LOGINIn a realm hidden from human eyes, the werewolf king has outlawed inter-species mate bonds and driven out or killed most of those who disagree with him. As a prophecy is made and a curse is placed, what will happen to those unknowingly thrust into the heart of the conflict? Will fate help them find a way to restore balance and peace? Or will they lose all they hold dear to them? Please Note: This book is rated MATURE 18+. There will be foul language, violence, and sex in this book.
View More"Olla! Mana si babu ini. Kenapa dia tidak pernah sigap jika aku memanggilnya. Olla! Kemana kamu!" pekik seorang wanita muda memanggil wanita yang bernama Olla Yukito.
Olla yang berada di belakang rumah terkejut mendengar suara teriakan kencang dari dalam rumah. Sampai di dalam rumah satu lemparan mengenai pelipisnya. “Iya, Ma, ada apa?” tanya Olla dengan suara tercekat sambil menahan sakit. “Dari mana kamu, apa kamu tahu jam berapa ini?” tanya Nyonya Megumi dengan nada datar. "Ada apa ini, Megumi. Kenapa pagi-pagi kamu sudah marah-marah. Ingat, darah tinggimu itu akan naik jika marah. Kamu pergi sana,” usir Tuan Abraham Alexander mertua Olla. Olla menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan mertuanya. Olla yang baru bekerja harus menerima kenyataan yang pahit, dipaksa menikah dengan pria yang sudah merebut kesuciannya. Pihak keluarga sang pria, khususnya kedua orang tua si pria melakukan penolakan keras terhadap pernikahan anaknya dan Olla walaupun sang anak bersalah sekalipun, orang tua pria itu kekeh tidak menerima Olla sebagai menantunya karena status Olla yang hanya sebagai pembantu dan miskin. Akan tetapi, tetua dari si pria itu tidak peduli dengan penolakan yang terjadi dia tetap setuju menikahkan keduanya, karena tetua itu tidak ingin keluarga mereka menjadi bahan gunjingan orang. Keputusan menikahi dibuat oleh si tetua sebagai hukuman agar pria itu mempunyai tanggung jawab dan tidak sewena-wena dengan perbuatannya. Dan, dia percaya kalau wanita itu bisa mengubah si pria menjadi lebih baik ke depannya. Dan, kini Olla harus menjalani kehidupan rumah tangga tanpa cinta dari pria itu. Dan hidupnya, seperti burung dalam sangkar emas. Dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh mertuanya terlebih lagi suaminya. "Sayang, kamu baik-baik saja, nak?" tanya pelayan sepuh itu mendekati Olla yang sedang membasuh lukanya. Basuhan air ke wajahnya menutupi air matanya yang semakin deras. Bukan sakit karena luka, tapi sakit di hatinya lah yang membuat dirinya meneteskan air mata. Olla yang melamun terkejut mendengar suara dari belakang dan suara itu berasal dari pelayan sepuh. dirinya segera berbalik dan tersenyum kecil ke arah si pelayan. "Bibi Ann. Kenapa kesini? Aku baik, Bibi Ann, jangan risau, ya," jawab Olla mencoba untuk tenang dan tidak menangis di depan Bibi Ann. Olla meminta Bibi Ann untuk tidak menangis, akan tetapi dirinya lah yang menangis. Bulir air yang turun dari wajahnya bercampur dengan air matanya yang juga ikut turun. Olla tidak bisa menahan air matanya yang sudah sedari tadi dia tahan di pelupuk matanya. Apalagi, saat dia melihat wajah sendu Bibi Ann. Wanita yang baik padanya, wanita yang sudah membawanya ke rumah ini tujuannya satu untuk bekerja, akan tetapi semuanya hancur dan wanita ini juga sudah dianggap Ibu kandungnya sendiri. "Sini, Sayang, Bibi obati lukamu itu. Setelah itu, ganti pakai kamu dan tunggulah suami dan layani dia, ya. Sebagai, istri yang baik, kamu harus melayani dia, ya. Apa pun yang terjadi. Kamu juga menikah baru jadi harus banyak melayani dia agar kalian makin dekat satu sama lain," ucap Bibi Anne dengan lembut sembari mendekati Olla dan menarik pelan tangan wanita cantik itu. Bibi Ann bisa melihat jelas wajah Olla yang lelah dan penuh tekanan. Bibi Ann, sedih melihat Olla tapi dia berusaha tersenyum agar Olla tidak sedih. "Iya, Bibi. Olla akan layani suami dengan baik. Terima kasih atas semuanya," ucap Olla dengan senyuman tulusnya. Bibi Anne segera mengobati Olla dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai, Olla segera pergi meninggalkan Bibi Anne. Bibi Anne sedih dengan nasib Olla. Dia menyesal sudah membawa Olla ke sini. "Olla, semoga akan ada kebahagiaan yang mengiringi langkah kakimu. Bibi yakin suatu saat nanti Tuan Rafly akan menyayangimu. Tuan Rafly pria baik, dia memang terlihat diam dan arogan juga keras, tapi dia pria yang baik, hatinya juga lembut. Tuhan selalu memberkati kamu dan suamimu, Tuan Rafly," ucapan tulus dari Bibi Anne kepada Olla dan suaminya Rafly Julio Alexander. Rafly yang sudah berpakaian rapi, bergegas turun ke bawah untuk sarapan. Saat, hendak keluar dia tidak melihat istrinya sama sekali. Apakah dia mencarinya? Jawabnya, tidak. Saat, Rafly membuka pintu dan saat bersamaan juga dirinya dan Olla berhadapan satu sama lain. Rafly mengabaikan Olla yang menatapnya, dia melewati Olla yang berdiri di depan pintu. Olla yang melihat Rafly sudah siap sedih karena pakaian yang digunakan oleh Rafly bukan pakaian yang dia siapkan. "Anda sudah mau turun, Tuan?" tanya Olla yang masih memanggilnya dengan sebutan itu. Rafly tidak menjawabnya, dia melangkahkan kakinya terus keluar. Tapi, sekilas dia melirik pelipis Olla yang diplester dan pakaian Olla yang terlihat kucel. Akhirnya, Rafly berhenti sejenak sebelum dia turun tangga. “Bukan urusanmu, Olla,” ucap Rafly dingin tanpa menatap wajah istrinya. Baru berapa langkah, Rafly tiba-tiba berhenti kembali dan berbalik menatap istrinya itu dengan tajam. “Dan, tidak perlu repot-repot menyiapkan pakaianku.” Olla tidak berani memandang Rafly, dia terus menundukkan kepala, dia takut memandang Rafly. Alasan dia melakukan itu, dikarenakan permintaan dari Rafly sendiri. Mendengar perintah Rafly, nyeri di dada Olla seketika menjalar cepat. Mungkin ia bisa menahan cacian dari mertuanya sendiri. Tapi, dari suaminya? Tidak. Olla mengambil pakaian Rafly dan menyimpannya di suatu tempat. Dia pun bergegas untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Olla segera melangkahkan kaki keluar kamar. Akan tetapi, saat dia membuka setengah pintu kamar, Olla mendengar suara yang tidak asing. Hingga membuat Olla menutup mulutnya. Tubuh Olla bergetar, dia mengerjapkan matanya saat orang itu berbicara. Olla dapat mendengar jelas pembicaraan orang itu dan karena takut ketahuan, Olla tidak berani untuk lebih dekat. Saat ini, Olla bersembunyi di belakang pintu agar tidak ada yang mengetahui jika dia menguping. "Ap-apa, aku tidak salah dengar? Benarkah itu?" tanya Olla dengan suara pelan. Tangan Olla gemetar saat dirinya memegang handle pintu. Dia takut jika orang yang berbicara itu mengetahui dirinya ada di balik pintu. Dan mengetahui apa yang orang itu bicarakan. Cukup lama Olla berada di balik pintu dan akhirnya, suara seseorang yang dia dengar akhirnya menghilang begitu saja. Olla merosot ke bawah, jantungnya berdebar, Olla mengusap bulir keringat yang turun. Olla ketakutan dan tidak mengerti, kenapa orang tersebut mengatakan hal itu. Olla penasaran siapa yang mereka maksudkan itu. Olla ingin bergerak, tapi kakinya kaku dan dia juga takut jika dia bergerak sedikit saja maka dia akan ketahuan menguping di sini.A LITTLE OVER 1 YEAR AFTER THE EPILOGUEJUNIPER I paced back and forth in our bedroom as I waited for Lukas to come back from morning training with Drew and Finn. He’d left me sleeping. Or, at least, he thought I was sleeping. I was half awake when he brushed a soft kiss on my cheek and tucked the blankets around my naked body before he walked out of the room. I had been too antsy and on edge to sleep, too ready to enact my little surprise for him. The double doors to our room opened just as a wave of nausea rolled through me. “Oh goddess,” I whimpered, and then ran into the bathroom before Lukas could see me. I turned the faucet on so he wouldn’t hear me retching, but it was pointless. The bathroom door slammed open and his worried gaze scanned over my body right before I hurled my guts out into the toilet. But instead of turning and leaving me, Lukas walked straight to me, kneeling down next to me and rubbing my back underneath my pink and blue plaid shirt, the skin to skin co
Note: This chapter was written as a special holiday chapter during Christmas, right after the chapter where Eric and Claire passed away. It gives a little bit of insight into their lives before they were in hiding. I hope you enjoy it!EricAnother Winter Solstice. Another birthday, come and gone. Another year without a mate.Growing up, having my birthday on the Winter Solstice was always fun. I got extra presents, and it was as if everyone was celebrating my birthday, even though they were really just celebrating that the days would get longer again. But in my innocence as a child, it seemed, of course, that it was mainly about me.Now, at 25, and still mateless, it was less exciting. Now, I dreaded the holiday, and dreaded my birthday.It didn’t help that this year, my best friend, my future beta, Damien, had found his mate only weeks ago — a witch named Veronica — and they were joined at the hip now.I had no ill feelings towards him — truly; I was ecstatic for him. Finding your m
JuniperI breathed out a sigh as I slipped away from the party to get some fresh air on the balcony. My heavy sparkly green skirt swished against the marble flooring, and I smoothed my hands over the velvet belt as I inhaled the fresh honeysuckle scent from the planters. The silver and diamond crown on my head felt heavy, but a good heavy. It was a reminder of everything we’d achieved, everything that had led us to this exact moment.Our coronation after party was in full swing — all of our closest friends and family were celebrating just on the other side of the double doors. The elders had officially crowned us king and queen of Volkor earlier that evening, had a huge fancy ball where anyone who wished to could attend, and now it was just our inner circle having our own celebration.It had been a few months since our victory over Tobias and his regime. The time passed quickly, but the work was difficult, and far from over. This coronation, and ball, and party, was a much needed repr
LUKAS POVThe evening was warm, the sun setting behind the foothills, leaving behind streaks of red and purple and orange in the otherwise clear blue sky. My hands were in my pockets, and I breathed deeply, my face upturned towards the disappearing sun.I lowered my gaze back to my surroundings, taking it all in so I would never forget this day, the day my June and I claimed each other in front of the realm.It was just a formality, really, since we were already marked and mated, but it was tradition to have a ceremony, especially since we would be the rulers of both the werewolf and the fairy kingdoms. And June wanted a Fae ceremony, and what my June wanted, my June got.Not that I wasn’t excited. I was over the moon. I had been waiting for this day since my 19th birthday. Longer, really. Probably my whole life, if I was being honest.I bounced on my toes, a grin spreading across my face as I counted down the seconds until Juniper would start walking towards me, her dad and her fathe
Lukas I woke up to an empty bed, the space next to me cold. I jerked upright, my heart racing in my chest as I scanned the unfamiliar darkened room, trying to remember where I was, trying to find my mate. I knew she had been next to me, remembered falling asleep with her held in my arms, our legs ta
Lukas The battle flowed around me, the smell of blood and sweat hanging heavily in the air. The moon beams were highlighting the deep red of the blood splattering the grass and the fabric of my clothing. A light summer breeze blew the scents around the entire courtyard, along with the sounds of my p
Finn I was pacing back and forth at the front of the Temple of Eos in the royal palace, one hand on my hip and the other stroking my chin. I did not know why I was so nervous. She had already accepted me, already mated with me, and already bore my first mark and I bore hers, but, for whatever reason
Finn “Finn! The bread! It’s burning!” Chloe’s frantic shout broke me out of my lust-induced haze, and I pulled my face away from the crook of her neck. Once my nose was no longer buried in her skin, I could smell the intense scent of burning food hanging heavily in the air. “Oh, fuck!” I grunted, an
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings