish you all the best in your future, young man!"I pulled open the door and rushed out. As I closed it behind
I stood holding my drink, scanning the bar for tonight's target, when a commotion at the nearby table caught my attention.Several men were pressuring a young woman, who looked to be a college student, to drink. She constantly rejected them and tried to leave, only to be pulled back each time."He






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews